Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#58. Stella menolak Rico.


__ADS_3

Anggi langsung memberitahu Aditya kalau dirinya sedang hamil.


"Sayang, aku ingin menyampaikan berita baik untuk kamu", ucap Anggi sambil merangkul pinggang Aditya dari belakang.


"Berita apa itu?", Aditya merasa penasaran.


"Aku hamil sayang, aku hamil anak kamu!", Anggi memberitahu dengan penuh semangat.


Ekspresi Aditya datar, merasa kalau dirinya tidak pernah berhubungan suami-istri dengan Anggi.


"Kamu yakin kamu sedang hamil sayang", Aditya tidak percaya.


"Yakinlah sayang, barusan dokter memeriksa tubuhku dan aku juga sudah menggunakan alat test kehamilan dan hasilnya positif. Aku benar-benar hamil sayang", Anggi menyakinkan Aditya.


"Mengapa ekspresi kamu biasa saja, harusnya ini berita bahagia untuk rumah tangga kita. Karena sebentar lagi ada tawa dan tangis bayi akan menyelimuti keluarga kita. Keluarga kita sebentar lagi menjadi keluarga yang lengkap karena telah memiliki anak", Anggi kecewa dengan ekspresi Aditya.


"Iya deh sayang, aku hanya terkejut tiba-tiba mendengar berita ini. Seperti tidak percaya, aku senang kok mendengarnya", Aditya menutupi perasaan tidak senangnya agar Anggi tidak marah.


"Sayang sebentar aku rebahan ke kamar dulu ya. Aku merasa badanku terasa lemas tidak bertenaga", Aditya langsung ke kamarnya untuk rebahan.


Di meja, Aditya langsung memperhatikan mobil remote milik Gibran yang terjatuh ketika di rumah sakit.


Aditya terus saja menatap mobil mainan tersebut. Tiba-tiba Aditya ingat, Aditya memberikan hadiah mobil-mobilan itu kepada anak kecil. Aditya memfokuskan ingatan nya terhadap sosok anak kecil tersebut. Ternyata anak kecil tersebut adalah Gibran.


Aditya merenung dan terdiam sesaat, "Gibran, adalah anakku", pikirnya dalam hati.


"Perempuan yang kulihat ketika dia di meja resepsionis adalah Stella, Stella adalah istriku", gumam Aditya sedih sekaligus bahagia ingatan nya telah pulih.


"Laki-laki bersama Stella kemarin itu adalah Rico. Teman terbaikku. Mereka sangat kompak sekali. Apakah Rico telah menjadi suami Stella sekarang?.


Mengapa Stella menduakan aku", Aditya merasa geram dan marah melihat Stella bersama dengan Rico kemarin begitu kompak dan dekat dengan Gibran. "Mereka bertiga sepertinya tampak bahagia. Padahal aku tidak ada menduakan Stella", pikir Aditya sedih.

__ADS_1


Tetapi Aditya mencoba mengingat dirinya mengapa terpisah dari Stella. Aditya mencoba mengingat lagi, tetapi sedikit pun Aditya tidak ada mengingat mengapa Aditya terpisah dengan Stella.


"Mengapa aku ada bersama perempuan lain, selain Stella?. Anggi katanya istriku. Bagaimana aku bisa menjadi istri Anggi?.


Apakah aku telah meninggalkan Stella, sehingga stella menikah dengan Rico?. Tidak mungkin, secara aku saat ini merasa tidak mencintai Anggi", Aditya menangis begitu sedih. Karena merasa diduakan Stella. Aditya tidak ingat mengapa bisa menikah dengan Anggi.


Aditya berteriak, "A..aaaaa.... " dan melempar sesuatu ke dinding karena emosi dan geram ingatan nya tidak kembali seluruh nya.


Anggi datang dengan panik mendengar suara lemparan sesuatu ke dinding dan melihat Aditya jongkok di lantai sambil memegangi kepalanya.


Anggi menghampiri Aditya sambil memeluknya. "Mengapa sayang, ada apa?. Mengapa kelihatan sedih sekali?", Anggi terus memeluk Aditya.


"Mengapa aku disini?, Mengapa aku merasa asing terhadap mu?", Aditya blak-blakkan ingin tahu tanggapan Anggi.


Anggi merasa gelagapan tidak tahu harus menjawab apa.


"Kamu disini ya. Karena kita adalah suami istri. Kamu memang tidak pernah menganggap aku istri, padahal aku telah berusaha memberikan yang terbaik kepadamu.


Setelah terjadi kecelakaan kamu menjadi cuek dan merasa asing terhadap ku", Anggi berpura-pura menangis dan sedih, Anggi berusaha membuat kebohongan agar Aditya mempercayai nya.


Aditya menjadi serba salah melihat Anggi menangis.


Lantas Aditya langsung memeluk Anggi dan meminta maaf atas sikapnya yang sudah tidak peduli terhadap Anggi.


"Maafkan aku ya, kalau aku sudah cuek dan tidak peduli kepada mu. Aku juga tidak tahu. Mengapa bisa seperti itu, ini bukan kusengaja, kuharap kamu bisa memakluminya", ucap Aditya sambil memeluk Anggi.


"Iya aku mengerti perasaan mu sayang. Aku memakluminya kok", Anggi seolah-olah pengertian.


"Benarkah, dulu kami pasangan yang serasi?. Karena kecelakaan aku menjadi cuek kepada Anggi. Bagaimana dengan Stella kapan dan mengapa aku menceraikan nya secara aku saat ini sangat cemburu dan sedih melihat dia bersama Rico", gumam Aditya tidak habis pikir.


Kepalanya pusing atas semua permasalahan yang dialaminya.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa ketemu dengan Stella dan menanyakan kebenarannya, secara alamat tinggal Stella pun tidak kuingat sedikitpun", Pikir Aditya dalam hati


Aditya pergi ke halaman belakang sejenak ingin sendiri dan merenung sambil mengambil dan membawa mobil mainan milik Gibran. Aditya terus menatapnya berharap ingatan nya kembali seluruhnya.


"Seandainya ingatanku kembali, bagaimana dengan Anggi. Secara Anggi sekarang sedang hamil anak ku, siapa yang akan kupilih?", Aditya merasa pusing.


Ya Tuhan. Hatiku terasa kosong, seandainya aku memilih Anggi. Tetapi bila aku merelakan Stella dengan Rico, hatiku terasa sakit sekali", Pandangan Aditya kosong menatap ke depan.


****


Percakapan Stella dan Rico. Setelah membawa pulang Gibran balik ke rumah, karena demam nya sudah turun.


"Stella, Aku ingin melamarmu. Maukah kamu menjadi istri ku?. Aku janji akan menganggap Gibran seperti anakku sendiri, Gibran akan mendapatkan kasih sayang seperti yang diberikan Aditya kepadanya", Rico memberanikan diri untuk melamar Stella.


Stella sungguh sangat tidak berharap momen ini, Stella berusaha untuk membuat jarak terhadap Rico, karena tidak ingin Rico ada hati kepadanya dan mengungkapkan perasaannya.


Kenyataannya Rico tetap mencurahkan isi hatinya. Stella pun mencoba mencari jawaban yang tepat agar Rico tidak tersinggung, sehingga hubungan Rico dan Gibran pun bisa baik-baik saja.


"Rico maaf, bukan aku tidak suka kepada mu. Saat ini aku ingin sendiri. Aku belum bisa membuka hatiku untuk pria lain selain Aditya", Stella dengan lembut memberikan alasan.


"Stella, sampai kapan kamu akan menunggu Aditya?. Kita tidak tahu Aditya dimana sekarang. Bahkan dia sudah matikah atau masih hidup kah. Kita tidak tahu keberadaannya. Apakah kamu akan membiarkan Gibran tumbuh tanpa ada sosok ayah di sampingnya?", Rico coba membawa-bawa Gibran sebagai alasan.


"Rico, aku tidak tahu sampai kapan harus menunggu Aditya. Yang pasti aku merasa kalau Aditya saat ini masih hidup. Tolong jangan memaksaku untuk melupakan Aditya. Biarlah seiring waktu berjalan mungkin akupun bisa melupakan nya. Kuharap kamu bisa mengerti", Stella mencurahkan isi hatinya.


"Bagaimana dengan Gibran?, apa kamu egois membiarkan dia tumbuh tanpa sosok ayah di sampingnya?", Rico melibatkan Gibran.


"Kalau kamu sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk Gibran, tidak apa-apa. Mudah-mudahan aku bisa menjadi sosok ibu yang baik dan sekaligus sosok ayah yang baik baginya. Akupun sangat berharap Gibran mengerti dan paham atas kondisi ini", stella tegas dan pasrah kalau Rico sudah tidak mau menemani Gibran lagi.


Rico sedikit kecewa atas keputusan Stella. Rico pun tidak bisa memaksakan.


"Baiklah kalau begitu Stella, aku mengerti, bahwa kamu begitu mencintai Aditya. Kuberharap penantian mu pun tidak sia-sia", Rico pamit dan segera meninggalkan Stella dan Gibran.

__ADS_1


__ADS_2