Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
64. MSSM


__ADS_3

Bram yang mendengar itupun merenggangkan pelukannya, dia berpikir beberapa menit setelah mendapatkan banyak pertanyaan dari Naya istrinya,


"Jangan biarkan aku mengetahui segalanya dari orang lain Bram, aku ingin mendengar sendiri dari mulutmu"


Bram akhirnya menceritakan semua hal tentang masa lalunya. Wanita yang Kakek Brahma maksud saat pertama kali Naya menginjakan kaki dirumah tersebut, perubahan sikap Bram, semuanya karena Alea.


Naya duduk dengan lemas mendengar penjelasan Bram, ada kelegaan di sana karena lelaki yang di cintainya telah mengatakan sebuah kejujuran tapi yang menyakitkan adalah kenapa harus Alea? dia adalah sepupu Naya.


"Aku mau istrahat dulu"


"Nay, aku tidak bermaksud berbohong kepadamu"


"Aku tahu, sebaiknya kita istrahat ini sudah larut dan besok kau akan ke kantor"


Ucapan Naya membuat Bram khawatir respon Naya yang terkesan cuek pun membuat Bram menempeli dirinya dan meyakinkan Naya bahwa semua itu hanya masa lalu dan hanya ada Naya di hatinya dan bayinya saat ini dan selamanya. Naya masih terlihat biasa saja sampai ahirnya Nay terlelap.


...****...


Alea telah memberitahu Harun dan Melani tentang kesepakatan mereka, Jhon ingin ke Negaranya dan bertemu dengan Arana. Mereka setuju akan mengadakan sebuah pertemuan di restauran berbintang lima di Negaranya, tapi sebelum itu Harun dan Melani mencari cara untuk Arana bisa menyetujui pertemuan dan perjodohan itu.


Harun memasuki kamar Arana yang tengah asyik menonton drama kesukaannya dan sebuah cemilan di hadapannya, kamar Arana sedikit berantakan di banding kamar Naya saat remaja. Harun dan Melani duduk di antara Arana membut Arana bingung,


"Ada apa sih Pa, Ma, ngga biasanya"


"Sayang, kamu masih ingat janji Papa tentang mobil impian kamu?"


"Masih dong"


"Janji kamu sendiri ke Papa, ngga lupa kan?"


"Ya nggak," balas Arana cuek


Harun kemudian menjelaskan kepada Arana jika ingin mendapatkan mobil tersebut, dia harus ikut acara makan malam bersamanya setelah itu kunci mobil akan ada bersamanya,

__ADS_1


"Serius Pa? Ma ?" tanya Arana dengan mata berbinar


Harun dan Melani menjawabnya dengan serius dengan anggukan membuat Arana bersorak dalam hati bahwa tidak akan lama lagi memiliki sebuah mobil baru yang akan dia pamerkan kepada teman-temannya dan dia akan gunakan menggaet seorang pria yang Arana suka.


Akhirnya, Melani mendatangkan sebuah Mua dan memesan gaun dari seorang perancang busana yang terkenal untuk Arana dengan senyuman yang bertengger di wajahnya. Melani terlihat layaknya seorang germo yang akan menawarkan seorang gadis kepada pelanggannya padahal itu adalah anaknya sendiri.


Makan malam telah tiba, Harun dan istrinya dan anaknya Arana memasuki sebuah gedung berbintang lima dengan setelan formal mereka. Di luar gedung, Alea pun sama menggunakan sebuah gaun yang sedikit lebih seksi dari milik Arana tengah menunggu mereka.


"Kau sudah lama?"


"Tidak tante, baru saja"


"Baiklah, kita bersama saja"


"Hai Kak, kita makan malam bersama siapa? ini acaranya formal sekali. Pertama kalinya Papa ngajak aku di acara kek gini" bisik Arana kepada Alea


"Iya, iya sudahla. Kau diam saja"


"Di dalam banyak cowok ganteng ya kak?"


Alea yang melihat itupun membatin, "Mengapa Lyodra harus ikut". Tapi sudahlah, yng terpenting rencana ALea satu ini akan berhasil membuat keluarga Naya hancur. Harun dan MElani saling berjabat tangan dengan Jhon dan istrinya. Ketika giliran Arana menjabat tangan Jhon, ada sebuah senyum yang sulit Arana sulit artikan di tambah tatapan Jhon yang melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Lumayan, kau harus bisa melahirkan anak untukku"batinnya


Sedangkan Lyodra dengan tatapan dingin kepada Arana seakan memberikan isyrat setelah semuanya bakhir, Arana akan bertemu malaikat mautnya dengan segera mungkin.


Harun dan Melani berbincang basa-basi bersama Jhon dan Lyodra, begitupun Alea dengan sesekali menimpali. Sedangkan Arana hanya asyik bermain Hp dan menyantap makanan yang berada di hadapannya,


"Bagaimana tuan Harun, apakah Anda setuju dengan persyaratan kami?" ucap Jhon setelah menyodorkan sebuah Map kepada Harun di sela-sela pmbicaraan mereka.


Harun dan Melani saling menatap karena nominal angka yang tertera pada awal pertunangan Jhon dan Arana tidak main-main, itu bisa membayar lunas hutang perusahaan kepada NIkol dan lebihnya masih bisa untuk di jadikan investasi. Belum termasuk nominal saat pernikahan dan seyelah melahirkan seorang bayi.


Harun mengangguk dan akhirnya mereka membuat kesepakatan tentang tanggal dan acaranya seperti apa, Jhon dan Lyodra menginginkan acara tertutup. Hanya beberapa orang saja yang harus di undang karena itu sifatnya rahasia.

__ADS_1


Harun dan Melani pun kembali mengangguk, sedangkan Arana bingung mendengar pembicaraan pada orang-orang dewasa yang membahas pertunangan dan bisnis mereka. Acara makan malam selesai, Harun dan istrinya kembali ke rumah begitupun dengan Arana yang menunggu kesempatan bertanya kepada kedua orang tuanya tentang apa yang di dengarnya,


"Ma,Pa, Kak Alea akan bertunangan?"


"Ha? Alea?"


"Iya, kan tadi makan malam sama bule, Papa sama Mama bahas tunangan mulu"


Harun dan Melani saling menatap dan memberi kode bahwa dia harus memberi tahu Arana yang sebenarnya,


"Sayang, sebenarnya pertunangan itu untukmu, bukan untuk Alea"


"What? aku? kenapa aku Ma?" tanya Arana dengan syok dan tersendat dengan menelan ludahnya sendiri


"Arana, Papa sedang dalam masalah, kalau pertunangan ini di batalkan, kita semua akan jatuh miskin, apakah kau mau hidup melarat?"


"Arana tidak mau hidup miskin,"


"Baiklah, kau pun sudah cukup dewasa, jadi kau harus membantu kami" ucap Melani


Harun kemudian mengeluarkan sebuah kunci untuk mobil pengeluaran terbaru sebuai janjinya kepada Arana membuat Arana gembira tanpa mengetahui hal yang sebenarnya.


"Pa, Makasih, Arana setuju dengan pertunangan itu" jawab Arana dengan penuh semangat karena sebuah kunci mobil terbaru telah berada di tangannya.


Harun dan Melani saling tersenyum, setidaknya satu masalah terselesaikan, "Minggu depan, kau akan bertunangan minggu depan sayang"


"Apakah aku bisa mengundang teman-teman Arana?"


"Tidak sayang, karena calon tunanganmu adalah orang penting"


"Dia seorang CEO?"


"Bukan hanya itu, tapi penguasa di Eropa"

__ADS_1


Mata Arana terbeblalak dan kegiarangan, dia sangat bahagia mendengar ucapan Melani. Arana yakin bahwa dia bisa mengalahkan Naya dan menjadi kebanggaan tanpa harus bekerja keras membangun perusahaan, memiliki suami yang kaya adalah hal yang menakjubkan.


Arana dengan polosnya masih berpikir jika hidupnya mirip dengan drama yang sering di tontonnya.


__ADS_2