Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
50. MSSM


__ADS_3

Naya  tidak lagi mampu menyembunyikan emosi yang berkobar-kobar di dalam hatinya.


"Sayang, ayolah jangan seperti ini" ucap Bram


"Bayu!, Bram.... ah entahlah," timpal Naya masih dengan kesalnya.


"Panggil aku sesukamu sayang,"


"Apa yang kau pikirkan dengan menyembunyikan masalah sebesar ini?"


"Apa kau takut hartamu akan aku habiskan hanya karena kau harus jujur?


"Kenapa kau hanya diam saja saat kita berada pada situasi yang sulit?"


"Bram, apa kau tidak pecaya padaku?"


Ucap Naya dengan banyak rentetan pertanyaan yang berupa tuntutan. Semua wanita di luar sana pun sama. Normalnya mereka akan merasa tidak mendapat kepercayaan, merasa di tuduh, merasa tidak di prioritaskan dan pastinya akan banyakpemikiran aneh yang bermunculan.


Bram yang mendengar itupun hanya mampu mendengus dan meluk Naya, walau Naya meronta, Bram tetap melakukan itu dan membisikkan sesuatu "Sayang, aku mencintaimu dan kau akan mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaanmu itu, ayo kita ke rumah kita. Kakek sudah menunggu disana". bisik Bram dengan mengusap kepala Naya berusaha untuk menenangkan Naya


Naya mendengar itu mengerutkan alisnya dan membalas ucapan Bram,


"Rumah? bukankah ini rumah kita?"


Bram menarik wajah Naya dan mengecup pipi, kening kemudian bibir Naya dengan gemas.

__ADS_1


"Aku telah menyiapkan sebuah rumah untuk keluarga kecil kita, rumah kita yang sebenarnya, rumah ini juga rumah kita tapi kita bisa gunakan di waktu-waktu tertentu saja, ikut denganku dan mulai saat inii aku janji tidak akan menyembunyikan apapun lagi" ucap Bram dengan tersenyum manis.


Akhirnya Naya menyetujui permintaan Bram, mereka bersiap hendak menuju ke rumah yang Bram maksud. Hal mendebarkan lain yang Naya resahkan adalah pertemuannya dengan Kakek Brahma untuk pertama kalinya.


Naya sangat menyegani beliau bukan karena dia adalah Kakek dari suaminya saja, tapi sudah sejak lama, Kakek Brahma adalah salah satu motivasi hidup untuk Naya dan dari itu bisa menjadikan Naya sebagai seorang pengusaha sukses.


Naya hanya pernah ikut beberapa kali meeting dengan Kakek Brahma, Naya telah terkagum-kagum dibuatnya oleh wibawa Kakek Brahma yang menurut Naya mirip dengan salah seorang tokoh nasionalis favorite Naya.


Bram dan Naya bergandengan tangan, saat pintu rumah mereka terbuka, Naya terhenyak melihat ada beberapa pengawalan ketat layaknya menjemput seorang tamu Negara yang agung. Naya tidak tahu pasti berapa jumlah pria dengan tinggi badan, warna setelan dan model rambut yang sama tengah berada di halaman rumahnya. Naya hanya sibuk menelisik mereka dan Bram yang melihat tingkah Naya terseyum karena Naya menampakkan banyak ekspresi wajah saat itu.


Tiba-tiba, Rey berjalan mendekat dan mengarahkan mereka menuju mobil mewah yang di sediakan, sebelum Naya memasuki mobil mereka, Bram menghentikan Naya,


"Sayang, kenalkan dia Rey, asisten kepercayaanku. Ah tidak. Dia telah aku anggap seperti saudaraku sendiri"


"Iya, aku tahu!". balas Naya judes


Naya menjelaskan hal itu kepada Bram, membuat Bram kembali terkekeh dengan istrinya,


"Rey, maklumi saja. Istriku sedang hamil"


Rey hanya menjawab dengan anggukan seperti biasanya,


"Aku harap anaknya tidak menuruni sifat kedua orang tuanya karena mereka hampir memiliki sifat yang sama" batin Rey


Ferrari 488 GTB yang seharga Rp10 miliar itu, Berdentum kuat meluncur dengan kecepatan tinggi melalui jalan yang sepi. Sinar matahari berkilauan memantulkan sinarnya di bodi mobil yang mengkilap, menciptakan efek menyilaukan yang mempesona. Mobil Bram terus melaju tanpa henti, seolah-olah tak terkendali, mengiris-iris udara dengan presisi yang sempurna.

__ADS_1


Naya sesekali melirik suaminya yang tengah menatap lurus ke depan dengan penuh ketegasan,


"Aku tahu, suamimu ini sangat tampan" ucap Bram tanpa membalas lirikan Naya.


Naya merasa gugup memalingkan wajahnya dengan melihat orang-orang di pinggir jalan menoleh dengan kagum saat mobil yang mereka tumpangi melintas.


"Hmm, memiliki kepercayaan diri yang tinggi itu memberi dampak buruk untuk mental dan satu lagi. Jangan bersikap manis, aku belum memaafkanmu". timpal Naya kesal


Bram tersenyum dengan meraih jemari Naya dan mencium pundak tangan Naya dan kembali fokus.


Mendapat perlakuan itu Naya terdiam dengan menyembunyikan senyumnya dengan sangat amat tipis. Dengan perasaan yang masih belum puas dengan pemandangan, Naya kembali melirik Bram dan berdecak kagum dalam hati betapa berutungnya dia memiliki suami dengan wajah yang nyaris sempurna.


Naya mengelus perutnya yang mulai terlihat jelas di antara dress selutut yang dia kenakan dan membaca matra bahwa anaknya hanya cukup terlihat seperti ayahnya itu sudah sangat membahagiakan.


Naya melihat dengan setiap pahatan wajah Bram dalam balutan pakaian yang rapi, dengan aura kejayaan dan kekuasaan yang terpancar dari setiap gerakannya. Mata Bram yang tajam memancarkan kecerdasan dan tekad yang tak tergoyahkan.


Mobil itu meluncur dengan lincah di antara mobil-mobil lain yang terlihat seperti boneka kecil di sampingnya. Bunyi mesinnya menggema di seluruh jalan, kilometer demi kilometer terus terlewati, melintasi jalanan kota yang ramai dan jalan tol yang mengular. Lalu, mobil itu tiba di hadapan gerbang besar yang menjulang tinggi, menandakan kedatangan mereka di depan Bangunan yang tepatnya di sebut Istana bukan rumah.


Sebuah bangunan megah yang menjaga segala rahasia dan kebijaksanaan yang tersembunyi.


Gerbang besarnya terbuka lebar, mengungkapkan jalan masuk yang dihiasi dengan tanaman bunga warna-warni. Pohon-pohon yang rindang melingkupi pekarangan yang luas, menciptakan perasaan sejuk dan damai. Jalan setapak berlapis batu marmer putih yang halus membimbing para pengunjung ke pintu utama yang megah.


Bram memperlambat laju mobilnya, memasuki halaman rumah tersebt yang snagat luas, para penjaga gerbang terlihat berdiri menyambut Bram. Mobil Bram terhenti di depan bangunan tersebut dengan langkah mantap, Bram keluar dari mobilnya, berjalan melintasi mobil dan mengulurkan tangan menyambut Naya layaknya Ratu yang di muliakan.


Naya tercengang melihat sebuah rumah mewah bergaya Eropa yang memukau di hadapannya. Seperti sebuah istana dalam dongeng, bangunan ini memancarkan kemegahan dan keanggunan yang tak tergantikan. Terdiri dari batu bata berwarna krem yang indah, dinding-dindingnya dipenuhi dengan detail arsitektur yang rumit dan pilar-pilar yang menjulang tinggi.

__ADS_1


Gerbang besarnya terbuka lebar, mengungkapkan jalan masuk yang dihiasi dengan tanaman bunga warna-warni. Pohon-pohon yang rindang melingkupi pekarangan yang luas, menciptakan perasaan sejuk dan damai. Jalan setapak berlapis batu marmer putih yang halus membimbing para pengunjung ke pintu utama yang megah.


__ADS_2