
"Kau benar Alea, yaah kau benar! aku memang bodoh telah menerimanya masuk kedalam keluarga kita Ma, harusnya sejak lama ku lenyapkan saja dia"
"Benar Pa. Kita harus merencanakan sesuatu untuk melawannya untuk harga diri kita, apa yang harus kita lakukan?"
"Tenang tante, aku punya cara"
"Apa itu"
"Nikahkan Arana"
"Ha?!"
"Iya, kebetulan informasi yang aku dapat, Mr.Jhon yang menguasai pasar bisnis di Eropa sedang mencari seorang istri kedua, aku pikir itu tidak masalah, karena hanya dia yang bisa melawan Bram" jelas Alea
Harun dan Melani saling menatap. Ada keraguan di sana, tapi Alea kembali meyakinkan mereka bahwa Arana akan hidup nyaman dan mereka berdua akan menjadi penguasa tidak hanya di Asia tapi juga di Eropa.
Mata Harun dan Melani berbinar saat mendengar hal tersebut. Akhirnya mereka menyetujui hasutan Alea.
"Dasar penggila kekuasaan, tapi itu bagus untuk memuluskan rencanaku, sekali jalan semuanya akan hancur dan berjalan sesuai yang ku inginkan, Bram akan menjadi milikku dan Naya akan hancur bersama dengan keluarganya, Ha ha ha" batin Alea kemudian di tersenyum devil.
...***...
Kini Naya sangat santai menjalani hari-harinya di rumah megah tersebut. Fasilitas Naya lengkap dengan beberapa Dokter yang rutin mengecek kesahatannya di tambah lagi Naya tidak kesepian saat Bram berada di kantor karena di rumah megah tersebut Naya tidak membatasi diri dengan para pelayan.
Naya sesekali bermain game ular tangga dan juga menikmati permainan lainnya yang di mainkan oleh para pelayan bahkan para pengawal yang menjaga di rumah tersebut, perintah Naya adalah wajib.
Sejak hamil, sikap dingin Naya pun mencair, entah karena hormon kehamilan atau karena Naya akhirnya sadar bahwa tidak ada gunanya membatasi diri dengan sikap bijaksana di setiap tempat, itu hanya membatasi proses sosial interaksinya.
Kakek Brahma pun sesekali ikut dengan kegiatan Naya di rumah tersebut, membuat Kakek Brahma bahagia karena kini rumah yang dulunya hanya ada suara nyamuk yang berlalu lalang, saat ini ramai dengan banyak kegiatan karena kehadiran Naya.
Brahma juga sangat bahagia melihat cucu satu-satunya setiap hari rela bolak-balik perusahaan hanya untuk sekedar makan masakan istrinya dengan senyuman dan tawa yang mengambang setiap saat. Sedangkan untuk Bram sendiri, memilih pulang karena selalu ingin berada di samping Naya, memeluknya atau bisa saja mengambil haknya sebagai suami.
Bram memang perkasa tanpa mengenal kondisi, Naya saat hamil ataupun tidak, di matanya Naya tetap sama selalu terlihat seksi sepanjang waktu, mungkin saja karena cintanya sudah sebesar itu.
__ADS_1
Cahaya mentari pagi menyeruak memasuki jendela kamar Bram dan Naya. Udara sejuk menyapa pagi mereka yang masih nyenyak tertidur dalam pelukan yang saling menghangatkan, kicauan burung menyadarkan Naya untuk segera beranjak dari pembaringan. Bram yang merasakan itu menahan tubuh Naya untuk tidak pergi,
"Sayang, ayolah. Kau akan ke kantor. Ini sudah pagi, lepaskan aku. Aku akan membuatkan sarapan untukmu"
"Biarkan hari ini pelayan yang melakukannya, aku masih ingin memelukmu"
"Lima menit" balas Naya
Bram yang mendengar itu tersenyum penuh makna. Akhirnya Naya mengikuti ucapan Bram, dia kembali memeluk Bram, tiba-tiba Bram mencium pipi Naya, mengecup keningnya, berpindah ke hidung kemudian ciuman di bibir.
Naya mendapatkan serangan dadakan membelalakan matanya dan mendorong sedikit wajah Bram,
"Sayang ini masih pagi dan semalam kita sudah melakukannya"
"Semalam? aku tidak ingat"
"Iya, semalam. Appa-appaan kamu ngga ingat"
"Baiklah, aku ulangi sekali lagi supaya aku ingat"
Naya yang sebelumnya memberontak kali ini mengikuti tuntutan nalurinya dengan permainan Bram yang sangat lihai membuat istrinya menyerah.
Bram memainkan kedua puncak himalaya yang membuat Naya mendesah tidak karuan. Tangan Naya yang sesekali mencengkram bahu Bram dan beralih menekan kepala Bram yang berada di antara puncak himalaya miliknya untuk tetap berada disana.
Bram yang sudah tahu bahwa Naya siap merasakan kehangatan dari milik Bram, dia melengsetnya pelan dengan penuh tekanan yang membuat Naya merancau tidak jelas. Begitupun Bram merasakan hal yang sama, bahwa senjata miliknya kembalimendapatkan cengkaraman kuat di pagi hari dengan penuh kehangatan.
Entah apa yang Naya gunakan membuat Bram selalu merasa nikmat berada di dalam sana dan tidak ingin menyudahi setiap kali mereka melakukannya, Naya seakan memiliki magnet di tubuhnya dan hanya Bram yang bisa merasakannya.
Erangan tiap erangan terdengar dalam kamar yang megah dan luas itu di pagi hari, setiap menit berlalu membuat suaranya semakin memuncak dan akhirnya, suasana kamar kembali terdengar sepi.
"Sayang, I love you" bisik Bram dengan mengecup kening Naya tanda berakhirnya aktifitas mereka
"I love you more sayang" balas Naya dengan wajah yang kelelahan
__ADS_1
"Sayang, aku akan makan siang di kantor hari ini, jadi jangan menungguku dan banyak istrahat agar anak kita tetap sehat dan kamu pun begitu"
"Apakah siang ini ada rapat penting?"
"Iya sayang" ucap Bram bohong karena yang sebenarnya, Bram ingin menjalankan misi balas dendamnya.
"Well" timpal Naya yang kembalimendapatkan ciuman bertubi-tubi dari Bram
"Hentikan sayang, anak kita sakit kalau kamu begini terus"
"Sakit? tidak sayang, anak kita akan sehat karena ayahnya sering membesuknya"
"Hentikan Bram, " ucap Naya dengan memutar bola matanya
"Sayang, kamu milikku"
"Iya, aku milikmu saat ini, tapi saat anak kita lahir, aku miliknya, waktuku, dan terutama dua ini" ucap Naya dengan menunjuk dadanya
"Itu tidak adil, dua himalaya milikmu adalah milikku, jika dia berani melawan, aku akan mengirimnya ke luar negeri"
Naya mendengar itu melempar bantal ke wajah Bram dan meninggalkan Bram memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Bram mendapat perlakuan Naya terkekeh dengan teriakan,
"Bagaimana jika kami masing-masing memilikinya sayang, itu adil kan?" Bram yakin Naya masih mendengarkan teriakannya namun tidak ingin menggubrisnya sama sekali.
...***...
Perusahaan BOF...
Bram dan Rey memasuki perusahaan tersebut dengan beberapa pengawal yang berada di sekitarnya. Bram dan Rey mengambil perhatian penuh dengan kedatangan mereka. Semua karyawan berlomba ingin melihat secara dekat seorang penguasa tersebut.
Blins kamera sudah berada di mana-mana untuk menangkap gambar Bram. Di sisi lain, media sudah di hebohkan dengan berita kedatangan Bram ke perusahaan tersebut, Harun yang sedang berada dalam ruang kantornya ketar-ketir menyambut kedatangan Bram yang datang secara mendadak.
Harun belum menyembunyikan beberapa hasil laporan yang menyebutkan banyak kecurangan yang dia lakukan pada para pemegang saham dan gaji karyawan. Bram memasuki ruangan tersebut dengan menatap intens wajah Harun yang penuh dengan peluh karena sibuk memindahkan beberapa berkas ke brangkasnya.
__ADS_1
"Selamat datang menantuku" ucap Harun ramah