
Kembali dokter mendatangi Aditya.
"Bagaimana pak, bapak harus cepat mengambil keputusan, sebelum terlambat untuk menangani pasien", dokter memaksa.
"Baiklah dok, saya mengambil keputusan. Selamatkan istri saya dok", ucap Aditya sedih, karena harus kehilangan anaknya.
"Baik pak, segera kami akan menangani pasien", dokter meninggalkan Aditya yang masih bersedih. Hilang sudah harapan nya untuk mendapatkan keluarga yang lengkap.
"Aku harus semangat, aku tidak boleh bersedih. Stella pasti lebih bersedih nanti bila tahu janinnya tidak bisa diselamatkan. Aku yang harus menguatkan Stella harusnya. Setelah Stella pulih kembali. Nanti kami akan program, agar Stella hamil lagi", Aditya menyemangati dirinya sendiri.
Dua jam operasi telah berlangsung, tetapi dokter belum juga keluar untuk memberitahu kondisi dan keadaan Stella.
Setelah beberapa lama kemudian dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan.
"Operasi sudah selesai dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Tetapi pasien belum boleh dibawa ke ruang inap. Masih tunggu observasi lagi, untuk mengantisipasi bila terjadi pendarahan. Silahkan bapak masuk kalau ingin melihat pasien", dokter mengizinkan Aditya untuk masuk.
Sekarang Aditya malah bingung untuk menemui Stella. Bila Stella tahu janinnya tidak bisa diselamatkan pasti Stella akan sedih. "Aku harus bilang apa kepada Stella", gumam Aditya dalam hati. Tidak sengaja air mata membasahi pipinya.
Dengan langkah gontai Aditya memasuki ruang observasi. Dan melihat Stella terbaring lemah di ranjangnya. Stella sudah membuka matanya, menunggu kedatangan Aditya dan ingin cepat mengetahui kondisi janinnya.
Belum juga Aditya sampai di dekat Stella. Stella sudah menanyakan kondisinya.
"Sayang, bayi kita tidak kenapa-kenapa kan?", Stella penasaran dan ingin tahu.
Aditya hanya diam saja, tidak tahu harus menjawab apa. "Apakah aku harus bohong atau jujur", gumam nya bingung.
"Kalau aku bohong mengatakan baik-baik saja, tetapi kenyataan tidak. Pasti Stella pun akan marah dibohongin. Tetapi kalau jujur, mengatakan yang sebenarnya.
Pasti lah kesehatan Stella akan terganggu. Stella akan merasa sangat bersedih. Aku tidak sanggup melihat Stella bersedih", gumam Aditya menangis. Rasanya air mata ini hampir kering karena sering menangis. Pikir Aditya tidak bisa menahan kesedihannya.
"Sayang, mengapa diam saja. Bayi kita baik-baik saja kan!", Stella sedikit emosi.
"Sayang, kamu yang kuat ya", Aditya menggenggam tangan Stella erat.
"Maksud kamu apa sih sayang, katakan yang sebenarnya jangan berbelit-belit", suara Stella sedikit meninggi.
"Sayang maafkan aku, aku tidak bisa membuat pilihan. Tadi dokter mengatakan kepada ku, agar cepat membuat pilihan. Dokter tidak bisa menyelamatkan keduanya, antara ibu dan anak.
__ADS_1
Tetapi kalau menyelamatkan si anak pun akan beresiko cacat atau prematur, karena umur bayi kita masih muda. Aku membuat pilihan untuk lebih menyelamatkan mu sayang. Aku juga tidak mau kehilangan kamu", Aditya menangis.
Stella pun terdiam dan hanya bisa menangis.
"Aku tidak bisa menjaga anak kita, aku ibu yang jahat...aku ibu yang bodoh", Stella teriak menyalahkan dirinya.
"Tidak sayang, kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu sendiri. Aku yang telah bersalah. Karena kamu merawat aku, dan karena masalah ibu tiriku. Kamu menjadi stres, kelelahan, dan sangat terbeban. Sehingga menganggu pertumbuhan janin kamu", Aditya memberitahu penyebab janin Stella keguguran.
Stella menangis, mencoba menerima dengan ikhlas apa yang baru saja terjadi pada dirinya.
Stella hanya termenung.
"Sayang, kamu harus kuat. Jangan terus bersedih memikirkan janin kamu yang tidak bisa diselamatkan. Aku pun sangat bersedih. Tetapi apa yang harus kita perbuat!.
Kita tidak bisa berbuat apa-apa, toh dokter pun sudah melakukan yang terbaik. Yang bisa kita lakukan hanya lah pasrah. Semua telah menjadi kehendak Yang Kuasa.
Sekarang kita hanya bisa berdoa semoga kita masih diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan anak lagi. Hanya itu yang bisa kita lakukan sayang.
Jadi kumohon kamu jangan kepikiran terus terhadap masalah ini. Kehidupan terus berlanjut, jalani saja, ada hari esok yang lebih cerah menanti", Aditya memberikan dukungan dan support kepada Stella agar tidak terus larut dalam kesedihan.
Aditya terus menghapus air mata Stella yang terus menerus mengalir di pipi nya.
Akhirnya stella bisa menerima harus kehilangan janinnya.
Stella pun dibawa ke ruang rawat inap. Aditya terus menemani Stella, menyuapi, mengganti bajunya dan menuntun Stella ke kamar mandi.
Dengan telaten dan tidak mau meninggalkan Stella barang sebentar saja. Bahkan Aditya tidak ada ke kantor, mencari keberadaan Juan, bahkan berencana akan membongkar kedok Rianti.
Aditya lebih fokus dulu untuk kepulihan Stella, bagaimanapun Stella lebih utama baginya.
"Toh pekerjaan kantor masih bisa ditangani oleh Rico, Keberadaan ayahnya, Juan pasti mempunyai banyak relasi yang masih mungkin bisa memberikan tumpangan kepada Juan. Untuk membongkar kedok Rianti, suatu saat pasti bisa dilakukan", pikir Aditya dalam hati.
Walaupun Stella sudah bisa menerima kehilangan janin nya, terkadang Stella masih sering menangis dan menitikkan air mata dengan sembunyi-sembunyi.
Aditya merasa tidak sanggup melihat Stella terus bersedih.
Aditya bermaksud untuk menghibur Stella.
__ADS_1
"Sayang main tebak-tebakan dong", Aditya berusaha menghibur.
Sebenarnya Stella tidak berselera, Stella masih ingin merenung dan sendiri, tetapi karena melihat kegigihan Aditya yang berusaha untuk menghiburnya. Stella pun manggut-manggut, menyetujui nya.
"Ini ya. Gang apa yang selalu bikin ibu-ibu kesel?", tanya Aditya serius menunggu respon Stella.
"Gang,. gang apa ya", tanya Stella bingung, sebenarnya tidak fokus.
"Nyerah ya, Gang-guin suaminya", jawab Aditya tersenyum.
Spontan Stella tersenyum mendengar jawaban nyeleneh Aditya. Aditya senang melihat Stella merasa terhibur.
"Ini lagi ya.Belajar bahasa Mandarin, lantai basah artinya apa?", tanya Aditya kembali memberikan pertanyaan.
"Nyerah", ucap Stella
"Lhi--- Chin", Aditya mengucapkan logat cina.
Stella pun tertawa.
"Masih mau lagi?, satu lagi ya", Aditya memberikan tebak-tebakan ke tiga.
" Kenapa dalang membawa keris ketika pertunjukan wayang?", tanya Aditya.
"Ga tau", ucap Stella tersenyum.
"Karena kalau bawa kompor, istrinya gak bisa masak", Stella langsung tertawa terbahak-bahak.
"Udah dong, perut ku jadi sakit ni. Karena tertawa terus", Stella terkekeh sambil memegangi perut nya.
"Terimakasih ya sayang, sudah menghibur aku. Aku tahu kamu tidak ingin melihat aku bersedih. Aku janji tidak akan bersedih lagi", Stella tersenyum
"Gitu dong sayang. Itu sudah tanggungjawab aku sebagai suami kamu. Sama seperti engkau merawat aku ketika aku sakit jiwa, dengan sabar dan telaten untuk kesembuhan ku. Begitulah yang kurasakan saat ini, bertanggung jawab untuk membuat kamu tidak kepikiran masa lalu", ucap Aditya tegas.
"Kita pulang saja ya, aku sudah cukup sehat kok", pinta Stella.
"Benaran kamu sudah merasa baikan?", Stella mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah hari ini kita pulang ke rumah", Aditya menyemangati Stella.