
Alea membayangkan kehancuran Harun dan Melani, kematian Naya dan Bram berada di pelukannya. Persetan dengan Jhon. Alea memikirkan apakah esok ataupun lusa Harun dan Melani akan menangis, ah sepertinya tidak. Sayang sekali Naya memiliki orang tua serakah.
"Akhirnya aku lah pemenangnya" gumam Alea dengan tertawa
Naya telah berada dalam ruangan yang penuh dengan peralatan medis. Detak jantung Bram semakin cepat, cemas menghantui setiap kedipan matanya. Bram mengeratkan kedua tangannya dan meraih ponsel yang berada dalam sakunya dengan mengerahkan semua bawahannya mencari tahu kejadian yang menimpa Naya.
Mata Bram memerah karena amarah, Orang yang di cintainya tepat berada di hadapannya terluka, kali ini Bram tidak akan memaafkan siapa pun, Bram akan membalas dengan lunas hal yang berani mengganggu keluarganya, terutama Naya dan calon anaknya. Walau dia harus melenyapkan nyawa seseorang.
Darah Bram seolah mendidih di dalam dirinya saat dia melirik jam yang bertengger di atas pintu ruangan yang di dalamnya tengah menangani wanita yang di cintainya. Banyak harap dan cemas berbaur menjadi satu.
Seseorang melangkah ke hadapan Bram melaporkan bahwa dia tidak menemukan jejak seseorang terluka di truk tersebut, sopirnya kabur dan memang semuanya sudah terencanakan dengan baik. Bram yang mendengarnya menatap tajam bodyguardnya hingga bodyguard tersebut tidak mampu menatap tajamnya tatapan Bram,
"Aku tidak mau tahu, kau harus menemukan sopir truk tersebut dan ingat, dia harus dalam keadaan hidup-hidup. Aku menunggu paling lambat besok sore" ucap Bram dengan penuh penekanan.
Bodyguard itu paham dan segera meninggalkan Bram, dia melangkah dengan cepat dan mengerahkan semua bodyguard yang ada untuk menangkap sopir truk tersebut.
...*****...
Di dalam ruangan di atas meja operasi, Naya terbaring lemah dengan wajah yang pucat.
Bram yang sedari tadi menyenderkan tubuhnya di dekat pintu ruangan tersebut menunggu untuk Dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Jantung Bram berdebar semakin kencang ketika langkah cepat para perawat yang meninggalkan ruangan tersebut seakan keadaan darurat sedang terjadi.
Tidak berselang lama, Dokter akhirnya menampakkan diri dan melihat keadaan Bram yang sudah sangat berantakan dengan baju yang bersimbah darah, Dokter menjelaskan bahwa luka yang lainnya di tubuh Naya karena goresan pecahan kaca sudah di tangani tapi bayi yang berada di kandungannya harus segera di keluarkan untuk keselamatan bayi dan Ibunya.
Dokter mengatakan bahwa sepertinya Naya sangat melindungi bayinya dari sebuah benturan hingga tangan Naya sendiri mengalami pergeseran tulang. Dokter juga menjelaskan bahwa operasi caesar aman untuk ibunya tapi untuk sementara waktu anak Bram akan di letakkan dalam inkubator untuk menjaga suhu badan karena dia terlahir sebelum waktunya.
__ADS_1
Bram mengangguk paham, tidak lama kemudian Bram melihat beberapa dokter handal rumah sakit tersebut memasuki ruangan untuk melakukan yang terbaik.
Di tengah-tengah keheningan tiba-tiba terdengar suara tangisan kecil yang membuat hati Bram terenyuh. Suara itu adalah nyanyian kehidupan, melodi terindah yang pernah Bram dengar. Senyum Bram kemudian mekar tapi setelahnya kembali datar karena mengingat Naya dalam keadaan terluka parah,
"Sayang, aku tidak akan memaafkan orang yang melakukan ini padamu" gumam Bram
"Malaikat kecilku, kau akan baik-baik saja. Aku tidak sabar ingin melihatmu" gumam Bram lagi kemudian tersenyum
Beberapa jam berlalu, Naya di pindahkan ke dalam ruangan khusus terpisah oleh ruangan Kakek Brahma dan Rey. Bram tidak ingin mereka berdua mengetahui hal tersebut karena akan berdampak buruk kepada kesehatan mereka. Bram tidak ingin penyakit jantung Kakek Brahma kambuh lagi dan Bram juga tidak ingin Rey memaksakan dirinya untuk sembuh dan membantu Bram,
"Baiklah, kali ini aku akan membalas kalian dengan caraku sendiri tanpa waktu dan kesempatan untuk kalian untuk bernafas" gumam Bram dengan mengepalkan tangannya.
Bram melangkah mendekati Naya yang masih terbaring lemah dengan beberapa luka di tubuhnya di tutupi oleh perban yang melilit. Bram memegang jemari Naya dan mengecup kening Naya. Mata Bram ber embun mengingat apa jadinya jika Naya tidak bertahan dalam kondisi tersebut, Bram tidak bisa kehilangan Naya. Dia adalah sebagian dari jiwanya.
"Tenanglah sayang, ada aku. Semuanya akan baik-baik saja" gumam Bram
"Hi boy, Papa titip Mama kamu sayang, esok hari Papa akan melakukan hal yang mungkin kotor tapi semua itu harus Papa lakukan untuk kebahagiaan keluarga kecil kita" gumam Bram
...*****...
Esok hari, Bram meminta Kakek dan Rey kembali ke rumah sesuai rencana awal bahwa mereka akan di rawat oleh dokter di rumah dan Bram juga mengatakan kepada mereka jika Naya tidak akan terlihat beberapa hari karena Naya sedang melakukan pemeriksaan sementara waktu di sebuah rumah sakit ternama di luar negeri.
Awalnya Kakek Brahma tidak terima dan merasa khawatir jika terjadi sesuatu kepada Naya tapi Bram menjelaksan dengan sangat lihai bahwa Naya baik-baik saja, sedangkan Rey yang mendengar itu hanya diam dan tahu jika Bram sedang dalam masalah,
"Sudahlah, serahkan padaku. Kau hanya cukup istrahat" bisik Bram ke Rey yang seakan dia saling mengetahui isi kepala masing-masing
__ADS_1
Rey hanya khawatir jika Bram tidak melakukannya dengan bersih karena itu bisa menimbulkan kekacauan di publik dan bisnisnya kacau.
Bram melangkah meninggalkan ruangan tersebut dan memasuki sebuah ruangan khusus, dimana seorang bodyguard sudah berada di sana sedari tadi menunggunya,
"Bagaimana?"
"Kami telah menemukannya tuan, awalnya dia berusaha kabur menggunakan kapal di salah satu pelabuhan terpencil dan--"
"Di mana dia saat ini?" tanya Bram yang sudah sabar lagi
"Kami menyembunyikannya di gudang bawah tanah tuan"
Bram tanpa basa-basi melangkah menuju gudang tersebut dan bodyguard tadi mengikutinya. Lelaki yang kini duduk dengan tangan dan kaki terikat menatap ke arah pintu, dimana sosok Bram memasuki ruangan tersebut dengan langkah tegas mendekatinya, lelaki tersebut dengan wajah yang heran bertanya dengan lantangnya,
"Siapa kamu dan mengapa kau lakukan ini, aku akan melapor ke poli-"
Bughhh...
Sebuah bogem mentah dengan keras di berikan ke wajah lelaki tersebut hingga dia tersungkur ke lantai dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Cuih, lepaskan ikatan ini dulu, jika kau berani"
Bram masih diam kemudian menatap para bodyguarnya memberi isyarat untuk membuka ikatan tersebut, lelaki yang berada di hadapan Bram tersenyum sinis,
"Apakah kau penagih hutang? atau suruhan baskoro? atau-"
__ADS_1
Bram kemudian duduk di atas meja mendengar ucapan lelaki tersebut dan memberi tatapan tajam.