
Aditya menjadi sakit jiwa dan sekarang sedang sedang perawatan dirumah sakit jiwa. Aditya sakit jiwa akibat dari kebohongan Rianti yang mengatakan kalau Stella telah pergi dari rumah atas kemauan sendiri.
Bahwa ada laki-laki lain yang telah menjemput Stella, Stella lebih memilih tinggal bersama laki-laki itu daripada Aditya.
Aditya merasa frustasi merasa kalau Stella telah membohongi cinta suci Aditya. semua kebohongan itu dilakukan Rianti agar melancarkan rencana Rianti yang ingin membuat Aditya sakit jiwa,
Rianti telah memberikan ramuan berupa obat yang menyebabkan Aditya merasa ketakutan dan berhalusinasi, ramuan obat itu juga memicu agar jantung berdebar-debar.
Akhirnya Rianti ngotot memaksa Juan untuk memasukkan Aditya ke rumah sakit jiwa. Dokter yang ada di rumah sakit jiwa merupakan dokter bayaran Rianti. Agar Aditya terus diberikan obat itu, sehingga Aditya terus sakit dan tidak kunjung sembuh.
Dilain sisi Stella berharap Aditya datang mengklarifikasi penyebab Stella keluar dari rumah. Tetapi hingga sebulan berlalu Aditya tidak kunjung datang menemui Stella.
Stella menjadi putus asa, pasrah karena tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, pikirannya berkecamuk.
"Apa Aditya percaya apa yang telah di katakan oleh Rianti mengenai dirinya?. Bagaimana kalau Juan telah mengetahui kalau Stella adalah mantan wanita kupu-kupu malam dan itu diketahui dari Rianti, sehingga Juan melarang Aditya untuk berhubungan lagi dengan Stella?.
Atau memang selama ini Aditya telah berbohong mengatakan cinta padahal tidak mencintai Stella, setelah mendapatkan perempuan yang terbaik di luar sana?". Semua pertanyaan itu berkecamuk di pikiran Stella, sehingga Stella tidak tahu apa yang akan diperbuatnya. Kini Stella hanya bisa pasrah.
"Mungkin Aditya tidak menginginkan aku lagi, buktinya Aditya tidak datang untuk mengklarifikasi apa yang menyebabkan aku keluar rumah", gumam Stella menambahi.
"Kak, pergilah bertanya kepada tetangga atau satpam komplek. Tanyakan keberadaan Aditya, atau tinggalkan pesan kepada satpam komplek kalau kakak ingin berbicara kepada Aditya.
Daripada kakak penasaran dan berprasangka yang tidak-tidak. Itu juga akan membuat kakak semakin tersiksa, dan sakit memikirkan Aditya", Jenni memberikan solusi.
"Kakak takut Jen, bagaimana kalau seandainya Aditya telah mempunyai pasangan hidup yang baru. Dan lebih memilih pasangan baru tersebut. Kakak tidak berani menerima kenyataan itu, kakak akan merasa sakit hati bila mengetahui semua itu", ucap Stella sedih.
"Kakak tidak apa-apa kalau memang begitu kenyataannya, setidaknya kakak sudah tahu kebenarannya. Sekarang tinggal kakak mentoleransi diri kakak saja agar kuat dan pasrah menerima apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Daripada kenyataannya Rianti telah menjelek-jelekkan kakak terhadap Aditya, mengatakan kakak telah pergi dengan pria lain dan lebih memilih pria lain itu daripada Aditya. Dan Aditya mempercayai itu semua.
Kakak pasti tidak terima kan, harusnya kakak harus mengatakan yang sebenarnya kepada Aditya. Dan Aditya bisa memilih mana yang harusnya dipercayainya", Jenni menasihati Stella.
"Menurut ku itu lebih baik kak, daripada kakak harus pasrah menunggu dan merasa penasaran terus. Agar tidak ada penyesalan di kemudian hari", Jenni menambahi.
Stella hanya diam saja tidak berkata apa-apa.
"Kakak takut kalau kakak pergi ke rumah Aditya dan bertemu dengan Rianti, nanti malah kakak di tuduh maling atau yang tidak-tidak. Dan malah melaporkan kakak ke kantor polisi. Kakak takut, Jen", Stella memberitahu ketakutannya.
"Begini saja, kakak pergi lah menghadap satpam komplek rumah Aditya. Satpam komplek kan berposko di depan gerbang. jenny pikir pasti Rianti tidak akan mengetahuinya", Jenni memberikan solusi.
"Iya juga ya, bagaimana pun kenyataannya. Aku harus tahu dan pasrah. Daripada penasaran terus dan malah menjadi beban pikiran. Apa salahnya aku mencoba saran Jenni", pikir Stella dalam hati.
"Baiklah Jen. Ada baiknya memang aku mencoba saran kamu. Besok kakak akan memberanikan diri pergi dan bertanya kepada satpam komplek di rumah Aditya", Stella memberitahu rencananya.
"Amin. Semoga besok kakak bisa mendapatkan informasi dari satpam kompleks", Stella berharap.
****
Keesokan harinya Stella pun mendatangi posko satpam kompleks. Stella mendatangi satpam komplek setelah yakin jam keberangkatan Juan atau Aditya setiap paginya.
"Selamat pagi Pak!, Bolehkah saya minta tolong pak?", Stella menyapa satpam Edy.
"Ehh Bu Stella kan, sudah lama tidak datang setelah kemarin pergi dari rumah. Apa yang bisa saya bantu Bu?", satpam Edy mengingatkan.
"Eh iya pak, ternyata bapak masih ingat saya. Saya mau tanya mengenai pak Aditya, apa sudah datang dari luar kota?", tanya Stella ketakutan, melihat kesekeliling jangan-jangan ada Rianti yang kebetulan lewat.
__ADS_1
"Pak Aditya dari luar kota?, maksud nya gimana Bu?, satpam Edy bingung. Karena setahunya Aditya sedang di bawa ke rumah sakit jiwa.
"Begini pak, kemarin waktu bapak antar saya. Aditya sedang tidak di rumah. Saya diusir Bu Rianti dari rumah. Saya tidak tahu harus kemana lagi, saya tidak bisa menghubungi Aditya karena handphone saya di ambil oleh ibu Rianti", Stella jujur mengenai kondisinya saat itu.
"Pak Aditya setelah ibu pergi dari rumah kalau tidak salah 3 hari kemudian datang ke rumah. Dan tidak tahu gara-gara apa jelasnya. Sebulan kemudian mobil ambulance dari rumah sakit jiwa datang ke komplek ini.
Kami para satpam sempat bingung mobil ambulance itu tujuannya kemana?, kami pun bertanya kepada sopirnya mau kemana tujuannya. Mereka menuju rumah Aditya. Dan ternyata yang dibawa ke rumah sakit jiwa adalah pak Aditya, Bu", satpam Edy memberitahu kondisi Aditya.
"Apa, Aditya sakit jiwa, pak. Apa bapak tidak salah?", Stella terkejut dan tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya.
"Tadinya kami juga tidak percaya Bu, ternyata gosip-gosip para tetangga akhirnya kami ketahui, bahwa benar pak Aditya menjadi sakit jiwa, Bu.
Kabarnya pak Aditya sering teriak, marah-marah. Ibu Rianti takut kalau suatu waktu Aditya akan mengamuk dan mencederai seluruh orang yang ada di rumah.
Akhirnya Aditya di anjurkan untuk di masukkan ke rumah sakit jiwa. Saya tidak menyangka Bu, pak Aditya jadi sakit jiwa, padahal pak Aditya orangnya baik, ramah dan perhatian", satpam Edy merasa iba atas kondisi Aditya.
Stella terkejut dan shock mendengar kabar Aditya, hampir tubuh kecilnya tersungkur ke tanah. Stella mencoba tegar dan bertanya lebih lanjut dan menyakinkan dirinya kalau satpam Edy salah orang.
"Pak, benar bapak tidak salah orang. Benar itu Aditya anaknya pak Juan Handoyo, yang bapak cerita kan?", tanya Stella merasa tidak yakin.
"Benar Bu, Aditya anaknya pak Juan Handoyo yang tinggal di blok M-20", satpam Edy mempertegas menyakinkan Stella.
Stella tidak dapat lagi membendung air matanya, air matanya seketika jatuh membasahi pipinya. Terkejut dan tidak menyangka apa yang telah terjadi pada suaminya.
"Pantesan Aditya tidak datang mengunjungi ku ternyata Aditya sakit. Apakah yang menyebabkan Aditya jadi sakit jiwa?, Apakah Aditya terpukul atas kepergian ku?, Apa sebenarnya yang telah dikatakan Rianti kepada Aditya sehingga Aditya menjadi sakit jiwa?", gumam Stella tidak percaya dan tidak menyangka Aditya akan seperti itu.
Stella merasa sakit dan tidak berdaya, bagaimana pun Aditya masih suaminya. Stella merasa kasihan dan ingin sekali melihat Aditya. "Seterpukul itu kah dirinya, sehingga menjadi sakit begitu?", Stella bingung dan tidak terima atas kondisi Aditya.
__ADS_1