Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
57. MSSM


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi menyapu lembut rambut Sabrina yang tergerai. Tak juah dari hadapannya terlihat seorang lelaki yang tengah sibuk megurusi semua pekerjaannya. Bibir Sabrina terjaga dalam senyuman samar, mencerminkan kegugupan dan keteguhan hati yang tersembunyi di balik keraguan.


Dalam benak Sabrina, memori masa lalu mengalir dengan kuat. Saat pertemuan pertama mereka di bawah langit senja yang memancarkan warna-warni yang memukau. Mereka pernah bersama, menari dalam hujan dan tersenyum dalam kebahagiaan. Tetapi karea keegoisan saat ini semuanya telah berubah.


Hari ini adalah hari terakhir Sabrina berada di negara ini. Sabrina memutuskan untuk berani menemui Rey menjelaskan semuanya termasuk tentang perasaannya yang tulus untuk Rey. Setiap langkah Sabrina dipenuhi dengan kegelisahan dan rasa ingin tahu tentang perasaan Rey kepadanya.


Sabrina sangat paham jika Rey mengetahui perasaan Sabrina kepadanya selama ini, hanya saja Sabrina ragu apakah Rey masih bisa menerima segalanya atau memutuskan untuk berhenti dalam hubungannya.


Sabrina menarik napas dalam-dalam, "Rey...." ucap Sabrina lembut


Mendengar itu, Rey tersadar dan melihat wanita yang berada di hadapannya itu tengah berdiri dengan tatapan yang senduh. Sedangkan Sabrina yang melihat tatapan Rey, masih dengan getaran yang sama. Wajah Rey yang tetap memancarkan pesona yang sama.


Rey masih terdiam melihat Sabrina dengan intensitas yang tak tergambarkan.


"Maafkan aku Rey, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu"


"Aku sudah maafkan".


"Aku tahu kau masih kecewa Rey, tapi Rey kau tau siapa aku dan apa yang aku lakukan bukan karena aku ingin"


Mendengar itu Rey menghembuskan nafasnya berat.


"Jika kau tahu aku masih merasa kecewa mengapa kau datang, kau juga sangat paham bagaimana dengan watakku Rin"


"Aku akan pergi Rey"


Rey mendengar itu mengepalkan tangannya, tapi Rey tidak bisa berbuat apa-apa selain diam.


"Rey, aku mencintaimu. Bisakah kita kembali seperti dulu?"


"Apakah kau mencariku karena saat ini aku sudah memiliki status bukan sebagai anak yatim lagi? atau kau mencariku karena memiliki rencana untuk menyakitiku dengan cara yang berbeda? atau kau datang mencariku karena sebuah pelampiasan?" ucap Rey dengan nada penuh penekanan. Dia pria, dia manusia dan bisa sakit.


"Tidak Rey, tidak ada yang benar. Aku mencintaimu itu benar, aku hanya menuruti perintah Papa"

__ADS_1


"Dan jika saat itu Bram menerimamu, apakah kau akan tetap melakukannya? lalu untuk apa aku mendampingimu"


"Rey aku mohon maafkan aku" ucap Sabrina dengan merengek dan banyak air mata.


Rey mendengar itupun tidak bergeming dan tetap diam memunggungi Sabrina dengan menahan diri. Rey tahu bahwa perasaannya untuk Sabrina mustahil untuk bisa terwujud karena Sabrina akan tetap menjadi anak yang patuh oleh ayah yang hanya mengutamakan harta dan jabatan.


Rey yang tidak ingin mendegar lagi rengekan Sabrina dia membalikkan wajahnya dan memegang pundak Sabrina.


"Rin, sudahlah. Buka lembaran baru. KIta harus saling melupakan, aku yakin kau bisa"


"Tidak Rey, aku hanya mencintaimu", hiks hiks hiks"


"aku telah melakukan yang terbaik untuk hubungan kita dan sekali kau melangkah untuk pergi dengan alasan apapun, itu tidak akan membuat perubahan apapun. Kau bukan milikku lagi"


"Tapi Rey....."


"Rin, kau anak yang baik. Ayahmu melakukan itu demi kebaikanmu, pergilah"


Mendapatkan penolakan ego Sabrina mencuak, dia dengan geram menghapus air matanya dan ingin meninggalkan ruangan tersebut, sebelum Sabrina meninggalkan ruangan dia berbalik dan bertanya kepada Rey, "Apakah kau telah bertemu dengan seorang wanita yang menarik perhatianmu?"


"Apakah wanita yang hadir bersamamu pada malam itu?"


Rey mengangguk kembali.


Sabrina yang melihatnya kemudian memalingkan wajahnya dan bergegas meninggalkan ruangan Rey dengan sesegukan. Sabrina menyesal telah menyakiti Rey. selama mereka menjalani hubungan benar, Rey telah melakukan semuanya maksimal, SEtia dan memanjakan Sabrina, pelajaran berharga untuk Sabrina untuk tidak menyia-nyiakan terlebih lagi harus berjuang dengan apa yang di pilih.


...***...


Di kediaman Harun Wicaksana, Dia mengamuk dengan menghancurkan bingkai foto keluarganya. Melani dan Arana terkejut dan berlari melihat apa yang di lakukan Harun.


"Papa, ada apa ini?"


Mata Harun memerah karena amarah, dia menceritakan apa yang terjadi di perusahaan kepada melani dan Arana membuat mereka syok.

__ADS_1


"Aku pikir setelah pengumuman itu, kita akan benar-benar di jadikan seorang mertua yang memiliki kekuasaan" ucap Melani


"Aku juga sangat bangga memiliki kakak ipar sepertinya, aku jadi terkenal di kampus" ucap Arana


"Diam kalian. Ini semua ulah kalian yang selalu menyiksanya dan liat sekarang, dia balas dendam dengan menjadikanku babunya di perusahaan".


Melani mendengar itu, berusaha menenangkan suaminya, begitupun Arana yang berusaha menenangkan Harun untuk tidak terseulut emsoi, mereka memberikan saran untuk mulai mendekati Bram dan Naya sebagai keluarga mereka dan mencari empati mereka agar mereka bisa merasakan kekuasaan yang sebenarnya.


Mendengar itu Harun tersenyum, sedangkan tidak jauh dari ruangan Harun berbincang dengan keluarganya, ada seorang wanita yang mendengarnya. Dia melangkah memasuki ruangan dengan memotong perbincangan Harun,


"Aku tidak mengerti mengapa Om ingin bersikap baik dengannya sedangkan mereka sudah berlaku tidak sopan dengan keluarga ini"


"Alea..." ucap Melani


"Selamat malam om dan tante, maaf aku mengganggu waktu kalian"


"Tidak sayang, sini duduk" ucap Melani


"Apa maksud ucapamu itu?" tanya Harun


"Arana, kaka boleh minta tolong di buatin minuman?" tanya Alea kepada Arana.


Arana yang menyukai Alea sebagai kakak sepupu, selain cantik dia juga modis, segera meng-iyakan permintaan Alea tanpa membantah. Kepergian Arana membuat Alea tersenyum dan melanjutkan ucapannya.


"Jika om dan tante bersikap baik kepada Bram, belum tentu om akan di perlakukan baik, mengingat om pernah menyakitinya. Sedangkan menurut Alea, om tidak salah jika marah saat itu, orang tua mana yang menerima menikah dengan lelaki miskin? iyakan tante?"


Harun dan Melani menyetujui hal itu, mereka semuanya bersamaan mengoceh dan melupakan niat awal untuk mendekatkan diri sebagai keluarga keapada Bram dan Naya.


"Jika om dan tante ingin melawan Bram, aku punya solusinya" ucap Alea


"Bagaimana kau begitu yakin dengan rencanamu, kau belum mengenal Bram, dia bisa saja menghancurkan kita sampai habis"


"Ha ha ha, Bram adalah teman kuliah Alea di Inggris om, Alea sangat tahu wataknya seperti apa, dia sangat arogan dan angkuh. Alea yakin dengan berpura-pura miskin, dia hanya memasuki keluarga om dan mencari tahu kelemahan om dalam mengelola perusahaan"

__ADS_1


Harun sangat geram mendengar itu, dia kembali menghancurkan sebuah vas bunga yang berada di meja dan melemparnya ke dinding.


"Kau benar Alea, yaah kau benar! aku memang bodoh telah menerimanya masuk kedalam keluarga kita Ma, harusnya sejak lama ku lenyapkan dia".


__ADS_2