Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#41. Desi melarikan diri keluar kota


__ADS_3

Setelah Desi mendapatkan ATM dan mobil Evans. Desi merasa senang dan bahagia.


"Evans...Evans... Gampang banget kamu di tipu. Sekarang kamu tidak mempunyai apa-apa lagi. Mungkin kamu akan menjadi pemulung atau peminta-minta dijalanan. Ahhh peduli apa aku sama kamu. Yang penting aku sudah mendapatkan semuanya", gumam Desi dalam hati dengan penuh semangat dan penuh sukacita.


Desi pun langsung tancap gas melaju menuju rumahnya. Begitu sampai di rumahnya Desi langsung terburu-buru masuk ke rumah tanpa mengetuk pintu, sambil berteriak memanggil-manggil Doni.


"Bang....bang Doni...bang Doni...", teriak Desi kencang.


Doni pun langsung bangun mendengar teriakan Desi.


"Ada apa sih Des, teriak-teriak kencang banget, membangunkan tidur Abang saja", Doni sedikit kesal.


"Cepat bangun bang, kita harus buru-buru pergi dari rumah ini. Seluruh ATM dan mobil Evans sudah ada di tanganku. Kita harus segera melarikan diri, keburu Evans sadar. Kalau aku sudah menipunya.


Tadi aku berjanji akan segera menghubunginya begitu transaksinya sudah berhasil dan segera mengajaknya untuk melihat ruko tersebut", Desi memberitahu kalau dirinya sudah berhasil mengambil ATM dan mobil Evans.


"Benarkah, cepat sekali. Kamu memang ahli banget merayu!", puji Evans. Sambil mengecup kening Desi.


"Nanti saja kita mesra-mesraan. Sekarang kita kemas-kemas. Membawa barang yang perlu-perlu saja. Takut Evans akan mengejar kita. Begitu tahu kalau kita telah menipunya", Desi sambil berkemas memasukkan beberapa potong pakaian kedalam tasnya dan memilih-milih barang yang perlu -perlu saja. Donipun ikut membantu.


"Setelah mengemasi semuanya dan memasukkan kedalam mobil Evans. Merekapun langsung tancap gas melajukan mobilnya.


"Kemana kita akan pergi bang?", tanya Desi ingin tahu.


"Sementara waktu kita pergi ke luar kota. Agar Evans tidak menemukan kita", Doni memberitahu.


"Terserah mas saja. Desi nurut saja sama mas", Desi pasrah.


"Kasihan juga Evans, kemana ya nanti dia kalau uangnya sudah habis?", ucap Desi datar.

__ADS_1


"Mengapa kamu memikirkannya, kamu suka ya sama Evans?", Doni sedikit marah.


"Bukan begitu bang, kalau dipikir-pikir kasihan juga Evans, Desi sudah banyak moroti Evans. Seperti nya dia begitu cinta sama Desi, sehingga sampai percaya semua perkataan Desi", Desi merasa iba terhadap Evans.


"Ya sudah, kamu turun gih. Kembali sana sama Evans. Tetapi tinggalkan ATM dan mobil Evans sama Abang", Doni sedikit kesal.


"Nggak ahhh, kalau seperti itu. Aku kembali tanpa ATM dan mobilnya bisa-bisa aku dibunuhnya", Desi kesal.


"Tidak dong. Katakan saja kamu di rampok orang. ATM dan mobilnya semua diambil oleh rampok. Pasti Evans percaya", Doni ngotot.


"Siapa juga yang mau hidup susah. Ahh sudahlah. Pusing, mikirin hidup orang lain, Mendingan mikirin diri sendiri", Desi cuek terhadap masalah Evans.


Kring.....kring....kring ..


Desi terkejut melihat handphonenya ada panggilan masuk dari Evans, sempat Desi merasa panik. Bingung tidak tahu menjawab apa.


"Halo Evans", balas Desi dengan tenang.


"Des, bagaimana?. Kamu sudah ketemu dengan pemilik ruko?. Sudah bereskah urusan kamu?, kamu sih belum telpon sejak sejam yang lalu. Aku sangat khawatir ini!", ucap Evans sedikit gelisah.


"Oh, sebentar lagi aku sampai di ruko Vans. Ini macet banget jalannya, kebetulan ada demonstrasi sehingga sulit sekali untuk melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Nanti aku segera kabari ya, kalau sudah sampai di ruko. Udah dulu ya, repot banget berkendaranya sambil menelepon", Desi buru-buru memutuskan teleponnya.


Desi segera menarik napas lega setelah menjawab panggilan dari Evans.


"Aduh, hampir copot jantungku bang bagaimana ini?", Desi bingung, minta pendapat dari Doni.


"Nanti setengah jam lagi kamu telepon Evans. Katakan semua sudah beres, baik untuk resepsi pernikahan. Bilang saja untuk resepsi nya di gedung Benteng Agung Jl. Delima Besok acara akad nikah dan resepsi langsung digedung Benteng Agung jam 10 Pagi.


Bilang juga undangan beserta saksi semua sudah beres. Tunggu kedatangan kamu saja jangan sampai telat. Pokoknya pintar-pintar kamu deh ngomong nya. Bagaimana agar Evans tidak merasa curiga saat ini. Supaya Evans tidak bolak balik menelepon kamu", Doni menyarankan.

__ADS_1


"Baiklah nanti akan kukatakan seperti yang Abang katakan tadi", ucap Desi lega.


Setelah berlalu hampir setengah jam lebih. Desi mencoba menelepon Evans, ingin mengatakan sesuai apa yang disarankan oleh Doni.


Tut....tut. Desi menelepon Evans, baru dua kali berdering Evans langsung menjawab teleponnya.


"Halo Des, gimana!. Aku sangat gelisah menunggu kabar dari kamu", Ucap Evans.


"Iya Vans, maaf sudah membuat kamu khawatir. Tadi tidak langsung telepon kamu karena lagi sibuk banget kesana kemari. Dan Untungnya semua sudah beres. Untuk acara pernikahan kita besok serta resepsi semua diadakan di gedung Benteng Agung Jl. Delima pukul 10 pagi. Kamu jangan sampai telat. Tidak jauhkan itu dari alamat rumah kamu?", tanya Desi ingin tahu tanggapan Evans.


"Dekat sih, tetapi apa tidak mubajir uangnya pernikahan kita di selenggarakan di gedung?. Kan kita harus menghemat keuangan kita", Evans sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa sayang, ini sewanya murah kok. Discount 75%. Karena lagi promo ulang tahun atas pendirian gedung tersebut. Tidak usah khawatir!. Aku mau pernikahan kita menjadi kenangan terindah dalam hidup kita. Karna kan ini momen seumur hidup kita", Desi menyakinkan Evans.


"Syukurlah kalau begitu. Terus urusan ruko bagaimana sudah beres?", Evans penasaran terus.


"Sudah beres semua sayang. Besok setelah kita menikah. Kita sudah bisa tinggal di ruko. Kamu senang kan dengan berita ini. Pokoknya kamu besok jangan telat ya datang nya. Aku juga pasti datangnya cepat. Tidak sabar ingin segera menikah dengan kamu", Desi berusaha terus menyakinkan Evans. Sedikit pun Evans tidak merasa curiga telah ditipu oleh Desi.


"Baiklah kalau begitu aku senang mendengarnya. Akupun tidak bolak-balik lagi menelepon kamu. Sekarang gimana kamu mau datang menemui aku tidak hari ini?", Evans ingin tahu.


"Tidak usah ya sayang, kita ketemunya besok saja ya. Aku kan perlu persiapan, fisik dan lain-lain. Kamu tidak sabaran kan ingin ketemu aku?, tidak apa-apa sayang, mulai besok kita akan ketemu setiap hari kok. Kamu juga kan harus persiapan juga. Baik mental dan fisiknya", Desi terus menyakinkan Evans.


"Okelah kalau begitu sayang. Sampai ketemu besok ya. Aku tutup teleponnya", Evans pamit.


"Yes, ternyata tidak susah-susah banget membodohi Evans ini. Dia percaya banget semua perkataan aku", ucap Desi memberitahu.


"Bagus dong, agar usaha kita untuk memoroti para lelaki berhasil terus, bagus banget tipe lelaki seperti Evans ini yang jadi target kita selanjutnya", Doni sangat berharap.


"Iya-iya bang", Desi mendukung Doni. Desi pun segera menonaktifkan handphone nya "Takut kelupaan malah bisa dilacak Evans nantinya keberadaan ku, gumam Desi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2