Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
95. MSSM


__ADS_3

"Maaf, kartu ini tidak bisa di gunakan," ucap Resepsionis Hotel.


"Coba yang ini," ucap Melani


Resepsionis tersebut masih berusaha membuat transaksi itu berhasil tapi hasilnua masih tetap sama.


..."Titt... Eror"....


"Maaf tuan, kartu yang ini juga masih sama," Ucap resepsionis.


"Kamu punya cash? Kamu bayar pake cash dulu Ma,". Ucap Harun yang wajahnya penuh dengan perban


"Uang cash aku abis Pa, uang di Atm dan kredit semuanya tidak bisa terpakai, bagaimana ini Pa?".


"Kita kerumah Alea".


Harun dan Melani sepakat untuk ke rumah Alea dengan menggunakan taksi. Sepanjang perjalanan sopir taksi tersebut melirik Harun dan Melani membawa beberapa koper yang menyesakkan taksi tersebut.


"Ac nya tolong di nyalakan," ucap Melani.


"Pelan-pelan yaa, ntar koper-koper saya ke gores gimana. Itu mahal," ucap Melani ketus.


Driver tersebut hanya memutar bola matanya jengah. Sedangkan Harun juga memiliki banyak keluhan karena merasa sesak.


"Ya Tuhan, mereka menyebalkan sekali," batin driver taksi.


Mereka tiba di sebuah rumah mewah, mereka menurunkan semua koper yang berada dalam taksi kemudian membuka salah satu koper milik melani dan memberi dua pakaian branded Melani sebagai bayaran.


"Ha?!, saya butuh cash bu bukan pakaian," timpal Driver taksi kesa


l


"Kamu tahu? Harga dua pakaian saya ini lebih mahal dari pada bayaran perjalanan kami,". Ucap Melani yang tidak kalah ketusnya.


"Terserah ibu lah. Yang jelas kalian harus membayar saya dengan cash,".


"Sudahlah, ini ambil jam saya. Ini seharga mobil jelek ini," ucap Harun yang tidak ingin memperpanjang masalah.


"Huuuu, ngakunya kaya tapi nggak ada duit. Sombongnya selangit padahal gembel, paling kalian babu di rumah ini,". Ucap driver taksi lalu meninggalkan mereka.


Harun dan Melani mendengar itu histeris, Harun menendang koper-koper yang berada di hadapannya untuk meluapkan emosi. Tidak ada seorang pun yang menghina Harun seperti itu, harga dirinya merasa di lukai.

__ADS_1


"Sialan,".


"Sudahlah Pa. Kota harus meminta Alea membalas semua ini,".


Harun dan Melani memasuki bangunan tersebut tapi semuanya terlihat kosong dan sepi. Harun memencet bel tapi tidak ada yang merespon sama sekali. Harun dan Melani akhirnya putus asa. Mereka berjalan mengarungi jalan raya dengan menarik koper tersebut, Harun berusaha menelfon Arana dan Alea berulang kali tapi tidak ada jawaban.


Melani mencoba menelfon satu persatu teman sosialitanya tapi tidak ada dari mereka yang ingin membantu, semuanya sibuk dan beralasan sedang berlibur di luar negeri.


"Maaf jeng, saya lagi di Hawai. Tut... tut.. tut..,".


"Arhhhh Paaaaa, apa yang harus kita lakukan," teriak Melani dengan gaya ulat bulu.


Tiba-tiba beberapa orang yang menaiki sepeda motor mendekati Harun dan Melani dan menarik Ponsel yang mereka gunakan. Harun dan Melani histeris tapi tidak ada yang peduli. Tiba-tiba Harun memegang dadanya, nafas Harun tersenggal dan terjatuh.


"Pa, pa..Bangun Pa, tolonggg...," teriak Melani.


Bram yang melihat dari kejauhan melihat Harun dan Melani hanya tersenyum. "Welcome the world," ucap Bram dengan menyunggikan senyum.


...****************...


Esok hari Naya sedang menikmati paginya dengan menggendong bayi mungilnya duduk dengan sesekali melihat wajah bayi mungilnya yang menenangkan. Naya sesekali berdendang dan tersenyum. Naya memandang langit dengan menghirup udara sesekali.


"Sayang, tunggu Papa ya, Mama tidak memiliki nama yang tepat untukmu, Pa-,".


Naya berbalik mendenvar suara yang Naya rindukan, Naya melihat sosok lelaki yang di tunggunya selama ini berdiri dengan gagahnya memancarkan senyum yang menghanyutkan. Ada tatapan yang mengharukan dari sudut sana.


Bram mendekat dan memeluk Naya hangat dan mengelus kepala bayi yang berada dalam gendongannya.


"Namanya, Zidan Malik Yudistira," ucap Bram sekali lagi dengan mengecup kening anaknya dan menatap Naya dengan senyuman manis.


"Zidan? Nama yaang bagus.. Zidan, I love you sayang," ucap Naya lembut dengan mengelus pipi anaknya.


"We love you more Mama," timpal Bram dengan senyum kemudian kembali memeluk Naya dan mengelus kepala Zidan, Bram juga tidak lupa mengecup kening, pipi dan hidung Naya.


Melihat bibir mungil Naya, Bram mendekat dan...


Tok ...tok... tok


"Permisi," ucap Bibi Nia dengan cengengesan.


Bibi Nia berjalan memasuki ruangan dan mengambil Zidan dari gendongan Naya, begitupun dengan Farah yang tiba-tiba muncul cengengesan menatap Bram dan Naya.

__ADS_1


"Silahkan habiskan waktunya, kami akan bermain dengan si kecil," ucap Bibi Nia kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


Naya dan Bram terkekeh melihat mereka berdua,


"Sayang, I miss you," bisik Bram yang memeluk Naya erat.


Naya pun memeluk Bram erat. "I miss you too, hmm kau dari mana saja,".


"Maafkan aku, aku janji tidak akan meninggalkan kamu dan anak kita lagi,".


Naya hanya membalas ucapan Bram dengan anggukan. Bram melihat itu mengecup kening Naya, hidung dan bibir Naya yang di ***** begitu lembut, penuh dengan perasaan yang hangat. Naya membalas kecupan Bram yang hangat dan lembut itu dengan perasaan rindu yang sama.


Bram kemudian mengganti ciuman tersebut yang lembut berubah menjadi sebuah tuntutan membuat Naya tidak bisa mengimbangi kecupan tersebut.


Bram menggendong Naya ala bride style, tersenyum penuh arti dan berbisik ke telinga Naya dengan mesra. "Selamat berbulan madu sayaang,".


Mendengar itu wajah Naya bersemu merah, Naya tersenyum manis dan membenanmkan wajahnya di dada Bram dan memeluk Bram dengan erat.


Mereka menghabiskan pagi dalam kerinduan yang mendalam, suasana hening di pagi hari menjadi penuh dengan erangan kenikmatan di pagi hari dalam ruangan kamar tersebut, Bram seakan baru beradu dengan istri yang di cintainya seakan baru pertama kali.


Pergelutan yang memanas, mengalirkan banyak kekuatan untuk saling berbagi saling memggenggam, saling memberi dan saling menerima. Mereka menikmati peraduan yang menguras banyak tenaga.


...********...


Di negara lain, Alea meronta untuk di bebaskan tapi tidak ada yang ingin menjamin kebebasannya. Sebelum kembali, Bram memberi perintah kepada bawahannya untuk mengawasi Alea dan membuat Alea tidak menerima jaminan apapun. Alea harus mendekam di penjara tanpa seorang bisa menemuinya.


Hasil pemeriksaan Alea negatif tidak menggunakan Narkoba tapi Alea mendapat tuduhan sebagai pengedar narkoba bawahan Jhon. Hari-hari Alea lalui membuat Alea menjadi depresi.


"Lepaskan, lepaskan aku! Kalian akan menerima akibatnya, kalian tahu siapa aku?," teriak Alea.


Seorang wanita berseragam mengarahkan layar Hp ke hadapan Alea. Di sana terlihat sosok Bram yang duduk dengan wajah yang datar,


"Bram? Sayaang, tolong aku. Bram, please tolong aku. Aku akan memberikan yang terbaik untuk kamu," ucap Alea dengan kegirangan dengan wajah yang penuh permohonan.


Bram hanya tersenyum sinis, "Berani sekali kau menyebut namaku. Kau akan merasakan akibatnya karena kau mengganggu leluargaku.,".


"Aku mencintaimu Bram, kamu cuma milik aku," terika Alea.


"Wanita bodoh, kau telah menyianyiakan kesempatan, tidak akan ada lagi kesempatan lainnya,".


"Bram Aku-,".

__ADS_1


Wanita yang menggunakan seragam tersebut menarik kembali ponselnya dan mendengar perintah Bram.


"Jangan biarkan wanita itu lolos dan jangan biarkan dia mendapat jaminan bahkan bertemu dengan siapapun. Kurung dia sampai dia mati,". Ucap Bram.


__ADS_2