Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#30. Stella mengalami masalah pada kehamilannya


__ADS_3

Begitu mbok Lasmi mematikan dan meletakkan handphone di dalam kamarnya. Mbok Lasmi langsung keluar dan mencari Pak Tio, si tukang kebun di rumah Juan. Mbok Lasmi mencari ke pekarangan rumah.


"Syukurlah, Pak Tio sedang duduk-duduk istirahat di pendopo kecil di sudut taman", mbok Lasmi melihat dari kejauhan. Mbok Lasmi pun segera menghampiri pak Tio dengan napas yang masih ngos-ngosan.


Aaahhh, Mbok Lasmi membuang napas setelah sampai dihadapan Pak Tio.


"Ada apa, mbok seperti tergesa-gesa banget", ucap pak Tio bingung.


"Iya pak, Memang nyampein nya harus sekarang. Mumpung Rianti sedang berada di luar", ucap mbok Lasmi sembari memulihkan tenaganya.


"Ada apa memangnya mbok. Jadi bikin penasaran saja", pak Tio kebingungan.


"Aditya sudah sembuh pak, eitsss berita ini jangan sampai dulu ke mulut orang-orang terlebih Rianti dan Evans", mbok Lasmi memberitahu seperti berbisik.


"Benar kah mbok, syukurlah. Sekarang saya jadi tidak merasa bersalah lagi, setelah tahu ibu Rianti juga mengusir pak Juan dari rumah ini, dan menguasai harta pak Juan. Tahu kalau begini, saya tidak mau disuruh-suruh Rianti untuk ikut-ikutan berbohong mengenai Bu Stella. Tapi syukurlah Aditya sudah sembuh", ucap Pak Tio senang.


"Sekarang kita harus membantu Aditya dan Bu Stella untuk mengungkapkan segala kejahatan Rianti", ajak mbok Lasmi.


"Bagaimana caranya mbok", pak Tio bingung.


"Aditya menyuruh saya, agar pak Tio mengirimkan semua rekaman cctv dari rumah ini. Sehingga semua perkataan Rianti bisa terekam dan menjadi bukti untuk melaporkan Rianti ke polisi", mbok Lasmi bersemangat.


"Baiklah aku akan mengirimkan nya", pak Tio langsung bersemangat dan segera memeriksa layar komputer dan memeriksa setiap gerak-gerik dan perkataan Rianti mulai kejadian Stella diusir dari rumah. Hingga kejadian saat Rianti mengusir Juan Seminggu yang lalu.


Seluruh pegawai yang bekerja di rumah sangat mendukung dan bersemangat untuk bekerjasama dengan Aditya untuk membongkar segala kejahatan Rianti, karena Rianti sangat kejam, sombong dan selalu berkata kasar kepada semua pegawai.


Rianti juga pelit menaikkannya gaji pegawai, bahkan sering memotongnya dengan berbagai alasan. Karena tidak becus bekerjalah, karna kerja terlalu lambat, karena telah merusak atau memecahkan barang-barang, sehingga disuruh mengganti rugi.


Lain halnya dengan Juan. Juan selalu baik, ramah, perhatian dan tidak pelit. Bahkan selalu menambah gaji pegawai bila sedang ada keuntungan.


Teb.. Pak Tio langsung mengklik tombol send pada layar komputer ny untuk dikirimkan ke Aditya.


Sukses...

__ADS_1


Rekaman Vidio berhasil di kirim.


Aditya menerima dan melihat rekaman Vidio dan audio dari cctv rumahnya.


"Yang penting semua berkas ini sudah kutrima tinggal nanti aku potong, Vidio mana yang menggambarkan gerak-gerik Rianti yang mencurigakan dan rekaman audio nya yang menjadi bukti atas semua kejahatannya. Sekarang aku pergi ke mencari ayah. Dimana kah sekarang ayah berada", pikir Aditya dalam hatinya.


"Aku harus segera mengungkapkan semua kejahatan Rianti, bahkan melaporkan nya ke yang berwajib. Karena kejahatan Rianti sudah merugikan banyak pihak, termasuk memberikan obat terlarang sehingga aku menjadi sakit jiwa. Ini sudah tindakan kriminal ", Aditya sangat geram.


Bermaksud hendak pamit kepada Stella, tiba-tiba Stella berteriak kencang.


"Aaaaa ...aduh sakit", teriak Stella, sehingga membuat Aditya menjadi panik dan langsung berlari mendapat kan Stella.


"Ada apa sayang ...Kamu kenapa?", Aditya bingung dan sangat ketakutan.


"Perutku sakit sekali sayangg..", Stella terus menjerit sambil memegangi perutnya.


"Padahal ini belum waktunya melahirkan, kehamilan stella masih menginjak bulan ke 6, mengapa bisa seperti ini?", Aditya panik, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.


"Aku tidak ada makan sesuatu atau terbentur. Tiba-tiba saya aku merasa kesakitan", Stella menjawab dengan napas yang naik turun, karena menahan rasa sakitnya.


Takut kenapa-kenapa dengan kandungan Stella. Aditya pun langsung mengangkat Stella ke mobilnya bermaksud akan membawanya ke rumah sakit.


"Aku akan membawa mu ke rumah sakit. Kamu yang tenang, jangan panik, tarik napas kalau rasa sakit itu muncul. Dan tidak usah mengabiskan tenaga untuk berteriak.


Lebih baik kamu berdoa dalam hati, agar anak kita tidak kenapa-kenapa", Aditya terus memberikannya support. Stella pun menuruti apa yang diperintahkan Aditya, menutup matanya untuk berdoa dalam hati sambil menahan rasa sakit.


" Sebentar lagi sampai sayang, kamu harus kuat, dan terus bertahan ya", Aditya terus menyemangati Stella.


Tidak beberapa lama sampailah mereka di rumah sakit. Aditya pun langsung mengarah pada lokasi ruang UGD.


"Suster, dokter tolong istri saya. Dia merasa kesakitan", teriak Aditya, agar suster segera menangani Stella.


Dengan sigap perawat dan dokter langsung membawa Stella ke ruang pemeriksaan. Memberikan bantuan secepat nya baik oksigen dan impus.

__ADS_1


"Silahkan keluar pak, serahkan pada kami, kami akan melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan kami untuk menyelamatkan pasien", dokter mempersilahkan Aditya untuk segera keluar.


"Saya suaminya dokter", Aditya ingin menemani Stella.


"Iya kami mengerti, tetapi bapak harus di luar. Kami akan melakukan yang terbaik pak. Kami hanya tidak ingin di intervensi oleh pihak lain", dokter ngotot menyuruh Aditya keluar.


Sesungguhnya Aditya ingin menemani dan menyemangati Stella. Aditya begitu khawatir dan merasa takut kehilangan Stella dan anak yang ada dalam kandungan Stella.


Aditya terus menunggu kabar dari ruang pemeriksaan, mondar-mandir di depan pintu ruang pemeriksaan. Tidak sabar menunggu kabar mengenai kondisi Stella. Sambil terus berdoa dalam hatinya.


"Tuhan tolong, Kami telah mengarungi cobaan sejauh ini. Kalaupun kamu memberikan cobaan lagi dalam keluarga ku.


Kuatkan dan mampukan kami untuk dapat melaluinya, sembuhkan Stella. Jangan kau ambil Stella dan anak ku Tuhan. Kumohon kepada Mu", Aditya terus berdoa dengan khusyuk dan tidak terasa air matanya terus membasahi pipinya.


Tidak berapa lama keluar dokter dari ruangan pemeriksaan.


"Keluarga ibu Stella", teriak dokter memanggil Aditya.


"Iya dok", balas Aditya sambil berlari mendekati dokter yang memeriksa Stella.


"Begini pak. Ada gangguan dalam Janin ibu Stella. Kami tidak tahu penyebabnya secara mendetail. Kemungkinan karena Stella ketika mengandung mengalami stress dan kelelahan yang berkepanjangan sehingga mempengaruhi perkembangan janinnya.


Kami sudah lakukan yang terbaik. Sekarang kami ingin minta persetujuan bapak. Kami tidak bisa menyelamatkan keduanya. Antara ibu dan anaknya, bapak harus membuat pilihan.


Tetapi bila menyelamatkan si anak, karena umur janin masih memasuki bulan ke 6, bila diselamatkan pun akan beresiko cacat atau prematur", dokter memberikan pilihan yang berat kepada Aditya.


"Baik pak silahkan membuat keputusan yang tepat, kami tunggu jawaban bapak sepuluh menit lagi", dokter sejenak meninggalkan Aditya.


Sungguh Aditya tidak bisa memilih, "Apabila memilih si anak, maka akan beresiko cacat atau prematur, aku harus ihklas untuk memilih Stella yang diselamatkan.


Tetapi bila Stella tahu bayinya hilang tidak bisa diselamatkan pasti Stella akan memarahiku", gumam Aditya bingung tidak bisa membuat pilihan.


Sejenak Aditya berdoa dalam hati "Ya Tuhan, cobaan ini begitu berat. Disaat kami ingin merasakan kebahagiaan. Tetapi Engkau belum mengizinkan kami untuk bahagia. Berilah hamba petunjuk untuk bisa memilih pilihan yang tepat", Aditya terus berdoa.

__ADS_1


__ADS_2