Menantu Sampah Seorang Millionaire

Menantu Sampah Seorang Millionaire
47. MSSM


__ADS_3

Saat memasuki ruangan acara, kakek Brahma disambut dengan hormat oleh para tamu yang hadir. Wajahnya tersenyum lembut, menunjukkan sikap rendah hati dan kemurahan hati yang menjadi ciri khasnya. Suaranya yang tenang dan mengalir lembut saat berbicara menarik perhatian semua orang yang mendengarkannya.


Setelah duduk di tempat yang ditentukan, kakek Brahma mengambil napas dalam-dalam, menunjukkan kehadirannya yang mengesankan. Tatapan matanya menerawang, menggambarkan pemikiran yang dalam dan wawasan yang luas. Ia membuka bibirnya, dan kata-kata bijak mengalir dari mulutnya, mengisi ruangan dengan energi yang menginspirasi.


Kakek Brahma memulai pidato resminya dengan menghormati perjalanan perusahaan dan sejarahnya yang berharga. Ia menyampaikan cerita-cerita tentang masa lalu dengan nada yang penuh kehangatan, memberikan apresiasi kepada mereka yang telah berkontribusi pada keberhasilan perusahaan tersebut.


Dalam setiap kalimat yang diucapkannya, kakek Brahma mampu merangkai kata-kata dengan indah, mengungkapkan visi dan misi perusahaan yang baru dengan cara yang menggugah semangat dan harapan dalam diri para hadirin. Ia menyampaikan nasihat-nasihat yang bijak, mengingatkan tentang nilai-nilai penting seperti integritas, kerjasama, dan inovasi.


Para tamu yang hadir tidak bisa tidak terpesona oleh kebijaksanaan kakek Brahma. Setiap kata yang terucap dari bibirnya menyentuh hati mereka, menggugah semangat dan memberikan inspirasi yang mendalam. Dalam pidatonya, kakek Brahma mampu menghubungkan masa lalu dengan masa depan, memberikan harapan dan keyakinan bahwa pembangunan Hotel baru ini akan menjadi lebih besar dan lebih kuat.


Ketika kakek Brahma ingin menyelesaikan pidatonya, tiba-tiba ruangan dengan pintu yang megah terbuka.


Seorang pria dalam balutan setelan jas yang sempurna, langkahnya yang mantap melambangkan kepercayaan diri dan kekuatan yang melekat padanya. Wajahnya yang tampan dipenuhi dengan ekspresi tenang dan penuh keyakinan. Raut matanya yang tajam memancarkan karisma yang tak terbantahkan, menangkap perhatian setiap orang di sekelilingnya.


Keadaan yang tenang dan terkendali, Bram yang sedikit memancarkan guratan emosi di sana, tengah menggendong ala bride style seorangĀ  wanita kedalam ruangan tersebut.


Wanita yang berada dalam pelukannya itu siapa lagi jika bukan Naya, dengan gaun yang menawan. Naya terlihat shock dan diam membisu saat Bram membawanya masuk kedalam ruangan yang hanya orang tertentu saja bisa dengan mudah masuk kedalam ruangan tersebut, dan yah.... setelan yang Bram kenakan saat itupun, berbeda dari biasanya bahkan itu bukan setelan kerja Bram.


Kakek Brahma melihat adegan itupun menggelengkan kepalanya dan mebatin "Dasar anak nakal, bukannya dia menolak untuk menampilkan diri hari ini, kenapa begitu tiba-tiba... tapi baguslah, setidaknya aku akan bertemu dengan cucu mantuku".


Bram menurunkan Naya dari gendongannya dengan pelan, kemudian menggenggam erat tangan Naya,

__ADS_1


"Sayang, apa yang kau lakukan disini, ayo kita pergi" bisik Naya dengan melirik tuan Brahma kemudian tersenyum sopan.


Naya memucat karena dia tahu, suaminya akan menimbulkan masalah terlebih lagi dia adalah salah satu daftar nama orang terkaya di Asia dan berada di sebuah acara yang lebih unggul dari kekuasaan dan kekyaannya membuat Naya tak berkutik.


Bram melepaskan jemari Naya, kemudian memberi hormat kepada tuan Brahma dengan sedikit anggukan kemudian berjalan ke atas podium. Naya melihat itu telah memberikan ekspresi untuk tidak melakukan hal aneh. Naya sempat meraih jemari Bram tapi Bram tersenyum kemudian memberi sedikit anggukan.


"Selamat pagi menjelang siang semuanya, terimah kasih karena telah hadir pada acara ini".


"Ya Tuhan ada apa ini, mengapa Bayu melakukan ini, apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya, pasti dia akan di permalukan lagi. Dan apa yang dia lakukan di tempat ini dengan setelan itu, apakah dia perwakilan dari pemilik restauran tempat dia bekerja? Aku harus melakukan sesuatu" batin Naya dengan panik


Harun, Nikol begitupun dengan Alea yang berlari memasuki ruangan untuk melihat apa yang akan Bram lakukan. Nikol tertawa sedangkan Harun mengusap wajahnya kasar.


"Ya ampun, apa yang akan dia lakukan, apakah dia akan mempermalukan nama keluarga kami? untuk apa dia berada di sana dan membawa Anakku, aku akan sangat malu jika dia memperkenalkan diri sebagai menantuku pada acara ini" gumam Harun


"Aku harap kau bisa menghabisinya" balas Harun


"Dengan senang hati". Timpal Nikol


Alea yang mendengar percakapan pamannya itu pun bingung, Alea tidak mengerti dengan lelaki yang dia kenal dengan nama panggilan Bram bernama Bayu di hadapan paman dan lelaki asing yang bernama Nikol itu. Yang pasti, Bram yang saat ini sedang bersama Naya adalah lelaki yang Alea selama ini cari.


"Pembangunan Natuna Beach Hotel saya nyatakan resmi dibuka" ucap Bram

__ADS_1


Ruangan terdengan sunyi begitupun dengan media yang merasa kebingungan dengan peresmian Hotel baru Yudisitira di resmikan oleh seseorang yang asing, tiba-tiba Harun sedikit berlari kedepan dengan memberi hormat kepada Kakek Brahma dan memberi klarifikasi bahwa lelaki yang berada di hadapannya itu adalah menantunya yang sedang mengalami gangguan jiwa, karena terobsesi menjadi orang berpengaruh padahal sebenarnya dia hanyalah seorang pelayan.


"Pa, jangan berkata seperti itu, Bayu tidak gila Pa" ucap Naya yang berada di atas panggung.


Para tamu undangan tiba-tiba riuh menlihat itu yang dianggap drama keluarga orang terkaya ke tiga di Asia memiliki masalah yang sangat kompleks.


Mendengar itu, tuan Brahma menghentakan tongkatnya membuat para tamu VIP terdiam karena dia tahu sebesar apa kekuasaan lelaki tua yang berada di hadapan mereka. Bram menyunggingkan senyumnya.


Bram dengan kembali memberi pernyataan, "Saya BRAM RAKA YUDISTIRA, pembangunan Natuna Beach Hotel saya umumkan resmi untuk di bangun di kawasan olet bersama beberapa pemegang saham yang akan di informasikan oleh asisten kepercayaan saya" ucap Bram


Rey mendengar itu, menaiki panggung dan memberi hormat sebagai penyetujuan.


"BRAM RAKA YUDISTIRA?"


Semua yang mendengar itupun berbisik.


Nikol berjalan kedepan dan memberi hormat kepada Tuan Brahma walaupun di sisi lain Nikol bahagia karena dengan masalah yang di timbulkan Bram dia bisa terjerat pasal pencemaran nama baik. Nikol sempat memuji keberanian Bram yang berpura-pura di hadapan publik, menurutnya Bram sudah menjatuhkan dirinya sendiri "Apakah karena lelah di bully di sudah gila dengan engaku sebagai cucu seorang tuan Brahma?!" batin Nikol dengan berdecak.


"Maaf Tuan Brahma, dia sedikit......... " ucap Nikol dengan memberi isyarat menggerakan tangannya di kepala bahwa Bram sudah gila


"Saya yang akan mengurusnya" timpal Nikol kembali.

__ADS_1


Tuan Brahma berjalan ke podium membuat Bram sedikit bergeser dengan senyuman. Brahma dengan wajah yang garang menatap wajah Bram, membuat suasana tegang.


"Dia benar Cucuku, BRAM RAKA YUDISTIRA, Pewaris satu-satunya kekayaan dan kekuasaan Yudsitira!" ucap tuan Brahma lantang.


__ADS_2