
Setelah Aditya dan Stella sampai di posko satpam.
"Bagaimana sih pak Edy ini, tadi kami melihat melalui tanyangan cctv di rumah. Kalau anak kami Gibran di curi oleh wanita penderita gangguan jiwa", Aditya memberitahu dengan geram.
"Benar pak, memang benar kalau tidak ada wanita penderita gangguan jiwa lewat dari depan posko ini", satpam Edy membenarkan.
"Atau adakah mobil bak terbuka lewat dari depan posko?", Stella mencoba menerka, semua malah bingung atas pertanyaan Stella.
"Maksudnya mungkin saja wanita penderita gangguan jiwa tersebut telah masuk ke dalam bak terbuka, sehingga pak satpam tidak melihat keberadaan wanita asing tersebut", Stella memberitahu maksudnya dengan jelas.
"Iya benar pak, tadi ada mobil bak terbuka tetapi sudah ditutupi terpal. Mobil itu membawa tanaman hias, kalau tidak salah mobil itu menuju rumah pak Burhan yang 2 rumah sebelum rumah bapak", satpam Edy mencoba mengingat-ingat siapa saja yang telah masuk sejak tadi pagi.
"Apakah mobil bak terbuka itu sudah keluar dari kompleks ini?", Aditya bertanya dengan cepat.
"Setahu saya belum keluar Pak", satpam Edy menjawab dengan yakin.
"Bapak terus awasi disini, apabila ada yang keluar dan masuk kompleks bila perlu mobil yang keluar diperiksa dalamnya apakah ada yang telah membawa anak kami. Ingat pak, diperiksanya penumpang dan apabila mobil terbuka itu keluar periksa semua. Apakah ada membawa wanita penderita gangguan jiwa", Aditya memberi pengarahan.
"Saya dan istri saya, akan pergi kerumah pak Burhan untuk memeriksa mobil bak terbuka tersebut dan menanyakan nya", Aditya dan Stella langsung masuk ke dalam mobilnya dan tancap gas ke rumah pak Burhan.
Untung lah mobil bak terbuka itu, masih parkir di depan rumah pak Burhan. Aditya dan Stella langsung turun mendapatkan mobil tersebut.
Sopir tidak ada di dalam mobil, sedang berbicara serius dengan pak Burhan di teras rumah pak Burhan.
Aditya langsung memeriksa muatannya. Sungguh Aditya terkejut melihat wanita penderita gangguan jiwa itu sedang menggendong baby Gibran yang sedang terlelap tidur.
Aditya langsung cepat merampas baby Gibran dari gendongan nya. Sebenarnya wanita tersebut berkeras tidak mau menyerahkan baby Gibran, "Anak ini milikku, aku harus mengambil nya agar harta Aditya bisa kurebut", ucap wanita penderita gangguan jiwa tersebut berulang-ulang.
__ADS_1
Stella ikut memegang tangan wanita itu agar melepaskan baby Gibran. Beruntung wanita itu ada dalam mobil sedang terduduk, kalau lagi di jalanan mungkin saja dia akan terus berlari, sehingga baby Gibran berpotensi akan jatuh dari gendongan nya.
Stella pun langsung menggendong erat baby Gibran begitu Aditya merampasnya dari pelukan wanita penderita gangguan jiwa tersebut.
Wanita itu berteriak-teriak "Anak itu milikku, aku harus mengambilnya agar harta Aditya bisa kurebut".
Pak Burhan dan sopir mobil bak terbuka itu langsung keluar menghampiri Stella dan Aditya karena mendengar keributan.
"Ada apa ini pak", tanya pak Burhan bingung.
"Begini pak, wanita ini telah mencuri anak kami dari depan rumah. Sebentar Stella meninggalkan anak kami di dalam baby stroller nya. Rupanya wanita ini masuk dan mengambil anak kami dari dalam baby stroller nya", Aditya menjelaskan persoalan nya.
"Beruntung kami dengan cepat bertindak dan segera memperhatikan cctv, kalau wanita ini pelaku pencurian anak kami.
Kami pun segera melapor pada satpam bahwa pelaku pencurian anak kami adalah wanita penderita gangguan Jiwa. Tetapi satpam mengatakan kalau tidak ada wanita penderita gangguan jiwa yang masuk sedari tadi. Istri saya menanyakan apakah ada mobil bak terbuka yang masuk kompleks ini.
Ternyata satpam Edy mengatakan ada tukang bunga hias datang tujuannya ingin ke rumah bapak. Sehingga kami langsung mendatangi rumah bapak dan langsung memeriksa isi muatan mobil bapak ini. Dan ternyata benar, wanita ini sedang menggendong anak kami Gibran.
"Aduh syukur sekali ya pak, bapak langsung bisa bertindak cepat", pak Burhan merasa bersyukur Gibran sudah ditemukan.
"Maaf pak, saya memang tidak mengetahui kalau wanita ini telah menjadi penumpang gelap saya", sopir pemilik pick up merasa tidak enakan.
"Tidak apa-apa pak, memang bapak tidak bisa melihatnya. Karena bak mobil bapak sudah ditutupi terpal", Aditya memaklumi.
"Terus bagaimana kelanjutannya ini pak Adit. Apakah wanita ini akan kita serahkan ke kantor polisi. Karena motif pencurian?", pak Burhan ingin tahu pendapat Aditya.
Aditya memperhatikan wajah dari pelaku pencuri Gibran. Memang benar kalau itu adalah Rianti. Ibu tirinya.
__ADS_1
"Pak, sebenarnya saya mengenal wanita ini. Wanita ini adalah dulunya ibu tiri saya. Wanita ini dan anaknya telah merampas seluruhnya harta milik ayah. Dan mengusir ayah dari rumah.
Saya sendiri telah dibuat menjadi sakit jiwa dan masuk rumah sakit jiwa karena diberikan obat terlarang oleh ibu tiri saya ini dan istri saya pun diusir dari rumah.
Tetapi entah mengapa kami pun tidak mengetahuinya. Wanita ini telah menjadi sakit jiwa. Mungkin ia telah kehilangan semua harta yang telah dirampasnya sehingga menjadi seperti ini", Aditya menceritakan kembali pengalaman pahit yang dialami Aditya dan keluarga nya.
"Saya prihatin dengan kejadian di masa lampau kamu nak Adit. Saya tidak menduga wanita ini begitu jahat. Bahkan disaat dia seperti ini pun masih saja merepotkan dan mengganggu ketenangan keluarga nak Adit.
Menurut saya, serahkan saja kasus ini ke yang berwajib. Bisa saja suatu waktu wanita ini datang lagi untuk mengusik kebahagiaan keluarga bapak", pak Burhan memberikan saran.
"Baiklah kalau begitu, bapak bisa menemani saya membawanya ke kantor polisi agar ada sanksi yang membenarkan kejadian ini", Aditya ingin pak Burhan ikut ke kantor polisi.
"Baik nak Adit, saya bersedia jadi sanksi nya", pak Burhan pun ikut masuk ke dalam mobil aditya. Mereka ikut serta membawa Rianti ke kantor polisi.
Setelah sampai di kantor polisi. Aditya pun langsung menceritakan kronologi penculikan Gibran.
Dan Aditya juga menceritakan kasus Rianti, bahwa Rianti adalah mantan narapida karena kasus penipuan dan percobaan pembunuhan terhadap Aditya.
Dari keterangan dari lapas tempat Rianti di tahan di dapat keterangan.
"Begini pak, kami mendapatkan informasi kalau Rianti ini telah kehabisan hartanya, karena anaknya diporoti dan ditipu. Rianti tidak terima kalau hartanya sudah habis.
Rianti menjadi depresi sehingga sakit jiwa. Dari pihak lapas, Rianti sebenarnya di masukkan kedalam rumah sakit jiwa. Tetapi Rianti melarikan diri dari rumah sakit jiwa.
Karena kondisi Rianti yang benar-benar sakit jiwa. Kami tidak bisa menahan Rianti dalam penjara. Atas kasus bapak ini tindak bisa di lanjutkan, Rianti akan kami bawa ke rumah sakit jiwa", petugas memberitahu kalau kasus penculikan yang dilakukan Rianti tidak bisa di lanjutkan karena kondisi kejiwaan dari Rianti.
Stella dan Aditya hanya pasrah. Intinya agar kejadian ini tidak terulang kembali Stella dan Aditya harus waspada dan tidak lalai dalam menjaga anaknya.
__ADS_1
Stella dan Aditya pulang dan meninggalkan Rianti, petugas yang akan mengurus Rianti selanjutnya.
Dari kejadian ini, stella dan Aditya dengan berlinang air mata memanjatkan syukur yang tidak terkira kepada Yang Maha Kuasa. Karena masih diizinkan bisa menemukan Gibran dengan selamat.