Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
69. MSSM


__ADS_3

Bram melangkah ke jendela besar yang tidak jauh berada di kursi kekuasaannya, dia melihat atap-atap rumah yang sangat kecil dan mungkin saja ada atap-atap perusahaan yang sangat kecil di bawah sana terletak tidak jauh dari perusahaannya,


"Seharusnya sejak lama ku lakukan ini tapi dia tidak memanfaatkan keadaan dengan baik" gumam Bram


Harun yang sedang berada di perusahaan menikmati secangkir kopi dan membaca majalah di ruangan kerjanya mendadak kaget karena seseorang dengan setelah formal memasuki ruangan tersebut tanpa permisi, di belakang lelaki tersebut ikut menyusul beberapa bodyguard dengan setelan yang berbeda tapi warna yang sama,


"Ada apa ini! sangat tidak sopan memasuki ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu".


Pria tersebut mengeluarkan isi map kemudian menyerahkan kepada Harun.


Mata Harun melotot saat melihat isi map tersebut, dia tidak menyangka bahwa menantunya itu akan melakukan pembalasan secepat iu, dia merobek kertas tersebut yang berisi surat kuasa perintah mengosongkan perusahaan. Harun dengan arogan mengusir pria tersebut tapi dia kalah dengan beberapa bodyguard yang memegang kedua tangan Harun dan memaksanya meninggalkan ruangan tersebut, sedangkan yang lainnya akan membereskan semua dokumen yang berada dalam ruangan,


"Lepaskan, kalian tahu siapa aku hah?!" bentak Harun yang tidak membuat para pengawal tersebut tidak memberikan reaksi


Di perusaahn Melani yang sedang di pimpin oleh Alea pun mengalami hal serupa membuat Alea meninggalkan perusahaan dan melajukan mobilnya ke kediaman Harun untuk meminta penjelasan.


Harun yang lebih dulu tiba di rumah tersebut menghancurkan ruang tamu dan beberapa benda berharga yang berada di ruangan tersebut untuk meredam amarahnya,


"Ada apa Pa?" ucap Melani yang berlari menuruni anak tangga bersama Arana


"Ada apa katamu? perusahaan Papa sudah hilang, kita tidak memiliki apa-apa lagi Ma"


"Maksud Papa?"


"KIta bangkrut Ma, menantu sialanmu itu telah menjatuhkan perusahaan kita dan mengamilalih semuanya"

__ADS_1


"Bagaimana mungkin?"


"Pasti dia mendapat bantuan Kak Naya Ma, untuk melakukan itu" ucap Arana


"Sudahlah Pa, kita msih bisa hidup dengan perusahaan milik Mama yang di kelola Alea, dia sangat handal. Papa liat sendiri perusahaan itu sekarang berkembang pesat" jelas MElani yang membuat Harun sedikit bisa bernafas lega.


"Tante salah" ucap seseorang yang melangkah memasuki ruangan mereka dan mendengar isi percakpaan Harun dan Melani saat dia memasuki ruamh tersebut.


Alea berjalan dengan wajah yang kusam kemudian mengehempaskan dirinya di salah satu sofa,


"Apa maksud kamu Alea?"


"Perusahaan tante pun bangkrut karena beberapa investor menarik saham mereka dan di tambah kita beerja sama dengan orang yang sama, dia menanam banyak saha yang ternyata dia adalah salah seorang bawahan Bram"


Ketika Melani, Arana dan Alea menyadari apa yang terjadi, kepanikan pun merayap di hati mereka dan akhirnya mereka semua segera membawa Harun ke rumah sakit di pusat kota.


Dengan langkah tergesa-gesa dan tatapan yang penuh kekhawatiran, Melani, Arana dan Alea memasuki pintu rumah sakit itu. Mereka disambut oleh aroma antiseptik yang khas dan suasana yang penuh ketegangan. Ruangan yang penuh dengan mesin dan monitor kesehatan tampak seperti dunia yang terpisah dari kehidupan sehari-hari.


Harun terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, terhubung dengan berbagai kabel dan alat medis. Dokter-dokter yang berpenampilan profesional dan perawat-perawat yang siap siaga berusaha memberikan yang terbaik untuk menyelamatkan nyawanya. Mereka bekerja dengan tekun, seakan hidup Harun adalah taruhan yang harus mereka menangkan.


Suara alarm berdering sesekali, menciptakan ketegangan di udara. Melani dan Arana terlihat khawatir dengan keadaan Harun, bagaimana jika terjadi sesuatu, bagaimana dengan nasib mereka berdua.


Di dalam ruuangan penanganan Dokter yang memimpin tim merenung sejenak, mencari solusi terbaik untuk kasus ini. Dia adalah seorang profesional yang berpengalaman, namun serangan jantung Harun adalah tantangan yang serius. Dalam keheningan yang tegang, dia memberikan instruksi kepada perawat-perawat dan teknisi medis dengan suara tenang namun penuh otoritas.


"Berikan dia nitrogliserin segera. Periksa tekanan darah dan irama jantungnya setiap 5 menit. Segera siapkan defibrilator jika kondisinya memburuk. Dan berikan dia oksigen dengan aliran tinggi."

__ADS_1


Dokter itu keluar meninggalkan ruangan dan melangkah mendekati Melani dan Arana yang terlihat gelisah. Dia memberikan kabar yang ditunggu-tunggu dengan sikap yang lembut namun jujur, "Kondisi ayah kalian masih kritis, tapi kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya. Kalian harus tetap kuat dan berdoa."


Melani dan Arana saling menatap, "Apa maksud dokter? selama ini suami saya tidak pernah memiliki riwayat penyakit apapun, mengapa bisa seperti ini?"


"Maaf Nyonya, jika tuan memiliki riwayat penyakit dan tuan yang tiba-tiba memiliki penyakit dua hal berbeda dan penanganan yang berbeda, bahkan yang memiliki penyakit secara dadakan itu jauh lebih berbahayadi bandign yang memiliki riwayat"


Dokter kemudian melanjutkan penjelasannya jika Harun Mengidap penyakit kardiomiopati dilatasi, suatu kondisi yang mengakibatkan pelebaran dan pelemahan otot jantungnya. Menurut para dokter, satu-satunya peluang untuk menyelamatkan nyawanya adalah melalui operasi jantung yang kompleks dan membutuhkan biaya yang sangat mahal.


"Lakukan yang terbaik dokter, saya akan membayar semua biaya pengobatannya" ucap Melani


Dokter kemudian kembali dan mlakukan apa yang harus di lakukannya, sedangkan Melani menuju bagian administrasi untuk melunasi pembayaran biaya operasi Harun. Di tempat lain, Bram tengah menikmati secangkir teh di sore hari dan sesekali menghirup udara yang sangat segar karena banyaknya bunga sedang berekaran di hadapannya,


"Apakah pak tua itu sudah memiliki tameng untuk melawanku? tumben sekali dia tidak ke perusahan untuk meminta keringanan dengan sombongnya" gumam Bram yang penasaran dengan Harun yang tidak bereaksi apapaun sejak perusahaannya dan milik istrinya dia tutup.


"Aku lupa saat ini dia memiliki menantu baru, ha ha ha"


"Apa yang lucu sayang?" ucap Naya yang tiba-tiba berada di belakang Bram


"Tidaka ada apa-apa, aku hanya memikirkan meeting tadi".


Naya kembali mengangguk dan melangkah ke salah satu bunga favoritnya 'Red Rose'. Bram tersenyum melihat istrinya yang saat itu sudah memiliki pipi cabi karena kehamilannya, bobot Naya yang sedikit bertambah dan itu terlihat menggemaskan di mata Bram.


Naya bertanya tentang jika anaknya nanti seorang perempuan, apakah Bram menerimanya? Bram kemudian tersenyum mendengar ocehan istrinya, dia melangkah dan mengecup kening Naya.


"Asalkan anak itu dari rahimmu, aku sangat menerimanya tanpa peduli gender nya sayang"

__ADS_1


__ADS_2