
Alea mendengar itu histeris, meronta dan menangis karena tidak bisa melakukan apapun.
Di tempat lain Arana mengalami keguguran dan menjadi seorang gembel di Negara tersebut. Setelah penangkapan itu, Bram memberi Arana kesempatan dan memberi perintah bawahannya untuk membebaskan Arana. Dia tidak memiliki apapun selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Dia kebingungan akan melangkahkan kakinya kemana saat meninggalkan rumah tahanan tersebut.
Arana ingjn kembali tapi tidak memiliki akses atau bahkan biaya untuk kembali ke Negaranya. Arana ingin bekerja tapi dia juga tidak memiliki keahlian di bidang apapun. Hasilnya, Arana menjadi gembel yang tidur di sebuah gang kumuh di pinggiran kota.
...****************...
Bram dan Naya bahagia, mereka berdua berjalan memasuki rumah dengan Bibi Nia dan Farah yang ikut bersama mereka, tidak lupa Zaidan yang berada dalam gendongan Bibi Nia.
"Ini rumah apa istana yak?," gumam Bibi Nia dengan mata yang takjub melihat bangunan yang berada di hadapannya itu.
Bram dan Naya hanya tersenyum mendengarnya. Mereka berjalan memasuki sebuah ruangan yang mana Kakek Brahma dan Rey tengah duduk menikmati teh dan beberapa kudapan di hadapan mereka.
"Kakek,". Ucap Bram dengan tersenyum
"Rey,".
Mereka berdua hanya menatap datar tidak peduli, Naya dan Bram pun saling memandang, tiba-tiba Bram menatap Bibi Nia dan mengambil Zaidan yang berada dalam gendongannya dan melangkah ke hadapan Kakek Brahma dan Rey.
"Zaidan Malik Yudistira," ucap Bram
"Cicitku...," ucap Kakek Brahma haru.
Brahma tiba-tiba menghentikan aktifitasnya dan mengambil Zaidan dalam gendongan Bram, Kakek Brahma mengelus pipinya Zaidan tersenyum dan mengapus setitik air embun yang berada di sudut kelopak matanya, "Thanks God, aku masih bisa melihat cicitku,". Gumam Kakek Brahma.
Kakek Brahma kemudian menatap Bram dan menaikkan tongkatnya, "Dasar anak nakal,".
Bram yang mekihat tongkat Kakek Brahma seperti biasa ingin melayang ke arahnya, dia lansung memegang tongkat Kakek Brahma.
"Ingat janji kakek, aku ingin pensiun dini. Serahkan semuanya kepada mereka berdua," ucap Bram dengan menatap Rey yang menggendong Zaidan.
Rey yang mendapat tatapan itu kebingungan.
"Rey, jaga Zaidan dengan baik. Aku pergi dulu," Ucap Bram kemudian menarik tangan Naya, kemudian menghentikan langkah mereka lagi,
"Jangan lupa perayaan hari pernikahan kami seminggu lagi dan sebelum itu jangan ada yang mengganggu," ucap Bram dengan mengedipkan matanya dan berlalu.
Bibi Nia dan Farah hanya cengengesan melihat mereka, sedangkan Rey dan Kakek Brahma saling menatap dengan wajah yang ingin mengumpat kepada Bram.
"Dasar anak nakal itu,".
__ADS_1
...****************...
Di tempat lain, Harun telah selesai di kebumikan dengan sangat sederhana, tanpa sanak saudara yang hadir dan memberi simpatik, Melani berusaha mencari Naya tapi tidak menemukannya. Melani dengan pakaian yang lusuh dengan wajah yang tidak terawat lagi berubah menjadi seorang pengemis.
Sesekali dia berlari saat melihat teman sosialitanya menghentikan mobil di lampu merah, Melani bersembunyi dan sesekali mengumpat. Hidup Melani tak sebaik Bram saat tidak memiliki apapun. Melani bahkan hanya sekedar makan dia harus mencari makanan di dalam tong sampah.
Sepanjang jalan, Bram sengaja melalui jalan yang biasanya Melani jadikan ladang untuk mengemis, sesuai dengan laporan mata-matanya.
Saat Melani ingin mendekati mobil Bram. Bram yang melihat itu dengan sengaja menurunkan kaca mobilnya dan memperlihatkan wajah Bram yang sedang bersama Naya. Melani melihat Bram dan Naya akhirnya berlari dan memanggil nama Naya.
"Itu.. Naya,," gumam Melani.
"Nayaaa... Nayaaaa ini Mamaa... Naya...," teriak Melani
Bram tersenyum, menaikkan kaca mobilnya dan membuang sebuah amplop yang berisi uang selembar dan sebuah pesan,
..."Jangan menjadi serakah saat memiliki segalanya karena hidup itu berputar. Selamat menikmati,"....
Melani membaca itu meremas kertasnya dan melempar uang selembaran tersebut karena merasa terhina. Dia berjalan dengan pikiran yang dan tujuan yang sangat besar untuk balas dendam.
Hari-hari berlalu dengan pikiran untuk membalas dendam tapi tak bisa Melani capai membuat dia juga depresi dan menggantung diri di sebuah halte bus. Informasi kematiannya tidak memberikan efek apapun kepada Bram.
...*******...
Seminggu berlalu,
Di balik pintu masuk yang megah terlihat sebuah kemewahan yang tak terbayangkan. Dengan langkah hati-hati, para tamu yang memadati ruangan itu merasakan kemewahan acara tersebut. Lampu kristal yang bergekantungan yang cahayanya menghiasi setiap sudut ruangan.
Hamparan karpet merah mewah menjalar seiring perjalanan para tamu menuju altar pernikahan yang dihiasi dengan bunga-bunga segar yang menakjubkan. Gaun pengantin yang melambai indah menyeret di belakang Naya yang saat itu berjalan menuju kebahagiaannya.
Gaun mewah yang terbuat dari kain sutra yang dipenuhi bordiran emas dan hiasan kristal yang berkilauan.
Para tamu terpesona oleh suasana pesta yang dihiasi dengan meja makan yang megah, dilengkapi dengan piring perak dan kaca-kaca mewah. Perlahan, pelayan-pelayan berbaju rapi mulai menghidangkan hidangan lezat, yang mampu memanjakan lidah dengan citarasa yang tak terlupakan. Hidangan internasional terbaik tersedia, disajikan dengan keanggunan dan kecemerlangan.
Suara musik yang indah memenuhi ruangan, ditambah dengan suara vokal yang menakjubkan dari penyanyi terkenal yang menghibur para tamu. Gerakan tarian yang memukau dari pasangan penari profesional mempesona semua orang yang hadir, sementara itu, pencahayaan yang dramatis membuat suasana semakin memikat.
Di meja-meja hadiah, tamu-tamu yang berbahagia diberikan souvenir mewah sebagai tanda terima kasih atas kehadiran mereka. Setiap souvenir berkilauan dengan kemewahan.
Naya tersenyum manis dalam gaun sedangkan Bram yang mengenakan tuxedo mencerminkan sepasang kekasih yang saling mencintai dan terlihat sangat serasi. Naya tidak mempertanyakan kehadiran keluarganya lagi, karena Bram telah memberi tahu satu kebenaran yang membuat Naya sakit. Bahwa kecelakaan yang di alaminya karena suruhan kedua orang tuanya dan Alea sepupunya. Sedangkan Arana sedang menikmati dunianya menjadi seorang penguasa di Negara lain dan tidak menganggapnya sebagai saudara lagi.
Bram mengulurkan jemarinya, meminta Naya dengan manis untuk berdansa dengannya. Naya kemudian meraih jemari Bram dan suasana yang tadinya sangat ramai berubah menjadi senyal dengan alunan lagu romantis.
__ADS_1
"Sayang, aku mencintaimu,". Bisik Bram
"I love you more,". Timpal Naya dengan tersenyum.
...END...
Rey yang sedari tadi berdiri di samping Kakek Brahma dan yang lainnya pamit untuk mengecek keamanan acara. Rey tidak ingin sesuatu terjadi pada acara tersebut.
Bughhhh....
Rey bersenggolan dengan seorang wanita dengan rambut sebahu,
"Aw.....," ringis wanita tersebut.
Rey juga melihat setelan jasnya basah karena minuman yang di tenteng wanita itu tumpah di jasnya, tiba-tiba wanita itu ingin meminta maaf, Rey pun demikian.
"KAU???!,"
"KAU??!," Ucap Rey dan wanita itu secara bersamaan.
"Apa yang kau lakukan di sini?!", tanya Rey.
"Memangnya kenapa?, kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?," timpal wanita tersebut.
"Kau memanggilku apa tadi?,". Tanya Rey dengan ketus.
"Ah itu tidak penting, ini bukan jam kantor,".
Rey mendengar itu sangat kesal tapi kekesalannya sedikit berkurang saat melihat wankta di hadapannya itu tampil dengan sedikit anggun dan memukau. Wanita tersebut mengenakan dress yang terang kontras dengan warna kulitnya. Wajahnya sedikit mendapat polesan yang membuat Rey mengaguminya dalam diam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?,".
"Siapa yang menatapmu, jangan terlalu percaya diri,". Timpal Rey
Mereka berdua akhirnya saling melangkah dengan arah yang bertolak dengan saling berdecih.
"Dasar, atasan galak,".
"Dasar wanita tukang bantah,". Gumam Rey.
~TAMAT~
__ADS_1