Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#62. Anggi terus bersikap manja dan ingin perhatian Aditya


__ADS_3

Maksud kamu apa Anggi", stella merasa penasaran.


Lalu datang dokter Ira ke ruang rawat inap Anggi dan langsung memberitahu kondisi Anggi kepada stella dan Aditya.


"Begini pak, Bu. Bu Anggi ini menderita kanker rahim, sudah stadium akhir. Tetapi Anggi sangat ngotot ingin mempertahankan kandungannya. Padahal fisiknya sendiri sangat lemah. Tolong bapak memberikan arahan kepada ibu Anggi", Dokter Ira memberitahu.


"Bagaimana kemungkinan kondisi Anggi. Apakah memang memungkinkan untuk masih bisa melanjutkan anaknya sampai lahir ke dunia dok?", tanya Aditya untuk mengetahui kondisi terparah Anggi.


"Sebenarnya masih bisa pak, tetapi Bu Anggi harus rela untuk tidak minum obat, agar tidak mempengaruhi janinnya. Tetapi bapak tahu sendiri kondisi ibu Anggi kalau tidak minum obat. pasti akan sangat kesakitan.


Dibutuhkan support dan dukungan dari suami. Agar ibu Anggi bisa melupakan sakitnya, dan lebih bersemangat. Bila suami selalu mendampingi Anggi, niscaya bukan tidak mungkin ibu Anggi akan pulih", dokter memberitahu.


"Sayang, aku ingin anak kita hidup. Aku sangat mencintaimu, aku sangat ingin anak ini bisa lahir ke dunia", Anggi memohon dan berpura-pura sangat sedih.


"Sayang, tolonglah. Aku lebih memilih untuk melahirkan anak ini, daripada nyawa ku sendiri. Jangan larang aku, untuk melahirkan anak ini. Ini adalah satu-satunya milikku. Harta paling berharga ku, bukti kalau kamu pernah mengisi hidupku", Anggi memohon-mohon.


"Apa yang harus kulakukan dok, agar sakit Anggi bisa sembuh dan bayi nya bisa bertahan?", Aditya ingin tahu.


"Pak, bapak harus selalu ada didekat pasien, mendampinginya sehari-hari. Memberikan support dan dukungan untuk lebih bersemangat dan tidak terlalu memikirkan sakitnya.


Sebenarnya pasien itu sangat kesakitan sekali menahan sakit nyeri yang tiba-tiba datang. Tetapi apabila pasien selalu bergembira dan bersemangat. Niscaya sakit penyakitnya tidak akan terasa.


Dan kita juga tidak boleh memungkiri kekuatan dan keajaiban dari Sang Kuasa. Bisa saja ibu Anggi ini akan sembuh total", dokter Ira menyakinkan Aditya. Aditya hanya mengangguk-angguk tanda memahami apa yang baru saja diucapkan oleh dokter Ira.


Stella ikut merasa iba dan kasihan kepada Anggi. Stella memberi persetujuan agar Aditya menuruti saja apa yang diinginkan Anggi.


"Sudah sayang, turuti saja apa maunya Anggi. Toh Anggi tidak lama lagi hidupnya. Memang keinginan dari seorang ibu adalah pasti ingin mempertahankan anaknya, sekalipun harus membayar dengan nyawanya sendiri. Aku sangat paham dan mengerti kemauan Anggi sayang", stella memberi dukungan kepada Aditya.


"Baiklah Anggi, tetapi akupun ingin adil kepada Stella. Aku harap kamu bisa memakluminya", Aditya tegas memberitahu Anggi.

__ADS_1


"Aku harus berpura-pura setuju, agar Aditya tidak berubah pikiran. Tetapi dengan bujuk rayu ku pasti pasti Aditya akan takluk juga, dan tidak bisa menolak. Aditya pasti tidak akan kubiarkan bersama Stella", gumam Anggi dan tahu sekali sifat Aditya yang tidak bisa menolak.


"Sekarang kita pulang ya sayang, aku ingin kamu menemani ku di rumah", Anggi ingin Aditya ikut bersamanya pulang ke rumah Anggi.


"Baiklah", Aditya setuju. Sambil melirik ke arah Stella, Stella pun menyetujui Aditya pulang bersama Stella.


"Baiklah sayang, aku pulang saja ke rumah ya, aku takut Gibran nanti kecarian kalau aku kelamaan di luar" stella buru-buru menghindar dan membiarkan Aditya, suaminya bersama dengan perempuan lain. Sebenarnya hati Stella sangat cemburu dan sakit, bila suaminya tinggal dengan perempuan lain. Stella hanya bisa pasrah atas keadaan ini.


Aditya membawa Anggi ke rumah Anggi. Setelah tiba di rumah Anggi.


Anggi pun tidak membuang kesempatan baik ini. Anggi berpura-pura manja.


"Sayang aku ingin makannya di kamar saja. Tolong temani aku ya" Anggi memohon dengan manja.


"Baiklah", Aditya menyanggupi dengan senyum. Agar Anggi merasa senang.


Lantas Aditya langsung ke arah dapur, untuk meminta mbok Rani untuk menyiapkan makanan Anggi. Setelah beberapa menit kemudian mbok Rani datang dengan membawa nampan berisi menu makan Anggi berisi sepiring nasi, sayur bayam di tumis, lauk nila goreng dan tempe goreng, tak lupa buah jeruk dan semangka.


"Makannya disuapin kamu ya sayang", Anggi berusaha terus meminta perhatian Aditya.


Aditya pun pasrah, mau dan rela menyuapi Anggi. Dalam hati Aditya, berharap perhatiannya kepada Anggi bisa membuat Anggi merasa terhibur dan bersemangat.


"Sudah sayang, aku tidak berselera lagi", Anggi berpura-pura tidak mau makan.


"Dipaksa dong sayang makannya. makan nya harus banyak. Mudah-mudahan kamu bisa sembuh dan bisa melihat bayi kamu bisa lahir ke dunia dengan sehat dan selamat", Aditya memaksa Anggi agar banyak makan. Dan kembali menyuapi Anggi.


"Kalau kamu betah dan terus menyuapi aku. Aku mau makan banyak", ucap Anggi pelan.


"Iya, aku suapi kamu kok. Sepiring nasi ini harus habis ya" Aditya memaksa. Anggi mengangguk setuju.

__ADS_1


****


Ada-ada saja keinginan Anggi, agar Aditya selalu dekat dengannya.


Sudah dua hari Aditya bersama dengan Anggi. Aditya ingin pergi balik ke rumahnya bersama Stella.


"Sayang, malam ini aku bersama Stella ya", pinta Aditya kepada Anggi.


Anggi sebenarnya tidak ingin Aditya bersama Stella. Anggi pun mencari cara agar Aditya tidak pulang ke rumah menemui Stella.


"Aduh....aduh.... perut ku sakit sekali", teriak Anggi berpura-pura kesakitan.


"Kamu kenapa sayang, apa yang kamu rasakan. Aku bawa kamu ke rumah sakit ya", Aditya panik.


"Tidak usah membawaku ke rumah sakit. Bawa saja aku ke kamar. Mungkin dengan rebahan di tempat tidur aku akan merasa baikan", Aditya pun memapah Anggi masuk ke kamarnya.


Anggi merebahkan tubuhnya di tempat tidur berpura-pura memejamkan matanya.


"Sayang kamu sudah agak baikan?. Bagaimana kondisi mu. Aku juga merasa takut meninggalkan mu sendirian di kamar ini. Takut kamu kenapa-kenapa", Aditya takut meninggalkan Anggi.


"Bagus, kamu masuk jebakan ku. Kata-kata itulah yang sangat kuinginkan kamu ucapkan. Dan kuyakin kamu pun tidak akan meninggalkan aku sendirian disini. Biar saja Stella yang merana sendirian di kamarnya", gumam Anggi merasa menang.


"Ya sudah, kamu aku temani malam ini. Dan kuharap kondisimu baik untuk besok malam. Agar aku bisa pergi menemui Stella. Bagaimana pun aku harus. Kuharap kamu bisa memahami keputusan yang telah kubuat. Aku tidak mau Stella salah paham", Aditya mencoba tegas dan merasa kecewa tidak bisa menemui Stella padahal sudah malam ketiga Aditya menemani Anggi.


Aditya memberitahu kepada Stella tidak bisa datang malam ini untuk menemuinya.


"Maaf Stella, malam ini aku tidak bisa menemui mu. Anggi merasa tiba-tiba sakit pada perut nya. Aku tidak tega meninggalkan dia sendirian di kamarnya. Aku takut Anggi kenapa-kenapa.


Aku berharap kamu memakluminya sayang. Aku pun berjanji tidak akan tergoda dan melakukan hubungan terlarang dengan Anggi", Aditya memberitahu Stella lewat telepon.

__ADS_1


"Iya tidak apa-apa sayang", stella pasrah. Sebenarnya merasa tidak tega suaminya tidur bersama wanita lain.


__ADS_2