
Naya mendekati suaminya dengan perut yang sedikit membuncit, kemudian mengambil posisi yang membuatnya merasa sedikit nyaman. Setiap kali ia menghirup aroma tubuh suaminya yang memikat, hatinya terasa terbakar oleh perpaduan sempurna antara maskulinitas dan kehangatan. Seperti magnet yang tak terelakkan, ia merasakan hasrat dan keinginan yang meluap-luap, menyebar ke setiap serat tubuhnya.
Tanpa berkata-kata, bahasa tubuh mereka saling berbicara. Gerakan lembut Naya telah mengintip gaya tubuh suaminya, menciptakan getaran erotis yang menggelitik dan merangsang. Mereka mengekspresikan cinta mereka dengan gairah, seperti labirin tak berujung yang membawa mereka ke puncak kenikmatan yang melampaui batas.
Perlahan-lahan, Naya merasakan suhu tubuh suaminya yang hangat memenuhi ruang di antara mereka. Getaran dan getaran yang menyebar melalui tubuhnya menghasilkan sentuhan yang intens, menghubungkan mereka dalam ekstase yang tak tergambarkan dengan kata-kata. Dalam keintiman yang dalam, mereka menari dalam irama tak terlihat dari kecintaan dan kehangatan.
...***...
Bram dan Rey sibuk mempersiapkan sebuah pertemuan dengan beberapa klien di ruangan tengah, tiba-tiba pintu terbuka dengan keras. Masuklah Sabrina yang merasa tersinggung dengan berita yang sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial. Sabrina merasa malu di depan teman-temannya dan dianggap sombong karena masalah itu, sehingga ia dijauhi oleh mereka.
Bram memberikan tatapan yang dingin kepadanya meskipun Sabrina masih dalam keadaan kesal. Sabrina ingin memulai percakapan, tetapi Bram menaikkan tangannya sebagai tanda untuk tidak berkata-kata.
"Rey, panggillah petugas keamanan," kata Bram.
Rey mendengarnya dan menjalankan perintah Bram, meskipun pada dasarnya Rey penasaran dengan tujuan kedatangan Sabrina.
"Bram, aku menyukaimu, apakah sikapku selama ini tidak cukup jelas untuk menunjukkan hal itu?" Tanya Sabrina.
"Rey, ada apa dengan wanitamu itu, sepertinya dia memiliki gangguan jiwa?" timpal Bram kepada Rey
"Tidak! Aku bukan wanita Rey, aku hanya mencintaimu, aku hanya menyukaimu Bram, kau tahu-"
"Keberanianmu datang dari mana?" Potong Bram ucapan Sabrina.
"Bram, latar belakang kita sangat cocok, apakah kau tidak ingin bersamaku? Aku lebih baik daripada istriku dan-"
"Berani sekali kau membandingkan dirimu dengan istriku," ucap Bram sambil memotong ucapan Sabrina.
__ADS_1
"Rey, walaupun dia mantan kekasihmu...," sambung Bram lagi.
"Kami tidak lagi punya hubungan apapun," balas Rey dengan cepat dan tegas.
Bram sudah mengetahui hal itu, hanya saja dia ingin mendengar langsung dari mulut Rey agar Bram bisa melakukan pembalasan dengan keluarga Sabrina tanpa harus memikirkan perasaan Rey yang dianggap sebagai saudara.
Sabrina mengepalkan tangan, karena Rey memberikan tatapan sinis dan jijik kepadanya. Sabrina berdecak kaget dan juga menatap Rey dengan sinis.
"Aku memang gila karena pernah menjalin hubungan denganmu. Aku memang bodoh karena tidak mengikuti permintaan Papa ku untuk bersama Bram sejak dulu, kau hanya seorang yatim piatu..." ucap Sabrina sambil menunjuk Rey.
Bram memukul meja di depannya dengan keras, kemudian dengan tatapan yang tajam. Sabrina terdiam dan mencoba untuk meminta maaf, sebenarnya dia merasa menyesal atas perbuatannya itu, namun karena hasutan keluarganya, Sabrina rela merendahkan dirinya untuk mencoba memberikan pendekatan dengan Bram yang juga sahabat dari mantan kekasihnya yang sesungguhnya.
Bram kemudian mengambil selembar kertas yang berada di laci meja dan menunjukkannya kepadanya, meminta Rey untuk menandatanganinya dengan cepat. Rey hanya mengikuti tanpa tahu maksud Bram.
"Lihatlah dengan baik, lembaran ini memberikan hak secara hukum yang jelas bahwa Rey sudah termasuk dalam keluargaku, dan dia berhak mendapatkan bagian dari harta kekayaanku. Mulai saat ini, ia akan menggunakan nama Yudistira di belakang namanya dan akan menjadi seorang direktur perusahaan di salah satu perusahaan yang lebih besar daripada milik keluargamu. Sekarang tinggalkan ruangan ini sebelum aku benar-benar melenyapkanmu, bersyukurlah karena kau seorang wanita dan aku masih menghargai itu."
Rey menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Sudahlah, lupakan dia," ucap Bram yang tahu bahwa Rey tulus mencintai Sabrina, meskipun akhirnya hubungan mereka kandas, Rey sudah melakukan yang terbaik.
"Harusnya kau tidak melakukan itu untuk membuat Sabrina merasa bersalah, lebih baik kau mengusirnya."
"Aku tidak melakukan itu untuk membuat mantanmu merasa bersalah, tapi aku serius untuk menjadikanmu bagian dari keluargaku."
"Kau gila."
"Aku percaya padamu dan Kakek juga menginginkan itu."
__ADS_1
Sesaat Rey terdiam.
Bram menepuk pundak Rey.
"Selamat datang di keluarga kami, Rey, aku percaya padamu."
Mata Rey berkaca-kaca. Meskipun selama ini Rey juga telah menganggap Bram sebagai kerabatnya, namun rasanya berbeda saat itu menjadi resmi di mata hukum. Rey benar-benar memilik sanak saudara, tidak lagi menjadi yatim piatu dan sendiri.
"Kakek memintamu untuk datang ke rumah sore ini, dan aku ingin memperkenalkanmu dengan resmi kepada istriku."
"Terima kasih, Bram."
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang?" Ucap Bram sambil menatap Rey dengan arti yang lain.
Rey sangat paham dengan tatapan itu, bukan sebuah kesenangan berpesta di sebuah klub, melainkan kesenangan untuk menghancurkan lawan bisnisnya dan yang sangat disayangkan, dua bisnis perusahaan besar menjadi target dalam sekali jalan. Keluarga Adiguna, ayah Sabrina, dan keluarga mertua Harun Wicaksana akan menjadi sasarannya.
...***...
Adiguna berada di tengah-tengah ruangan yang dulu menjadi tempat bersemangatnya melakukan bisnis. Pandangannya penuh dengan keputusasaan dan kemarahan yang tak terbendung. Dalam serentetan emosi yang membara, ia memutuskan untuk melepaskan amarahnya pada segala sesuatu di sekitarnya.
Meja kerja yang dulunya kokoh dan elegan dihantam oleh tinju-tinju yang penuh kemarahan. Kaca-kaca jendela pecah menjadi ribuan serpihan tajam yang menghujani lantai. Arsip-arsip penting terlempar ke udara, menari-nari sebelum akhirnya jatuh berserakan di atas karpet.
Pada saat itu, ruangan itu menjadi panggung untuk kemarahan dan kehancuran yang tak terbendung. Lemari buku yang dipenuhi dengan pengetahuan dan kebijaksanaan, sekarang menjadi tumpukan kayu yang hancur. Patung-patung dan lukisan-lukisan yang dulu menjadi hiasan ruangan kini berakhir sebagai pecahan-pecahan tak berarti.
Adiguna terus melampiaskan amarahnya, merobek-robek benda-benda yang seolah mewakili semua kegagalan dan pengkhianatan yang dialaminya. Suara pecahan kaca dan serbuan barang-barang yang hancur terdengar seperti orkestra kehancuran yang menakutkan.
"Kenapa seperti ini? Arrrgggghh, aku harus melakukan sesuatu," ucap Adiguna sambil berjalan meninggalkan ruangannya dengan wajah yang suram.
__ADS_1