
"Ayah, bagaimana kalau ayah ke rumah kami sekarang. Supaya kita semakin sering kumpul bersama. Bawa juga ibu sambung Aditya, juga tidak apa-apa yah", ajak Aditya.
"Baiklah, begitu lebih baik. Agar kamu dan Stella bisa kompak dan mengenal Julia lebih dekat lagi", Juan setuju.
Mereka semua langsung berangkat menuju rumah Aditya.
Tidak beberapa lama diperjalanan. Mereka tiba di rumah Aditya.
Tok...tok...tok
"Stella.... Stella", teriak Aditya. Stella pun langsung bergegas begitu tahu ada suara ketuk pintu dan memanggil-manggil namanya.
"Ayah...", sapa Stella dan langsung mencium tangan Juan. Stella menatap wajah Julia bingung, Aditya pun langsung memperkenalkan Julia pada Stella.
"Julia, ibu sambung aku", Aditya memperkenalkan sosok Julia.
"Oh..", Stella manggut-manggut.
"Rumah kamu ni Adit?", tanya Juan ingin tahu.
"Iya ayah, Selama Aditya sakit. Rico yang menangani dan mengambil alih sementara perusahaanku. Rico menjalankan perusahaan dengan baik ayah!", Aditya menceritakan sosok Rico.
"Rico, teman SMP kamu dit, yang sering kamu datangi rumahnya kala di SMP dulu?", Juan menyakinkan Aditya.
"Iya ayah, ayah masih kenalkan?, dengan sosok Rico. Rico adalah teman dekat, sekaligus teman terbaik aku", Aditya menyakinkan Juan.
"Syukur ya dit, Rico tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang kamu berikan", Juan bahagia
"Iya ayah, Aditya selalu menganggap Rico sudah seperti saudara. Begitu juga Rico kepada Aditya", Aditya memberitahu.
"Ayah senang kamu sukses, dalam karir dan keluarga. Tidak apa-apa kan dit, di hari tua ayah. Kamu mau menjaga dan merawat ayah. Karena sekarang ayah malah tidak berambisi lagi untuk mencari harta.
Ayah ingin menikmati hidup, artinya kalau masih diberi rezeki ayah dan ibu kamu akan pergi jalan-jalan ke luar negeri atau kemana saja. Untuk melihat dunia luar dan menikmati hidup", ucap Juan penuh semangat.
"Bagus itu ayah, tenang saja ayah. Aditya dan Stella tetap akan menjaga ayah di hari tuanya", Aditya menyakinkan Juan.
"Terimakasih dit", Juan senang.
__ADS_1
"Bagaimana yah, kalau besok kita membawa bukti kejahatan Rianti ke kantor polisi. Biar yang berwajib saja yang menangani perkara ini", Aditya memberitahukan.
"Terserah kamu saja dit, ayah akan selalu mendukung kamu", Juan menyerahkan segalanya kepada Aditya. Karena Aditya lah yang paling dirugikan akibat perbuatan Rianti, bahkan sekarang telah kehilangan anak mereka.
"Baiklah ayah, kalau ayah telah setuju. mudah-mudahan besok semua lancar dan berjalan dengan baik", Aditya berdoa.
****
Menjelang siang Setelah menyerahkan segala bukti yang dimiliki, semua sudah diserahkan kepada yang berwajib. Dan yang berwajib pun telah memeriksa bukti-bukti kejahatan Rianti.
Kami semua Aditya, Stella, Juan dan Julia serta yang berwajib mendatangi kediaman rumah Rianti bermaksud untuk membongkar semua kejahatan yang dilakukan Rianti.
Kebetulan Rianti hanya sendirian di rumah bersama satu orang pegawainya.
Tet.,....bel rumah berbunyi.
Kebetulan pegawainya sedang sibuk, akhir nya Rianti yang membuka kan pintu. Rianti pikir Evans yang datang.
Rianti membuka kan pintu.
Krek....
"Ibu Rianti, ibu Rianti kami ingin membawa ibu ke kantor guna mendapatkan pemeriksaan. Atas dugaan penipuan, percobaan pembunuhan terhadap saudara Aditya.
Karena ibu telah memasukkan obat-obatan terlarang, agar Aditya depresi dan berkemungkinan bisa mengakibatkan kematian apabila di
konsumsi secara terus menerus", aparat memberitahu sambil menyerahkan surat penangkapan.
"Tidak, bukan saya pelakunya. Dokter Ramli yang melakukan semua itu", Rianti mencoba berkilah, melempar kesalahan kepada orang lain.
"Sudah, menyerah dan mengaku saja. Maka hukuman kamu akan di kurangi. Tidak ada gunanya kau menolak. Karena kami sudah mempunyai bukti yang sangat kuat", aparat memberitahu dengan tegas.
"Mana buktinya", Rianti merasa dirinya tidak bersalah.
"Kami sudah mempunyai bukti cctv berupa rekaman Vidio dan rekaman audio dari cctv rumah yang ibu tempati ini", aparat dengan lantang memberitahu.
"Dari mana kalian mendapatkan rekaman cctv, berarti kalian telah masuk ke rumah ku dengan tanpa seizin ku, akan kutuntut juga kalian dengan masuk secara tidak izin dari yang punya rumah", Rianti mencoba melempar kesalahan kepada orang lain dan merasa menang.
__ADS_1
"Rumahmu kamu pulang!, Ini rumah ayahku. Kamu telah menipu ayah dan melakukan segala cara agar ayah mau menandatangani sebuah berkas, dan ternyata kamu telah memindah namakan kepemilikan rumah ini secara paksa", Aditya memberitahu.
"Kenyataannya rumah ini sudah menjadi milik ku, itu tidak bisa dibantah lagi", Rianti ngotot.
"Baiklah Rianti seperti nya kamu memang tidak mau kalah, sombong dan serakah. Tetapi sekarang kamu harus membayar atas segala perbuatan jahat mu.
Kami tidak akan menuntut mengenai penipuan atas pemindahan nama kepemilikan seluruh aset ayah. Tetapi kami akan menuntut kamu karena kamu telah memasukkan obat terlarang kepada minuman Aditya.
Kamu bisa dibilang pengedar obat terlarang. Dan percobaan pembunuhan. Kamu akan di jatuhi hukuman sedikit, sedikitnya adalah hukuman mati", Aditya merasa kesal dengan Rianti yang tidak mau mengakui kesalahannya.
Mengetahui kalau Rianti akan dijatuhi hukuman mati,
Rianti merasa ketakutan dan tidak bisa lagi membela diri.
Rianti pun buru-buru bersimpuh di kaki Juan dan Aditya secara bergantian.
"Maafkan aku Aditya, maafkan ibu nak. Ibu khilaf, ibu tidak mau dihukum mati. Tolong cabut laporan kamu. Ibu minta maaf. Ibu salah dan menyesal", tangis Rianti sambil menundukkan wajah nya terus sambil bersimpuh dikaki Aditya.
"Maafkan ibu juga Stella, kamu tolong bujuk Aditya agar mencabut laporannya. Saya tahu kamu perempuan baik-baik. Dan kalau kamu membujuk Aditya, pasti Aditya akan menuruti perkataan mu. Tolong Stella kasihani ibu", Rianti pun secara bergantian bersimpuh dikaki Stella, buru-buru Stella langsung menghindar, tidak mau mengampuni Rianti.
"Ibu tahu tidak, akibat penderitaan dan tekanan yang saya alami. Saya menjadi keguguran. Kami telah kehilangan anak kami", apa ibu mengerti bagaimana sakitnya aku ketika ibu jadikan seperti budak di rumah ini, mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Ibu pasti tidak tahu rasanya, makanya tidak ada sedikit belas kasihan di hati ibu.
"Oh iya, saya sudah lama mengampuni ibu. Tetapi hukum adalah hukum. Hukum tetap berjalan. Kami ingin ibu tobat, dan menyadari kesalahan ibu. Dan apabila ibu telah menyadarinya, niscaya kedepannya ibu pasti akan berubah", Stella menambahi.
"Juan, sayang aku minta maaf. Aku telah ditipu oleh dokter Ramli. Dokter Ramli telah memoroti aku, sehingga seluruh kekayaan yang telah kuambil dari kamu, semua sudah habis. Hanya tersisa rumah ini saja. Itupun Evans sudah menjaminkan untuk membayar gaji pegawai.
Evans telah menghambur-hamburkan uang perusahaan untuk bermain-main dengan banyak wanita. Evans begitu royal, sering memberikan hadiah kepada perempuan lain. Tolong maafkan aku ya sayang", Rianti terus memohon-mohon kepada Juan agar diampuni kesalahannya.
"Itulah buktinya, kalau semua didapatkan dengan mudah atau dengan jalan yang tidak halal. Maka hilangnya pun akan mudah pula. Kamu telah mendapatkan karma dari hasil perbuatan mu Rianti. Dan kamu harus menerimanya. Kamu terlalu serakah, akibat keserakahan mu, kamu tega berbuat kejahatan.
Tanpa peduli perasaan orang, dan nasib orang. Tega kamu memberikan obat kepada Aditya dan saya. Nyawa saya dan nyawa Aditya terancam. Tetapi kamu tidak peduli. Benar-benar kamu telah dibutakan oleh harta. Sekarang harta sudah hilang, dan kamu mendekam di penjara.
Dihari tua mu, harusnya kamu bersenang-senang. Kenyataannya hidup kamu menderita. Mudah-mudahan kamu di penjara tobat. Agar hidup kamu tidak sia-sia. Berbuat baiklah selagi kamu diberi kesempatan sebelum akhirnya nyawa mu di ambil Sang Kuasa", Juan menasihati.
"Ayo Bu, ikut kami ke kantor polisi. Ibu akan segera mendapatkan pengacara dan silahkan berkomentar dan memberi pembelaan kepada pengacara ibu", aparat memberitahu dan segera membawa Rianti ke kantor polisi.
Rianti hanya bisa pasrah dan menangis.
__ADS_1
"Evans, tolong ibu nak keluarkan ibu dari penjara", teriak Rianti mohon-mohon. Padahal Evans sedang tidak di rumah.