
"Rianti, aku akan menikah. Aku ingin segera menceraikan kamu", ucap Juan santai seperti tidak ada rasa bersalah.
"Enak saja kamu, mencampakkan aku begitu saja", Rianti tidak terima.
"Karna aku merasa tidak ada gunanya menikah dengan kamu. Kemarin kamu menjebak aku, dengan alasan kalau kamu sedang hamil.
Apa...mana... sampai sekarang kamu tidak juga hamil. Kamu juga tidak becus menjadi ibu yang baik buat Aditya. Sekarang Aditya malah sakit jiwa.
Aku menikah karena ingin mendapatkan keturunan, kemana semua harta kekayaan ku ini kalau tidak untuk keturunan ku", Juan memberitahu keinginannya.
"Tapi kan kamu punya aku dan Evans. Seluruh kekayaan mu sama aku dan Evans dong", Rianti ngotot.
"Enak saja kamu. Evans bukan darah daging ku. Sudah bagus kalian masih kuberi makan. Kalau kita bercerai kamu dan Evans sudah cukup mendapatkan sebuah rumah hunian yang lumayan besar, dengan sejumlah uang kas", Juan memberitahu.
"Aku tidak terima Juan, kamu hanya memberikan sedikit saja dari harta kamu. Padahal kekayaan kamu melimpah. Ada 3 perusahaan besar. 3 Rumah mewah, kendaraan dan tanah. Masak kamu hanya memberi 1 rumah saja", Rianti tidak terima.
"Kalau kamu masih ngotot saja. Sepersenpun tidak akan kuberikan kepadamu", Juan geram. Rianti pun makin murka.
"Tunggu saja Juan, kamu akan menyesal nanti telah menyakiti aku", gumam Rianti penuh emosi.
"Segera kamu kemasi barang kamu, Besok aku akan membawa Julia datang ke rumah ini. Aku tidak mau gara-gara kamu ada disini. Julia menjadi berubah pikiran untuk menikah dengan ku.
"Adanya kamu yang keluar dari rumah ini Juan", Rianti geram dan langsung pergi ke arah kamar untuk mengambil sesuatu.
"Maksud kamu apa, coba kamu ulangi sekali lagi", Juan segera mengikuti Rianti, bingung dengan perkataan yang baru saja disebut Rianti.
"Rumah ini sudah menjadi milik aku, ini buktinya", Rianti menunjukkan surat-surat kepemilikan.
Ternyata Rianti sudah memindah namakan rumah ini dan aset yang lainnya termasuk perusaah PT Limetyb yang sedang dijabat oleh Evans. Menjadi nama Rianti dan perusahaan menjadi nama Evans.
"Jangan becanda kamu Rianti, Kamu pikir aku bodoh", Juan masih tidak percaya.
__ADS_1
"Memang kamu bodoh Juan. Kamu ingat tidak, sebulan yang lalu aku meminta kamu menandatangani surat-surat. Kertas yang kamu tanda tangani itu adalah berupa surat perjanjian.
Kalau kamu telah memindah namakan sejumlah aset kamu termasuk rumah dan perusahaan yang sedang di duduki Evans menjadi nama aku dan Evans", Juan tidak menyangka kalau Rianti sudah menipunya, "bodohnya aku tidak menyadari keserakahan Rianti selama ini", gumam Juan dalam hati
"Dari awal aku sudah menyusun siasat ini Juan Handoyo. Termasuk Aditya, Aditya jadi sakit jiwa, itu karena aku telah mencampur obat terlarang kedalam susunya, sehingga Aditya menjadi depresi, merasa ketakutan, sering murung, dan berhalusinasi.
Stella juga aku yang mengusir nya, karena aku tidak mau anak Stella menjadi pewaris dari seluruh kekayaan mu", Rianti dengan lantang mengatakan semua kejahatannya kepada Juan.
Juan tiba-tiba merasa sesak dan tersungkur di lantai tidak berdaya.
"Aku juga sedikit demi sedikit telah mencampur minuman kamu dengan obat yang mengandung zat yang membuat jantung kamu lemah dan sesak. Itu adalah salah satu cara untuk menyingkirkan kamu pelan-pelan agar aku tidak dicurigai oleh yang berwajib", Rianti memberitahu segala kejahatannya.
Juan tidak bisa apa-apa, sekarang hanya bisa pasrah. Karena surat yang dimiliki Rianti adalah sah. Jadi sebagian kekayaan Juan telah jatuh ke tangan Rianti.
Juan terduduk lemas di meja makan. Menyadari kebodohannya, tidak menyangka Aditya yang sakit jiwa adalah perbuatan dari Rianti.
Juan sangat menyesal, Aditya pun bagaimana kondisinya Juan tidak tahu, karena memang tidak pernah dijenguk oleh Juan.
"Bi Lasmi!, cepat kemari", teriak Rianti begitu keras, sehingga dengan penuh ketakutan mbok Lasmi langsung lari segera menghampiri Rianti.
"Kemasi semua pakaian Juan Handoyo, dan segera antar dia keluar. Karena aku yang berkuasa di rumah ini sekarang, cepat", mbok Lasmi masih bingung tidak percaya kalau Juan diusir dari rumah, tetapi buru-buru harus segera mengemasi semua pakaian Juan Handoyo.
"Mbok Lasmi, cepat mengemasi nya. Tidak pakai lama", mbok Lasmi buru-buru memasukkan pakaian Juan ke dalam tas sehingga lipatannya menjadi tidak rapi. Mbok Lasmi langsung datang terburu-buru dari kamar membawa sebuah tas yang berisi pakaian Juan.
"Ini Bu", mbok Lasmi menyerahkan tas itu.
"Antar keluar tas itu", teriak Rianti dan dengan kasar memaksa Juan juga keluar dari rumah.
Juan tidak bisa menolak. Juan tidak tahu harus kemana sekarang.
Rumah Juan telah diambil oleh Rianti, hanya tinggal 2 anak perusahaan. Juan juga tidak tahu, apa bisa menjalankan nya. Karena rumah dan tanah lainnya sudah dipakai untuk menjaminkan untuk mendapatkan pinjaman.
__ADS_1
Bila pihak bank tahu, kalau jaminan Juan bukan atas namanya. Pasti pihak bank akan meminta Juan untuk segera melunasi hutang-hutangnya. Pikiran Juan kacau, "Sekarang yang terpenting aku tinggal dimana?", pikir Juan kacau.
"Bagaimana kalau aku menelepon Julia, apakah Julia akan menerima aku. Setelah tahu kalau aku sudah bangkrut?", Juan merasa tidak yakin kalau Julia akan menerima dirinya.
"Tetapi tidak masalah kalau aku mencobanya dulu, mungkin saja Julia tidak sama seperti Rianti. Hanya gila hartaku saja", Juan merasa optimis.
"Baiknya aku menumpang duduk di warung itu, sembari berpikir mencari solusi", Juan menambahi. Dan terus melangkah menuju warung.
"Beruntung Rianti tidak mengambil handphone aku yang sedari tadi berada di kantong celanaku", Juan masih bersyukur.
Setelah tiba di warung Juan langsung menelepon Julia
"Halo Julia, sesuatu telah terjadi kepada diriku. Maukah kamu menjemputku di area dekat kompleks rumahku", Juan memberitahu Julia.
"Apa yang telah terjadi kepada mu?", Julia panik.
"Nanti aku beritahu kamu semua, tolong sekarang kamu menjemput aku. Kamu bersedia kan?", Juan merasa ragu.
"Baiklah kamu tunggu 30 menit, aku langsung berangkat dari rumah", Julia bersedia.
Juan bersyukur, Julia menyanggupi untuk menjemputnya. Tetapi Juan tidak berpuas dulu. "Itu karena Julia belum tahu kalau hartaku telah di kuras Rianti, Kalau aku sudah menceritakan yang sebenarnya pasti Julia akan segera meninggalkan aku", pikir Juan pasrah bila Julia nanti akan meninggalkan nya.
Sesuai dengan yang dijanjikan Julia, 30 menit kemudian Julia datang dan menghampiri Juan. Bingung dan heran melihat kondisi Juan sudah seperti gembel dengan menenteng sebuah tas besar.
"Kamu kenapa disini?, apa yang telah terjadi?", Julia langsung bertanya.
"Aku telah diusir Rianti, seluruh kekayaan ku sudah dipindah namakan oleh Rianti menjadi namanya. Aku sudah tidak punya apa-apa. Hanya 2 anak cabang perusahaan itupun pasti pihak bank akan menyuruh aku membayar hutang-hutangku segera, bila tahu jaminan pinjaman ku bukan atas namaku lagi", Juan memberitahu kondisinya kepada Julia.
"Maukah kamu menampung aku sementara di rumah kamu?", Juan memohon kepada Julia.
Sejenak Julia hanya diam saja. Tidak beberapa lama kemudian langsung menjawab. "Baiklah kamu sementara tinggal di rumahku, Ayo silahkan masuk", Julia membantu Juan masuk kedalam mobil dan mengangkat serta tas tangan Juan.
__ADS_1
"Terimakasih Julia, kamu mau menampung aku. Tadinya aku sudah berpikir kalau kamu tidak akan menerima aku, karena aku sudah tidak punya apa-apa lagi", Juan sangat bersyukur.
Julia hanya tersenyum.