Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
84. MSSM


__ADS_3

Arana awalnya merasa heran tapi saat kedatangan Jhon, dia sudah paham dengan keadaannya, bahwa jika dia mampu menaklukkan Jhon, dia akan menjadi penguasa di rumah tersebut.


Arana akhirnya memiliki misi yang sama untuk mendekati Jhon. Dia akan menerima Jhon dan memberikan pelayanan yang terbaik. Malam itu Arana sengaja berhias untuk JHon, mengenakan gaun malam yang tipis dan memperlihatkan belahan dadanya.


Arana juga menggunakan parfum yanag menggoda, memberikan aroma yang mampu meningkatkan gairah lelaki yang mencium aromanya. Arana tidak peduli lagi, dia akan di anggap wanita murahan atau apapun. Yang pasti, Arana ingin merebut perhatian Jhon dan menjadi Nyonya rumah tanpa penindasan Lyodra lagi.


Jhon tengah berpikir di ruang kerjanya, tiba-tiba Arana memasuki ruangan tersebut dengan persiapan yang matang. Asisten kepercayaan Jhon yang sedari tadi berada di dalam ruangan tersebut yang tengah berdisusi dengan Jhon terdiam saat melihat Arana memasuki ruangan.


JHon pun terdiam tanpa reaksi, dia melihat dengan geram Arana yang melakukan hal tersebut, Jhon sangat tidak berselera saat itu karena dia tengah dalam masalah besar, kali ini JHon kembali ke Inggris karena panggilan William saudaranya untuk membahas hal yang penting bersama dengan keluarga yang lainnya.


Jhon telah memiliki firasat bahwa dia akan mendapat desakan lagi untuk memiliki seorang anak dan William akan meminta bayaran lagi untuk jatah persenan hasil dari semua keutungan perusahaan.


Arana tetap melanjutkan langkahnya dan terhenti di hadapan meja Jhon dengan menyelipkan rambutnya di belakang daun telinganya. Arana memberikan suara yan lembut hanya untuk sekedar bertanya, apakah Jhon lelah atau ingin minum sesuatu?


Jhon menaikkan alisnya dan mengepalkan tangannya, dia menatap Arana kesal,


Brakkkk.....


Jhon memukul meja kerjanya sangat keras.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku ha-nya, a-ku...." timpal Arana terbata-bata


"Apakah kau sangat menginginkannya malam ini?" ucap Jhon dengan tatapan sinis


Arana dengan polosnya mengangguk tapi sebelum itu dia memberikan syarat kepada Jhon, bahwa setelah mengikuti keinginnanya Arana meminta rumah tersebut sebagai jaminan dengan atas namanya, Arana mengatakan itu tanpa perhitungan sama sekali.


"Ha ha ha, jadi kau menginginkan rumah ini sebagai gantinya?"

__ADS_1


"Iya, aku ingin rumah ini, sebagai gantinya aku akan memuaskanmu" timpal Arana


"Dasar wanita bodoh, bagaimana bisa kau bernegosiasi denganku, hanya dengan menawarkan tubuhmu itu". ucap Jhon kemudian meraih tongkatnya dan melangkah menuju pintu untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Arana yang melihat Jhon akan meninggalkan ruangan, tiba-tiba memeluk Jhon dari belakang, dia berusaha maksimal untuk mendapat simpatik Jhon tapi sayangnya Jhon bukanlah manusia yang penuh simpatik.


Jhon melepaskan pelukan Arana dan tersenyum penuh arti, "Sepertinya, kau sangat menginginkannya sayang" ucap Jhon dengan membelai wajah Arana kemudian menatap asistennya dengan dan sedikit memberi kode.


"Jangan keluar dari ruangan ini, sampai kau benar-benar puas" ucap Jhon kemudian melanjutkan langkahnya.


Arana mendengar itu bingung, tiba-tiba asisten kepercayaan Jhon memegang pundak Arana dan meraih tali peyangga yang Arana kenakan, Arana yang mendapat perlakuan tersebut kaget. Dia melangkah mundur dan memberi banyak umpatan,


"Jangan sentuh aku. Dasar babu" ucap Arana lantang


Pria tersebut mendengar ucapan Arana semakin gencar meraih gaun Arana dan merobeknya. Arana kemudian di peluk paksa dan gendong ke atas pundak pria tersebut kemudian menurunkan Arana paksa disebuah sofa yang lumayan luas.


Pria tersebut tetap melanjutkan aksinya, kaki Arana di paksa buka lebar dan pria tersebut dengan mata yang menyala melihat makanan segar di hadapannya tidak membuang banyak kesempatan lagi.


Dia membuka kain penutup bagian bawahnya saja kemudian, jlebbbb......


Arana teriak dengan histeris, tidak berbeda dengan permainan JHon. Lelaki tersebut melakukan permainan yang hampir sama dengan atasannya, sedikit melakukan kekerasan.


Arana menangis, dia benar-benar tidak meyangka jika dia masuk kedalam dunia yang tak pernah sedikit pun dia bayangkan akibat hasutan Alea. Di ruangan lain, Lyodra yang mendapat informasi tersebut dari salah satu pelayan kepercayaannya tertawa terbahak-bahak,


"Dasar wanita bodoh," ucap Lyodra dengan senyum penuh kemenangan.


...******...


Kondisi Rey membaik. Rey dan kakek Brahma sudah siuman dari koma. Tapi, mereka belum bisa menggerakan tubuhnya. Mereka hanya mampu berbicara terbata-bata dan sesekali tersenyum mendengar ocehan Bram yang berada di dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Saat ini ruangan Kakek Brahma dan Rey berada dalam satu tempat agar memudahkan Bram dan Naya untuk merawat mereka berdua,


"Apakah kita seperti ini saja yaa? nggak usah kerja, nggak usah ke perusahaan, kita habisin uang dan istirahat di rumah" ucap Bram


Rey yang mendengar itu hanya memutar bola matanya tidak percaya dengan ucapan Bram, sedangkan Kakek Brahma menampakan wajah suram karena kesal mendengar ucapan Bram yang duudk santai di sebuah sofa di hadapan Kakek Brahma dan Rey yang berbaring.


"Se-banyak apapun harta yang kau miliki, akan tetap habis jika kau menggunakan seenaknya dan kau tidak bekerja sama sekali" ucap Kakek Brahma dengan lemah dan terbata-bata.


Bram yang memang berniat meledek kakek Brahma agar dia bereaksi dan marah kepada Bram akhirnya berhasil, karena menurut dokter emosi seperti itu bisa membuatnya membaik dan kembali semangat.


"Aku kan bisa mengandalkan kakek untuk mendirikan perusahaan baru lagi" timpal Bram kemudian tersenyum


Kakek Brahma kemudian mengatur nafasnya mendengar ucapan Bram yang somplak.


"Bagaimana jika kau sebaiknya menjadi gembel dan menantu sampah yang sebenarnya" ucap Kakek Brahma menyinggung Bram.


Informasi perusahaan Yudisitira telah kakek Brahma ketahui. Saat masih belum siuman, Bram tanpa sengaja bercerita tepat di sebelah kakek Brahma. Memberitahukan bahwa perusahaan kesayangannya telah jatuh ketangan orang lain membuat Kakek Brahma sadar, membuka matanya.


Bram melihat itupun sangat bahagia bahkan tertawa karena pada akhirnya masalah perusahaan Yudsitira tidak hanya memberi dampak buruk tapi juga dampak baik, bisa menyadarkan orang yang di sayanginya dari koma.


"Mengapa bukan sejak awal saja aku menggunakan metode itu ya?" ucap Bram


Naya yang mendengar dan melihat tingkah konyol suaminya itu hanya mampu tertawa dan sesekali mengelus perutnya yang buncit, begitupun dengan kakek Brahma yang sudah pasrah kehilangan perusahaan Yudistira karena cucunya. Di sisi lain, Kakek Brahma sangat bahagia karena bisa berkumpul dengan cucunya walau dengan keadaan tubuh yang kurang fit.


"Rey bagaimana dengan keadaanmu, setelah kau sembuh total. Aku akan mencarikan jodoh terbaik untukmu" ucap Bram yang beralih ke Rey


Rey mendengar itu, berpura-pura menutup matanya karena dia tahu. Bram saat ini tengah kumat mode jahil, Naya hanya menimpali Bram untuk menghentikan leluconnya.


Sore menjelang saatnya Nay pamit untuk kembali istirahat, biasanya Bram mengantar Naya untuk kembali ke rumah mereka.

__ADS_1


__ADS_2