
Percakapan antara suami Desi dan Desi di rumah ketika menjelang tidur malam.
"Bang, bagaimana ini. Evans mengajakku untuk menikah dalam waktu dekat ini", Desi memberitahu suaminya, Doni.
"Apa menikah!, Terus kamu setuju dan mau menikah dengannya?", Doni sedikit emosi.
"Iya nggak dong sayang, mana mau aku. Lagian Evans itu sudah miskin sekarang. Dia ingin aku menikah dengannya agar bisa merawatnya, memasak untuk nya, dan membentuk keluarga. Pastinya untuk mempunyai anak", Desi memberitahu.
"Benar Evans sudah tidak mempunyai apa-apa lagi?, terus kamu mau memoroti siapa lagi?, untuk biaya hidup kita", Doni merasa penasaran.
"Belum bangkrut amat, tersisa uang tabungan dan mobil yang sekarang dikendarai Evans. Maksud Evans sisa uang tabungan digunakan untuk biaya nikah yang sederhana, menyewa rumah, dan kebutuhan hidup. Mobil dipakai untuk jasa rental mobil", Desi memberitahu kondisi Evans.
"Oh begitu. Supaya kita mendapatkan uang tabungannya dan mobil. Kamu bujuk Evans supaya memberikannya kepada mu", Doni memberitahu siasat licik nya untuk menguras seluruh harta Evans.
"Maksudnya gimana sayang, Desi belum paham", Desi tidak mengetahui siasat Doni.
"Begini loh Des, kamu bilang sama Evans agar kamu yang urus, mengenai resepsi pernikahan, uang kontrakan, dan untuk biaya hidup. Kamu bujuk Evans agar uang itu diberikan kepada mu.
Sekalian kamu bujuk Evans untuk menjual mobilnya, dan hasil penjualan kamu yang pegang. Kamu bilang saja, kalau kamu sudah membayar untuk sewa gedung, dan sedang membeli mesin cuci beberapa unit untuk usaha laundry pakaian.
Besok di hari pernikahan kalian, aku akan membawa lari kamu, kamu tidak akan muncul di pernikahan kalian. Disitulah Evans sadar kalau kamu telah meninggalkan dia. Kita sementara waktu tinggal di luar kota menghindari Evans", Doni mengajari Desi untuk melakukan apa yang diperintahkan Doni.
"Ide kamu sangat luar biasa, aku senang mendengarnya. Seperti nya tidak susah-susah banget untuk membujuk Evans", Desi merasa yakin.
"Iya benar, kamu kan sangat ahli untuk membujuk dan merayu laki-laki", Doni memuji Desi.
"Iya dong, siapa dulu dong istrinya Doni gitu loh", ucap Desi bangga.
"Bila perlu kamu sampai pura-pura ngambek, mengancam dia dengan mengatakan tidak mau menikah dengannya bila Evans tidak mau memberikan uang tabungannya dan uang hasil penjualan dari mobilnya", Doni menambahi.
"Beres bang, gampang itu. Kalau perihal membujuk dan merayu itu Desi ahlinya", Desi cengingisan.
"Baiklah, abang tidak meragukan kemampuan kamu itu memang", Doni memuji.
"Oh iya sekarang kita rayakan untuk kemenangan kita nanti. Lagian kamu juga kayaknya lebih sering berhubungan suami-istri dengan Evans. Aku tidak bisa dan sangat cemburu membayangkan kamu dengan Evans. Sekarang giliran ku ya", tanya Doni sedikit marah.
Desi pun tidak mau suaminya marah, dan memang karena Desi sudah terlalu sering menggoda dan memoroti pria lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Agaknya Desi pun seperti ketagihan dan semakin ingin melakukannya. Takut suaminya marah, Desi langsung cepat meladeni suaminya. Malam itu menjadi milik mereka berdua.
Ketika Desi masih remaja, Ayah tiri Desi telah menjual Desi ke pelacuran. Doni datang untuk dan mengeluarkan Desi dari pelacuran. Itulah sebabnya Desi sangat patuh dan tidak mau meninggalkan Doni. Doni sekarang seorang pengangguran, di PHK karena pengurangan karyawan di tempat kerjanya.
__ADS_1
Karena tidak ada pilihan lain Akhirnya Desi berprofesi sebagai wanita penggoda. Menggoda laki-laki untuk diporoti. Desi selalu mencari targetnya di cafe-cafe, Desi berpura-pura terjatuh didepan target nya.
Mengajak bicara, berpura-pura baik dan perhatian. Penampilan Desi memang cantik dan menggoda, itu memang wajib dilakukan Desi untuk terlihat cantik, agar targetnya merasa tertarik dengannya.
Desi terus memoroti targetnya, hingga sampai bangkrut. Dan bila sudah bangkrut Desi akan meninggalkan target nya. Seperti yang dilakukannya pada Evans.
****
Mengingat janjinya dengan Evans, untuk ketemu di taman.
Dengan malas Desi memaksakan diri untuk bangun.
Desi pun buru-buru mandi dan mempersiapkan penampilannya agar terlihat cantik.
Beruntung Desi telah memasang alarm agar tidak telat bangun. Hampir saja Desi telat bangun, seandainya tidak memasang alarmnya.
"Bang, aku pergi dulu ya", Desi pamit kepada Doni yang masih tergeletak ditempat tidurnya.
"Kemana kamu?", Dengan malas Doni menjawab sahutan Desi.
"Mau ketemu Evans lah bang, kami sudah janjian untuk ketemu di taman hari ini, untuk membahas pernikahan kami", Desi memberitahu.
"Siip pasti bang", ucap Desi mantap, sambil berlalu meninggalkan Doni di kamar dan segera berangkat menemui Evans.
Cepat-cepat Desi berangkat, Desi tidak mau telat, karena kalau telat Evans pasti akan marah kepadanya. Desi tidak mau mood Evans hilang, sehingga rencananya pun akan gagal total.
Desi memilih untuk naik kendaraan roda empat yang di pesan melalui via aplikasi. Desi tidak mau penampilannya terlihat berantakan atau acak-acakan bila naik ojek atau angkutan umum.
Tidak beberapa lama Desi pun tiba ditempat yang telah di sepakatinya dengan Evans.
Evans belum datang, Desi pun bermaksud menunggu dan duduk disalah satu kursi yang tersedia di taman.
Tidak berselang lama setelah kedatangan Desi. Evans pun langsung nongol dan segera menghampiri Desi.
"Sudah lama sayang nunggunya?", maaf ya aku telat, tadi sedikit macet ketika di lampu merah dekat sini.
"Tidak terlalu lama sayang, tidak apa-apa kok. Santai saja", Desi terlihat manis agar bisa membujuk Evans nantinya.
"Kamu memang wanita idaman aku, walaupun kamu telah sampai terlebih dahulu dan telah menunggu. Kamu selalu sabar dan tidak mau marah", Evans memuji Desi.
__ADS_1
"Iya dong, aku kan wanita yang pengertian. Aku tahu kamu pasti tidak sengaja lama datangnya, dan pastinya masalah itu selalu ada. Dan aku sangat mengerti itu", Desi bicara seolah-olah seperti wanita pengertian.
"Itulah mengapa aku begitu mencintaimu sayang", Evans memegang erat tangan Desi.
"Oh iya sayang, bagaimana!. Kamu mau kan menikah dengan aku?", tanya Evans ingin tahu.
"Iya sayang, aku mau menikah dengan kamu. Tetapi resepsi, nyari kontrakan, dan biaya hidup kita nanti aku yang urus iya", ucap Desi tegas.
" Mengapa sayang, aku saja yang mengurusnya. Takut kamu kelelahan nanti", Evans menolak keinginan Desi
"Tidak apa-apa sayang, aku ikhlas kok mengurus nya. Lagian aku nanti bakalan istri kamu, aku dong yang mengolah keuangan", Desi ngotot.
"Tapi kan sayang, aku takut kamu boros dan menghambur-hamburkan uang. Padahal aku tidak punya harta lagi. Apa yang tersisa harus digunakan sehemat mungkin", Evans memberitahu alasannya.
'Ya sudah, kamu tidak usah menikah sama aku. Kalau kamu tidak mempercayaiku", Desi berpura-pura ngambek.
"Iya, iya sayang, jangan marah seperti itu dong. Iya ini aku kasih semua uang tabungan aku. Kamu janji ya jangan boros menggunakan nya. Kamu tahu sendiri kan aku tidak punya apa-apa lagi selain itu", Evans setuju memberi tabungannya kepada Desi. Evans menyerahkan ATM nya.
"Oh iya sayang, sekalian saja mobil kamu dijual saja. Ada temanku menawarkan usaha laundry nya. Katanya dia mau pindah ke luar kota. Nanti kita saja yang mengolah usaha laundry untuk biaya hidup kita. Bagaimana sayang", Desi terus membujuk Evans agar masuk perangkapnya.
"Kita harus cepat sayang, jangan sampai keburu orang lain yang mengambilnya. Karena menurut ku ini sudah murah. Ada 3 mesin cuci dan plus mengeringkan. Serta Ruko 2 lantai. Hanya ditawari 300 juta.
Mobil kamu laku kan kalau dijual dengan harga segitu. Sekalian ruko itu nanti menjadi tempat tinggal kita saja", Desi memberi tahu fasilitas nya, Evans pun merasa beruntung. Langsung menyetujui Desi.
"Ya sudah sayang, aku setuju ide kamu. Iya mobil aku bisa laku 300 juta", Evans tidak berpikir panjang.
"Mobilnya sekalian aku saja yang jual, ada teman aku yang lagi nyari mobil bekas dengan harga segitu. Atau kamu sudah ada pembelinya?", Desi mencoba bertanya kepada Evans agar Evans tidak menaruh curiga.
"Tidak ada sayang, ya sudah kamu saja deh yang menjual mobilnya. Ini perlengkapan surat-surat nya", Evans menyerahkan surat dan seluruh perlengkapan nya.
"Ya sudah aku pergi dulu ya sayang, soalnya yang mau beli mobil ini dan untuk pembelian ruko tempat usaha itu orangnya lagi buru-buru ingin cepat selesai urusannya, karena mau pindah keluar kota. Lagian siapa cepat dia dapat, siapa yang duluan bayar, berarti dia yang berhak. Jadi kita harus lebih cepat bertindak", Desi ingin cepat meninggalkan Evans.
"Apa tidak sebaiknya aku ikut menemani kamu sayang?", Evans menawarkan diri.
"Jangan sayang. Aku takut dia jadi berubah pikiran. Karena pemilik ruko itu, adalah mantan aku dulunya, dia memberinya karena aku mantannya. Nanti malah berubah pikiran dia nya", Desi menolak.
"Tidak apa-apa ya sayang aku saja yang transaksi dengan nya. Nanti setelah selesai aku langsung kabari kamu kok", Desi membujuk Evans agar tidak ikut dengannya.
"Ya sudah deh, janji ya. Kamu harus segera mengabari aku", Evans percaya kepada Desi, sedikit pun tidak menaruh curiga. Desi pun hanya manggut-manggut dan segera meninggalkan Evans.
__ADS_1