
Aditya sampai di rumah nya, sengaja Aditya datang pada malam hari menjelang kebiasaan Juan makan malam. Sebelumnya Aditya telah menelepon dan bertanya kepada mbok Lasmi apakah Juan sedang berada di rumah saat ini, mbok Lasmi pun menjawab bahwa Juan sedang berada di rumah.
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, terdengar suara Bell rumah berbunyi.
"Mbok, ada tamu. Coba lihat siapa yang datang", perintah Juan kepada mbok Lasmi, Mbok Lasmi pun sengaja melihat ke layar cctv bagian beranda depan, dan bertanya kepada pengeras suara "Siapa?", tanya mbok Lasmi berpura-pura.
"Saya Aditya mbok", jawab Aditya diujung pengeras Suara.
Sontak Rianti terkejut, tidak menyangka kalau akan kedatangan Aditya, padahal Rianti berpikir kalau Aditya sudah meninggal, karena sudah sebulan Aditya tidak datang ke rumah.
"Aditya, kebetulan sekali aku juga sudah lama tidak makan bareng dengannya. Cepat bukakan pintu mbok, dan suruh segera ikut bareng makan dengan kita", perintah Juan kepada mbok Lasmi.
Raut wajah Rianti dan Evans terlihat sangat muram.
"Selamat malam semua, apa kabar semua", tanya nya santai.
"Kamu ada-ada saja bertanya seperti itu Adit. Seperti kamu datang dari luar kota saja, dan sudah lama tidak bertemu", sindir Juan dan memang tidak mengetahui keberadaan Aditya yang sudah sebulan menghilang.
"Memang benar pak, den Aditya sudah sebulan menghilang dan tidak datang ke rumah ini!", mbok Lasmi memberitahu Juan.
"Benar begitu dit?, kemana kamu satu bulan ini, kok ayah tidak tahu", Juan bingung dan ingin tahu.
"Iya ayah, sebulan yang lalu setelah berangkat 15 menit dari rumah, aku telah menyadari kalau rem mobilku tidak berfungsi. Untuk menghindari para tabrakan terhadap pejalan kaki dan pedagang kaki lima aku berusaha keluar jalur jalanan ramai, dan pergi ke daerah sepi.
__ADS_1
Akhirnya aku memasuki jalanan turunan karena dengan kecepatan tinggi, akhirnya aku menabrak sebuah pohon yang rindang di daerah pemakaman.
Beruntung aku ditolong oleh gadis yang tulus ikhlas menolongku dan membawa ku kerumah sakit, dan merawatku selama satu bulan ini. Karena kakipun sulit untuk digerakkan", Aditya menceritakan kronologi menghilangnya ia selama satu bulan ini.
"Apa, Mengapa tidak satupun orang yang berada dirumah ini mengatakan kepada saya kalau kamu sedang tidak di rumah?", Juan begitu kesal, Rianti dan Evans hanya menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah Juan yang sedang marah.
"Mungkin memang ada orang yang tidak peduli akan Adit. Dan ingin agar Adit lebih baik menghilang saja", Aditya berbicara ketus, tadinya tidak ada prasangka nya kalau ibu tirinya yang melakukan semua kejahatan itu.
Tetapi karena ibu tirinya pun tidak memberitahu kepada Juan perihal menghilangnya dirinya selama sebulan. Aditya menjadi curiga kalau itu adalah perbuatan nya yang telah mensabotase rem mobilnya, sehingga tidak berfungsi dengan baik"Tapi aku tidak mempunyai bukti atas tuduhanku", gumamnya dalam hati.
"Maksud kamu apa dit?", tanya Juan bingung mendengar perkataan Aditya.
"Aditya tidak merasa mempunyai musuh dengan siapapun. Mengapa tiba-tiba rem mobil Adit, tidak berfungsi dengan baik", Aditya membuat Juan jadi curiga.
"Maksud kamu ada orang dekat yang sengaja membuat kamu celaka, begitu maksud kamu dit?", Juan tegas. "Tetapi siapa, apa mungkin Rianti, tetapi aku melihat Rianti selama ini. Sejak Adit kecil selalu bersikap baik.
"Terus, apa kamu sudah melaporkan kecelakaan kamu ini ke kantor polisi?", tanya Juan ingin tahu.
"Sudah ayah, polisi sedang menyelidikinya", Aditya tersenyum melihat gelagat Rianti yang salah tingkah.
"Oh iya ayah. Aditya ingin mengenalkan teman wanita Adit, suatu saat nanti. Wanita ini sangat baik dan dialah yang telah menolong Adit dan merawat Adit hingga pulih saat ini. Adit ingin melamarnya ayah, dan ingin menjadikannya sebagai istri, yang akan menemani Adit sampai tua, bahkan hingga ajal menjemput", Aditya serius kepada Stella.
"Bagus itu Adit, kalau kamu segera menikah dan segera mempunyai anak. Maka cucu ayah nantinya juga akan mendapatkan sebagian dari harta ayah. Karena kalian kan merupakan garis keturunan ayah.
__ADS_1
Sedangkan yang tidak memiliki garis keturunan dari ayah. Paling-paling ayah akan memberikan sebuah rumah saja dan beberapa uang tunai. Itu sudah cukup daripada tidak sama sekali", Juan memberitahu pembagian harta warisannya.
Raut wajah Rianti dan Evans berubah seketika terlihat masam, dan emosi. Karena mereka hanya mendapat harta warisan Juan hanya sebuah rumah dan beberapa uang tunai.
Dalam pikiran Rianti tidak terima atas ketidak-adilan yang diberikan Juan. Tetapi Rianti berusaha menyembunyikan ketidaksenangan nya, dan hanya bisa senyum-senyum mencoba menerima keputusan Juan.
"Kapan engkau akan membawa wanita tambatan hati kamu itu dit?", Juan penasaran dan tidak sabar ingin bertemu dengan Stella.
"Ayah, tetapi Stella dari keluarga miskin. Ibunya sudah meninggal dunia. Stella tinggal dengan kedua adik perempuannya. Dan adiknya selama ini menjadi beban tanggungan dari Stella. Bagaimana menurut ayah?", Aditya ingin tahu tanggapan Juan mengenai Stella.
"Tidak apa-apa Adit, ayah tidak mempermasalahkan itu. Lagian kamu bilang bahwa perempuan telah menolong dan merawat kamu hingga pulih. Bapak ingin kamu membawanya ke rumah kita. Agar ayah bisa mengenalnya lebih dekat lagi", Juan menyetujui Stella sebagia pendamping hidup Juan.
"Oh iya, apa pekerjaan perempuan itu. Hebat sekali dia bisa menjadi tulang punggung untuk adik-adiknya. Berarti perempuan itu orang yang bertanggung jawab, dan tidak hanya mengandalkan oranglain dan melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginannya", Juan menyindir Rianti. Rianti makin berkerut wajahnya disindir terus oleh Juan.
Aditya terdiam bingung apakah harus jujur mengatakan yang sebenarnya mengenai profesi Stella. "Kalau aku mengatakan Stella berprofesi sebagai wanita kupu-kupu malam, pasti ayah akan menolak Stella dan tidak setuju Stella sebagai istri aku, lebih baik aku berbohong saja tentang profesi Stella", gumam Aditya dalam hati.
"Halo dit, apakah kamu tidak tahu profesi perempuan yang menjadi istri kamu?. Mengapa lama sekali menjawabnya", Juan bingung melihat sikap Aditya.
"Oh iya namanya siapa, ayah sampai lupa menanyakan nya", Juan menambahi.
"Oh iya. Namanya Stella, ayah. Stella berprofesi sebagai penjaga handphone di mall. Terkadang Stella juga ikut event promosi peragaan penjualan mobil di mall, untuk mencari uang tambahan", Aditya berbohong mengenai profesi Stella.
"Baiklah, ayah tidak masalah Adit. Mengenai profesi dan keluarga Stella. Ayah yakin dengan pilihan kamu kok. Ayah juga begitu ketika dengan Liana ibu kandung kamu. Kami dari nol bersama-sama berusaha memajukan bisnis. Dan kami pun sudah berpacaran sejak SMA. Asalkan ada niat yang baik, rezeki pun seiring waktu akan mengalir dan bertambah-tambah", Juan memberi semangat kepada Aditya.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu nanti bilang kepada ayah. Kapan kamu akan membawa Stella ke rumah ini. Supaya ayah bisa meluangkan waktu yang tepat", Juan menambahi.
"Baiklah ayah, nanti Adit akan memberitahu ayah", Aditya senang Juan merestui hubungannya dengan Stella.