
Selama ini Jhon memberi ide kepada Alea untuk memiliki anggota penyusup penanam saham di antara perusahaan milik Yudistira. Setelah penanam saham palsu tersebut mendapatkan yang diinginkan pada akhirnya berhasil di pindahkan ke tangan Alea dan dia menjadi pemilik saham terbanyak, hasilnya Alea akan di nobatkan sebagai CEO Yudisitra.
Naya yang mendengar itu pun geram, dia tidak bisa tinggal diam. Dia meminta Bram untuk melakukan sesuatu,
"Sudahlah sayang, biarkan saja. Saat ini aku akan fokus kepadamu., kakek dan REy saja"
"Tapi Bram-"
"Nay, kita tidak akan miskin tanpa perusahaan itu"
"Bram, perusahaan itu-"
Bram memeluk istrinya dan mengecup keningnya, "Sudahlah, jangan pikirkan apapun. Jadi pimpinan itu melelahkan, anggap saja ini sebuah liburan sementara"
Naya diam mencerna ucapan Bram yang santai, dia sangat percaya dengan Bram dan menyerahkan semuanya kepada Bram. Sebelum itu Bram sudah mendapat notifikasi di layar HP nya,
"Mission complete",
"Good" gumam Bram dengan tersenyum devil.
Hari-hari Bram dan Naya sangat tenang dan menghabiskna banyak waktu bersama orang-rorang yang di cintainya. Alea dan Jhon merasa heran Bram tidak ada pergerakan sama sekali. Jhon kembali memberi peringatan kepada Harun untuk mencari tahu kondisi Bram setelah kehilangan perusahaannya.
"Seberapa banyak harta yang di miliki sampai membuatnya masih merasa cukup tenang" ucap Jhon dengan kesal
"Aku akan menyelidikinya" timpal Harun
Harun dan Melani berinisiatif berkunjung ke Rumah Sakit untuk bertemu dengan Naya dengan bersikap baik padahal yang sebenarnya, dia memiliki maksud tertentu.
Harun dan Melani melihat setiap sudut ruangan perawatan intensif mewah tersebut dan juga melihat para dokter yang antusias merawat tuan Brahma,
"Naya, jika kau butuh sesuatu kau cukup hubungi kami" ucap Melani
__ADS_1
"Untuk apa istriku meminta bantuan kepada kalian?" ucap Bram yang tiba-tiba memasuki ruangan dengan setelan casual santai rumahan.
Harun tertawa melihat kedatangan Bram, membuat Naya mengerutkan keningnya. Naya sudah paham di balik respon ayahnya melihat Bram, masih ada ketidaksukaan di sana.
"Kau sebenarnya lebih cocok mengenakan pakaian seperti itu" ucap Harun yang memulai perang
Bram masih diam mendengar ocehan Harun yang menurutnya hanya menghabiskan energi dengan menanggapi hal yang tidak penting. Bram akhirnya berjalan ke sebuah sofa dengan mengotak-atik layar HP nya sedangkan Naya memperhatikan semuanya, ada hal yang Naya tidak ketahui pada keadaan itu, tatapan Bram dan Harun yang sangat saling membenci.
"Naya, dia tidak memiliki apapun lagi tapi masih saja tetap sombong" ucap Harun
Bram masih diam karena menghargai Naya, istrinya. Walau bagaimana pun, kedua manusia paruh baya di hadapannya ini adalah kedua orang tua Naya.
"Setelah kelahiran anakmu, pikirkanlah baik-baik. Aku dan Mama, apa lagi Arana sekarang yang sudah hidup enak akan berada di pihakmu, tinggalkan dia" ucap Harun lagi
Bram yang mendengar ucapan Harun sudah tersulut emosi sedangkan Naya membantah ucapan Harun dan Melani untuk tidak mengatakan hal itu lagi. Naya menjelaskan walaupun saat ini Bram tidak menjadi seorang CEO tapi dia masih memiliki harta benda yang lainnya yang bisa menjamin hidup Naya.
"Apa lagi Nay, dia hanya memiliki rumah sakit ini, dia mengharapkan sumbangan dari orang sakit" ucap Harun dengan sombongnya.
"Kau tahu Nay? kematian Nikol karena ulah siapa? dan kebangkrutan papa yang lalu karena ulah siapa?" ucap Harun kemudian menatap Bram.
Bram tidak tinggal diam lagi, seharusnya Harun tidak membahas itu di hadapan Naya yang tengah hamil. Bram menyimpan Hp nya dan mulai aksinya. Bram memeluk Naya dan berusaha membuat Naya yakin bahwa seorang Bram tidak mungkin melakukan hal itu,
"Nay, jika aku mau. Aku sudah lakukan sejak lama. Mengapa harus menunggu selama ini padahal aku bisa melakukan apapun dengan kekuasaanku" jelas Bram kemudian melirik Harun dengan menyunggingkan senyum.
Harun tidak tinggal diam. Harun kemudian kembali menghina Bram dengan ucapan yang tajam membuat Bram kehabisan kesabarannya.
"Tujuan kedatangan kalian untuk membesuk Kakek atau menghinaku? atau tidak ada niat kebaikan sama sekali?" ucap Bram dengna tatapan yang menajam
"Aku bisa menjamin hidup keluargaku tanpa bantuan kalian, buka dari harta hasil rampasan dan juga hasil dari menjual anak sendiri"
Harun ingin membalas ucapan Bram tapi Melani menahannya, mereka berdua meninggalkan ruangan tersebut tanpa menoleh sedikit pun kepada Naya yang sudah tidak di anggap anak lagi oleh mereka, bagi Harun dan Melani. Alea adalah yang terbaik walau ikatan darah mereka hanya sebatas om dan ponakan, tapi Harun lebih mengandalkan Alea saat ini.
__ADS_1
"Sudahlah sayang, ada aku" ucap Bram yang memeluk Naya tengah menangis tersedu-sedu.
Harun dan Melani kembali ke Villa kediaman Jhon berada melaporkan misinya, Jhon meminta anak buahnya untuk menyelidiki kekayaan Bram yang sebenarnya, seberapa kaya Bram dan harta tidak bergerak miliknya.
Harun dan Melani dengan emosi yang membara meminta Jhon memikirkan sesuatu untuk menghilangkan Bram. Baginya, kematian Bram merupakan keutungan besar juga untuk mereka karena Naya akan menerima semua milik Bram walau tak sebanyak dulu lagi.
Jhon tidak bisa membantu banyak karena dia harus kembali ke Inggris, tapi dia meminta orang kepercayaannya dan beberapa bodyguardnya untuk tetap membantu Harun. Menuruti apa yang Harun inginkan dan melancarkan rencananya.
"Aku pikir Alea adalah orang yang tepat untuk membuat ide seperti itu" ucap Jhon
...******...
Di tempat lain, saat Alea mendapat infomasi tersebut, dia tersenyum getir, dia meneguk sebotol wine dan tertawa,
"Naya time is you, ha ha ha"
Jika Harun dan Melani mengharapkan Bram yang mati, Alea mengharapakan Naya yang mati dengan begitu dia bisa memiliki Bram.
Esoh hari, semua mata-mata Alea bergerak. Melaporkan setiap kegiatan Naya dan Bram di rumah sakit tersebut, jam berapa biasanya mereka meninggalkan rumah sakit dan jam berapa mereka berkunjung.
"Ingat, lakukan dengan teliti dan jangan meninggalkan jejak apapun" perintah Alea kepada salah satu bodyguarnya.
Alea pun memberi informasi rencananya kepada Harun jika tiga hari lagi dia bisa mendengar berita kematian Bram di media, jelas Alea kepada Harun tapi nyatanya tidak. Rencana itu murni untuk Naya.
"Sudah kukatakan, kau tidak akan bahagia selama aku hidup. AKu tidak akan sudi". batin Alea
...********...
Inggris, 23.00 malam..
Jhon tiba di mana ada Arana dan Lyodra yang menjadi penghuni rumah tersebut. Seperti biasa Lyodra yang cerdas mengetahui kepulangan Jhon meminta Arana kembali untuk menempati kamar yang telah di sediakan oleh Jhon sejak awal.
__ADS_1