
"Evans, Kamu kerja yang bagus dong, kemarin bagian keuangan perusahaan datang menemui mama, katanya kamu banyak sekali memakai uang perusahaan. Kalau kamu begini terus-menerus perusahaan bisa gulung tikar nanti", Rianti menasihati Evans.
"Iya ma, mama tenang saja. Lagian hartanya om Juan kan banyak yang sudah mama pindah namakan dengan nama mama", Evans menjawab seadanya, hanya bermaksud untuk menghibur Rianti saja, agar tidak mengoceh terus.
"Iya, tetapi kalau terus-terusan pengeluaran pasti habis akhirnya", Rianti mengomel.
"Pegawai di rumah ini dong ma di dikurangi, 1 saja sudah cukup. Lagian pakai saja yang lebih muda. Seperti mbok Lasmi kan sudah tua. Pecat saja mbok Lasmi, tukang kebun. Masak iya beda tukang masak, tukang cuci merangkap tukang setrika, bagian bersih-bersih rumah dan terakhir Kepala pembantu, adanya mubajir tahu ma, 1 saja sudah cukup untuk kerja di rumah ini", ucap Evans merasa pintar.
"Benar juga ya kata Evans aku memperkerjakan 1 orang pembantu saja. Mbok Lasmi, tukang kebun dan yang lainnya kupecat saja. Kan lebih hemat, aku tidak perlu lagi membayar banyak hanya untuk gaji pembantu", pikir Rianti dalam hati.
"Kamu benar, sebaiknya mama hanya mempekerjakan 1 pembantu saja. Kadang-kadang kamu cerdik juga", Rianti mendukung Evans
"Iya dong, anak mama", ucap Evans bangga.
Kring .... kring...
Handphone Evans berdering.
"Sebentar ma, ada telepon ni", Evans langsung mengangkat teleponnya dan menjauh dari Rianti takut percakapan nya kedengaran sama Rianti. Karna tahu itu telepon dari Fani pacar keduanya, yang baru saja jadian.
Fani adalah seorang mahasiswa, yang bermodalkan kecantikan dan usia yang terbilang muda untuk membuat Evans tergila-gila kepadanya. Fani pandai merayu dan membuat Evans merasa ketagihan kepadanya.
"Sayang....hari ini, kamu sudah janji akan membelikan mobil untuk aku. Kamu jangan ingkar lagi dong", ucap seorang perempuan di ujung telepon.
"Iya, tenang saja. Aku tidak akan ingkar lagi", ucap Evans seperti berbisik, karena takut kedengaran oleh Rianti. Evans pun langsung menutup teleponnya.
"Dari siapa itu, Klien ma. Hari ini akan mengajak meeting", Evans menjawab asal. Karena apabila Rianti tahu akan memberikan mobil kepada teman wanitanya, pasti Rianti akan marah besar.
"Ma, aku pergi dulu ya. Takut terlambat. Hari ini ada meeting penting di perusahaan", Evans langsung beranjak meninggalkan Rianti sendiri di meja makan.
__ADS_1
****
"Sayang bagaimana kondisi kamu?, apa sudah baikan", Aditya membangunkan Stella dari tidurnya.
Stella pun tersentak karena melihat jam di dinding kamar nya menunjukkan pukul 07:00 pagi.
"Sayang aku kesiangan. Aku tidak sempat memasak sarapan untuk kamu", Stella merasa bersalah tidak bisa memasak kan sarapan untuk Aditya.
"Tidak apa-apa sayang, Aku sudah masak sarapan pagi kita. Tidak apa-apa kan suami yang masakin untuk istri tercintanya. Lagian kamu kan masih sakit", Aditya memaklumi keadaan Stella.
"Benar kamu sudah masak sayang, aku jadi tidak enak, membiarkan kamu masak sarapan untuk kita", Stella merasa tidak enakan.
"Tidak apa-apa sayang, benaran deh. Sekarang kita makan yuk", ajak Aditya dan ingin menggendong Stella dari ranjangnya menuju meja makan.
"Sayang, malu tahu dilihat Jenni dan Joy", Aditya terus menggendong Stella tidak peduli Stella yang merasa malu. Ketika berpapasan dengan Joy dan jenny spontan langsung meledek kakaknya, "Cie...cie...yang lagi kasmaran".
"Biarin, yang penting aku ingin menunjukkan rasa sayang dan perhatian ku saja kepada istriku. Apakah itu salah?", tanya Aditya.
"Iya itu tidak salah kak, kakak tidak usah merasa tidak enakan. Kami maklum kok. Lagian kami senang kok bila melihat kalian bahagia", jennny dan Joy mendukung kemesraan yang dilakukan Aditya kepada Stella.
Tiba...tiba...telepon Aditya berdering.
"Iya halo", Aditya menjawab telepon nya.
"Adit, ini mbok lasmi. Mbok Lasmi dan tukang kebun sudah dipecat dari rumah. Mbok mau permisi sama Adit. Mbok mau pulang kampung saja", mbok Lasmi curhat di ujung telepon.
"Apa, dipecat, dengan alasan apa mbok dipecat?", Aditya ingin tahu, "apakah mbok Lasmi dituduh melakukan kejahatan?", gumamnya dalam hati.
"Kata Rianti, saya sudah tua. Sudah terlalu lambat untuk melakukan pekerjaan rumah. Lagian Rianti ingin memakai pembantu hanya 1 orang saja. Terlalu mubajir mengeluarkan banyak uang hanya untuk gaji pembantu", mbok Lasmi menceritakan alasan dipecatnya pegawai dari rumah Rianti.
__ADS_1
"Jadi mbok mau pulang kampung?", Aditya merasa kasihan, padahal di kampung mbok Lasmi tidak mempunyai sawah dan ladang. Semua gaji mbok Lasmi biasanya dikirim ke kampung untuk kebutuhan anak dan cucu-cucunya.
"Mbok nanti saya jemput deh di simpang jalan besar setelah keluar dari area kompleks. Mbok Lasmi kerja sama saya saja. Pasti Stella akan senang bila mbok tinggal di rumah kami. Kebetulan Stella lagi butuh istirahat saat ini. Stella baru saja kehilangan janinnya", Aditya memberitahu kondisi Stella.
"Kasihan Stella, mbok turut bersedih ya dit. Baiklah saya akan tunggu nak Adit di simpang jalan besar yang di depan area kompleks ya", mbok Lasmi menutup teleponnya.
"Siapa sayang yang telepon?", Stella ingin tahu.
"Mbok Lasmi dan tukang kebun dipecat dari rumah Rianti", Aditya memberitahu.
"Apa. Dipecat, dengan alasan apa?", Stella penasaran.
"Katanya mbok Lasmi sudah tua dan Rianti ingin memakai 1 pembantu saja untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Terlalu mubajir bayar mahal hanya untuk membayar gaji pembantu", ucap Aditya.
"Apa.1 orang pembantu untuk mengerjakan pekerjaan rumah di rumah sebesar itu?. Benar-benar Rianti orang yang sangat kejam, Mana sanggup mengerjakan semua", Stella merasa prihatin.
"Kita tidak usah memikirkan Rianti, sayang. Aku ingin menjemput mbok Lasmi dan menyuruh mbok Lasmi kerja sama kita saja. Tidak apa-apa kan sayang!", Aditya minta pendapat Stella.
"Tidak apa-apa sayang, aku senang ada mbok Lasmi di rumah ini. Jadi aku tidak kesepian kalau kalian pada keluar rumah untuk bekerja", Stella merasa senang.
"Maaf ya sayang aku tidak minta pendapat kamu terlebih dahulu. Karena takut mbok Lasmi keburu pulang kampung. Karena tadi mbok Lasmi bilang akan segera pulang kampung. Mbok Lasmi telepon hanya untuk berpamitan", Aditya merasa tidak enak mengambil keputusan sendiri.
"Tidak apa-apa sayang, aku setuju kok. Keputusan kamu", Stella tersenyum.
"Terimakasih sayang, kamu selalu menghargai dan menghormati aku", Aditya mengecup kening Stella.
"Iya dong, kamu kan suami aku. Sudah suatu kewajiban ku untuk menghormati dan menghargai suamiku", Stella tersenyum.
"Oh iya sayang, katanya kamu mau menjemput mbok Lasmi. Sana gih. Nanti mbok Lasmi malah bingung kamu tidak kunjung datang menjemput nya", Stella mengingatkan, Aditya pun langsung beranjak meninggalkan Stella.
__ADS_1