Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
59. MSSM


__ADS_3

"Selamat datang menantuku" ucap Harun ramah


Bram mendengar itu rasanya ingin memuntahkan semua isi perutnya. Bram masih dengan tatapan tajam dan dingin, dia melangkah dan duduk di kursi singgasana Harun.


Harun mengepalkan tangannya dan berusaha mengontrol diri dan ucapannya agar tidak membuat Bram tersinggung dan membuatnya benar-benar bangkrut.


"Panggil aku tuan, dunia bisnis kita tetap rekan bisnis bukan sebuah keluarga" ucap Bram


Harun berusaha menahan diri dan menyebut nama Bram,


"Tuan Bram" dengan penuh penekanan.


Bram mendengar itupun tersenyum penuh ejekan kepada Harun.


"Baik, aku datang ingin memeriksa beberapa data perusahaan" ucapan Bram


Mendengar itu, Harun merasa lega karena semua berkas yang menjelaskan kecacatannya telah dia sembunyikan. Harun dengan tersenyum meminta Farah sekretarisnya memberikan semua berkas penting perusahaan.


Farah mengambil semua berkas yang selama ini dia kerjakan sebagai laporan kepada pimpinan, Farah meletakkan di meja hadapan Bram. Rey melihat itupun tanpa basa-basi mengambil dua laporan yang menurutnya penting, laporan keuangan dan pengeluaran kantor.


Harun kemudian duduk santai menunggu komentar Bram yang dia yakini tidak akan mendapat kesalahan apapun karena sebelum itu Farah telah mengubah semua laporan yang nyata dengan laporan palsu, laporan nyata yang di pegang oleh Harun telah di sembunyikannya.


"Bagus sekali tuan Harun, anda sangat hebat menjadi seorang pemimpin di perusahaan ini" ucap Bram


Harun kemudian membetulkan jas nya dan tersenyum penuh angkuh,


"Tapi sayangnya, seorang pemimpin bagaimana bisa memiliki utang sebanyak ini?" ucap Bram dengan lantang kemudian melemparkan berkas tersebut ke hadapan Harun.


Mata Harun membelalak. Bagaimana bisa dia mengetahui masalah utang itu.


"Dan juga, lihat ini. Laporan pengeluaran kantor tidak seimbang dan jumlahnya sangat jauh dengan laporan awal" ucap Bram dengan kembali melemparkan map tersebut ke hadapan Harun


Tidak salah Bram menjadi seorang pimpinan yang berkuasa dan Kakek Brahma telah mempercayainya karena Bram sangat jeli melihat kesalahan, di tambah Rey yang juga sangat cekatan dan jeli membuat perpaduan yang sempurna Yudistira sulit untuk di taklukkan.

__ADS_1


Harun meraih map tersebut dengan geram, dia sudah memiliki niat yang buruk untuk farah sekretarisnya karena menuduh Farah telah berkhianat. Bram berdiri dari kursi pimpinan dengan tatapan yang tajam dan mendekat ke arah Harun,


"Aku tidak mau tahu, perusahaan tidak boleh memiliki hutang apapun dan laporan keuangan untuk bulan depan harus sesuai dengan fakta" ucap Bram dengan penuh penekanan.


Bram sangat tidak menyukai rekan bisnis, atau hal apapun yang menyangkut tentang kecurangan dalam pengelolaan uang karena baginya sama saja menghinati hasil keringat orang lain.


Bram meninggalkan ruangan tersebut sedangkan Harun menatap Farah sinis. Farah hanya terdiam dan menunduk saat Harun menatapnya penuh amarah,


"Penghianat, mulai sekarang kamu saya pecat" ucap Harun


"Tapi Tuan, apa salah saya?"


"Tidak usah pura-pura, pergi kamu dari sini, aku tidak butuh sekretaris yang berhianat sepertimu"


Farah mendengar itu hanya bisa meneteskan air matanya, Farah sudah melakukan yang terbaik sesuai dengan aturan kantor bahkan membantu Harun menutupi segala kebusukannya, tapi tetap mendapatkan masalah. Selama ini pun Farah di beri gaji yang tidak sesuai semenjak Harun menggantikan Naya. Hanya saja, pekerjaan yang Farah tekuni sudah menjadi hobi baginya apa lagi di perusahaan tersebut, karirnya sudah sangat gemilang sebagai seorang sekretaris.


Harun yang kembali menduduki kursi singgasananya membuka lembaran tiap map tesebut, kemudian dia berjalan dan meraih beberapa map yang sesuai dengan map sebelumnya, kemudian Harun membandingkannya. Wajah Harun nampak berkerut,


"Bagaimana bisa dia menemukan kesalahanku, laporannya sudah sangat halus di ganti oleh farah,"


"Bagaimana caranya, argghh!" teriak Harun frustasi


Seketika di kepala Harun muncul nama Alea mengingat solusi yang dia berikan, Harun bergegas ke perusahaan tempat Alea menjadi seorang CEO.


"Ada apa om datang menemuiku?"


"Arana setuju untuk menikah dengan Mr. Jhon, kapan mereka akan bertemu?"


"Om serius? bagus om, setelah mereka menikah kita akan mendapat pengaruh kekuasaan di dunia bisnis"


Mendengar itu Harun tersenyum karena sesuai dengan harapannya, Harun menjelaskan bahwa Arana setuju karena dia adalah anak yang baik, Arana tidak pernah membantah permintaan orang tuanya, walaupun sebenarnya Harun belum mengatakan apapun kepada Arana.


Kesepakatan telah terjalin, Harun bergegas pulang dan memberitahukan informasi tersebut kepada Arana.

__ADS_1


...***...


Di sebuah rumah besar yang terletak di pinggiran kota, Arana sedang asyik memainkan Hp nya di dekat kolam renang bersama dengan ibunya, Melani. Kedatangan Harun seperti biasa tidak ada penyambutan karena semuanya tengah sibuk dengan urusan masing-masing.


Harun membuyarkan kesibukan mereka dengan banyak basa-basi, membuat Melani dan Arana saling menatap heran karena itu bukan kebiasaan Harun,


"Papa kenapa, Papa sakit?" tanya Arana


"Iya, tidak biasanya Papa secerewet ini, tapi kata tetua dulu 'orang yang berbeda dari sikap sebelumnya, itu petanda sebuah kematian', ". ucap Melani


"Kalian ini apa-apaan, Aku masih sehat. Jangan sembarangan bicara, aku masih akan berusia panjang dan menjadi seorang penguasa nomor satu di negri ini" ucap Harun


Melani dan Arana mengangguk tanda mereka mendukung dan mmebenarkan ucapan Harun. Saat itu juga Harun menceritakan kejadian di kantor bahkan melebih-lebihkannya jika dia sangat di remehkan oleh Bram dengan membuatnya ingin berlutut, tapi Harun masih mempertahankan harga dirinya.


Melani dan Arana yang mendengar itupun ikut geram,


"Ayo kita menemui Naya dan memberinya peringatan bahwa kami tetaplah orang tuanya dan jangan terlalu percaya dengan suaminya itu"


"Benar Ma"


"Sebenarnya aku memiliki solusi untuk permasalahan kita, tapi aku butuh bantuan Arana"


"Aku? katakan saja Pa, aku siap membantu Papa"


"Benarkah sayang?" tanya Harun dengan mata berbinar


"Baiklah, Papa janji akan memberimu hadiah mobil pengeluaran terbaru jika rencana ini berjalan dengan lancar"


Arana sangat kegirangan mendengar hal itu tanpa mengetahui permintaan ayahnya terlebih dahulu. Bagi Arana kebahagiaan terletak oleh barang-barang mewah yang bisa ia gunakan untuk pamer di depan teman-temannya.


Harun bergegas meraih Hp di sakunya dan memberitahukan Alea bahwa pertemuan Arana dan Mr.Jhon bisa segera di lakukan.


...***...

__ADS_1


Naya sedang duduk di depan TV bersama dengan beberapa pelayan, dia menikmati buah-buah segar yang telah di siapkan oleh koki khusus untuk ibu hamil. Tiba-tiba pemberitaan Bram memasuki perusahaan yang di pimpin ayahnya tampil di layar tersebut, membuat Naya curiga telah terjadi sesuatu.


Beberapa jam berlalu, Naya dengan cemas menunggu kedatangan Bram untuk menyantap makan siangnya seperti biasa tapi Bram tak kunjung datang.


__ADS_2