Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#21. Stella berkunjung ke rumah sakit jiwa melihat kondisi Aditya


__ADS_3

"Bu maaf, Kemarin itu memang karena diusir ibu Rianti ya. Padahal orang-orang bilang, Aditya sakit jiwa karena ibu telah meninggalkan Aditya dan pergi dengan laki-laki lain dan memilih hidup dengan laki-laki tersebut", satpam Edy memberitahukan mengenai gosip penyebab Aditya sakit jiwa.


"Pak ketika itu bapak yang mengantar saya ke jalan besar. Apa bapak melihat saya bersama laki-laki lain?", Stella mengingat kan satpam Edy kejadian ketika Stella diusir dan dibonceng satpam Edy untuk keluar dari komplek menuju jalan besar untuk mencari angkot.


"Iya ya, memang ibu sendiri saat itu tidak bersama dengan laki-laki lain. artinya apa ini Bu?", satpam Edy bingung.


"Artinya, ibu Rianti telah menjelek-jelekkan saya kepada Aditya. Mengatakan kalau saya telah meninggalkan rumah dan pergi dengan pria lain. Ibu Rianti memang sengaja mengusir saya, menjelek-jelekkan saya agar Aditya menjadi depresi dan putus asa, sehingga menjadi sakit jiwa.


Ibu Rianti ingin mengambil seluruh harta kekayaan pak Juan Handoyo. Itu diucapkan Rianti pada saya ketika mengusir saya dari rumah. Saya pikir itu hanya ancamannya ternyata benar", Stella memberitahu siasat busuk dari Rianti.


"Wah jahat sekali ibu Rianti, sudah bagus pak Juan menikahinya. Ternyata Rianti memiliki niat jahat kepada keluarga Juan Handoyo", satpam Edy merasa geram kepada tingkah laku Rianti.


"Tidak ada yang berani menentang perintah Rianti di rumah itu pak. semua diancam akan dipecat dan disiksa oleh Rianti. Jadi tidak satupun orang yang berani berkata jujur, walaupun kenyataan nya mereka melihat aku telah diusir dan diperlakukan tidak wajar.


Mungkin Rianti telah mengancam mereka untuk menceritakan semua kebohongan yang terjadi pada saya kepada Aditya. Yang pada akhirnya mereka tidak tahu akibatnya.


Sekarang Aditya menjadi sakit jiwa, mungkin saat ini mereka pasti merasa kasihan, sedih dan menyesal telah melakukan apa yang diperintahkan oleh Rianti", Stella memberitahu kondisi para pekerja yang ada di rumah Aditya.


"Sudahlah nasi sudah menjadi bubur, semua telah terjadi. Penyesalan sungguh tiada artinya. Sekarang yang perlu dilakukan adalah memperbaiki keadaan. Baiklah kalau begitu.


Pak saya pamit dulu, Oh iya bapak tahu tidak Aditya dibawa ke rumah sakit jiwa mana?", Stella bertanya kepada satpam Edy dan ingin tahu keberadaan dan kondisi Aditya.


"Kalau tidak salah di Rumah Sakit Jiwa Mahoni Jaya Jalan Tirtayasa 25 Bu, Saya selintas melihat alamat pada mobil ambulance yang membawa pak Aditya", satpam Edy memberitahu.


"Bapak tahu tidak lokasi rumah sakit ini dimana?", Stella ingin memastikan lokasi rumah sakit jiwa tempat Aditya di rawat, agar tidak tersesat.


"Kalau tidak salah ibu naik angkot No. 19 Rahayu berwarna merah. ibu perhatikan saja gedung nya di sebelah kiri, Gedungnya berwarna hijau. Tepat nya rumah sakit itu, pas banget setelah lampu merah", satpam Edy menjelaskan detail lokasi letak rumah sakit jiwa tersebut.

__ADS_1


"Baiklah pak, saya akan langsung kesana melihat kondisi Aditya secara langsung", Stella ingin menjenguk Aditya.


"Iya lah Bu, mudah-mudahan pak Aditya bisa sembuh bila melihat ibu Stella. Saya masih kasihan dan prihatin. Pak Aditya bisa menjadi sakit jiwa seperti itu", satpam Edy berharap Aditya bisa sembuh.


"Terimakasih pak atas informasinya saya pamit dulu ya", Stella berlalu meninggalkan satpam Edy.


Setelah di seberang jalan, Stella melaksanakan apa yang diperintahkan satpam Edy, menaiki angkutan Rahayu merah no.19.


Dan ternyata tidak begitu lama menunggu. Stella langsung melihat Angkutan no. 19 nongol dari kejauhan, begitu sudah hampir mendekati Stella. Stella langsung memberhentikan angkot tersebut dan menaikinya.


Stella tidak mau lokasi yang dituju terlewatkan. Stella fokus memperhatikan setiap gedung yang dilaluinya. "Sebentar lagi simpang lampu merah, aku harus bersiap-siap untuk turun", pikirnya dalam hati.


Ternyata benar, setelah simpang lampu merah, ada gedung tinggi berwarna hijau. Stella terus memperhatikan nama gedung itu Bertuliskan RUMAH SAKIT JIWA MAHONI JAYA. Stella pun buru-buru segera meminta untuk berhenti.


"Bang, saya turun disini saja", teriak Stella kepada supir Angkot. Stella pun langsung turun dan membayar ongkos angkotnya.


"Selamat siang bu, saya ingin bertanya mengenai pasien yang bernama Aditya, apa benar ada di rawat di rumah sakit ini?", Stella bertanya kepada petugas resepsionis.


"Sebentar ya Bu, saya coba lihat dulu di daftar pasien ya Bu", petugas resepsionis mencoba mengutak Atik komputernya. Stella pun. berdoa dalam hati, berharap benar Aditya dirawat di rumah sakit ini.


"Oh iya benar Bu, ada pasien atas nama Aditya masuk sebulan yang lalu", petugas resepsionis memberitahu. Syukurlah batin Stella.


"Boleh saya tahu letak dan ruangan pasien tersebut di rawat?", Stella berharap diperbolehkan berkunjung.


"Di ruang cempaka 3 ibu nanti masuk lewat ruang IGD dari pintu depan. Terus saja berjalan lurus. Nanti ada resepsionis di bagian itu. Kebetulan jam segini adalah jam besuk.


Ibu bisa bertanya kepada petugas resepsionis di bagian itu ya Bu", petugas resepsionis menjelaskan secara mendetail dengan ramah dan tersenyum manis.

__ADS_1


"Baiklah, terimakasih infonya ya Bu. Saya akan langsung pergi ke sana", Stella pamit meninggalkan petugas resepsionis berjalan sesuai arahan petugas resepsionis tersebut.


Stella pun sampai ditempat yang diarahkan petugas resepsionis tersebut. "Cempaka 3", Stella membaca dalam hati.


Pelan-pelan Stella memasuki ruang yang dituju. Begitu sampai di depan pintu kamar Aditya. Stella langsung mengeluarkan air matanya sedih melihat kondisi Aditya yang duduk termenung, terkadang menutupi wajahnya teriak seolah-olah ketakutan.


Stella tidak menyangka suaminya akan seperti yang dilihatnya Sekarang ini. Ingin rasanya memeluk Aditya.


Stella mencoba memanggil-manggil, "Adit....Aditya..", teriak Stella terus.


Adit pun menoleh bingung ke arah Stella. Dan ketakutan langsung menjauh dan pergi ke sudut tempat tidur menghindari Stella.


Langsung Stella kembali berurai air mata, tidak menyangka Aditya tidak mengenali dirinya lagi.


Ada perawat datang menghampiri Stella.


"Selamat siang Bu, ibu siapanya pasien. Soalnya sejak pasien dibawa kesini. Belum ada keluarga pasien yang datang mengunjungi pasien", perawat memberitahu.


"Saya istrinya pasien, saya pun baru tahu kondisi pasien menjadi seperti sekarang ini", Stella menangis didepan perawat.


"Nanti saya akan memberitahu mengenai ibu. Agar suatu waktu bila ibu datang. Aditya bisa berinteraksi dengan ibu. Sejak Aditya datang kesini. Aditya tidak mau keluar, dan selalu mengurung diri" perawat memberitahu keseharian Aditya.


"Saya boleh berkunjung setiap hari kesini?", tanya Stella ingin tahu.


"Boleh Bu. Nanti kita lihat reaksi Aditya apakah bisa menerima ibu atau malah ketakutan dan semakin memperparah kondisi pasien", ucap perawat memberitahu


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Dan besok saya akan datang kembali untuk melihat kondisi dan perkembangan Aditya", Stella pamit meninggalkan perawat yang menangani Aditya.

__ADS_1


__ADS_2