Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#25. Dokter ahli saraf memberi tahu penyebab Aditya sakit jiwa


__ADS_3

"Aku tidak boleh putus asa, aku harus terus berusaha melakukan segala cara dan upaya untuk kesembuhan Aditya", gumam Stella dalam hatinya.


"Baiklah besok aku akan mengajak Aditya berobat kepada ahli saraf. Agar bisa diperiksa secara mendetail. Dan mereka pun pasti lebih tahu mengenai pengobatan nya", Stella menyusun rencana, tindakan apa yang harus dilakukan Stella untuk kesembuhan Aditya.


"Itung-itung Aditya kubawa keluar rumah. Agar Aditya bisa mengenal dunia luar, dan mudah-mudahan bisa mengembalikan ingatan nya", Stella menambahi.


***


Keesokan harinya, Setelah Aditya bangun pagi. Stella membujuk Aditya agar mandi dan berbenah, karena akan diajak keluar rumah.


"Sayang, gimana tidurnya?. nyenyak tidak?, Hari ini kita keluar rumah ya, untuk memeriksakan kesehatan kamu", Stella memberitahu jadwal hari ini.


Aditya hanya diam saja dengan tatapan kosong, Tetapi tidak mengamuk atau marah.


"Tidak apalah, setidaknya Aditya sudah tenang. Dan pasti akan mengingat setiap perkataan yang diucapkan orang lain kepadanya", Stella terus menegur dan bicara pada Aditya walaupun Aditya tidak merespon atau menjawab.


Begitu Aditya selesai berpakaian. Aditya dan Stella pun berangkat dengan menaiki kendaraan roda empat yang sudah dipesan terlebih dahulu melalui aplikasi dari handphone.


Setelah beberapa menit dalam perjalanan. Kendaraan yang ditumpangi mereka pun tiba di sebuah klinik ahli syaraf.


Mereka pun langsung masuk dan segera mengambil no antrian. Maklum banyak sekali yang datang berobat. Bukan saja yang penyakit jiwa, yang lumpuh karena saraf terjepit pun datang untuk memeriksakan diri.


"Aditya", teriak suster memanggil Aditya.


"Iya sus, ada!", teriak Stella. Stella dan Aditya langsung bergerak masuk kedalam ruang pemeriksaan, Stella mendorong kursi roda aditya.


"Selamat pagi Bu, ada yang bisa saya bantu?", tanya dokter Ramli, nama itu tertera pada meja nya ingin tahu keluhan Stella.

__ADS_1


"Saya membawa suami saya dok. Saya ingin memeriksakan suami saya. Sudah dua bulan lebih suami saya ini di rawat di Rumah sakit jiwa. Saya melihat tidak ada perubahan. Untuk itu saya mengeluarkan suami saya dari rumah sakit jiwa.


Karena Saya bermaksud untuk merawat suami saya sendiri di rumah. Bolehkah dokter memberi resep untuk pengobatan suami saya", Stella memberitahu keluhan dan keinginannya datang ke klinik tersebut


"Oh begitu ya Bu. Kita periksa saja dulu. Darah, urine dan CT scan, pada bagian kepala. Agar diketahui riwayat penyakit yang diderita pasien. Sebelumnya apakah pasien pernah mengalami kecelakaan atau trauma?, dokter Ramli bertanya ingin tahu.


"Iya dokter, Hampir Setengah tahun yang lalu, suami saya pernah mengalami kecelakaan, menabrak sebuah pohon karena rem mobilnya disabotase seseorang.


Dan tepatnya 2 bulan yang lalu. Saya difitnah oleh mertua saya, Mertua saya mengatakan kepada suami saya, kalau saya kabur dari rumah untuk hidup bersama dengan pria lain. Suami merasa frustasi dan sering mengurung diri.


Sebulan setelah kejadian itu. Suami langsung menderita sakit jiwa dan di rawat inap di rumah sakit jiwa selama 2 bulan lebih. Karena tidak ada perubahan yang lebih baik. Akhirnya suami saya bawa pulang dan dirawat oleh saya di rumah", Stella bercerita panjang lebar mengenai kronologi sehingga Aditya menderita sakit jiwa.


Dokter Ramli hanya manggut-manggut, seolah memahami apa yang sedang terjadi pada Aditya.


"Sekarang kita periksa dulu darah pasien Bu, dan urine nya, kemudian langsung CT scan", dokter Ramli mengambil sampel darah Aditya dan air seni Aditya. Setelah itu langsung pergi ke ruang CT scan.


Agar Aditya tidak merasa bosan, ada ruang menonton dan taman sehingga Stella secara bergantian mengajak Aditya berkeliling taman dan menonton tv.


Beruntung Aditya tidak merasa kelelahan atau emosional. Setelah waktu yang ditentukan telah lewat. Maka suster pendamping langsung menemui Stella dan menyuruh Stella untuk memasuki ruang dokter Ramli.


Stella langsung masuk setelah mengetuk dan disuruh masuk. Stella langsung duduk menghadap dokter Ramli.


"Bu, saya sangat terkejut. setelah saya memeriksa sampel darah dan urine pasien. Saya tidak menyangka di tubuh pasien ada zat berbahaya, ini seperti jenis obat-obatan terlarang.


Dan ini tidak beredar secara bebas, ini barang hanya di peruntukkan bagi para narapidana yang terpidana mati. Semacam zat yang mematikan. Artinya zat ini adalah pembunuh secara pelan-pelan. Pasien dibuat depresi, ketakutan dan berhalusinasi.


Juga mengakibatkan kerusakan saraf. Bagaimana mungkin pasien bisa memakai obat-obatan ini Bu?, obat-obatan ini lah yang membuat suami ibu tidak sembuh-sembuh. Dan saya juga memprediksi, obat-obatan ini masih dikonsumsi pasien secara rutin ketika di rumah sakit jiwa", ucap dokter Ramli menceritakan penyebab Aditya tidak sembuh

__ADS_1


"Saya tidak tahu, dok. Siapa yang memberikan obat-obatan terlarang itu kepada suami saya. Saya curiga itu diberikan oleh mertua tiri saya. Dan berlanjut tetap dikonsumsi di rumah sakit jiwa, karena suruhan dari mertua tiri saya tersebut", Stella merasa yakin.


"Apakah penyakit suami ini juga ada pengaruh benturan dikepala ketika terjadi kecelakaan, karena ketika kecelakaan terjadi dokter mengatakan ada keretakan pada tengkorak kepala", Stella merasa penasaran dan ingin tahu, apa mungkin sakit jiwa Aditya karena keretakan tengkorak kepala.


"Peristiwa itu sudah lama terjadi, seiring waktu luka keretakan itu. Pada akhirnya akan sembuh dengan sendirinya", dokter Ramli menyakinkan Stella. Stella pun manggut-manggut tanda mengerti


"Berarti suami saya sakit jiwa, fix karena obat-obatan terlarang yang dikonsumsinya dok?", tanya Stella menyakinkan dirinya. Dokter Ramli hanya mengangguk kan kepalanya


"Jadi bagaimana ini dok, Apakah suami saya bisa sembuh kembali, normal seperti biasanya", Stella penasaran dan ingin tahu.


"Kalau obat-obatan itu tidak dikonsumsi lagi, mungkin masih bisa disembuhkan. Tetapi itu juga semua adalah usaha dan kerja keras keluarga untuk mengadakan kedekatan dan sosialisasi kepada pasien. Agar pasien tidak merasa sendiri, dan cenderung mengurung diri", dokter Ramli memberikan nasihat.


Stella merasa bersyukur, "Ternyata masih ada harapan untuk kesembuhan Aditya", gumamnnya dalam hati dengan penuh syukur.


"Baiklah Bu, saya akan meresepkan obat agar dikonsumsi pasien. Obat ini bisa dibilang sebagai penawar. atas racun-racun yang terlah meresap dalam darah pasien.


Mudah-mudahan obat penawar ini belum terlambat dan memang obat penawar ini sangat mahal harganya dan ini juga harus dipesan terlebih dahulu", dokter Ramli memberitahu


"Tidak apa-apa dok, saya bersedia untuk membeli obat penawar tersebut", Stella menyanggupi.


"Tetapi Semua tetap kembali kepada Sang Kuasa saja Bu, kita boleh berusaha, tetapi Tuhan yang berkehendak. Dengan doa mudah-mudahan pasien bisa sembuh sehat dan normal seperti biasanya", Dokter Ramli menyemangati Stella.


"Silahkan ibu datang dan membawa pasien untuk kontrol setiap seminggu sekali", dokter Ramli menganjurkan stella untuk rutin membawa Aditya kontrol.


"Oh iya Bu, agar pasien merasa bahagia dan saraf-saraf bisa rileks dan tidak stress. Sangat dianjurkan untuk berhubungan suami istri sesering mungkin", dokter tegas memberitahu. Stella pun mendengarkan dengan serius dan seksama dan hanya bisa manggut-manggut.


"Baiklah dokter, kami permisi dulu. terimakasih atas waktu dan informasi nya", Stella pamit dan meninggalkan ruang periksa dokter Ramli setelah menerima resep yang diberikan dokter Ramli.

__ADS_1


__ADS_2