Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#8. Rianti mengatur strategi agar kehamilan palsunya tidak diketahui Juan.


__ADS_3

Tiga bulan sudah perkawinan Rianti dan Juan telah berjalan. Juan terlalu sibuk dengan bisnisnya. Bisnisnya pun semakin berkembang, dan sering ke luar kota.


Rianti terkadang merajalela bila Juan tidak di rumah. Tidak pernah mempersiapkan sarapan atau susu di meja makan, Bahkan untuk makan bersama, baik sarapan, makan siang atau makan malam.


Tidak pernah makan bersama dengan Aditya, mereka selalu makan sebelum atau sesudah Aditya makan. Pernah sekali Aditya mengajak Rianti dan Evans makan bersama tetapi Rianti selalu ketus menjawab, "Malas makan bersama kamu, kamu duluan saja makannya". Aditya pun tidak mengambil hati sifat mereka dan mengalah untuk makan sendiri.


Lain halnya kalau Juan ada di rumah, Rianti dan Evans selalu bersikap manis dan selalu makan bersama-sama. Tetapi Aditya tidak pernah memberitahu perilaku buruk ibu tirinya dan Evans.


Perlengkapan di kamar Evans pun buru-buru dilengkapi Rianti, begitu Juan memberi ATM yang no limit kepada nya. Rianti pun sering belanja ke mall, membeli semua perlengkapan tas, pakaian, jam tangan, perhiasan, bahkan alat-alat kecantikan. Tidak jarang juga Rianti sering berlama-lama bahkan seharian di salon untuk menunjang kecantikan nya.


Juan pun tidak pernah mempermasalahkan kebiasaan Rianti yang sering belanja-belanja. Karena Rianti pandai sekali merayu, bahkan selalu memberi kepuasan dan pelayanan di ranjang dengan baik kepada Juan. Sehingga Juan tidak segan-segan atau malu-malu lagi selalu membawa Rianti bertemu dengan koleganya.


****


Ketika sarapan pagi sebelum berangkat ke Kantor.


"Oh ya, sayang. Mengapa ya perut kamu sampai sekarang belum kelihatan membuncit. Padahal sudah hampir 4 bulan kan?", tanya Juan heran, melihat perut Rianti belum juga membuncit, padahal Rianti mengancam agar segera dinikahi Juan adalah karena Juan telah menghamili Rianti.


Rianti sedikit panik dan berusaha menyembunyikan kepanikannya.


"Belum kelihatan dong sayang, mungkin nanti setelah 5 bulan akan kelihatan. Memang aku tipenya hamilnya kecil. Kemarin waktu mengandung Evans juga begitu, orang-orang pada tidak tahu kalau Rianti sudah hamil 7 bulan", Rianti memberi alasan yang masuk akal.

__ADS_1


"Iya juga sih. Oh ya sayang kamu tetap kontrol kan. Kamu harus selalu mengontrol kehamilan kamu, takut terjadi kenapa-kenapa. Maaf ya sayang aku belum bisa menemani kamu untuk kontrol karena aku masih sangat sibuk sekali. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan", Juan meminta maaf tidak bisa menemani Rianti untuk memeriksakan kehamilannya ke rumah sakit.


"Oh tidak apa-apa kok sayang. Tidak usah dipaksakan kalau memang kamu lagi sibuk banget. Rianti bisa memeriksakan nya sendiri kok", ucap Rianti tersenyum manis.


"Ya sudah lah kalau begitu, kami pamit dulu ya. Kamu mau pergi periksa kapan?. Nanti aku akan cari waktu yang tepat untuk menemani kamu ke rumah sakit", Juan menawarkan diri untuk memani Rianti periksa kehamilan.


Tetapi Rianti begitu gusar, khawatir nanti kedoknya terbongkar. Karena Rianti tidak ada hamil. Bahkan walaupun sudah berhubungan suami-istri selama 3 bulan, Rianti tetap saja tidak hamil. Padahal Rianti ingin sekali hamil, agar kebohongannya bisa tertutupi.


"Rencana aku akan periksa hari ini sayang, aku sudah membuat janji dengan dokter nya", Rianti terpaksa mengatakan hari ini periksa kehamilan, agar Juan tidak mengambil waktu luang untuk menemaninya. Agar kehamilan palsu nya tidak ketahuan oleh Juan.


"Oh baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati ya nyetirnya. Jangan ngebut di jalan pelan-pelan saja. Agar janin kamu tidak bermasalah", Juan memberi nasihat.


Rianti merasa pusing, apa yang harus dilakukannya, agar kehamilan palsunya tidak terbongkar. "Apakah aku harus memasang bantal atau kain di perutku?, tidak mungkin bagaimana malam, kalau Juan minta berhubungan suami-istri?", gumam Rianti gusar.


"Iya benar, harus dengan cara begini. Agar Juan percaya aku sedang keguguran. Dan aku tidak perlu bersandiwara lagi kalau aku sedang hamil dan Juan pun tidak jadi menemani untuk memeriksakan kehamilanku", gumam Rianti merasa bahagia telah mendapatkan rencana dan ide yang cemerlang.


Setelah Juan dan anak-anak telah keluar rumah. Rianti sibuk merancang rencana yang tepat, "agar aku terlihat seperti terjatuh atau kecelakaan", pikir nya dalam hati


"Oh baiklah aku akan mengorbankan mbok Lasmi. Aku akan pura-pura terjatuh. Ketika mbok Lasmi selesai mengepel rumah. Sekalian ini adalah balas dendam ku kepada mbok Lasmi, pasti mbok Lasmi akan di pecat. Bila karena ulahnya aku telah keguguran", gumam Rianti dalam hatinya.


Tetapi Rianti sadar, kalau di rumah ada banyak cctv dari segala sudut. Pasti Juan akan memeriksa cctv, Juan pasti tidak semudah itu percaya atas cerita ku. Mengingat mbok Lasmi adalah orang kepercayaan Juan di rumah ini. Mbok Lasmi sudah banyak berjasa dalam mengasuh dan membesarkan Aditya.

__ADS_1


"Jadi apa dong rencana ku", pikir Rianti kesal dan gusar.


"Bagaimana kalau aku pura-pura kecelakaan di jalan saja ketika akan memeriksakan kehamilan. Sekalian aku akan membayar dokter kalau aku sedang keguguran. Dan aku akan berpura-pura juga di rawat inap di kliniknya", pikir Rianti penuh kebanggaan, karena telah menemukan rencana yang tepat untuk mengelabui Juan perihal kepalsuan kehamilannya.


***


Rianti pun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Dan berusaha mencari klinik agar bisa mengatur segala surat-surat yang menyatakan bahwa telah terjadi keguguran atas kandungan Rianti.


Ketika hendak menyeberang ke arah klinik. Rianti berpura-pura jatuh, dan hampir ditabrak oleh pesepeda motor.


Busssst.. Suara rem motor secara mendadak. Rianti pun merintih kesakitan.


"Aduh maaf Bu, apakah ibu tidak kenapa-kenapa?", tanya pesepeda motor kepada Rianti dengan gusar, karena takut Rianti kenapa-kenapa dan minta pertanggungjawaban.


"Tidak apa-apa kok mas, saya yang salah tidak hati-hati dalam menyeberang. Maaf saya mau keklinik itu", Rianti menunjuk ke arah klinik. Dan buru-buru segera beranjak meninggalkan pesepeda motor.


Luka lecet pada kaki Rianti cukup memberikan bukti, bahwa Rianti benar-benar terjatuh. Rianti pun masuk kedalam ruangan untuk perawatan.


"Selamat siang bu, Ada yang bisa saya bantu?", tanya suster bertanya kepada Rianti yang berjalan tertatih-tatih dari pintu masuk.


"Iya, saya tadi ada insiden kecil, tidak apa-apa kok, hanya luka kecil saja. Apakah dokternya ada?, saya ingin ketemu dan bicara pada dokternya", tanya Rianti.

__ADS_1


"Oh iya, Sebelum ibu ketemu dengan dokter Rani, sebentar ibu saya data dulu ya, kemudian memeriksa tensi ibu", ucap suster jaga ramah.


Rianti pun hanya menurut saja atas perintah suster jaga, termasuk memberitahu data pribadi Rianti.


__ADS_2