Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
49. MSSM


__ADS_3

Publikasi Bram yang spontan mengundang decak kagum dan kekaguman dari para pengamat, tamu dan wartawan yang hadir.


Kamera-kamera yang ada mengabadikan momen bersejarah. Seolah waktu berhenti sejenak, dunia hanya terfokus pada pasangan itu, yang tampak seperti tokoh utama dalam sebuah novel epik. Media melaporkan dengan kata-kata yang penuh kekaguman tentang kehadiran mereka, menjuluki mereka sebagai simbol kesatuan dan kemajuan di Asia.


Keesokan harinya media gempar dengan berita yang mengejutkan. Di seantero Asia, berita tentang kemunculan pertama penguasa nomor satu bersama istrinya menyebar dengan cepat seperti angin yang bertiup di atas padang luas.


Bagian dari media merespons dengan kekaguman dan kagum akan prestasi luar biasa yang pernah di raih sang istri, melihatnya sebagai inspirasi bagi banyak orang.


Namun, ada pula media yang skeptis dan mencurigai kisah Naya dan Bram. Mereka mungkin mempertanyakan bagaimana bisa pernikahan seorang yang berpengaruh tidak tercium publik, apa yang terjadi sebenarnya dan mengapa status Bram yang di kenal bernama Bayu bisa di sembunyikan.


Sementara itu, ada juga media yang menyoroti aspek sosial dan politik dari peristiwa ini. Mereka mungkin mengangkat isu-isu seperti kesetaraan gender, pengaruh kekayaan dalam politik, atau perubahan paradigma dalam masyarakat terkait identitas gender. Diskusi publik pun meluas, dengan berbagai pendapat dan pandangan yang berbeda.


Di tengah kontroversi dan perdebatan ini, cerita ini menjadi sorotan utama dalam berita dan memicu minat serta spekulasi dari berbagai kalangan.


Sebuah ruangan santai, Naya masih dengan diam menyeduh tehnya dengan beberapa cemilan yang berada di hadapannya. Bram resah karena sejak publikasi itu, Naya masih tetap diam.


Bram telah berusaha meminta waktu untuk memberitahu alasan menyembunyikan masalah tersebut tapi Naya tidak mengindahkan apapun yang Bram ucapkan, bagi Naya masalah itu masih membuat Naya sulit untuk mencerna apapun yang telah terjadi.


DI TEMPAT lain, kamar yang di dalam kamar wanita yang dulunya dipenuhi dengan kemewahan dan kemilau, perabotan yang mewah, seperti meja rias dengan cermin besar yang dihiasi dengan ornamen emas, kursi berlapis kain sutra berwarna lembut.

__ADS_1


Tirai jendela dari kain satin transparan menerangi ruangan dengan sinar matahari, di meja rias, berjejer kosmetik-kosmetik eksklusif dan peralatan make-up dengan sentuhan emas. Botol-botol parfum berdesakan di rak-rak khusus, dengan berbagai aroma yang menggoda untuk dipilih. Sebuah kursi bulat berlapis bulu mengundang untuk duduk dan menikmati ritual kecantikan yang penuh kemewahan.


Kini sudah berubah menjadi ruangan yang berserakan barang-barang karena ulah Alea menghancurkan segalanya.


Dengan wajah yang dipenuhi kekecewaan dan amarah yang membara, Alea berdiri di tengah kamar yang dipenuhi dengan kemewahan. Pakaian-pakaian mewah yang tergantung di lemari dirobek-robek dengan ganas, tabung parfum mahal dilemparkan dengan kekuatan penuh, menghasilkan pecahan kaca dan aroma yang terpencar ke udara.


Dengan setiap langkah yang diambilnya, langkah-langkah yang begitu marah dan penuh kebencian, sepatu hak tingginya menghancurkan butiran-butiran kosmetik yang terjatuh di lantai. Cermin besar di atas meja rias pecah berkeping-keping, mencerminkan kemarahan dalam berbagai potongan kaca yang berserakan di sekitar ruangan.


Alea melompat ke atas tempat tidur yang mewah dengan amarah yang tidak terkendali. Bantal-bantal lembut dan selimut sutra dilemparkan ke udara, mengambang dan jatuh seperti bunga-bunga yang layu. Pena-bulu mata palsu dan sikat rambut terbang di udara, menambah kekacauan yang mencerminkan kekacauan dalam hatinya.


Dengan setiap gerakan, dia menghancurkan segala sesuatu yang indah dan bernilai di dalam kamar itu. Keputusasaan dan ketidakpuasan yang mendalam memenuhi ruangan tersebut, seolah menjadi monster yang hidup dalam dirinya. Setiap langkah dan sentuhan dipenuhi dengan amarah dan keputusasaan, seolah ingin melampiaskan kekalahannya kepada dunia yang tidak adil.


Dalam ketegangan yang menyelimuti ruangan, ia menangis dengan penuh keputusasaan. Tapi di balik kekacauan dan kehancuran, ada juga keinginan yang terpendam untuk balas dendam


Alea tidak terima dengan kebenaran bahwa sebenarnya lelaki yang menjadi alasan Alea untuk kembali ke Negara tersebut adalah suami dari wanita yang Alea jadikan sebagai saingan sejak dulu.


Naya adalah simbol kekalahannya, sebesar apapun usaha Alea untuk menjadi yang terbaik, tapi kali ini berbeda, alea bertekad akan lebih menjadi yang terbaik mengalahkan Alea, terlebih lelaki yang Alea cari selama ini tengah bersamanya.


Mengingat itu, Alea kembali melempar sebuah botol minuman ke arah cermin besar yang terletak tidak jauh darinya, Alea tidak terima jika Naya mendapatkan suami seorang konglomerat terlebih lagi seorang terkaya nomor satu di Asia.

__ADS_1


Tidak hanya alea, Harun yang saat itu tengah berada di istananya bersama dengan Melani dengan raut wajah yang garang dan terlihat masih menyimpan banyak kekesalan saat mengetahui bahwa menantunya yang selama ini ia benci sebenarnya adalah seorang penguasa yang berkuasa.


Meskipun melihat kebenaran itu, tentang status sosial menantunya telah berubah, rasa bencinya tidak surut sedikit pun.


Dendam Harun semakin meluap dengan kekuatan baru. Ia merasa terhina dan merasa bahwa menantunya telah merendahkan dirinya dengan sengaja menyembunyikan kebenaran tentang status dan kekuasaannya.


Harun mulai menyusun rencana balas dendam yang lebih kejam dan merusak, terlebih lagi hasil pengumuman para penanam saham, perusahan BOF yang sedang di pimpinnya, perusahaan Melanie dan juga Nikol tidak mendapatkan bagian dalam pembangunan Natuna Hotel tersebut yang memiliki anggaran sampai Trilliunan.


...***...


Dengan suasana hati yang kesal dan perasaan yang gelisah, Bram mengikuti Naya ke sebuah ruangan yang penuh dengan ketegangan yang terasa di udara. Setiap langkah yang Bram ambil menuju ruangan itu terasa seperti menginjakkan kaki di atas bara yang membara.


Sinar matahari menyusup melalui celah-celah jendela, menciptakan bayangan-bayangan yang menyeramkan di sekitar ruangan yang sepi. Udara terasa tegang dan hening, seolah merangkul ketegangan antara Bram dan Naya yang saling menatap.


Di tengah ruangan itu, mereka berdiri berhadapan satu sama lain, cahaya memancar memantulkan ekspresi kekesalan di wajah Naya. Tangannya terkepal dengan erat, mencerminkan rasa frustrasi dan ketidakpuasan yang mendalam. Matanya yang tajam memancarkan api yang bersembunyi di balik kedamaian


Dengan wajah yang tegang dan tajam, Naya mengungkapkan semua kekesalan yang telah terpendam. Suaranya dipenuhi dengan keputusasaan dan ketidaksenangan yang tak tersembunyi. Ia meluapkan kekecewaan dan kekesalan atas situasi yang ada di benak Naya. Dia tidak lagi mampu menyembunyikan emosi yang berkobar-kobar di dalam hatinya.


"Sayang, ayolah jangan seperti ini" ucap Bram

__ADS_1


__ADS_2