
"Saya hanya menjalankan perintah Nyonya"
Naya yang mendengar itu meraih Hp yang berada dalam tasnya dan menekan nama suaminya, sekali deringan sudah terdengar suara Bram dari tempat lain,
"Ada apa sayang?" tanya Bram
"Bram, aku hanya ingin bertemu dengan seorang desainer, bukan untuk perang. Mengapa da banyak sekali pengawal yang akan mengikutiku? apa tidak cukup seorang sopir saja?"
"Sayang, kau tidak akan perang saja para pengaawl itu ikut denganmu, jika kau ikut perang, bisa kupastikan semu pria di negara ini akan ikut membantumu perang"
"Jangan becanda Bram, aku serius. Ini mengalahkan pengawalan presiden"
"Sayang, kau adalah presidennya. Sudahlah, ikuti saja yang aku katakan karena semua itu terbaik untukmu, aku tidak ingin kau lecet sedikitpun, karena di dunia ini hanya ada satu Naya Tungga Dewi"
Naya mengehembuskan kasar nafasnya dan berpikir, dia tidak akan bisa mengalahkan Bram dalam hal berdebat, akhirnya Naya menyetujii semuanya dan berangkat menggunakan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.
Bram yang saat itu sedang mengikuti rapat penting, memutar kursinya kembali menatap para peserta rapat yang berfokus kepadanya, berusaha menetralkan suasananya kembali. Para peserta rapat tidak akan menyangka jika seorang Bram Raka Yudistira bisa berkata semanis itu dan sebucin itu kepada istrinya, padahal tampilan luarnya di hadapan yang lain sangat dingin dengan senyum tipis.
...***...
Beberapa hari lagi pesta pertunangan Arana akan di langsungkan, dia dan Melani telah merancang sebuah gaun yang snagat indah dengan harga yang fantastis, sedangkan Harun bisa bernafas lega karena tidak akan lama lagi dia hanya akan duduk ongkang kaki menikmati kekayaan calon menantu barunya tanpa peduli apapun termasuk kebahagiaan Arana.
Arana yang masih polos sering kali bertanya tentang calon tunangannya, bentuk wajahnya dan nama perusahaannya, semua tentangnya tidak mendapat respon apapun dari Melani dan Harun, mereka hanya akan menjanjikan apapun yang Arana inginkan.
__ADS_1
Naya pun tengah siap dengan rancangan busana khusus wanita hamil selaras dengan tuxedo yang akan di kenakan Bram berbalut bludru, Naya telah membayangkan kehebohan dan meriahnya acara pertunangan Arana, karena dia tahu Arana berbeda dengan dirinya. Arana lebih banyak memiliki teman dari pada Naya dan kedua orang tuanya lebih menyayangi Arana dari pada dirinya yang hanya dijadikan pengisi rekening keluarga saja.
Naya tidak pernah merasa iri karena dia sangat menyayangi adik satu-satunya itu yang terkesan manja karena kedua orang tua mereka membiasakan itu kepada Arana. Kebahagiaan Naya yang lainny adalah dia mengetahui dari Bram jika calon tunangan adiknya adalah salah satu orang berpengaruh di Eropa, tapi belum ada yang mengetahui sosoknya.
...****...
Bram yang berada di ruangan kantornya sedang memutar pena yang berada di jemarinya, dia mendapat informasi jika penguasa Eropa tersebut seusia dengan mertuanya, itu tidak mungkin dan mustahil untuk Arana menerimanya, dia sangat mengetahui watak adik iparnya itu; selain gila harta dia juga akan memandang lelaki dari fisiknya.
"Apakah ada penguasa yang baru di Eropa?"
"Tidak mungkin, aku selalu mendapatkan informasi terupdate untuk itu"
"Dia kan sudah memiliki istri, pasti bukan dia"
"Kau hanya perlu menginvestasi ke perusahaan yang sedang meritis usaha, dorong CEO nya untuk bergabung denga para penanam saham, sumbangkan banyak dana untuk dia dan pastika dia berhasil mendapatkan beberapa persen,"
"Kau memang licik" timpal Rey
"Dan aku tahu kau akan mendukung itu"
"Baiklah, aku akan lakukan"
"Setelah itu cepat kembali, banyak pekerjaan yang menantimu"
__ADS_1
"Tut...tut....tut..." Rey mematikan telfonnya.
Bram terperangah mendengar itu, Naya dan Kakek Brahma yang melakukannya, tapi Rey sudah menjadi anggota keluarganya dan pasti itu tidak akan masalah. Jika selain mereka bisa di pastikan mereka akan mendapatkan balasannya.
...****...
Hari pertunangan telah tiba, Naya dan Bram telah siap menghadiri acara tersebut, begitupun dengan kakek Brahma. Hanya saja Kakek Brahma akan hadir terlambat tungkasnya. Sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang. Pintu mobil terbuka perlahan, dan dari dalamnya muncul sepasang suami istri yang memesona. Siapa lagi jika bukan Bram dan Naya.
Bram terlihat tampan dan berwibawa, mengenakan setelan jas yang dipoles dengan sempurna. Jas hitam yang elegan menonjolkan kegantengan dan karismanya yang tak terbantahkan. Rambut hitamnya disisir rapi.
Sementara itu, Naya tampil mempesona dalam gaun malam yang terbuat dari kain sutra berwarna merah muda yang melambangkan keanggunan dan kelembutan. Gaun tersebut memeluk tubuhnya dengan sempurna, menggambarkan keindahan alaminya yang memikat hati siapa pun yang melihatnya. Rambutnya terurai indah, dengan bunga-bunga mawar merah yang ditempelkan dengan anggun di sepanjang helainya.
Bram dan Naya jalan bersama memasuki sebuah gedung mewah dengan tangan mereka saling terpaut erat. Bram dan Nay berjalan melewati beberapa lorong gedung dengan mendapatkan anggukan para pelayan sebagai tanda penghormatan. Bram dan Naya memasuki sebuah Lift dan tiba di sebuah lantai yang mana acara pertunangan adiknya itu akan di lansungkan.
Naya mengeratkan genggaman jemarinya di tangan Bram sambil tersenyum lebar sebagai tanda kebahagiaan Naya. Dia akan menyaksikan adik satu-satunya akan melangsungkan pertunangannya. Mereka melangkah dan ada dua orang pelayan membuka pintu yang menjulang tinggi itu kemudian mempersilahkan mereka masuk.
Senyum Naya pudar, saat melihat ruangan tersebut. Begitupun dengan Bram yang menelisik setiap ruangan gedung itu. Naya melepaskan jemarinya dan melangkah kemudian di susul oleh Bram. DI dalam gedung tersebut hanya ada tante dan om Naya dan Alea sepupunya yang sedari tadi menatap Naya dengan senyum palsu dengan melambaikan tangannya.
Bram pun merasa ada yang aneh, mengapa hanya beberapa keluarga yang hadir dan juga ruangan hanya di penuhi dengan para bodyguard yang pastinya sudah bisa di tebak dengan postur mereka, bukan berasal dari negara yang sama. Mereka adalah bule.
Saat langkah Naya akan tiba di meja Alea berada, tiba-tiba pintu kembali terbuka dan melihat Harun dan Melani dengan setelan formal memasuk gedung bersama Arana yang tersenyum lebar dan manis.
Arana pun terlihat bingung dengan suasana gedung yang sangat sepi, hanya da dekor ruangan yang snagat mewah tapi di huni hanya beberapa orang, Arana pun kaget karena ada banyak pengawal di dalam ruangan tersebut, Arana berbisik kepada Melani,
__ADS_1
"Ma, mengapa acara pertunanganku sangat sepi? bukannya penguasa itu harus meriah yaa? ada artis ternama yang akan memandu acara dan memeriahkan acara?"