
Kini Gibran sudah berusia 6 bulan. Aditya dan Stella mengasuhnya dengan sangat telaten. Gibran tidak kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya begitu juga kasih sayang dari kakek dan neneknya.
Sekarang Gibran sudah bisa mengangkat kepalanya dan sesekali dilatih untuk duduk. Setiap pagi Stella dengan dibantu oleh mbok Lasmi membawa Gibran keluar rumah sekedar untuk berjemur untuk mendapatkan sinar matahari. Sinar matahari sangat baik untuk bayi. Baik untuk pertumbuhan tulang dan ketahanan tubuhnya.
Kebetulan suasana sangat cerah dan tidak terlalu panas.
Stella membawa Gibran dengan baby stroller nya. Ketika Stella dan Gibran sedang berada di luar, tiba-tiba handphone Stella berdering kencang. Ternyata Handphone nya berada di dalam ruang tamu.
Bermaksud untuk mengambil sebentar handphonenya nya Stella meninggalkan Gibran di luar di dalam baby stroller nya. Stella melihat sekeliling tidak ada siapa-siapa. Stella pun berani untuk meninggalkan Gibran seorang diri di luar.
Begitu Stella mengambil handphone nya dan handphone nya masih berdering, melihat panggilan dari Aditya. Stella langsung menjawab panggilan masuk dari Aditya.
"Iya sayang, ada apa", tanya Stella penasaran. Karena tidak biasanya Aditya menelepon pada jam segini. Karena baru sejam yang lalu Aditya meninggalkan rumah.
"Sayang, aku ingin memberitahu kalau ayah sedang di rawat di rumah sakit. Tadi ibu tiba-tiba menelepon dan memberitahu kabar ini. Ayah dibawa ke rumah sakit karena
asam lambungnya tinggi, ayah seperti merasa sesak dan sulit bernapas.
Jadi ayah langsung dibawa ibu kerumah sakit. Kamu siap-siapan ya. Kamu dan Gibran aku jemput ke rumah agar kita bisa bersama-sama menjenguk ayah di rumah sakit", Aditya memberitahu Stella.
"Gibran", Stella sadar kalau ia sedang meninggalkan Gibran di luar di dalam baby stroller nya.
Stella pun langsung berlari keluar mendapatkan Gibran. Stella lega baby stroller masih ada. Dan bermaksud untuk menggendong Gibran. Ternyata Gibran sudah tidak ada di dalam baby stroller nya.
"Gibran, kamu dimana sayang?", Stella lansung panik dan berteriak.
"Sayang, Gibran tidak ada dalam baby stroller nya", Stella memberitahu Aditya, kebetulan handphone yang di tangan nya belum di tutup.
__ADS_1
"Apa maksud kamu Gibran tidak ada", Aditya pun terkejut dan bingung.
"Cepat kamu matikan handphone nya. Mungkin malingnya belum jauh dari rumah. Segera beritahu satpam untuk memeriksa pintu masuk dan pintu keluar apabila ada orang yang mencurigakan. Aku akan segera pulang", Aditya memberitahu Stella dengan tegas. Dan langsung tancap gas menuju kediamannya.
Stella pun langsung menelepon bagian sekuriti kompleks, dan memang nomor kontaknya nya sudah ada di simpan di dalam handphone Stella.
"Pak, tolong periksa pintu masuk dan pintu keluar apabila ada orang asing yang masuk ke dalam komplek. Kami baru saja kehilangan anak kami Gibran", Stella memberitahu dengan jelas dan tegas.
"Baik Bu", ucap satpam Edy mantap.
Stella terus menangis dan terus mencari ke sekekitar rumahnya dengan berlari sambil berteriak memanggil nama Gibran. Stella merasa mungkin pencuri nya belum jauh membawa Gibran pergi.
Tetapi Stella tetap tidak menemukan Gibran. Tidak ada warga yang bisa ditanyai. Karena rumah Stella dan Aditya berada dalam kompleks. Rata-rata warganya sudah pada pergi kerja dan seluruh aktivitas juga dilakukan di dalam rumah.
Stella teringat cctv rumah. Kebetulan cctv ada di pasang 2 buah pada bagian depan. Dalam tanyangan cctv Stella memperhatikan dengan cermat. Ada perempuan masuk ke halaman depan dan langsung mengambil Gibran dari dalam stroller nya.
Wanita itu langsung menghampiri baby stroller nya Gibran, dan langsung mengambil Gibran dari baby stroller nya. "Seperti nya perempuan ini mengalami gangguan jiwa", gumam Stella dalam hati.
Perempuan yang mengalami gangguan jiwa tersebut terus saja berucap "Bayi nya harus di ambil, agar hartanya tidak jatuh ke tangan Aditya", wanita penderita gangguan jiwa tersebut terus mengulang-ulang perkataan tersebut.
"Mengapa wanita penderita gangguan jiwa itu menyebut nama Aditya, apakah dia mengenal Aditya?", Stella bingung dan penasaran siapa wanita tersebut.
"Oh iya, apa wanita ini adalah Rianti?", Stella ingat kalau Juan, ayah mertuanya pernah mengatakan kalau dia bertemu Rianti di persimpangan lampu merah dalam kondisi sedang menderita sakit jiwa.
Tidak beberapa lama Aditya tiba di rumah.
"Sayang gimana bisa terjadi, kalau Gibran luput dari pandangan mu?", Aditya bertanya ingin tahu.
__ADS_1
"Sayang tadi handphone aku berdering tiba-tiba dan segera menjawab panggilan masuk kamu aku pikir itu adalah penting. Mengingat kamu baru sejam keluar dari rumah. Aku kebetulan sedang membawa Gibran keluar untuk berjemur untuk mendapatkan sinar matahari.
Karena handphone aku berada di ruang tamu, aku segera menjawab telepon mu dan meninggalkan Gibran di luar di dalam baby stroller nya.
Kupikir aman, karena memang keadaan saat itu sepi dan tidak ada orang. Tiba-tiba aku teringat Gibran dan bermaksud ingin menggendong nya, tetapi Gibran sudah tidak ada dalam baby stroller nya", Stella menceritakan kronologi menghilangnya Gibran.
"Gimana, apa kamu sudah menanyakan satpam Edy?. Apakah ada orang asing yang telah masuk ke dalam kompleks kita tadi?", tanya Stella kepada Aditya dengan tidak sabar.
"Satpam Edy mengatakan kalau tidak ada orang asing yang masuk ke kompleks", Aditya memberitahu.
"Bagaimana satpam tidak memperhatikan siapa saja orang yang masuk ke dalam kompleks. Padahal melalui tanyangan cctv aku melihat ada wanita penderita gangguan jiwa yang masuk ke halaman depan, dan dia telah mencuri Gibran kita", Stella sedikit emosi dan marah atas kelalaian satpam.
Aditya pun langsung melihat kembali tanyangan cctv yang baru saja dibilang Stella karena merasa penasaran, bahwa pelaku yang mencuri Gibran adalah wanita penderita gangguan jiwa.
"Sayang kamu dengar deh, wanita itu mengatakan apa!, sepertinya nya di terus menyebut, 'Bayinya harus kuambil, agar hartanya tidak jatuh ke tangan Aditya', Stella menyuruh Aditya agar fokus terhadap ucapan wanita yang telah mencuri Gibran.
"Apa mungkin wanita yang menculik Gibran ini adalah Rianti?, bukankah kemarin ayah mengatakan kalau mereka bertemu Rianti di persimpangan lampu merah dengan kondisi sakit jiwa?", ucap Stella menebak.
"Mungkin bisa saja. Tetapi kita pun harus mempunyai bukti yang kuat. Aku sedikit kesal kepada satpam kita yang sudah lalai. Membiarkan wanita penderita sakit jiwa masuk kedalam kompleks", Aditya sangat geram atas kelalaian satpam kompleks.
"Ayo kita beritahu warga dan satpam kompleks agar mereka bisa mencari keberadaan wanita Penderita gangguan jiwa tersebut. Mungkin keberadaan wanita tersebut belum jauh dari kompleks", ajak Aditya langsung pergi menuju posko satpam.
Stella terus menangis "Gibran sayang, kamu dimana nak. Bagaimana kamu nanti makannya, minumnya", Stella merasa sedih mengingat Gibran diculik oleh penderita gangguan jiwa.
"Aku takut kamu malah dibuang ke tong sampah, atau ke sungai", Stella berpikir yang tidak-tidak dan terus menangis.
"Sayang kamu harus banyak berdoa, mudah-mudahan Gibran segera kita temukan. Dan pencuri itu belum jauh keberadaan dari kompleks ini. Aku sangat berharap ada warga yang melihat wanita penderita gangguan jiwa itu membawa anak kita. Dan segera mencegatnya", Aditya coba menyemangati Stella yang terus menerus menangis.
__ADS_1