
Pagi-pagi sekali Stella terbangun dari tidurnya. Sebelum beranjak dan meninggalkan tempat tidur nya. Stella terlebih dahulu sujud dan berdoa kepada Sang Pencipta, agar diberikan petunjuk, kelancaran dan kemudahan atas apa yang akan dilakukan.
Seketika setelah berdoa, Stella mendapatkan semangat yang menggebu-gebu. Stella mantap untuk pergi ke rumah sakit jiwa dan ingin merawat Aditya sendiri.
Stella pamit kepada kedua adiknya.
"Jen, Joy. Kakak pergi dulu ya. Mudah-mudahan semua diberi kemudahan dan kelancaran", Stella berharap dan berdoa.
"Pasti kak, semangat kak", Joy dan jenny menyemangati Stella.
Stella pun segera meninggalkan kedua adiknya. Dan langsung naik angkot menuju rumah sakit jiwa tempat Aditya di rawat. Kebetulan angkot yang menuju ke rumah sakit langsung nongol dan berhenti.
Stella sampai di rumah sakit dan berbicara kepada resepsionis untuk mengutarakan maksud Stella merawat sendiri Aditya. Dan resepsionis langsung mengarahkan untuk bertemu dengan dokter yang merawat dan menangani Aditya.
Stella mengetuk pintu ruangan dokter, dan dari balik pintu dokter tersebut mempersilahkan Stella masuk.
"Selamat pagi dok?", ucap Stella setelah masuk.
"Selamat pagi Bu, ada yang bisa saya bantu?", balas dokter Rangga ramah, ada sebuah papan nama di dadanya.
"Begini Dok, Saya bermaksud membawa pulang pasien yang bernama Aditya dok", ucap Stella sedikit takut.
"Membawa pulang, ibu siapanya pasien?", dokter Rangga penasaran dan ingin tahu.
"Saya istrinya pasien dok", Stella jujur memberitahu.
"Tapi pasien Aditya dibawa ke rumah sakit ini adalah karena persetujuan dari ibunya. Apakah ibu sudah sepakat atau tindakan ini sudah seizin ibu pasien?", dokter Rangga ingin menggali informasi dari Stella.
Stella sedikit bergidik dan takut. Kalau dokter Rangga akan melaporkan stella kepada Rianti.
__ADS_1
"Pak saya mohon, izinkan saya merawat suami hamba. Saya kasihan suami hamba seperti tidak ada perubahan kearah lebih baik. Biarlah saya saja yang merawatnya", Stella memohon.
"Saya sangat yakin kalau sakitnya suami saya adalah konspirasi dari ibu mertua saya. Tolong izinkan saya pak untuk merawat suami saya", Stella memohon-mohon kepada dokter Rangga sambil menangis.
Dokter Rangga sangat prihatin dan kasihan kepada Stella yang telah memohon-mohon kepadanya sampai bersujud di kaki dokter Rangga.
Lagian dokter Rangga juga jengkel kepada Rianti, karena bayaran untuk dokter Rangga belum di bayar lunas.
"Tidak apa, aku akan memoroti terus Rianti dan meminta terus bayaran ku. Toh Rianti juga tidak pernah datang ke rumah sakit ini untuk melihat Aditya.
Tidak masalah kalau aku memberikan Aditya untuk di bawa dan dirawat oleh istrinya sendiri. Lagian aku tidak mau nanti dibawa-bawa oleh Rianti atas kejahatan yang telah diperbuat nya", pikir dokter Rangga dalam hatinya.
"Baiklah Bu, silahkan membawa Aditya. Sebelumnya saya akan memberi resep agar Aditya lebih tenang dan terkendali emosinya", dokter Rangga memberi obat.
"Terimakasih banyak dok, atas perhatian dan pengertian nya. Tolong dokter jangan memberitahu kepada Rianti, bahwa saya yang telah mengambil dan merawat Aditya", Stella memohon.
"Baiklah, saya tidak akan memberitahu Rianti mengenai ibu", Dokter Rangga menyanggupi.
"Sebentar Bu, saya akan menyuntikkan obat ini ke tubuh Aditya agar lebih tenang dan tidak marah-marah" dokter Rangga langsung menyuntikkan nya ke bagian lengan Aditya. Dengan dibantu oleh beberapa suster untuk memegangi tangan dan tubuh Aditya, agar tidak melawan.
Benar saja Aditya terlihat lebih tenang dan terkendali.
Akhirnya Stella bisa membawa Aditya ke kontrakan dengan lancar.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan. Aditya dan Stella tiba di rumah kontrakan Stella.
Stella mengetuk pintu, dan langsung dibukakan oleh jenny.
"Hai, kakak ipar. Aku jenny.. aku Joy..", jenny dan Joy memperkenalkan diri dan menjabat tangan Aditya sambil menciumnya.
__ADS_1
Begitu juga Stella menjabat tangan dan mencium tangan Aditya sambil memperkenalkan dirinya, " Aku Stella, istri kamu dit".
Aditya hanya diam saja dengan ekspresi datar, terasa asing baginya, karena tidak mengenali siapa pun dihadapan nya terlebih Stella.
Semua memakluminya dan tetap tersenyum dan hormat menyambut Aditya.
Semuanya memperlakukan Aditya, sebagaimana kakak ipar bagi Jenni dan Joy. Dan sebagai istri yang baik, Stella hormat dan telaten sekali merawat Aditya.
Kebetulan mendekati jam makan siang. Mereka pun makan bersama di meja makan dengan sukacita.
"Sayang, kamu makannya disuapi atau makan sendiri?", sapa Stella, Aditya tetap diam.
"Aku suapin kamu ya", Stella bermaksud ingin menyuapi Aditya.
Baru beberapa suapan, Aditya langsung melempar piring yang ada dihadapannya. sontak semua terkejut. Tetapi Stella berusaha menahan amarahnya dan tetap bersabar memaklumi sikap Aditya.
"Mengapa sayang.. Ikannya tidak enak ya. Besok aku akan memasak masakan kesukaan kamu ya", Stella mencoba memaklumi Aditya. Aditya hanya diam saja tanpa ekspresi.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kita udahan makannya. Bagaimana kalau kita sekarang memandang keluar untuk menghirup udara segar", Stella mencoba membawa Aditya halaman depan rumah.
Agar lebih memudahkan pergerakan Aditya, Stella mendudukkan Aditya pada sebuah kursi roda. Karena pastilah aditya akan malas bergerak dan selalu ingin mengurung diri di kamar. Stella ingin agar Aditya bisa melihat dunia luar dan mulai bersosialisasi, sehingga Aditya bisa pulih kembali.
Belum lama Aditya berada di luar, Aditya mengamuk. Meronta-ronta, sambil menggerak-gerakkan kursi rodanya. Stella pun ketakutan. Mencoba sabar dan memaklumi kondisi Aditya. Stella pun menyela, "Kamu tidak suka ya sayang ke luar. Tidak apa-apa kali ini kita di rumah saja. Tetapi lain kali kita harus rutin menghirup udara luar ya sayang. Supaya pikiran kamu bisa lebih terbuka", ucap Stella lembut dan langsung membawa Aditya masuk ke kamar.
Stella bermaksud untuk mengajak Aditya untuk menonton tv. Tetapi Aditya langsung teriak dan meronta-ronta, melempar remote tv yang ada di tangan nya.
"Ada apa sayang, kamu tidak suka menonton tv ya. Jadi kamu mau apa. Ya sudah kamu ingin rebahan di kamar ya", Stella menebak-nebak kemauan Aditya. Dan langsung membawa Aditya masuk ke kamar mereka.
Dan merebahkan Aditya di tempat tidur. Aditya pun langsung tertidur menutupi wajahnya dengan selimut. Stella membiarkan saja suaminya itu melakukan apa yang diinginkan nya. Terkadang Stella tidak bisa terlalu memaksakan keinginan nya. Stella hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Hampir putus asa Stella menghadapi sikap Aditya yang selalu marah dan tidak terkendali. Stella jadi bingung dan merasa tidak yakin Aditya akan sembuh.
"Ya Tuhan berikan aku kesabaran dan kekuatan untuk merawat suamiku ini. Aku masih berharap suamiku ini bisa sembuh kembali. MujizatMu lah yang terjadi ya Tuhan", Stella berdoa dalam hati dengan penuh kepasrahan.