Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
52. MSSM


__ADS_3

Naya melihat itu masih terdiam dengan sedikit bingung, dia hanya tidak menyangka dua orang lelaki yang berada di hadapannya bersifat berbading terbalik saat berada di luar rumah.


Mereka layaknya seorang aktor yang pandai menampilkan dua wajah yang berbeda. Diluar mereka akan menampilkan wajah yang garang, penguasa yang tak bisa tersentuh. Sedangkan berada di dalam rumah mereka akan menjadi seorang yang hangat dan penuh dengan intrik kekanak-kanakan tepatnya.


Saat Naya meninggalkan ruangan tersebut, Bram memperkenalkan Naya kepada kepala Pelayan yang di kenal dengan Sus Bety. Dia yang menangani semua kebutuhan Bram dan Naya di rumah tersebut. Sus Bety wanita yang usianya sekitar 45 tahun, dengan dandanan yang nyentrik itu sangat terlihat profesional menghandle seluruh maid yang berada di rumah Bram.


"Apapun yang Nyonya butuhkan, silahkan calling saya melalui telfon yang berada di setiap sudut rumah ini dengan menekan tombol 1" ucap Sus Bety dengan sedikit menundukan badan dengan elegan.


"Terimah Kasih, Sus Bety"


"Stop! jangan berterimah kasih sebelum saya melakukan sesuatu" ucap Sus Bety dengan tegas membuat Naya dengan sedikit terhenyak mendengar suara Sus Bety meningkat satu oktaf.


Bram melihat itu sedikit menegur Sus Bety dan juga memberi Naya penjelasan bahwa Sus Bety memang dikenal tegas dalam segala hal, walau begitu Bram sangat menyukai kinerjanya yang totalitas. Bram meraih jemari Naya meninggalkan tempat tersebut dan menuntun Naya berjalan untuk memperkenalkan seputar rumah mereka.


Naya melihat sebuah ruang makan yang megah dihiasi dengan meja makan panjang berlapis kaca dan kursi-kursi bergaya kerajaan yang berlapis kain sutra mewah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kandil gantung yang menjuntai dengan sinar cahaya yang lembut, menciptakan suasana makan yang romantis dan mewah.


Di lantai atas, terdapat kamar tidur-kamar tidur yang indah. Kamar tidur utama terhiasi dengan ranjang yang berlapis kain sutra berwarna emas dan dipenuhi dengan bantal-bantal berhiasan. Jendela-jendela besar memberikan pemandangan luar yang menakjubkan, membiarkan cahaya bulan menyinari ruangan dengan keanggunan yang menawan.


Taman yang terletak di belakang rumah adalah tempat yang tak kalah menakjubkan. Terdapat teras dengan meja dan kursi yang nyaman, tempat yang sempurna untuk menikmati secangkir teh sambil menikmati keindahan taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna-warni. Kolam renang berdesain elegan dan air mancur yang berputar-putar menambah pesona dan kemewahan taman.


Naya masih tidak percaya atas apa yang di lihatnya, Naya bahkan tidak sanggup lagi untuk berjalan melihat seputar rumah yang menurut penjelasan Bram,maish ada beberapa ruang yang belum mereka kunjungi, misalnya ruangan gym dan bisokop mini yang terletak tepat berseblahan dengan taman, mirip sebuah auditorium mini.

__ADS_1


"Sayang aku lelah, dimana kamar kita?" tanya Naya


Bram kemudian menggendong Naya, mereka memasuki sebuah lift untuk menuju lantai tiga, melihat itu Naya membulatkan matanya,


"Disini ada lift? kenapa ngga ngomong sih"


"Kamu nggak nanya sayang jadi aku nggak ngasih tau"


"Kalau aku tau, nggak cape-cape jalan sedari tadi"


Bram hanya memberi sebuah ciuman singkat di bibir Naya untuk mengurangi kekesalannya, karena Bram sudah sangat paham meladeni omelan istrinya saat itu tidak memberi ujunpangkal apapun.


Mereka tiba dengan sebuah pintu bergaya modern yang menggunakan sensor jari untuk bisa membuka pintu tersebut. Bram kemudian menarik jemari Naya untuk mendeteksi jemari Naya sebagai kunci duplikat baru untuk kamar tersebut. Bahkan Naya berpikir se-kaya apapun dia, Naya tidak pernah berpikir untuk membuat kamar dengan pintu yang sedemikian rumit.


Di tengah ruangan, terdapat tempat tidur yang besar dengan balutan selimut sutra berwarna emas atau perak, serta bantal-bantal berlapis kain mewah. Tempat tidur ini ditempatkan di atas landasan berlapis karpet bulu tebal, memberikan kesan kemewahan dan kenyamanan.


Di atas tempat tidur, tergantung sebuah gantungan langit-langit yang dihiasi dengan kristal-kristal yang berkilauan, memberikan efek cahaya yang indah saat disinari oleh lampu khusus.


Di sebelah tempat tidur, terdapat meja rias mewah dengan cermin besar yang dikelilingi oleh lampu sorot. Meja ini terbuat dari kayu berwarna gelap dengan ornamen-ornamen klasik yang halus. Di atas meja rias, terdapat kosmetik dan perhiasan mewah yang teratur tersusun dengan indah.


Di sudut ruangan, terdapat sofa berbalut kulit berwarna cokelat atau merah anggur, ditemani oleh meja kopi berlapis kaca yang dikelilingi oleh beberapa kursi mewah lainnya. Ruangan ini juga dilengkapi dengan perpustakaan pribadi yang terisi dengan berbagai buku koleksi dan memiliki kursi empuk yang nyaman untuk membaca.

__ADS_1


Dinding di sekitar ruangan ini dihiasi dengan lukisan-lukisan seni asli, baik berupa lukisan potret atau abstrak, dengan lampu sorot khusus yang menyoroti setiap karya seni. Di lantai, terdapat karpet berbulu lembut yang memberikan rasa hangat dan mewah di setiap langkah.


Selain itu, kamar Bram dan Naya dilengkapi dengan kamar mandi pribadi yang luas, dengan bak mandi berdinding kaca, pancuran hujan, dan marmer berkilauan di lantainya.


Naya brjalan mengelilingi kamar tersebut dengan sesekali tersenyum manis melihat bunga segar bertaburan dengan warna yang kontras dengan kingbad nya.


Bram spontan memeluk Naya dari belakang,


"Sayang, kamu suka kamar kita?" bisik Bram lembut


Naya hanya mampu menjawab dengan anggukan.


"Aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan menjadikanmu Ratu, jadi bersiaplah" bisik Bram kembali.


Naya yang mendengar itu hatinya tersenyuh, dengan sigap Naya berbalik dan memeluk erat tubuh Bram dan mencium dengan dalam aroma tubuh suaminya itu.


Naya menatap wajah Bram dan memegang wajah Bram dengan kedua tangannya, Naya sedikit menarik wajah Bram dan dengan cepat memberikan sebuah ciuman yang hangat untuk Bram.


Mendapat perlakuan itu, Bram merespon ciuman Naya dengan lembut hingga akhirnya menjadi sebuah tuntutan. mereka saling berpagut dan saling menerima oksigen di dalam sana. Naya semakin bergerak dengan membuka kain yang melekat di tubuh Bram dan memperlihatkan dada bidang Bram dan otot perut yang berkotak-kotak itu.


Naya mendorong Bram berbaring di tempat tidur dan melihat tubuh suaminya yang gagah, dengan otot-otot yang terdefinisi sempurna dan maskulinitas yang dikeluarkan oleh suaminya menariknya secara naluriah, seolah memanggil Naya untuk menjelajahi wilayah keintiman yang penuh gairah.

__ADS_1


Naya mendekat dengan perut yang sedikit membuncit mengambil posisi yang membuatnya sedikit nyaman, dalam setiap hela nafasnya, Naya menghirup aroma tubuh suaminya yang memikat.


__ADS_2