
Lyodra masih bertanya tentang banyak hal, bukan karena keuntungan tapi Lyodra ingin tahu niat Bram yang sebenarnya. Mereka semua sepakat tiga hari lagi akan menyerang Jhon dan mengambil seluruh hak kuasanya dengan bantuan Lyodra tapi sebelum mereka berpamitan, Lyodra meninggalkan ruangan ke toilet.
Lyodra menulis di sebuah cermin toilet tersebut menggunakan lipstik yang berada dalam tasnya, Lyodra memberi Bram nomor telpon Lyodra untuk membahasa sesuatu, dia sangat yakin bahwa pelayan Bram pasti memeriksa tempat tersebut dan memberitahukan kepada Bram.
Esok hari, Lyodra memegang ponselnya dengan harap cemas. Belum ada nomor baru yang tertera di layarnya bermunculan. Dia sangat berharap Bram bisa membantunya untuk membalas Jhon dan keluarganya. Lyodra masih menyimpan dendam kepada mereka semua atas kematian anak-anaknya dan juga mereka yang membuat dia tidak bisa memiliki anak lagi. Wanita mana yang tidak ingin memiliki anak yang lahir dari rahimnya sendiri?
Ting...
"B," gumam Lyodra yang membaca pesan tersebut yang hanya tersirat satu huruf saja.
Pesan yang ditunggu-tunggu telah muncul di hadapannya, Lyodra meminta Bram untuk bertemu di salah satu tempat untuk membahas sesuatu. Mereka sepakat sore nanti akan bertemu.
...*****...
Di Negara lain, Rey sudah mampu menggerakan tubuhnya. Dia meraih Hp di balik nakasnya untuk mengecek apa yang Bram sedang lakukan. Rey memanggil salah seorang pengawal kepercayaannya dan menanyakan perihal apa yang sedang terjadi. Pengawal kepercayaan Rey tersebut mengatakan apa yang Bram perintahkan,
"Tuan Bram menemani Nyonya memeriksa kandungannya di Singapore".
"Apa lagi yang terjadi selama aku sakit?".
"Tidak ada tuan, hanya perusahaan mengalami kebangkrutan dan perpindahan CEO, dia seorang wani-,".
"Aku tidak ingin mendengar itu Black, aku ingin mendengar tentang Bram, apa yang dia rencanakan dan lakukan,".
"Tidak ada tuan, tuan Bram normal saja,".
Mendengar itu, Rey meminta bodyguar kepercayaannya meninggalkan tempat, Rey yakin telahbterjadi sesuatu tapi entah itu apa. Jika tidak terjadi sesuatu, mengapa Naya harus di bawa pemeriksaan di Negara lain sedangkan rumah sakit miliknya memiliki peralatan yang canggih dan dokter yang ternama.
Rey pun tidak bisa membantah ucapan Black dan tidak meragukan laporannya karena Bram tidak mengetahui jika Black adalah orang kepercayaannya. Rey salah, Bram mengetahui semuanya karena itu Black di ancam untuk tidak membongkar masalah kecelakaan Naya.
__ADS_1
...******...
Di sebuah ruangan kerja yang luas, Alea kehabisan cara untuk memancing Bram keluar dari persembunyiannya karena Alea tidak bisa melakukan apapun, pembalasan atau ingin meluluhkan Bram jika dia tidak bisa menampakkan diri.
Alea berjalan ke kaca yang besar di ruangannya, melihat pantulan dirinya di dalam sana. Dia sangat berkelas dengan mengenakan setelan kantor yang bermerk, berlian yang simpel namun harga selangit, rok mini dan belahan dada yang sedikit terlihat,
"Oh God, aku begitu sempurna, aku sudah memiliki segalanya, mengapa dia masih belum tertarik?," gumam Alea.
Alea kemudian meraba payuda**nya dan sesekali menggigit bibir bawahnya, Alea sudah lama tidak merasakan kenikmatan itu. Sejak kematian Nikol dia tidak pernah melakukannya lagi, Alea duduk di sebuah sofa dan membuka lebar kakinya, dia memainkan titik kenikmatannya menggunakan jemarinya yang lentik,
"Ahh, aku tidak bisa di puaskan dengan ini," gumamnya.
Alea meraih ganggang telfonnya dan meminta seorang **bodyguard** yang berjaga di depan ruangannya memasuki ruangan Alea. Bodyguard tersebut bertubuh besar, otot lengan yang menonjol serta perut yang sedikit membuncit tapi terlihat keras. Wajahnya? Lupakan, Alea tidak peduli itu.
"Ada apa Nyonya, apa yang anda perintahkan?," tanya bodyguard tersebut
Alea tidak ingin berbasa-basi, di depan bodyguard tersebut Alea melepaskan segitiga piramida berwarna pink di dalam sana, dia menaikkan roknya dan memunggungi bodyguard tersebut,
Bodyguard masih terdiam dan berusaha mencerna apa yang di perintahkan, walau sebenarnya dia sudah lapar melihat hidangan yang terpampang jelas di hadapannya,
"Cepat lakukan," ucap Alea dengan suara yang sedikit tinggi dua oktaf karena sudah di buru nafsu.
Bodyguard tersebut tanpa basa-basi melepas penutup bawahnya hingga melorot kebawah dan menacapkan benda tumpul yang sudah mengeras sedari tadi,
"Ah~~" ******* Alea yang terdengar ringan
Bodyguard tersebut memacu dengan pelan kemudian sangat cepat, sedangkan mulut Alea tidak mengeluarkan ******* lagi, kecuali bodyguard tersebut yang sibuk memompa dan akhirnya mengeluarkan cairannya membasahi bokong Alea.
Alea langsung duduk dengan malas kemudian berjalan ke kursi kekuasannya. Alea merasa sial meminta bodyguard tersebut melayaninya. Alea tidak merasakan apapun,
__ADS_1
"Ah, sial. Hanya beberapa menit. Dia hanya bermodal otot yang besar tapi.... Ah, lebih nikmat pria bule" gumam Alea
Tiba-tiba telpon Alea berdering, tertera nama Harun disana, Alea memutar matanya malas, satu kali, dua kali, Alea masih diam. Tapi panggilan ketiga Alea mengangkatnya,
"Alea, apa yang kau lakukan. Mengapa lama sekali".
"Aku sibuk meeting om, ada apa?," tanya Alea.
"Mengapa kematian Bram belum termuat di Media? Apa yang sebenanrnya terjadi? Apakah rencanamu gagal?," tanya Harun dengan nada kesal.
"Baiklah om, aku akan mengeceknya setelah pekerjaanku selesai".
"Om tunggu, jangan lupa bagian keuntungan saham, transfer hari ini. Om ingin membeli sesuatu," ucap Harun
"Baiklah".
Telfonan berakhir, Alea mengepalkan kedua tangannya dan berusaha mengatur nafasnya. Alea sangat geram dengan Harun dan Melani yang suka seenaknya, ALea ingin menghancurkan mereka tapi dia masih mmebutuhkan bantuannya untuk memuluskan rencananya,
"Jika Naya mati dan aku mendapatkan Bram, aku akan melenyapkan kalian setelahnya," gumam Alea.
Alea terdiam, memikirkan cara membungkam mulut Harun dan Melani sementara waktu, dia tiba-tiba tersenyum. Alea meraih tas yang di tentengnya kemudian meninggalkan ruangan untuk menuju kantor Media televisi terbesar di Negara tersebut,
"Aku yakin dengan kekuasaanku, akuu bisa melakukknya dan setelah itu aku akan liburan ke Inggris, aku rindu bertemu sahabat bule ku yang memuaskan," gumam Alea yang terlihat senang meninggalkan ruangan.
Bodyguard yang melihat ekspresi Alea sudah merasa berbangga diri karena setelah memberikan kepuasan kepadanya, Alea berubah menjadi ceria. Bodyguard tersebut memberitahu teman-teman yang memiliki tugas yang sama dengannya bahwa dia sudah bercinta dengan atasannya itu, tapi tidak ada yang mempercayainya,
"Ah, tidak mungkin, bodoh".
"Nanti aku akan perlihatkan, jika aku di minta kedua kalinya, aku akan benar-benar merekam kejadian itu, supaya kau percaya," ucap Bodyguard yang sedikit bertubuh bongsor itu.
__ADS_1
Di perusahaan Media terbesar, seorang pimpinan yang seumuran Kakek Prabu tengah duduk menerumput kopinya, dia mendengar keluhan Alea dan juga berita yang di bawanya hanya dengan bermodalkan bukti mobil yang hancur dan juga platnya yang jika di cek kebenarannya memang benar milik Bram, tidak membuat pimpinan tersebut goyah.