
William dan Ronald sangat bahagia, William ingin menjadi pengganti Jhon membuat raut wajah Ronald meradang, dia tidak menerima apa yang William inginkan karena Ronald juga ingin menjadi seorang pemimpin.
"Ronald, aku lebih tua di banding dirimu,".
"Ini buka perihal usia William, tapi kau tidak mampu memimpin perusahaan sebesar itu,".
"Bagaimana kau tahu?!" ucap william dengan berkacah pinggang.
"Baiklah, tapi aku ingin kau mengangkat seorang wakil direktur dan aku ingin duduk di posisi itu,".
William mendengar keinginan Ronald dengan berat hati menyetujui keinginannya. Setelah sepakat, mereka berdua mengadakan pertemuan mendadak dengan para pemegang saham di perusahaan Jhon dan memina Jhon ikut hadir.
Jhon yang mendapat informasi tersebut memijat kepalanya dengan perasaan muak, karena dia tahu kedua saudaranya itu membuat masalah lagi dengannya. Jhon merasa malas menghadapinya karen itu bukan kali pertama mereka melakukan pertemuan dadakan.
Jhon yang datang satu jam setelah permintaan William, memasuki ruangan dengan langkah yang malas. Dia duduk di kursinya dengan menyenderkan punggung dengan santai. William yang menunggu sedari tadu sudah sudah tersulut emosi. Dia kemudian mengambil alih dan memimpin pertemuan tersebut,
"Hari ini kau harus lengser dari jabatanmu, karena saat ini kau bahkan tidak memiliki sepeserpun saham di perusahaan ini," ucap William
Jhon mendengar itu tertawa terbahak-bahak. Jhon menatap para pemegang saham yang berada di hadapannya. Jhon tahu bahwa semua yang berada di hadapannya itu berada di pihaknya tapi mereka memberi isyarat bahwa apa yang di katakan William itu benar.
Ekspresi Wajah Jhon berubah. Dia mengepal erat tangannya dan memandang satu persatu para pemegang saham tersebut.
"Apakah keuntungan yang kalian dapat selama ini masih kurang? Hah?!,". Teriak Jhon
Mereka semua terdiam karena mereka tahu, Jhon sangat berbahaya. Ucapannya kadang menjadi ancaman untuk keluarga mereka. Jhon kembali menimpali ucapan William, Jhon tidak terima tapi William melempar beberapa lembar kertas yang menjelaskan bahwa keputusan sudah di sepakati sebagai tanda pengalihan kekuasaan yang telah di tanda tangani oleh Jhon sendiri.
Jhon tidak percaya, dia meraih lembaran tersebut dan melihat tanda tangannya sendiri.
"Sialan wanita itu, aku akan membunuhnya," gumam Jhon dengan geram mengingat Arana.
Jhon kehabisan kata karena bukti pengalihan sudah ada di depan mata. Jhon mengeluarkan senjata yang di selipkan di balik jas nya dan senjata tersebut mengarah ke William dan yang lainnya.
Suasana ruangan panik, William yang melihat senjata di arahkan ke kepalanya memucat. Begitupun Ronald. Dia tidak tahu jika kakaknya yang selama ini bersikap wibawa dan cerdas memiliki watak seperti itu.
Jhon tertawa melihat wajah panik di dalam ruangan tersebut.
"Cara satu-satunya untuk memiliki harta ayah, kalian berdua harus mati,". Ucap Jhon dengan mengarahkan senjata tersebut ke William dan juga Ronald.
"Seharusnya aku melakukan ini sejak lama. Dan kalian semua...," ucap Jhon dengan mengarahkan senjatanya ke para pemilik saham.
__ADS_1
"Kalian akan mendapatkan balasannya setelah ini,".
William akhirnya berusaha mendekat dan berbicara yang sopan kepada Jhon,
"Dengarkan aku, kau sudah lama berkuasa untuk perusahaan ayah, kau lebih baik berisitrahat sejenak dan perushaan keluarga kita akan di teruskan oleh anakku, aku tidak ingin perusahaan ayah. Aku hanya ingin perusaan ayah di teruskan ke generasi selanjutnya,".
Jhon tertawa mendengar penjelasan William, Jhon sudah gelap mata. Bukannya luluh dengan penjelasan William. Jhon malah menembak lengan William dan membuat suasana semakin panik,
***Dorrrr*.....
"Arrggggjhhhhhhh,"
"William.......," teriak Ronald.
"Yang sebenarnya, kalian berdua tidak pernah menganggapku sebagai saudara kan?!," teriak Jhon
Ronald mendengar itupun ikut memanas, Ronald berdiri di hadapan Jhon.
"Kau benar, karena kau bukan kakak kandung kami. Kau adalah anak seorang wanita penghibur. Wanita peliharaan ayah, wanita pelacur. Kami berdua adalah anak Sah secara hukum dan-,".
Dorr....
Dor.....
Jhon melihat William dengan tatapan yang tajam, begitupun dengan William.
"Kenapa? Kau ingin menyusul saudaramu itu?," ucap Jhon sinis
"Dasar anak wanita sialan," timpal William.
Dorr....
Jhon telah melenyapkan dua saudranya, yang tersisa dalam ruangan tersebut adalah para pemegang saham. Jhon menatap tajam ke arah mereka yang wajahnya sudah memucat dengan keringat dingin,
"Ha ha ha, tenanglah. Aku tidak akan membunuh orang yang patuh dengan perintahku,".
"Kami ti-tidak akan melakukan itu," ucap salah satunya dengan suara yang terbata-bata.
"Buktikan, ambil lembaran itu lalu robek. Anggap saja kalian tidak melihat apapun hari ini dan tidak menandatangani apapun. Aku memaafkan kalian," ucap Jhon dengan tatapan tajam
__ADS_1
Akhirnya salah satu dari mereka meraih lembaran tersebut dan ingin merobek tepat di jadapan Jhon, tapi tiba-tiba pintu terbuka dan Bram memasuki ruangan tersebut dengan tersenyum penuh makna.
"Kau?!,".
Bram hanya menyunggingkan senyumnya sinis. Bram berjalan dengan tegap dengan kaca mata hitam yang bergengger di hidungnya, mempertegas wajahnya dengan karisma yang mematikan.
"Sialan, wanita itu membohongiku," ucap Jhon
Jhon dengan kalap mata mengangkat senjatanya ke arah Bram.
"Baik, karena kau datang sendiri aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri," ucap Jhon dengan tatapan sinis
Bram mendengar itu hanya menaikkan pundaknya tanda tidak peduli dan membuka kacamatanya dengan tatapan dingin. Wajah Bram berubah datar sperskian detik.
"Sepertinya kalimat itu cocok untukmu, bangsat!,".
Jhon yang mendengar ucapan Bram sudah sangat geram, dia ingin menarik pelatuk tapi Lyodra tiba-tiba muncul mengganggu konsentrasi Jhon yang melirik Lyodra membuat Bram memiliki kesempatan untuk lebih dulu mengeluarkan senjatanya dan,
Dorr.....
"Argghhhh......," teriak Jhon mengerang.
Tembakan tepat di pundak kanannya membuat senjata yang berada di tangan Jhon terjatuh.
Dorr....
Tembakan tepat di pundak kirinya, "Arrhghhh.....," erang Jhon.
Lyodra tetap berdiri pada posisinya, dia terdiam menatap Jhon yang kesakitan.
"Sayang, cepat ambil senjatanya dan bunuh dia," teriak Jhon kepada Lyodra.
Lyodra hanya diam, hatinya mati. Matanya mengisyaratkan lain,
"Bram, bunuh dia,". Ucap Lyodra
Jhon mendengar itu menatap Lyodra tidak percaya, Jhon berharap dia hanya salah mendengar ucapan Lyodra, wanita yang menikah dengannya dua puluh tahun yang lalu.
"Ha ha ha, kau.... dasar wanita licik," teriak Jhon frustasi.
__ADS_1
Lyodra mendekat, berdiri tepat di hadapan Jhon yang tidak bisa menggerakan tubuhnya sama sekali, dia dalam posisi berlutut.
"Harusnya kau melakukan ini sejak lama Jhon. Kau menyakitiku dengan meniduri banyak wanita lain, kau menghianati aku dan kau hanya diam tanpa membalas dendam kematian anak kita. Kau hanya mementingkan keinginanmu, kau bahkan takut jika hartamu akan di ambil oleh anak kita, kau-,"