
Di Kediaman Naya, dia tengah gelisah menunggu informasi Bram tentang kesehatan ayahnya. Bram yang sepulang kerja memberitahu Naya bahwa Harun telah membaik dan kembali ke rumah hari itu.
Naya bernafas lega tiba-tiba Naya meringis,
"Awwww" pekik Naya
"Ada apa sayang?" teriak Bram dan berlari mendekati istrinya saat dia tengah sibuk berada di ruang ganti pakaian
Naya meraih tangan Bram dan meletakkan di perutya, sebuah tendangan kecil di perut Naya yang membuat Bram dan Naya saling menatap bahagia dan haru. Tendangan pertama si cabang bayi.
"Naya, dia menendangku? anak kita? dia bereaksi Nay?" ucap Bram antusias
Naya mengangguk dan mereka saling memeluk, "Sayang aku tidak sabar ingin bertemu dengan anak kita" bisik Bram
...****...
Di rumah kontrakan itu Harun memperhatikan dengan seksama setiap ruangan, tembok yang rapuh dengan cat yang pudar, halaman yang sempit di tambah aroma rumah yang sangat tidak bersahabat.
Melani seharian mengeluh karena tidak bisa melakukan pekerjaan apapun, Harun meminta Arana untuk mencari tahu informasi terbaru dari Alea, kapan dia kembali dan bagaimana hasilnya. Lama mereka berdiam diri hingga suara getar Hp Arana menyadarkan hayalan mereka.
"Pa, Ma, Alea berhasil dan dia akan kembali tiga hari lagi"
"Apa? tiga hari lagi?"
"Syukurlah, penderitaan kita akan berakhir tiga hari lagi Ma, sabarlah sedikit"
"Apa? sabar? Papa pikir sehari aku bisa tahan berada di rumah ini?" teriak Melani.
Benar, sehari mereka berada di rumah tersebut, terasa setahun. Melani lebih memilih di rumah sakit begitupun Arana di banding harus berada di rumah tersebut. Panas, banyak nyamuk dan genteng yang bocor.
__ADS_1
Melani juga mengeluh dengan sisa uang yang berada di dompetnya tidak akan cukup untuk tiga hari kedepan. Untuk masyarakat biasa, bisa saja uang tersebut cukup bahkan lebih, hanya saja Melani dan Arana menggunakn uang cukup boros. Keperluan makan sehari mereka memesan makanan siap saji dari sebuah restoran untuk makan siang dan makan malam, sarapan pagi memesan sebuah kudapan di cafe secara online.
"Minta Alea mengirimkan kita uang" runtuk MElani
Harun hanya terdiam mendengar segala ocehan istrinya, dia berpikir setelah tiga hari itu dia akan benar-benar membalas dendam kepada Bram.
Arana menggelengkan kepala kepada MElani bahwa pesan teksnya tidak terkirim lagi kepada Alea, "Bagaimana untuk beberapa hari ini kita makan seadanya dulu, Papa yakin itu cukup". Terang Harun
"Arana akan ke rumah Mulan nginap, sampai Alea kembali." Ucap Arana kemudian meninggalkan rumah tersebut.
Melani dan Harun saling menatap dan mulai membahas misi balas dendam mereka sepulang Alea, "Mama tidak peduli lagi, dia sudah berani menghancurkan perusahaan yang mama rintis dari Nol"
"Lakukan sesukamu, kita akan menjadi penguasa dan lebih berkuasa dari pada dia karena Mr.Jhon"
...****...
"Apakah ini tidak berlebihan?"
"Tidak cucuku, sekalian merayakan tujuh bulananmu" ucap Kakek Brahma.
"Bagaimana jika setelah wedding party kami, selanjutnya adalah kau Rey"
"Aku?" timpal Rey syok
Kakek Brahma dan semuanya yang melihat ekspresi Rey terkejut tertawa, bagaimana tidak, Rey layaknya anak sekolahan yang tidak ingin mendapatkan giliran untuk mengerjakan soal di atas papan tulis, berusaha mengeles tapi guru tersebut menunjuknya dengan lantang.
Bram dan Rey berada di balkon rumah berdiskusi tentang misinya, Rey sudah memberitahu bahwa kini Nikol tidak memiliki perusahaan lagi tapi mereka heran mengapa dia sangat begitu tenang, Bram yakin Nikol sedang merencanakan sesuatu,
"Bagaimana dengan Jhon?"
__ADS_1
"Dia sudah bergabung dengan Jhon, kamu tenang saja. KIta akan menang" balas Rey
Bram menyerumput minumannya dan meminta Rey besok menggantikannya mengikuti sebuah meeting, dia memiliki rencana yang lain.
...***...
Esok harinya, Bram mengunjungi kontrakan sederhana miliki Harun, dia melihat Harun sedang menepuk-nepuk badannya, mungkin saja pegal karena dia tidur di kasur yang sangat keras, berbeda dengan kingbad yang berada di rumahnya dulu.
Wajahnya penuh dengan bintik merah yang sangat jelas itu adalah gigitan nyamuk bukan sengatan lebah, Bram tersenyum, setidaknya kehidupan Bram dulu saat berada di kosan tidak terlihat semenderita mereka. Bram berharap mertuanya itu bisa belajar banyak dengan keadaannya saat ini.
Bram berjalan dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya dan berdiri tepat di halaman rumah kontrakan tersebut, membuat Harun sangat geram, dia berusaha mengatur nafasnya kembali saat melihat orang yang di bencinya berada di hadapannya.
"Untuk apa kau datang ke sini? untuk menertawakan kami? mau memamerkan harta? mau akami minta maaf? jangan harap, cuihh." ucap Harun yang tidak memberi Bram kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
Bram mengatakan niatnya untuk mengundang mereka ke acara wedding party nya dan juga acara tujuh bulanan Naya tapi respon Harun masih sama dan Bram juga memiliki niat yang lain saat mengunjungi Harun yaitu ingin melihat keadaan manusia sombong di hadapannya itu merasakan sedikit kesusahan.
Apa yang Bram lakukan kepada Harun masih terhitung pembalasan kecil di banding apa yang telah mereka lakukan kepada Bram dulu, karena walau bagaimana pun mereka tetaplah orang tua dari istrinya.
Bram menawarkan untuk Harun meminta maaf kepada Naya atas semua perlakuannya terhadap Naya tapi dia menolak, Bram telah berjanji untukmengembalikan asetnya tapi harun tetap merasa itu tidak perlu, saat ini Harun di kuasai oleh pemikiran akan menjadi penguasa nomor satu setelah mendapatkan kekuasaan oleh Jhon yang seorang penguasa ERopa.
...****...
Alea kembali dengan fasilitas fantastis, dia menjemput Melani, Harun dan Arana di kontrakannya dan membawa mereka semua ke sebuah rumah lumayan megah sebagai hunian mereka sementara. Alea juga sudah mentransfer sejumlah uang untuk Harun dan Melani digunakan menebus asetnya di bank.
Harun dan MElni sangat bahagia, dia sangat berterimah kasih kepada Alea yang sudah berusaha maksimal. Hanya satu yang membuat Harun dan Melani terdiam, saat Alea mengatakan bahwa Arana di minta untuk menemui Jhon, karena ini sebuah permintaan.
Harun dan Melani menyetujui hal tersebut, sedangkan Arana yang tidak menerima perintah kedua orang tuanya kembali teracuni oleh iming-iming kekayaan dari Jhon membuat Arana begitu bersemangat untuk melakukan hal tersebut.
Ke esokan harinya Arana telah siap, semua akan mengantar Alea ke salah satu Hotel bintang lima terbesar untuk menaiki sebuah jet pribadi Jhon yang tengah terparkir di lantai puncak gedung tersebut. Arana tersenyum manis sepanjang jalan, tidak henti-hentinya mengatakan apa yang ingin dia lakukan sesampai di Negara tersebut.
__ADS_1