
Beberapa jam berlalu, Naya sesekali melangkah bolak-balik seputar ruangan makan, terkadang dia duduk dan melihat beberapa macam jenis hidangan di atas meja yang telah tertata rapi, Naya dengan cemas menunggu kedatangan Bram untuk menyantap makan siangnya seperti biasa tapi Bram tak kunjung datang.
Tiba-tiba Kakek Brahma muncul dan menyapa Naya.
Kakek Brahma membahas tentang banyak hal tapi itu tidak membuat Naya bisa merasa tenang sebelum bertemu dengan Bram.
"Sayang....." ucap Bram yang tiba-tiba datang bersama Rey dari arah belakang Naya.
Senyum Naya mengambang jelas kemudian berjalan memeluk Bram tanpa memperdulikan ada Kakek Brahma dan Rey di sana, seolah Naya tidak peduli akan kehadiran mereka. Bram melihat itu tersenyum, karena dia tahu kadangkala Naya memang sangat manja dan sangat cengeng semenjak kehamilannya.
Bram hanya berharap anaknya tidak akan mewarisi sikap itu, karena akan berbahaya baginya kelak untuk menjadi seorang ahli waris perusahaan Yudisitra.
Kakek Brahma tersenyum melihat hubungan cuucnya itu baik-baik saja, Kakek Brahma kemudian beralih ke Rey. Dia mendapat sambutan oleh Kakek Brahma kemudian memeluknya.
"Selamat datang cucu baruku, aku harap bisa menjadi Kakek yang baik untukmu" ucap Kakek Brahma masih dengan memeluk Rey.
Ada kehangatan disana, ada haru dalam hati Rey. Dia baru merasakan keluarga sepenuhnya dan dia berjanji untuk menjadi cucu yang baik dan akan mengabdikan hidupnya untuk Kakek Brahma dan Bram yang telah begitu baik padanya.
"Selamat datang Rey" ucap Naya dengan senyuman
"Selamat datang Rey di keluarga kami" ucap Bram kemudian menepuk pundak Rey.
"Selamat datang cucuku, Rey Yudistira. Mulai sekarang kau berhak mendapatkan bagianmu, pilihlah salah satu perusahaan Kakek untuk bisa kau jadikan milikmu" ucap Kakek Brahma
Mendengar itu Rey spontan menolaknya karena dia sudah sangat puas dengan apa yang menjadi posisinya saat itu dan benar, hanya dia yang mampu mengimbangi kerja Bram di kantor,menghandle semuanya termasuk menghandle Bram sejak dulu jika akan melakukan kesalahan atau bahkan rela menutupi kesalahan Bram.
"Tidak Tuan, mungkin lain kali saja" jawab Rey
__ADS_1
"Ekhhmmmm" timpal Kakek Brahma dengan deheman yang cukup keras, membuat Bram menatap Rey untuk memberikan kode.
"He he he tidak Kek, bukan begitu. Nanti saja" balas Rey dengan cengengesan tidak jelas.
Suasana kembali santai membuat Naya mengajak semua yang berada di tempat tersebut untuk menyantap makan siang buatannya. Layaknya keluarga utuh semuanya bercerita sambil makan. Kakek Brahma sangat bahagia, keluarga yang dia inginkan sudah tercapai, dia tidak kesepian lagi dengan bertambahnya satu cucu dan tidak akan lama akan ada suara bayi mungil di rumah tersebut, cicitnya.
Saat mereka makan bersama, Naya terlihat beberapa kali tidak begitu konsen mengambil menu yang di minta oleh Bram dan hal itu membuat Bram berhasil menangkap kecemasan yang berada di wajah istrinya . Bram yang penasaran dengan hal itupun bertanya,
"Ada apa sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Bram yang membuat perhatian Kakek Brahma dan Rey beralih kepada mereka. Naya yang sudah tidak bisa menahan kata keluar dari mulutnya akhirnya mengeluarknan unek uneknya tentang kedatangan Bram ke perusahaan ayahnya.
"Aku hanya sekedar berkunjung sayang, silaturahmi dengan ayah mertuaku, apakah itu salah?"
Jawaban Bram membuat senyum Naya yang manis tersungging dengan jelas. Naya berharap hubungan keluarga mereka membaik karena Bram sudah termasuk kriteria menantu untuk keluarga Wicaksana, Naya sangat bahagia karena ingin menyambut kehadiran anak pertamanya bersama dengan keluarga besarnya dengan suasana semua orang tengah berkumpul dengan bahagia.
Kakek Brahma tiba-tiba memberikan idenya dengan gamblang, "Bagaimana jika kalian merayakan pesta pernikahan kalian?"
"Itu pihakmu dan lagi pula tidak begitu meriah cucuku, Kakek ingin memberikan yang terbaik untuk kalian, Kakek harap kalian bisa mempertimbangkan saran Kakek"
Bram dan Naya saling menatap, kemudian tersenyum sebagai petanda mereka setuju. Semuanya ikut berbahagia, Rey yang sejak tadi terdiam akhirnya membuka suara bahwa dia akan menghandle semua keperluan perayaan itu. Rey siap menjadi penanggung jawab penuh. Bram dan Naya hanya perlu menyapkan setelan gaun dan tuxedo yang akan mereka kenakandi perayaan nanti.
"Thanks Rey" ucap Bram
"Baiklah semua sudah di putuskan, sebaiknya kau mengundang kedua orang tuamu untuk makan malam Nak, supaya kita bisa merayakan rencana ini bersama" ucap Tuan Brahma
Mata Naya seketika berbinar, dia sangat ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Seorang anak akan tetap seperti itu, walau kedua orang tuanya telah menyakitinya. Bagaimanapun mereka telah memberikan yang terbaik sepanjang hidup Naya walau tidak sepenuhnya. Hanya di masa-masa tertentu.
Bram menggenggam erat jemari Naya dan mencium pundak tangannya karena ikut bahgaia melihat Naya tersenyum bahagia.
__ADS_1
...****...
Kediaman Harun WIcaksana...
Mobil mewah tengah memasuki sebuah rumah yang cukup elit, di sana terlihat langkah seorang pria dengan setelan formal membawa sebuah baki berisi undangan makan malam, dia adalah pengawal kepercayaan tuan Brahma.
Melani yang menerima undangan tersebut, cukup kaget dan segera memberitahukan kepada suaminya yang sedang duduk di ruang kerjanya memeriksa beberapa dokumen,
"Pa, lihat lah. KIta mendapat undangan makan malam oleh tuan Brahma" ucap Melani
"Brengsek, dia pikir dia siapa."
"Ada apa Pa?"
"Seharusnya dia mengundang kita dengan menemui kita Ma, bukan melalui lembaran seperti ini"
"Ahh sudah lah Pa, kita tidak tahu kesibukan orang terkaya di Asia seperti apa, kita hanya perlu menghadirinya dan memberi tahu semua orang, bahwa kita adalah keluarga mereka dan pasti Papa akan mendapatkan banyak relasi di sana"
Mendengar itu, Harun tersenyum lebar dan membenarkan ucapan istrinya. Dia akan mencari sebuah peluang untuk mejatuhkan Bram dengan cara bertemu para investor dan membuat mereka bisa bekerja sama dengan perusahaan milik Melani dan membuat mereka bisa terlepas dari hutang dan tekanan Bram.
"Siapkan baju terbaik kita" balas Harus.
Sinar matahari senja meluncur perlahan di balik cakrawala, menandakan tiba waktunya untuk menyambut malam yang istimewa.
Di ruang makan yang megah Naya telah menata Meja panjang di hadpaannya itu sedemikian rupa untuk menyambut kedua orang tuanya. Naya meletakkan kain putih yang berkilauan di atas meja panjang tersebut, menyalakan lilin-lilin aromatik yang memancarkan wangi yang memikat yang mampu menciptakan suasana hangat kekeluargaan. Setiap piring porselen yang indah juga bertengger di atas meja tersebut.
Dapur menjadi medan pertempuran, dengan para juru masak yang ahli bekerja dengan tekun. Taburan rempah-rempah dan aroma segar bumbu-bumbu tercium dari kejauhan sangat mengundang selera makan. Dalam kegembiraan tawa Naya pun terdengar renyah bersama para pelayan yang membantu menyiapkan beberapa hidangan di atas meja.
__ADS_1