Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
77. MSSM


__ADS_3

"Ofilia..." teriak Lyodra


Ofilia asisten kepercayaan Lyodra mendekat dan tersenyum,


"Saya Nyonya"


"Beritahu semua pekerjaan dia dan pastikan dia melakukan semuanya" ucap Lyodra kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.


Ofilia memberitahu apa yang seharusnya Arana lakukan, dia mengucapkan semua kalimat tersebut fengan suara yang sangat lantang; mengepel, menyediakan sarapan, membersihkan kamar tidur Lyodra, membersihkan rumput di taman bunga milik Lyodra dan memberi makan anjing kesayangan Lyodra.


Mata Arana melotot bukan itu yang dia inginkan, bukan sperti itu kesepakatannya tapi Arana terpaksa harus mengikuti semuanya untuk menyalamatkan nyawanya terlebih dahulu karena Arana tahu ancaman Lyodra tidak main-main.


...****...


Kakek Brahma tengah menikmati pemandangan danau yang indah dengan menyerumput kopi hitam favoritnya. Di hadapan Kakek Brahma telah berjejer rapi beberapa pancing yang telah di beri umpan, hanya menunggu untuk Kakek Brahma mendapat gerakan kemudian menariknya. Suara asing terdengar yang muncul dari belakang Kakek Brahma,


"Pemandangan yang sangat indah"


Kakek Brahma berbalik dan melihat Jhon berjalan mendekatinya. Jhon tersenyum sinis mlihat Kakek Brahma yang hanya memberi reaksi datar dan dingin,


"Orang tua ini sifat angkuhnya masih sama," batin Jhon


Jhon kemudian mencabut salah satu pancing milik Kakek Brahma dan menariknya, dia tertawa karena hanya ada ikan kecil yang bergantungan pada kail pancing tersebut,


"Apa yang kau inginkan?" ucap Kakek Brahma yang akhirnya mengeluarkan suaranya


"Kau lihat tuan Brahma? pancing mahal seperti ini hanya mampu mendapat ikan kecil walau dengan umpan berlian"


"Apa maksudmu?"


"Seerti hidupmu yang tidak memiliki perubahan sama sekali, kekayaan selevel itu sudah mmebuatmu sombong, apakah kau lupa apa yang kau lakukan dulu kepadaku dan keluargaku? kau mempermalukan kami di publik dengan kekayaanmu itu"


Kakek Brahma hanya tersenyum penuh kemenangan dan tidak menanggapi apapun karena Kakek Brahma tahu manusia seperti apa yang berada di hadapannya. Tindakan Kakek Brahma dulu sudah sangat benar karena Jhon telah menyakiti Bratayudha anaknya, ayah dari Bram.


"Sial, dia tidak terpancing sama sekali". batin Jhon


Akhirnya Jhon kembali mengompori Brahma tapi masih tidak mendapatkan respon apapun, Kakek Brahma hanya merasa membuang-buang waktunya. Kakek Brahma kemudian bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut dengan memberi perintah seorang sopir kepercayaannya membereskan pancing-pancing kesayangannya.


"Sudahlah, jangan menghancurkan diri sendiri dengan mengganggu harimau yang sedang istrahat" ucap Kakek Brahma kemudian melangkah pergi

__ADS_1


"HA HA HA"


"Harimau? kau? cuih, dasar tua bangka sombong. Apa yang bisa kau lakukan? menghancurkan perusahaanku? silahkan saja"


"Hmm, untuk apa menghancurkan perusahan yang sudah hancur" ucap Kakek Brahma dengan menyindir.


Brahma tahu bahwa perusahaan Jhon di rintis lebih banyak menggunakan rencana jahat, penggelapn uang dan di tambah lagi, dunia bawah tanah sebagai bisnis jual beli narkoba.


"Kau bahkan lebih licik karena menghancurkan perusahaan orang lain dengan kekuasaanmu". bantah Jhon


Brahma tetap melangkahkan kakinya meninggalkan Jhon tiba-tiba sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Jhon membuat tangan Kakek Brahma gemetar dan nafasnya sesak,


"Sepertinya kau harus memeriksa DNA cucu kesayanganmu itu, sepertinya dia adalah anakku"


"Tutup mulutmu" teriak Kakek Brahma dengan mata yang memerah


"Ha ha ha, kau tahu penculikan Sania? aku yang melakukannya dan  telah melakukan...."


"Hentikan," teriak Kakek Brahma


Brahma meningat kejadian itu, saat menemukan menantunya dengan lusuh di sebuah gudang dan dia tidak sadarkan diri. Tidak lama setelahnya, Sania di nyatakan positif hamil. Kasus penculikan itu pun hanya Brahma dan Bratayuda yang mengetahuinya.  Kakek Brahma berusaha menetralkan nafasnya tapi kakinya sudah tidak mampu menopang tubuhnya, kemudian Kakek Brahma terjatuh dan tidak sadarkan diri.


"Ha ha ha" Jhon tertawa dengan keras melihat itu "Semoga saja kita tidak bertemu lagi Brahma" batin Jhon.


...*****...


Bram yang sedang sibuk berada di perusahaan mendapatkan informasi bahwa Kakek Brahma sedang berada di rumah sakit miliknya. Dia kemudian berlari bersama Rey untuk melihat kondisi Kakek Brahma.


Di dalam kamar rawat inap yang luas kelas VVIP, Kakek Brahma terbaring dengan rapuh, ruuangan itu dihiasi dengan jajaran peralatan medis yang menghubungkan tubuhnya yang rapuh dengan dunia luar.


Dalam hening terdengar suara detak jantung Kakek Brahma yang lemah, tubuhnya dipenuhi oleh berbagai peralatan medis yang membantu menjaga hidupnya yang sedang tergantung. Selang infus yang transparan terhubung dengan uratnya, memasok obat-obatan yang diperlukannya. Alat pemantau yang rumit terpasang di jari-jarinya, menampilkan denyut nadi yang lemah dan mengawasi setiap hembusan napasnya yang tipis.


Di sekeliling kakek brahma, terdapat berbagai mesin berdenting dan berbunyi. Monitor jantung yang terus-menerus memberikan bacaan ritme yang melambat, mengingatkan akan keterbatasan yang dihadapi olehnya. Pompa infus mengalirkan harapan ke dalam tubuhnya, mempertahankan harapan hidup yang tipis.


Pernapasan kakek Brahma terasa berat, diperkuat oleh tabung oksigen yang menempel di hidungnya. Kedipan sinar-sinar cahaya yang terang dari mesin-mesin pencitraan menyoroti ketidaksempurnaan dalam tubuhnya yang terkubur di balik tirai kegelapan.


Bram mendekati Kakek Brahma dengan tangan bergetar karena untuk pertama kalinya Bram melihat Kakeknya sangat lemah, wajah garangnya tidak terlihat lagi. Tiba-tiba suara langkah terdengar, tanpa berbalik maupun basa-basi Bram mengeluarkan suara geramnya,


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Maaf tuan, saya tidak bisa membantu banyak. Tadi tuan-"


"Cepat katakan, siapa yang membuat kakek seperti ini?"


Sopir kepercayaan Brahma akhirnya menceritakan kejadian bahwa seorang sosok pria asing mendekat bersama beberapa pengawalan mendekati tuan Brahma saat dia sedang asyik memancing, Sopir tersebut menjelaskan bahwa dia tidak mendengarkan apapun percakapannya mereka tapi dia mendengar tuan Brahma menyebut namanya,


"JHON?! Brengsek!".


Bram kemudian meninggalkan ruangan tersebut hanya dengan beberapa langkah. Rey yang berjalan dari arah berlawanan bersama Direktur rumah sakit dan beberapa dokter lainnya berhenti dan ingin mennyapa Bram, hanya saja Bram melirik sekilas kepada REy,


"Jaga kakek dengan baik, aku akan kembali"


Rey tahu bahwa saat itu Bram akan melakukan sesuatu di luar kendalinya, Rey hanya berharap semoga kemarahan Bram tidak membuatnya menghabisi nyawa seseorang.


...****...


VIlla Jhon.


praaaaanggggg...


Prannggggggg....


Dor...


Dor....


Dor...


Suara riuh terdengar di lantai dasar villa milik Jhon, salah satu bodyguard Jhon berlari memasuki ruangan di mana JHon sedang bersantai melaporkan semuanya,


"Siapa yang berani mengganggu istrahatku?"


Jhon menyalakan HP Nya dan melihat situasi rumahnya,


"Dasar anak ini," ucap Jhon santai


Bram yang sudah kalap, menghancurkan lantai dasar dan membunuh beberapa anak buah Jhon yang berusaha menghalanginya.


Jhon berjalan dengan santai menuruni anak tangga dengan seorang bodyguard di sampingnya. Dia tersenyum saat melihat Bram duduk dengan menyilangkan kakinya di sebuah kursi kebesaran milik Jhon.

__ADS_1


__ADS_2