Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#65. Aditya mengetahui kalau Anggi telah meninggal dunia.


__ADS_3

Sebelum nya. Aditya pulang ke rumah menemui Stella. Setelah bertengkar dengan Anggi.


"Stella, maafkan aku. Kamu benar mengenai Anggi. Ternyata semua kesakitan Anggi yang menyatakan kalau umurnya tidak lama lagi adalah akal-akalannya saja.


Itu dilakukannya hanya untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang ku.


Maafkan aku ya Stella, karena kebodohan ku. Aku sampai mengorbankan kamu dan tidak mengerti perasaan mu. Bahkan aku sampai memarahi kamu dan menuduh kamu yang tidak-tidak", Aditya memohon-mohon kepada Stella.


Stella berpura-pura sangat marah, tidak mengindahkan permohonan maaf Aditya, senantiasa sibuk melakukan aktifitas nya. Karena memang perasaan nya sangat sakit. Berbulan-bulan tidak ada hubungan suami-istri, bahkan Aditya tidak datang untuk menemui Stella.


Bahkan Aditya sangat marah dan menuduh Stella sangat jahat karena menduga Anggi berbohong.


Aditya berusaha terus membujuk Stella.


"Stella, tolong lah maafkan aku. Aku mengakui kesalahan ku. Aku tidak akan percaya lagi semua ucapan Anggi. Bagaimana pun usaha dia untuk membujuk aku, aku tidak akan mempercayainya. Bahkan akupun tidak akan menemuinya hingga kelahiran anaknya sekalipun", Aditya terus saja memohon-mohon.


Hati Stella sedikit lega, dan akhirnya mau memaafkan Aditya.


"Bagaimana kamu mengetahui segala kebohongan Anggi?", tanya stella merasa penasaran.


"Aku mendengar semua omongan Anggi dan mbok Rani, pembantu Anggi. Yang menyatakan kalau semua dandanannya yang terlihat pucat seperti penyakitan. Itu adalah agar kebohongannya terlihat real.


Yang menyatakan kalau Anggi menderita kanker rahim dan umurnya tidak panjang lagi", ucap Aditya menceritakan yang sebenarnya.


"Baguslah kalau kamu sudah menyadarinya. Kuharap Anggi tidak berani lagi memohon-mohon atau membuat kebohongan lagi untuk mendapatkan perhatian mu", stella berharap.


"Seandainya pun Anggi datang untuk memohon-mohon aku tidak akan mempercayainya", Aditya menyakinkan Stella. Stella hanya diam saja, karena stella tahu banget sifat Aditya. Aditya mudah percaya kepada perempuan, apalagi kalau perempuan itu sedang terluka atau membutuhkan pertolongan.


Sikap Stella masih dingin terhadap Aditya. Artinya kemarahan dan kekesalan Stella belum terobati. Stella tidak bisa langsung bermanja-manja atau bercerita panjang lebar dari hati ke hati. Stella masih menjawab pertanyaan Aditya dengan seadanya saja.


Aditya pun berusaha berbagai cara, agar stella kembali hatinya.


Termasuk ingin menyuapi Stella makanan.

__ADS_1


"Aaa....aaa dong sayang", Aditya ingin menyuapi Stella.


"Sudah dong sayang, aku sedang tidak ingin bersikap kekanak-kanakan", Stella langsung menolak Aditya. Dan langsung masuk ke kamarnya.


Tetapi Aditya tidak patah semangat untuk terus membujuk Stella.


"Sayang, aku rindu sekali belaian dan kecupan dari mu", ucap Aditya pelan sambil berbisik ke telinga Stella, begitu Aditya langsung merangkul dan memeluk Stella dari belakang.


Stella berusaha ingin melepaskan pelukan Aditya. Tetapi aditya sudah mengantisipasi kalau Stella pasti akan merusaha melawan. Namun sia-sia karena tenaga Aditya begitu kuat.


Aditya terus menciumi belakang leher Stella dengan penuh gairah dan kangen sudah hampir tujuh bulan tidak berhubungan suami-istri. Stella tidak tahan lagi membendung hasratnya. stella pun merasakan hal yang sama dengan Aditya.


Aditya pun tidak lantas bergelut hanya disekitar belakang leher Stella. Tangan Aditya bergerak hingga menyentuh bagian ujung buah dada Stella. Sehingga Stella pun akhirnya tidak tahan lagi untuk menahan hasratnya. Langsung membalas dan melanjutkan aksinya.


Tangan Stella pun menjelajah ke bagian sensitif Aditya. Sehingga keduanya sangat menggebu-gebu tidak mau merasa kecewa. Saling memuaskan keinginan pasangan. Demi mendapatkan kenikmatan yang luar biasa. Setelah mendapatkan *******, keduanya langsung rebah, seolah sakit hati pun mereda secara otomatis.


Akhirnya Stella dan Aditya kembali mesra dan kompak. Keduanya pun sudah menunjukkan senyum pada wajah masing-masing.


"Sayang, aku lupa handphone aku tidak diaktifkan selama dua hari ini. Tolong aktifkan handphone aku yang di atas lemari pakaian itu. Sengaja aku non aktifkan, agar Stella tidak terus menghubungi ku", pinta Aditya kepada Stella. Stella pun langsung memencet tombol power pada handphone Aditya.


Karena merasa penasaran ingin tahu isi pesan wa dari Anggi. Stella membuka dan membaca kalau ada informasi kalau Anggi telah meninggal dunia.


Stella langsung terkejut dan berteriak melaporkan isi pesan wa tersebut.


"Sayang, benar ga ini sih!. Ini ada pesan wa dari no Anggi. Yang menyatakan, "Pak, ini mbok Rani. Mau bilang kalau ibu Anggi telah meninggal dunia", tulis mbok Rani pada pesan wa melalui no Anggi", Stella menunjukkan pesan wa itu pada Aditya.


Aditya dengan terkejut langsung membaca pesan wa tersebut.


"Kurasa ini benar adanya, tidak mungkin mbok Rani berani membohongi aku. Bagaimana kalau sekarang kita datangi rumah Anggi", Aditya merasa penasaran.


"Baiklah aku ikut sayang, aku juga ingin melihat jasad Anggi untuk terakhir kali", Stella segera berkemas dan segera mengikuti Aditya yang menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya.


"Tolong kamu perhatikan tanggal pesan wa itu dikirim sayang!", Aditya menyuruh Stella mencek ulang.

__ADS_1


"Ini pesannya sepertinya dua hari yang lalu sayang, ketika hari pertengkaran kalian berdua", Stella menyakinkan Aditya.


Aditya menjadi merasa bersalah, pikirnya Anggi bunuh diri setelah Aditya meninggalkan Anggi.


Tidak beberapa lama Aditya dan Stella tiba di rumah Anggi. Rumah begitu sepi, bolak-balik Aditya mengetuk pintu tetapi tidak kunjung dibuka juga. Hingga sepuluh menit lamanya Aditya menunggu dan terus mengetuk pintu.


Mbok Rani keluar dengan berlari tergopoh-gopoh, "Maaf pak baru bisa buka pintu sekarang, soalnya tadi sibuk banget lagi gantiin popok si dedek", mbok Rani langsung membuka pintu.


"Mbok, benar Anggi sudah meninggal dunia?", tanya Aditya langsung tidak sabar.


"Benar pak, Ibu Anggi terjatuh di lantai dengan darah yang sudah keluar mengalir sampai ke kaki. saya dan pak Tony langsung membawa ibu Anggi ke rumah sakit.


Pihak rumah sakit bilang kalau saya harus mencari golongan darah B, karena stok di rumah sakit sedang habis. Saya sudah bolak balik telepon bapak. Tetapi handphone nya tidak aktif. Akhirnya karena kehilangan banyak darah, dan ibu Anggi juga sempat tidak sadar kan diri. Akhirnya ibu Anggi dinyatakan meninggal dunia.


Pihak keluarga ibu Anggi saya juga tidak tahu dimana dan kemana harus menghubunginya. Saya dan pak Tony berinisiatif memakamkan Bu Anggi pada tempat pemakaman umum terdekat.


Untung tetangga mau memandikan dan mensholat kan jenazah Bu Anggi. Tetapi si dedek masih bisa diselamatkan pak. Tadinya si dedek terlahir prematur dan di ruang inkubator.


Syukurlah hari ini, tepatnya tadi pagi saya membawa si dedek pulang dari rumah sakit", mbok Rani menceritakan kronologi kejadian ketika kritis di rumah sakit dan hingga pemakaman Anggi.


Aditya dan Stella mendengarkan dengan seksama. Aditya langsung menggendong baby nya Anggi.


"Mbok, bolehkah kami merawat si dedek", Stella menghampiri baby nya Anggi dan izin untuk merawatnya.


"Boleh dong Bu, ini kan anaknya pak Aditya. Mungkin lebih baik kalau si dedek di rawat oleh ayah nya daripada saya yang tidak ada hubungan darah sama sekali", mbok Rani setuju.


Aditya tidak berani mengambil keputusan sendiri, akhirnya Stella langsung yang ambil keputusan. "Aditya pun senang untuk menebus rasa bersalahnya kepada Anggi, biarlah dilakukan Aditya melalui merawat anaknya", pikir Aditya dalam hati.


"Mbok bolehkah mbok menunjukkan dimana makam nya Anggi, kami mau berjiarah sekalian memanjatkan doa dimakamnya Anggi. Kiranya Anggi diterima amal ibadahnya oleh Sang Kuasa.


Aditya dan Stella pamit meninggalkan mbok rani serta an membawa baby nya Anggi untuk dirawat dan diasuh oleh Aditya dan Stella.


Setelah Sekar dari makamnya Anggi.

__ADS_1


****


__ADS_2