Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#39. Evans tidak mau membayar pengacara untuk mengeluarkan Rianti dari penjara.


__ADS_3

Pegawai di rumah Rianti yang bernama Siti, langsung menelepon Evans dan menceritakan kejadian yang menimpa Rianti.


"Pak, silahkan ke kantor polisi setempat. Ibu dibawa pihak yang berwajib barusan", ucap Siti memberitahu Evans lewat telepon.


"Apa, Mengapa bisa seperti itu. Atas tuduhan apa ibu dibawa ke kantor polisi?", Evans bingung.


"Saya kurang paham pak, tetapi saya hanya melihat ibu memohon maaf kepada Aditya dan Juan. Ibu akan dihukum dengan hukuman mati karena percobaan pembunuhan", siti memberitahu kondisi Rianti.


"Baiklah saya akan ke kantor polisi setempat, untuk mencari kejelasan informasi nya", Evans pun merasa ketakutan. Takut dirinya pun akan diseret-seret Rianti turut serta dalam aksi kejahatan yang dilakukan Rianti. Evans pun langsung menutup teleponnya. Dan segera berangkat ke kantor Polisi setempat.


Tidak lama dalam perjalanan Evans tiba di kantor polisi setempat. Langsung bertanya kepada petugas, bertanya keberadaan Rianti.


"Selamat siang pak, boleh saya bertemu ibu saya Rianti. Yang baru dibawa tadi pagi oleh pihak berwajib", tanya Evans kepada salah satu petugas.


"Oh ibu Rianti. silahkan masuk", Evans mengikuti petugas dari belakang menuju ruang tunggu untuk para tamu.


"Tunggu disini, saya akan panggilkan ibu Rianti', petugas meninggal Evans dan memanggil Rianti di ruang tahanan sementara.


"Evans", Rianti langsung memeluk erat Evans.


"Kamu bisa ka?, mengeluarkan ibu dari penjara ini. Ibu tidakai dipenjara nak. Tolong keluarkan ibu secepatnya", Rianti memohon kepada Evans.


"Tenang Bu, bagaimana caranya?", Evans tidak tahu.


"Kamu itu memang bodoh sekali. Tahunya hanya menghambur-hamburkan uang. Gara-gara kamu juga ini sukanya bermain perempuan. Memberikan hadiah-hadiah kepada perempuan.


Sehingga harta kita habis. Bukannya kerja bagus, mengurusi perusahaan malah main perempuan. Sia-sia semua kerja keras ibu", Rianti marah besar kepada Evans.


"Sudah Bu, tidak usah menyalahkan aku terus. Bagaimana caranya aku mengeluarkan ibu dari penjara?", Evans benar-benar tidak tahu.


"Kamu sewa pengacara bagus, untuk mengeluarkan ibu dari penjara ini", Rianti memberitahu.

__ADS_1


"Tidak Bu, aku tidak mau menghabiskan sisa harta kita hanya untuk mengeluarkan ibu dari penjara. Sudah jalani saja hidup di penjara. Lagian ibu sudah tua. Tidak apa-apa menghabiskan hari tuanya di penjara.


Oh iya ibu. Harta kita kan sudah mau habis. Daripada ibu menjadi gembel lebih baik kan hidup di penjara. Dipenjara masih diberi makan 3 kali sehari. Kalau ibu gembel, malah mati di jalanan nanti", Evans bicara seadanya, tanpa memikirkan perasaan Rianti.


"Apa, anak durhaka kamu. Semua ini ibu lakukan untuk kebahagiaanmu. Ternyata ini balasan yang kamu lakukan kepada ibu", Rianti sedih Evans tidak memperdulikan dirinya.


"Oh iya Bu, tidak usah membawa-bawa nama ku. Masak iya seorang ibu, tidak peduli terhadap anaknya", Evans malah berkata semakin kurang ajar, malah menyalahkan Rianti.


"Kamu jahat Evans. Sedikit pun kamu tidak mau berkorban kepada ibu", Rianti menangis.


"Sudahlah ibu jangan cengeng. Aku akan menggunakan sisa uang yang ada untuk menikah dengan Desi. Keburu habis nanti. Ibu paham kan, itulah makanya aku tidak mau menggunakan sisa harta kita hanya untuk menyewa pengacara terbaik.


Itukan biayanya mahal, lagian ibu belum tentu menang. Kan sia-sia jadinya. Baguslah ku gunakan untuk modal nikah aku dengan Desi dan modal hidup kami", Evans tetap merasa benar.


"Evans, kalau kamu telah menyia-nyiakan ibu mu. Kamu pun akan disia-siakan oleh perempuan. Karena itu karma dari kejahatan yang kamu lakukan kepada ibumu.


Ibu yakin, setelah Desi tahu kalau kamu tidak mempunyai apa-apa lagi. Pasti kamu akan di tinggalkan juga akhirnya. Kamu akan menjadi gembel, seperti yang baru saja kamu katakan kepada ibu", Rianti menasihati Evans sambil terisak-isak.


"Tidak usah souzon begitu kepada Desi. Aku tahu Desi tidak seperti yang ibu pikirkan. Desi perempuan baik-baik bu. Sudah ya Bu, aku pergi dulu. Ibu baik-baik ya disini", Evans pun langsung meninggalkan Rianti.


****


"Des, kita menikah yuk. Aku ingin kita menikah dan membentuk keluarga yang bahagia", ucap Evans kepada Desi.


"Mengapa buru-buru sayang, kita nikmati saja kebahagian kita. Kalau kita buru-buru menikah kamu malah menyuruh aku segera mempunyai anak, masak ini lah masak itulah. Aku tidak mau seperti itu. Body ku akan hilang kalau aku hamil dan menyusui. Juga ketika masak, aku akan bau asap dan kotor", Desi bersikap sok manja.


"Berarti kamu hanya bersenang-senang untuk memacari aku, bukan untuk memiliki keluarga yang bahagia?", Evans marah.


"Jangan marah gitu dong sayang, maksudnya nanti-nanti saja menikahnya. Sekarang kita nikmati dulu kebersamaan kita", Desi berpura-pura mesra kepada Evans, langsung melingkarkan tangannya ke kepala Evans, agar Evans tidak marah.


Karena niat Desi adalah untuk memoroti Evans, karena Desi sendiri sudah mempunyai suami. Tetapi Evans tidak mengetahui kalau Desi sudah mempunyai suami.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah berkorban banyak untuk kamu. Segalanya sudah kuberikan kepadamu. Sekarang aku hanya mempunyai sedikit saja tabungan, rumah sudah kugadaikan, tinggal mobil yang kupakai ini.


Perusahaan ku sudah gulung tikar. Aku ingin kita menikah secara sederhana, uang yang tersisa untuk biaya nikah dan mengontrak. Mobil akan kupakai untuk jasa rental mobil, atau dijual untuk membuka usaha", Evans menceritakan kondisi nya yang sudah hampir bangkrut. Dan memberitahu rencana untuk masa depan mereka.


Mengetahui Evans sudah hampir bangkrut, Desi pun tidak mau menikah dengan Evans.


"Enak saja mengajak aku susah, aku akan berpura-pura mau menikah dengan Evans. Agar uang dan hasil penjualan mobil bisa aku ambil", Desi berencana dalam hatinya.


"Sayang... benar kamu tidak mempunya harta lagi!", tanya Desi ingin tahu kepastiannya.


"Tinggal hanya sedikit tabungan dan mobil yang sekarang kukendarai. Rumah sudah kugadaikan untuk mendapatkan pinjaman untuk membayar tagihan untuk gaji pegawai yang sudah menunggak 3 bulan. Kalau tidak aku sudah di demo dan dipenjarakan", Evans menceritakan kesusahan nya.


"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan sayang, karena kamu tahu aku sudah tidak mempunyai harta lagi. Lagian hartaku juga habis karena membeli perhiasan, baju, tas, dan membayar penginapan di hotel.


Nanti kalau kita butuh uang kita bisa menjual perhiasan kamu kan sayang?", Evans membujuk Desi. Tetapi Desi tidak terima kalau barang yang dikasih tidak boleh diminta lagi.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu sayang, mana mungkin aku meninggalkan kamu. secara kamu sudah baik dan perhatian sama aku. Kamu juga sudah banyak memberikan hadiah-hadiah sama aku", Desi berbohong.


"Aku tahu kamu tidak akan meninggalkan aku", Evans merasa yakin.


"Ya sudah kapan kita menikah sayang?", tanya Evans ingin tahu dan tidak sabar.


Desi tidak tahu harus berbuat apa. "Bingung bagaimana caranya untuk mengambil sisa harta dari Evans", gumamnya dalam hati.


"Nantilah, aku pikir-pikir dulu. Kasih waktu aku ya sayang untuk berpikir. Karena kan untuk menikah ini. Kita harus berpikir panjang agar tidak menyesal kemudian", Desi memberikan alasan.


"Artinya kamu ragu untuk menikahi aku?", tanya Evans sedikit emosi.


"Bukan seperti itu maksudku sayang. Aku akan berikan jawabannya besok, bagaimana?", Desi menenangkan Evans.


"Baiklah kalau begitu, aku tunggu jawaban kamu besok. Besok pagi aku datang menjemputmu di rumahmu", Evans memberi tahu.

__ADS_1


"Jangan, tidak usah menjemputku. Kita ketemu di Taman ini besok", Desi mengelak, takut ketahuan suami Desi yang selalu bangun kesiangan dan selalu berada di rumah.


"Baiklah kalau begitu, kamu jangan telat datang ya", Evans merasa tidak sabaran untuk ketemu besok.


__ADS_2