Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
78. MSSM


__ADS_3

Jhon berjalan dengan santai menuruni anak tangga dengan seorang bodyguard di sampingnya, dia tersenyum saat melihat Bram duduk dengan menyilangkan kakinya di sebuah kursi kebesaran milik Jhon dengan kepalan tangan yang penuh darah.


"Apakah ini wajah sang penguasa Yudistira yang sebenarnya?" ucap Jhon


"Apa yang kau lakukan kepada kakekku?!" timpal Bram


"Oh si tua bangka itu? hmm apakah dia sudah mati?"


Hanya dengan kedipan mata, Bram sudah berada tepat di hadapan Jhon dan memberikan bogem mentah ke wajahnya, Jhon yang terjatuh meringis kesakitan meneriaki bodyguard yang berada di samping Bram,


"Apa yang kau lakukan, bunuh dia!!!!" teriak Jhon


Tiba-tiba tubuh bodyguard tersebut terjatuh dengan sendirinya dengan darah yang mengalir dari arah perutnya, Bram ternyata lebih dulu melenyapkannya dia sebelum memberi bogem mentah ke wajah Jhon.


Jhon panik, dia meringsut mundur dan tersenyum, berusaha menetralkan suasana.


"Sabarlah, aku cuma becanda, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku akan kembali ke negaraku dan tidak akan kembali lagi"


Bram memberi tendangan di tubuh dan wajah Jhon, kemudian berjongkok, "Kau bersyukur untuk kali ini kulepaskan, tapi setelahnya aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri, SAMPAH".


Bram ingin melangkah tapi Jhon yang sudah tersulut emosi pun dan merasa terhina, membalas ucapan Bram,


"Apakah kau tidak ingin mengetahui apa yang aku bicarakan dengan Kakekmu?"


Bram berbalik dengan mengerutkan alisnya, "Tidak penting lagi" timpal Bram kemudian melanjutkan langkahnya.


"Kau harusnya melakukan tes DNA terlebih dahulu, karena aku yakin kau adalah anakku. Aku pernah meniduri ibumu"


Bram berbalik kemudian mengarahkan senjatanya ke Jhon dan Dorrrrr.....


Jhon histeris teriak, mengerang.


Rey yang datang menghalangi Bram membunuh Jhon membuat tembakan Bram meleset dan hanya mengenai pahanya bukan dadanya,


"REy, apa yang kau lakukan, lepaskan" teriak Bram

__ADS_1


"Bram sadarlah, Jhon tercatat sebagai tamu negara, kau bisa menghabisinya dengan cara yang lain tidak seperti ini" bisik Rey menenangkan Bram tapi emosi Bram belum tersulut.


"Bram ingat Naya dan anak di kandungannya, mereka membutuhkanmu"


Bram akhirnya sedikit tenang dan berjalan mendekati Jhon dan menginjak paha Jhon tepat peluru itu bersarang membuat Jhon teriak sangat keras.


"Sekali lagi kau menyentuh dan berkata yang bukan-bukan, saat itu juga kau akan bertemu dengan kedua anakmu, MATI!"


Bram akhirnya meninggalkan Villa tersebut bersama Rey dan beberapa bodyguarnya.


...****...


Bram kembali menemui Kakek Brahma yang terbaring lemah, ucapan Jhon terngiang-ngiang di telinganya, Rey yang melihat itupun menepuk pundak Bram untuk menghentikan lamunannya,


"Rey, apa aku harus melakukan tes DNA?"


"Hmm itu sama saja kau meragukan Kakek, Bram"


"Tapi aku tidak bisa tenang".


"Baiklah, serahkan semuanya padaku. Kau lebih baik pulang menenagkan istrimu. Sedari tadi dia sudah resah"


...******...


"Aranaaa....." teriak Lyodra


Arana yang saat itu sedang mengepel dengan wajah yang lusuh berlari ke sumber suara, dia menatap Lyodra sinis. Lyodra melihat itu berjalan mendekati Arana dan Plakkkkk....


"Berani sekali kau menatapku seperti itu! dasar babu."


Arana meringis dan menangis mendapat tamparan yang keras dari Lyodra,


"Kau lihat saja pembalasanku, jika aku berhasil hamil. Aku akan benar-benar membalasmu" batin Arana.


Di tempat lain, Bram meninggalkan rumah sakit dan memasuki sebuah apartemen mewah di pusat kota. Alea yang tanpa sengaja melihat Bram memasuki apartemen tersebut tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Dia akhirnya memiliki peluang untuk mendekati Bram, pikirnya. Bram berjalan memasuki lift khusus dan menekan tombol V, sedangkan Alea yang kehilangan akses itu pun tidak menyerah untuk menemukan Bram.


Alea sangat tahu jika seorang yang berkelas seperti Bram, tidak mungkin berada di puncak ruangan. Alea akhirnya menekan tombol yang memberinya akses sampai lantai VIP.


setelah keluar dari lift, Alea kembali harus mengeluarkan skillnya saat harus melewati meja resepsionis khusus, untung saja malam itu gaun Alea sangat mendukung tentang identitas berkelasnya, sehingga para resepsionis tidak menaruh curiga bahwa dia adalah wanita panggilan bahkan seorang mata-mata karena aturan apartemen tersebut sangat melarang hal itu.


Alea berjalan dan mencari ruangan yang menurutnya berbeda dari ruangan yang lain dan akhirnya dapat. Sebuah ruangan yang hanya satu berada di depan lorong, pintu yang lain berjejer rapi walau memiliki jarak yang jauh tapi ruangan yang berada di depan itu, hanya satu.


Alea memencet bel ruangan tersebut, beberapa kali tapi tidak ada respon apapun. Bram yang sedang berganti setelan pakaian mendengar bel itupun merasa aneh, karena hanya Rey yang mengetahui apartemen tersebut.


"Untuk apa Rey datang tanpa mengabari" gumam Bram


Bram yang tidak merasa curiga apapun, bergegas membuka pintu dan melihat Alea tengah berposes seksi di hadapannya, Bram menatap Alea dingin dan datar,


"Apa yang kau lakukan disini?"


"Sayang, jangan seperti itu" ucap Alea yang sudah memulai aksinya dengan mendekati Bram dan menyentuh pundaknya.


Bram yang sudah hafal trik Alea seperti itu pun memegang keras pergelngan tangan Alea menggunakan tangan kirinya dan menutup pintu apartmennya menggunakan kaki, sedangkan tangan kanan Bram mencengkram leher Alea dan memojokkannya di tembok.


"Sudah kukatakan,jangan berani-berani menyentuhku dengan tangan kotormu, jangan membuatku muak. Aku bisa saja membunuhmu" ucap Bram dengan nada dingin.


Saat Bram melangkah ingin meninggalkan Alea yang nafasnya masih terengah setelah cekikan Bram terlepas, Bram kembali memberikan kalimat yang membuat Alea sudah tidak menaruh rasa suka lagi tapi lebih kada rasa dendam.


"Jangan melangkah di luar batasmu dengan memanfaatkan Jhon, kau pikir aku bodoh dan tidak mengetahui appaun?! bit*h."


Alea yang masih menetralkan nafasnya meminta Nikol untuk menjemputnya, hanya berselang beberapa menit Nikol berlari dengan tergesa-gesa memasuki area gedung apartemen mewah itu tapi langkahnya terhenti saat melihat Alea duduk di sebuah sofa dengan wajah memucat,


"Alea ada apa?"


Alea kembali dengan aksinya yang lemah dan menceritakan kepadanya bahwa Bram memintanya datang ke apartemen tersebut hanya untuk menyiksanya. Nikol sangat geram. Dia akan membalas Bram tapi sebelum itu dia membawa Alea mengobati bekas jemari Bram di lehernya.


Nikol membawa Alea ke rumahnya untuk mengobati Alea, dia telah merasa sudah merasa jatuh cinta kepada Alea. Menurutnya Alea adalah wanita yang lemah, butuh perlindungan dan baik hati karena buktinya saja dia membantu Harun secara suka rela sedangkan Naya adalah anak kandung Harun mengabaikannya begitu saja saat ada masalah.


NIkol meraih Hp di sakunya dan memerintahkan anak buahnya untuk menjalankan rencana jahatnya,

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, orang itu harus berada di gudang rahasia kita segera" ucap Nikol kepada anak buahnya


"Apakah kau sudah ingin menjalankan rencana kita?" tanya ALea.


__ADS_2