
Hampir sebulan Stella dan Aditya pulang dari liburan ke Bali.
Perhatian Aditya kepada Stella berubah seratus delapan puluh derajat. Terkadang Aditya bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan pagi. Ketika tiba waktunya istirahat jam makan siang, Aditya pun berusaha mampir pulang ke rumah nya untuk menemani Stella makan siang.
Tidak jarang juga mereka sesekali makan di luar, untuk menghindari kejenuhan. Dan ketika weekend Aditya juga sering mengajak Stella pergi, terkadang ke taman buah, ke kebun binatang, ke mall dan tempat-tempat rekreasi.
Tidak lupa kebiasaan baru mereka sekarang adalah, harus saling mengungkapkan perasaan cinta kepada masing-masing pasangan setiap harinya, baik pagi, siang, atau malam. Dan mengungkapkan pun harus mesra dan minimal kecupan di kening. Kalau ada perselisihan atau salah paham tidak boleh berlarut-larut. Harus di selesaikan hari itu juga sebelum matahari terbit.
Akibat kebiasaan baru tersebut, memang suasana rumah berubah menjadi ceria dan penuh canda tawa. Mereka jadi saling terbuka dan berusaha mengatakan apa yang mereka rasakan, baik mengenai perasaan masing-masing maupun saling bercerita ketika bertemu dengan orang lain saat tidak berada di rumah.
***
Keesokan harinya seperti biasa Stella bangun pagi bermaksud untuk melakukan aktifitas dan rutinitas pagi hari, termasuk membuatkan sarapan untuk Aditya sebelum Aditya berangkat kerja ke kantor.
Stella tidak enak, kalau Aditya terus yang menyiapkan sarapan pagi. Stella tahu diri sebagai istri harus meladeni kebutuhan suami. Dengan tidak bersemangat Stella berusaha beranjak dari tempat tidur nya dan bermaksud ingin pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Tiba-tiba Stella merasa mual, pusing dan ingin muntah. Stella dengan cepat langsung pergi ke kamar mandi. Kebetulan kamar mandi ada di dalam kamarnya.
"uuuuaaaakkk.. uuuuaaakk...uaaakkkk", Stella menumpahkan isi perutnya. Aditya mendengar Stella muntah-muntah dan lansung duduk di ranjangnya menunggu Stella keluar dari kamar mandi.
Dengan lemas Stella kembali ke ranjang nya sambil memegangi perut dan kepalanya karena merasa pusing.
"Kamu mengapa sayang, tidak enak badan?. Tidak usah memaksakan diri untuk menyiapkan sarapan. Aku sarapan seadanya saja. Kan masih ada roti di meja makan!", ucap Aditya kasihan melihat kondisi Stella yang lemas dan pucat.
"Aku tidak tahu sayang, aku merasa mual-mual dan ingin muntah saja. Kepalanya ku juga terasa pusing dan berat", Stella memberitahu mengenai kondisinya saat ini.
__ADS_1
"Nanti aku temani kamu ke rumah sakit ya, ketika selesai sarapan. Tidak apa aku sedikit telat nanti ke kantornya, aku akan memberitahu Rico, agar Rico yang pegang kendali menghandle perusahaan, apabila ada berkas yang sangat mendesak untuk segera di tandatangani", Aditya tidak tenang meninggalkan Stella di rumah dengan kondisi sakit.
Stella hanya terdiam dan tiba-tiba rasa mual itu datang lagi, dan Stella pun kembali berlari ke kamar mandi bermaksud untuk muntah.
"Pelan-pelan sayang", teriak Aditya melihat Stella terburu-buru untuk berlari ke kamar mandi. Dan segera mendatangi Stella.
Aditya memijit belakang leher Stella dengan minyak angin, agar sedikit lega dan enakan. Pikir Aditya mungkin saja Stella masuk angin.
"Apa kamu masuk angin sayang", Aditya menebak.
"Mungkin saja sayang. Sudah aku tidak apa-apa kok. Sedikit rebahan pasti nanti sudah enakan", Stella bermaksud untuk rebahan di tempat tidurnya karena merasa seluruh badannya terasa lemas dan tidak bertenaga.
"Baiklah kamu rebahan sebentar. Sekarang aku mau siap siapan untuk mandi, agar bisa mengantar kamu ke rumah sakit", Aditya segera pergi ke kamar mandi.
Dengan memaksakan diri Stella menemani Aditya sarapan di meja makan. Aditya membuatkan sebuah roti yang sudah diisi selai coklat dan segera memberikan roti tersebut kepada Stella.
Stella berusaha memakan habis roti tersebut sedikit demi sedikit dan segera meneguk segelas susu yang sudah tersaji di meja makan.
Hasrat ingin muntah datang lagi, tetapi Stella berusaha menahannya, dan tidak langsung memuntahkan nya.
Agar isi perutnya tidak kosong.
Stella berusaha kuat, menunjukkan dirinya baik-baik saja. Agar Aditya tidak merasa khawatir dan merasa nyaman untuk bekerja meninggalkan Stella di rumah.
Mereka pun tiba di rumah sakit. Karena melalui UGD, Stella langsung diperiksa.
__ADS_1
"Pak, ibu. Setelah melalui pemeriksaan. Kondisi ibu baik-baik saja kok. Tidak ada sakit penyakit yang berbahaya. Hanya saja ibu perlu banyak istirahat, karena ada janin yang sedang berkembang di rahim ibu", dokter sedikit membuat kejutan kecil, yang hampir membuat Aditya dan Stella sedikit khawatir tadinya.
"Maksudnya apa dok?", Aditya bingung dan sedikit tidak mempercayai perkataan dokter.
"Selamat ya pak, istri bapak hamil. dan usia kehamilannya saat ini adalah hampir menjalani 4 Minggu. Sekali lagi selamat ya pak. Karena janinnya masih lemah. ibu tidak boleh banyak melakukan aktifitas yang berat dan sampai kelelahan", Dokter memberitahu.
"Benar kah dokter?", Aditya hampir tidak percaya, dokter pun segera manggut-manggut mengiyakan ketidakpercayaan Aditya.
Repleks Aditya langsung memeluk erat Stella, "Sayang.. aku akan menjadi ayah. Syukur ya Tuhan, Tuhan masih mempercayakan kami seorang anak. Jaga dan lindungi janin ini Tuhan", Aditya langsung memanjatkan doa sambil mengelus-elus perut Stella.
"Sayang, kita masih di rumah sakit. Malu sama dokter yang melihat tingkah kamu", Stella menegur Aditya. Sangkin senangnya Aditya seperti tidak sadar kalau masih ada dokter di depannya.
"Tidak apa-apa Bu, Biarkan bapak melampiaskan kegembiraan nya", dokter memaklumi sikap Aditya.
"Hore, aku akan menjadi ayah", ucapnya sedikit berteriak, segera pamit dan berlalu meninggalkan ruang perawatan.
***
Aditya dan Stella tiba di rumah
"Sayang aku mau ke kantor. Ingat perkataan dokter kamu tidak boleh memaksakan untuk bekerja yang berat-berat. Ingat janin mu masih rentan dan lemah. Titip jaga anak kita baik-baik ya", Aditya mengingatkan Stella sambil mengecup kening Stella dan berteriak memangil mbok Lasmi
"Mbok Lasmi, Stella lagi hamil muda. Mbok harus melarang Stella melakukan pekerjaan yang berat-berat, ingatkan dia untuk menjaga janinnya dengan baik", Aditya memberitahu mbok Lasmi.
"Selamat ya Bu atas kehamilannya. Baik dit, mbok pasti akan selalu memperhatikan Stella dan tidak akan membiarkan Stella lagi mengambil alih pekerjaan mbok", mbok Lasmi menyakinkan Aditya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau mbok paham maksud saya", Aditya senang atas respon mbok Lasmi.
"Aku pergi dulu ya sayang ke kantor. Ingat apa kata dokter. Jaga janin kamu baik-baik", Aditya pamit dan terus mengingatkan Stella untuk lebih extra lagi menjaga janinnya. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak ingin kan. Mengingat mereka telah pernah kehilangan calon bayi mereka yang belum sempat di lahir kan ke dunia.