
Bram dan Naya menikmati kehangatan dan kedamaian layaknya pasangan muda yang sedang berbulan madu pada umumnya, setelah pertempuran penuh kecintaan yang baru saja mereka lalui.
Di sudut kamar yang diterangi oleh sinar matahari, Bram dan Naya kembali berbagi cerita-cerita intim, tertawa dan berbagi rahasia. Suara tawa mereka memenuhi ruangan dengan kebahagiaan yang tak tergantikan.
"Sayang, kita harusnya lebih sering seperti ini"
"Iya sayang, tentu".
"Tapi jangan membuat tabungan kita habis"
"Tidak akan" balas Bram dengan tersenyum gemas kepada Naya
Hari itu bertepatan karyawaan bagian Devisi Fashion di liburkan tanpa alasan yang jelas, Naya pun bahagia karena selain kelelahan karena ulah Bram, dia juga masih ingin menikmati waktu berdua dengan Bram di rumah, begitupun dengan Bram yang beralasan sedang mendapatkan cuti libur,.
Naya merasa hari itu penuh dengan keberuntungan.
...***...
DI TEMPAT lain, Rey kelelahan menghandle semua kegiatan Bram yang batal mendadak, di tambah beberapa pertemuan wajib yang harus Rey lakukan untuk menggantikan Bram.
TIba-tiba seorang wanita muncul dengan penampilannya yang memukau dan pesona yang memikat, dia memanfaatkan kecantikan dan daya tariknya sebagai senjata untuk mencapai tujuannya. Siapa lagi kalau bukan Sabrina. Dia belum menyerah untuk mendapatkan Bram.
Rey yang sedang sibuk memeriksa beberapa file dengan posisi tubuh yang sedang memunggungi arah Sabrina, dia tidak menyadari jika Sabrina memasuki ruangan tersebut. Sabrina terkecoh karena Rey memiliki postur tubuh yang hampir sama dengan Bram. Sabrina mendekat dan tiba-tiba memeluk Bram dan menggerakan tubuhnya pelan,
__ADS_1
"Maafkan aku, aku lancang, aku ingin mengatakan sesuatu, jangan berbalik" ucap Sabrina dengan suara yang sedikit di sertai *******
Rey mendengar itupun menyunggingkan senyum devilnya. Rey tidak menyangka jika Sabrina bisa memiliki keberanian sebesar itu. Hanya karena kekuasaan dia rela merendahkan dirinya. Rey masih terdiam mendengar ucapan manis Sabrina yang menyatakan perasaannya dan memberitahukan tetnang hubungannya dengan Rey yang telah berakhir.
"Aku lebih mencintaimu dari pada Rey, aku mendekatinya hanya untuk bisa bersamamu, aku harap kau bisa memberiku kesempatan" ucap Sabrina lagi
Rey memegang tangan Sabrina yang memeluk erat pinggangnya kemudian berbalik. Sabrina yang melihat itu awalnya tersenyum menjadi shock karena lelaki yang di harapkannya bukan Rey tapi Bram. Sabrina merasa malu.
"Kenapa, kau kecewa?" tanya Rey sinis
"Apa yang kau lakukan di sini, seorang bawahan tidak pantas berlama-lama diruangan ini"
"Bagaimana denganmu?!" timpal Rey
"Sudahlah, aku tidak ada urusan denganmu. Katakan pada Bram, besok aku akan datang lagi." jelas Sabrina, kemudian dia meninggalkan ruangan tersebut dengan terburu-buru.
Rey menyanyangkan sikap Sabrina yang berubah drastis, Sabrina yang Rey tahu selama ini tidak memiliki sikap yang rendahan,dia selalu menunjkan betapa berkelasnya dia, betapa cerdasnya dia. Kini kekaguman Rey luntur hanya karena Sabrina mengejar kekuasaan dan nama baik semata.
Apa yang terjadi di ruangan tersebut, terlihat jelas oleh Bram melalui HP nya yang terhubung dengan CCTV yang berada pada ruangannya. Bram sudah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Bram sudah paham mengapa sikap Sabrina akhir-akhir ini berubah, begitupun dengan Rey.
Hari-hari terlewati dengan biasa saja, Naya dan Bram kembali ke kegiatan semula. Begitupun sabrina yang tidak menyerah untuk mengunjungi perusahaan tersebut untuk bertemu dengan Bram tapi tertolak bahkan tidak mampu menemui Bram.
...***...
__ADS_1
Pengumuman project pembangunan Natuna Beach Hotel akan berlansung, para staf khusus terlihat berlalu lalang mengawal para tamu undangan yang istimewa. Pada ruangan gedung khusus yang di desain arsitektur yang megah. Fasadnya yang mengkilap, terbuat dari kaca dan baja, memantulkan sinar matahari dan menciptakan kilauan yang memikat.
Pintu masuk utama terbuka lebar, para tamu undangan dari semua kalangan datang, pengusaha ternama, konglomerat, artis, model yang datang bersama rekan yang mendapatkan undangan atau mereka hadir untuk memeriahkan acara tersebut, sekaligus ingin melihat pewaris tunggal Yudistira yang di kabarkan hari itu akan tampil perdana untuk pertama kalinya.
Tidak heran para pengusaha yang termasuk dalam daftar konglomerat pun, menghadiri acara dengan memboyong para anak gadis mereka yang sekiranya akan di perkenalkan oleh cucu Tuan Brahma itu.
Para tamu disambut oleh karpet merah yang terhampar di lantai marmer yang indah. Di sisi kiri dan kanan, pilar-pilar setinggi langit memberikan kesan kemegahan yang tak tergambarkan. Cahaya kristal yang tergantung di langit-langit menghiasi gedung dengan keindahan yang memukau.
Ruangan utama, tempat acara pembukaan akan berlangsung, dipenuhi dengan ornamen-ornamen mewah. Lampu gantung bergaya klasik mengeluarkan cahaya lembut yang memancar ke segala penjuru ruangan. Dinding-dindingnya yang dihiasi dengan lukisan-lukisan pemandangan alam menghadirkan keindahan yang tak tertandingi.
Panggung yang terletak di ujung ruangan terhampar luas, dihiasi dengan hiasan bunga-bunga segar yang memberikan sentuhan warna dan keharuman. Latar belakang panggung berupa layar LED lebar yang menampilkan logo perusahaan dengan animasi yang elegan. Di sekeliling panggung, kursi-kursi mewah tersusun rapi, menunggu kedatangan para tamu yang akan menyaksikan momen bersejarah ini.
Di belakang panggung, terdapat ruang VIP yang eksklusif untuk para tamu undangan khusus. Ruangan itu dirancang dengan kemewahan yang tak terkira, dengan furnitur mewah, permadani lembut, dan dekorasi yang sempurna. Pelayan-pelayan berpakaian rapi dengan senyum ramah siap memenuhi kebutuhan para tamu yang berada di ruang itu.
Suara musik klasik yang mengalun lembut mengisi udara, menciptakan atmosfer yang tenang dan mempesona. Sejumlah para tamu yang datang dari berbagai kalangan memadati ruangan, mengenakan stelan Jas formal yang mewah dan tegas, serta bagi para wanita menggunakan pakaian dress yang terlihat begitu anggun. Mereka berbaur dalam percakapan yang berkelas, menantikan momen puncak acara yang akan datang.
Saat waktu acara semakin dekat, para tamu duduk di tempat masing-masing dengan penuh kegembiraan. Cahaya redup memancar dari lampu-lampu sorotan, menciptakan nuansa misterius yang menggugah perasaan. Suara langkah kaki yang gemetar terdengar saat seorang pembawa acara naik ke panggung, mengumumkan dimulainya acara pembukaan tersebut.
Dengan sorot mata yang penuh harapan, para tamu merasakan getaran yang tak terlukiskan saat langkah pertama oleh kakek Brahma memasuki gedung dengan langkah yang mantap dan perlahan.
Wajahnya yang berkerut menunjukkan tanda-tanda usia yang penuh pengalaman, namun matanya yang tajam masih menyiratkan kecerdasan dan kebijaksanaan yang dalam. Ia mengenakan setelan jas tua yang terawat dengan baik, melambangkan keanggunan dan kehormatan yang melekat padanya.
Rambut putihnya yang berjumbai menghiasi kepala yang bijaksana, memberikan kesan bahwa ia telah melalui banyak perjalanan hidup. Setiap langkah yang diambilnya penuh dengan kehati-hatian, menunjukkan keberanian dan keyakinan yang terpancar dari dalam hatinya.
__ADS_1