
Kau hanya mementingkan keinginanmu, kau bahkan takut jika hartamu akan di ambil oleh anak kita, kau-,"
"Dan kau menghianati aku, bekerja sama dengan musuh untuk membunuhku? Ha ha ha,.. anak yang ibunya dulu aku-," ucap Jhon
Dorrrr..
Dorrrr..
Dorrrr..
Tiga peluru menghantam jantung Jhon.
"Bangsat!" Ucap Bram.
"Jangan pernah menyebut nama ibuku dengan mulut kotormu!" batin Bram.
Lyodra melihat itu, masih diam tapi air matanya tetap mengalir. Bagaimanapun Lyodra pernah merasa bahagia bersamanya. Lyodra akhirnya melirik Bram kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Bram yang mendapat tatapan Lyodra paham memberi balasan dengan anggukan.
Bram melihat beberapa pemegang saham yang berada di ruangan itu, mereka semua terdiam dengan wajah yang pucat, mereka tidak pernah percaya bahwa apa yang mereka lihat selama ini hanya berada di dalam televisi sudah jelas terjadi di depan mata mereka.
Bram memberi ancaman jika mereka membuka mulut, maka hal yang sama akan terjadi kepada hidup mereka. Bram meninggalkan ruangan tersebut dan memberi perintah kepada beberapa orang yang berada di luar ruangan yang telah menunggu Bram,
"Ingat, lakukan dengan rapi," perintah Bram.
...****************...
Esok hari, Bram kembali ke Negaranya dan ingin bertemu dengan keluarga kecilnya. Tapi sebelum itu, Bram ingin memberi pelajaran kepada kedua mertuanya itu, Bram sudah tahu kebenarannya jika Jhon, Alea dan mereka, bekerja sama untuk menghancurkannya tapi naas, Naya yang mendapatkan hasil dari kejahatannya. Walaupun begitu, mereka tidak memikirkan nasib Naya sekalipun, membuat Bram sangat geram.
Media di hebohkan dengan kematian Jhon, William dan Ronald dengan kasus narkoba, pencucian uang dan pembunuhan. Polisi menguak kasus pengedar narkoba terbesar di negaranya adalah Jhon Mayer. Alea dan Arana juga tertangkap karena kasus tersebut. Mereka di curigai sebagai sindikat narkoba.
Lyodra sementara sedang dalam pencarian. Istri William dan Ronald pun untuk sementara waktu juga memasuki jeruji besi karena mereka terkena tuduhan kasus pembunuhan anak Lyodra dan narkoba.
Harun dan Melani yang baru kembali liburan dari sebuah pulau yang terkenal keindahan flora dan fauna di negaranya tidak mengetahui apapun, dia memasuki rumah mewahnya dengan sangat bahagia,
__ADS_1
"Du du du du.....," Harun bersenandung memasuki ruangan tamunya.
"Hah, aku sangat lelah Pa," ucap Melani
"Aku juga Ma, kenapa sangat sepi. Di mana para pelayan. Minta mereka membuatkan kita jus," ucap Harun
Melani hanya memencet sebuah bel tanda panggilan kepada para pelayan bagian dapur tapi tidak ada dari mereka yang menyahut. Tiba-tiba langkah seorang lelaki menuruni anak tangga dengan setelan jas yang mewah dengan wajah yang datar menatap mereka tajam,
"K-kaa-u?!,". Ucap Melani gugup yang melihat Bram lebih dulu.
"Pa, Pa, hantu Pa, Hantuuuu....," teriak Melani lagi.
Harun yang bermain ponsel menghentikan aktifitasnya dan melihat arah Melani memandang, ponsel yang berada di tangan Harun terjatuh, Harun tidak percaya apa yang di lihatnya. Harun melirik ke lantai pijakan kaki Bram, masih ada bayangan di sana.
"Kau? Apa yang kau lakukan disini?!," teriak Harun
"Pa, dia bukan hantu?," tanya Melani.
"Dasar Alea, dia berbohong. Hei, apa yang kau lakukan disini, cepat keluar,!" Teriak Melani.
"Benar, cepat keluar. Jangan injakkan kaki kotormu di rumahku ini,".
"Ha ha ha rumah? Rumah kalian? Rumah yang mana?," tanya Bram yang akhirnya duduk di sebuah sofa dengan menyilangkan kaki dan mengelur jam tangan kesayangannya yang bernilai fantastis.
"Apa yang kau katakan. Cepat Pa. Panggil security untuk usir dia. Atau panggil para bodyguard Papa untuk menyeret dia keluar dari rumah ini," ucap Melani
Bram mendengar itu melirik Melani tajam, Bram menepukan tangannya sekali, para pelayanan bermunculan dari lantai atas menuruni anak tangga dengan membawa beberapa koper yang berisi pakaian Harun dan Melani.
Harun dan Melani syok, Harun kemudian mencoba menghentikan para pelayan tersebut,
"Berhenti, apa yang kalian lakukan?," teriak Harun.
Para pelayan tersebut menghentikan langkahnya kemudian menatap Bram.
__ADS_1
"Mengapa kalian menatap Dia, kalian adalah pelayanku, berani sekali kalian melakukan ini,".
Bram kembali menatap para pelayan itu,
"Buang semua sampah-sampah itu dan kosongkan rumah ini," perintah Bram.
Harun dan Melani saling memandang, sedangkan semua pelayan sudah berjalan melewati mereka, Melani berlari meraih salah satu koper kesayangannya yanh di seret oleh para pelayan tersebut tapi pelayan tersebut menghempaskan tangan Melani membuat dia terjatuh ke lantai,
"Berani sekali kau," teriak Melani.
Pelayan tersebut tetap berjalan tanpa peduli apapun yang Melani katakan, Bram tersenyum sinis melihat Melani. Dia berdiri dari tempatnya dan berjalan ingin meninggalkan ruangan tersebut tapi sebelum itu, Bram mengeluarkan sebuah map yang berada di balik setelan jasnya.
"Baca dengan baik-baik setelah itu kosongkan rumah ini," ucap Bram kemudian melempar map tersebut ke hadapan Harun.
Dengan mata yang memerah, Harun meraih map tersebut, membuka dan membaca seksama apa isi dari lembaran tersebut, Harun tampak syok karena bangunan tersebut entah kapan bisa beralih kepemilikan menjadi milik Bram dan juga perusahaan Yudistira yang ternyata masih utuh milik Bram, semua karena Tuan Mahendra yang memberikan hak kuasa palsu kepada Alea.
Bram kembali melanjutkan langkahnya tapi Harun yang tersulut emosi meraih salah satu pot bunga yang bertengger di meja ingin memberi pukulan keras tepat di bagian kepala Bram, tapi Bram peka dan menghindari Harun.
Akhirnya Harun terjatuh dan pecahan pot yang berceceran membuat Harun terluka di beberapa bagian wajahnya, Bram tersenyum melihatnya, dia mendekat dan melihat wajah Harun di penuhi darah segar mengalir di wajahnya.
"Kau tahu? Aku sudah memberikan banyak kesempatan tapi kau malah bekerja sama dengan Alea, Jhon untuk membunuhku dan Naya. Anak yang selalu membanggakanmu, hanya diam saat kalian sakiti, nyawanya hampir kalian renggut. Kecelakaan yang kalian tonton dalam Televisi itu korbannya adalah Naya. Wajahmu di penuhi beling itu, Naya sudah lalui. Sekarang, aku sendiri yang akan membalasnya,".
"Apa?! Naya?! Tidak mungkin. Maafkan aku Nak, tolong pertemukan aku dengan Naya," ucap Harun.
Bram berdecih, "Terlambat, kalian tidak akan bisa menemuinya sampai kalian mati sekalipun,". Ucap Bram kemudian meningglkan tempat tersebut.
Melani histeris, sedangkan Harun duduk dengan menyenderkan diri duduk termenung. Melani meminta Harun untuk berobat terlebih dahulu dan menemui Naya,
"Pa, kita masih memiliki kesempatan. Naya pasti akan memaafkan kita, Ucap Melani
Harun mendengar itupun setuju, mereka berdua keluar dari rumah dan ingin memasukkan koper-koper mereka ke dalam mobil tapi mobil yang mereka gunakan sebelumnya telah di jaga ketat oleh beberapa bodyguard.
Harun dan Melani terpaksa menggunakan taksi untuk kerumah sakit kemudian menuju sebuah Hotel untuk mengistrahatkan diri dan melanjutkan rencana jahat mereka.
__ADS_1