
"Asalkan anak itu darir ahimmu, aku sangat menerimanya tanpa peduli gender nya sayang"
Naya mencubit pinggang Bram karena setiap pertanyaan Naya yang serius selalu di balas dengan gombalan membuat Naya kehabisan akal, Naya lau meninggalkan Bram sendiri, sebelum Bram menyusul Naya, dia meraih Hp yang berada di sakunya, dia mengirim sebuah pesan untuk memata-matai Harun, apa yang saat itu dia lakukan.
Operasi telah selesai, Harun di pindahkan ke kamar VIP sesuai dengan permintaan Melani, semuany ikut menjaga Harun, dokter mengatakan jika operasinya berjalan lancar. Untuk sementara Harun tidak boleh banyak pikiran atau mendengar hal yang bisa memicu jantungnya berdetak cepat karena bekas operasi belum sepenuhnya pulih.
Ke esokan harinya, Bram yang sedang berada di kantor menerima informasi dari bawahannya bahwa Harun sedang di rawat di rumah sakit karena jantung. Bram tersenyum dan menyerumput secangkir kopi di mejanya.
"Tuhan saja malas bertemu dengan manusia seperti dia" gumam Bram
Dia kemudian meninggalkan ruangan dan ke rumah memberitahu Naya jika ayahnya sakit. Sebagai anak Naya meminta Bram mengantarnya untuk menemui Harun tapi sesampainya mereka di rumah sakit, keadaan tidak sesuai yang di harapkan,
"Untuk apa kau datang, kau ingin menertawakan kami?"
"Maksud mama apa? kenapa Mama bisa setega itu menuduh Naya"
"Tidak usah Drama deh, Kakak dan dia yang membuat Papa seperti ini" ucap Arana sinis dengan menunjuk Bram tanpa sopan.
Naya menjelaskan bahwa mereka tidak melakukan apapun sedangkan Bram dengan lihainya mmebuat pembahasan mereka tidak sampai membahas masalah perusahaan yang di kosongkan ulah Bram,
"Sudahlah sayang, kita pulang" ucap Bram dengan memeluk pundak istrinya.
Melani dan Arana bergantian menjaga Harun, MElani memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk mengambil beberapa perlengkapan untuk Arana juga. Saat mobil Melani memasuki area parkir halaman rumahnya, dia melihat dua mobil tengah berjejer di hadapan rumahnya.
Melani berjalan dan melihat beberapa orang dengan setelan resmi menatap ke arahnya dan mendekati Melani,
"Ada apa ini, siapa kalian?"
"Kami dari pihak bank datang ke sini untuk menagih pinjaman atas nama tuan Harun Wicaksana yang sudah menunggak selama dua bulan"
"Ha? jangan omong kosong kalian, itu tidak mungkin"
Salah satu pria dengan setelan formal tersebut memberikan sebuah map yang berisi utang Harun yang nominalnya fantastik, Melani yang tidak terima, dia merobek lembaran tersebut dan mengusir beberapa pria yang sudah menunggunya sejak lama,
__ADS_1
"Kami berharap, Nyonya bisa bekerja sama sebelum kami menggunakan pidana hukum untuk hal ini"
Melani terduduk di teras rumahnya karena merasa kakinya sangat lemas, dia mengutuki Harun yang telah melakukan hal itu tanpa persetujuannya, "Untuk apa uang sebanyak ini" ucap Melani lirih.
Melani terdiam dan berusaha berpikir dengan tenang untuk masalah tersebut, Melani meminta mereka semua kembali esok hari tapi dalam surat perjanjian tertulis saat itu semua harta bergerak dan mewah akan di sita terlebih dahulu sebagai jaminan sebelum Melani melunasi utang Harun, dia tidak di perbolehkan mengabil segala benda yang telah di sita oleh pihak bank, termasuk rumah.
Melani kembali ke rumah sakit dengan wajah yang lesu, Arana yang melihat itupun mendekati Melani dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Melani menjelaskan semuanya membuat Arana syok.
"Maksud Mama, mobil kesayangan Arana juga di sita oleh bank?" tanya Arana yang dibalas dengan anggukan.
Arana menangis tersedu, bagaimana bisa masalah menimpanya begitu banyak, tiba-tiba Alea yang membuka pintu rumah sakit menemukan Aran yang tersedu-sedu bertanya tentang apa yang terjadi. Melani menjelaskan semuanya membuat Alea terdiam,
"Apa yang harus kami lakukan Alea, kami tidak memiliki apapun"
"Bagaimana jika kalian menemui Naya dan meminta bantuannya"
"Jangan Ma, kita akan di permalukan oleh suaminya" ucap Arana
"Bagaimana ini, kami tidak memiliki rumah lagi dan juga biaya rumah sakit Papa" ucap Melani yang memijat kepalanya.
"Benarkah Alea? terimah kasih" balas Melani dengan sumringah
Alea tidak ada jalan lain, dia harus menemui Jhon dan meminta bantuannya. Alea menjelaskan hal itu kepada Melani dan mereka semua setuju. Walaupun yang sebenarnya Alea melakukan itu karena memiliki tujuannya sendiri.
Telah di putuskan esok hari, Alea melakukan penerbangan ke Negri kerajaan untuk menemui Jhon. Sebelum itu Alea juga membantu membayar pengobatan Harun untuk menunjukan kebaikannya yang memiliki niat yang lain.
Di tempat lain, Bram mendapatkan informasi tentang penyitaan harta kekayaan Harun dan Melani hanya tersenyum, dia merasa alam seakan berpihak padanya. Tanpa melakukan apapun. Saat Bram sibuk dengan hayalannya tiba-tiba seseorang memasuki ruangan tersebut dan menyimpan sebuah map di hadapan Bram,
"Mission Complete"
"Rey?! kapan kau kembali?!"
"Baru saja"
__ADS_1
"Bukankah-"
"Bukankah aku kembali harusnya tahun depan saja?"
"Ha ha ha bukan begitu Rey, baiklah. Bagaimana tugasmu?"
Rey menjelaskan jika dia berhasil mendapatkan banyak saham milik Nikol di Eropa, hanya menunggu perintah Bram kapan Nikol akan di eksekusi. Bram tersenyum dan berjalan meninggalkan singgasananya, menepuk pundak Rey.
"Hari ini Rey"
"Sepertinya kau memang tidak berniat memberiku waktu untuk istrahat"
"Nanti kau bisa mengambil cuti sesukamu"
"Baiklah, kau akan kedatangan dia beberapa hari lagi memohon kepadamu"
Bram tersenyum devil. Dia kembali ingin duduk ke singgasananya tapi langkahnya terhenti, dia meminta Rey memastikan semua berita tentang Harun tidak di tampilkan oleh publik karena dia tidak ingin Naya mengetahuinya.
Rey kembali mengangguk, dia melanjutkan langkahnya dan kembali di panggil oleh Bram membuat Rey menghembuskan nafasnya pelan dan berusaha mengontrol amarahnya,
"Setelah itu, sesuai janjimu. Acara pernikahanku dan Naya harus segera di lakukan"
"Baik tuan Bram Raka Yudisitra" ucap Rey dengan sangat lengkap dan dingin
Bram yang mendengar itu, mengerutkan alisnya sedangkan Rey sudah meninggalkan ruangan kerja Bram dengan tergesa-gesa. Bram benar-benar merasa memiliki seorang saudara.
...****************...
Inggris.....
Alea tiba dengan taksi memasuki area gedung yang tinggi tempat apartemen mewa itu berada, Alea berjalan dengan santai membawa kopernya dengan ciri khas heels yang menunjukan bahwa dirinya adalah wanita berkelas.
Sampai pada pintu untuk kamar VIP, Alea berusaha membuka pintu tersebut menggunakan card yang berada di tangannya tapi usaha Alea sia-sia.
__ADS_1
"Sial, Ada apa ini?" Alea kemudian berjalan ke lantai dasar bagian pusat pelayanan apartemen tersebut.