Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam

Menantu Tulus Mengalahkan Mertua Serakah Dan Kejam
#63. Aditya dan Anggi sah jadi suami istri.


__ADS_3

Usia kandungan Anggi sudah memasuki bulan ke 7.


Setiap Aditya pergi ke rumah stella, bila menjelang malam. Ada-ada saja alasan Anggi yang menyuruh Aditya untuk balik ke rumahnya dan akhirnya Aditya tidur bersamanya.


Suatu hari ketika Aditya berada di rumah stella.


"Sayang, kok aku merasa kalau drama ini semua adalah akal-akalan Anggi", stella menduga-duga sikap Anggi.


"Maksud kamu apa sayang, aku kurang paham", Aditya tidak paham maksud Stella.


"Begini sayang, Aku merasa kalau penyakit Anggi itu adalah pura-pura. Dan aku pikir Anggi itu sebenarnya tidak sakit. Anggi hanya ingin mendapatkan perhatian kamu dan kasih sayang kamu. Bahkan yang lebih jahatnya lagi. Anggi berpura-pura sakit, agar aku tidak bisa tidur bersama dengan kamu", stella memberitahu dengan suara pelan dan lembut


"Astaga Stella, kamu kok jahat banget sudah berprasangka buruk kepada orang lain. Jelas jelas, penyakit Anggi itu dokter yang memberitahukan kepada kita. Apakah kamu juga menduga kalau dokter itu juga berkonspirasi dengan Anggi?", Aditya tidak suka kalau Stella sudah souzon kepada Anggi dan dokter Ira.


"Sayang mengapa kamu begitu marah, dan sangat membela Anggi. Aku kan hanya menduga-duga", stella heran Aditya begitu membela Anggi.


"Aku bukan membela Anggi, tetapi yang kulihat memang Anggi sangat kesakitan menahan sakitnya, tetapi kamu malah menuduh nya yang bukan-bukan. Kamu jangan egois stella, anak yang di dalam kandungan Anggi adalah anak ku juga.


Aku tidak ingin anak itu jadi terganggu perkembangannya. Untuk itu, aku harus menuruti permintaan Anggi, agar pikirannya tidak mempengaruhi perkembangan janinnya", Aditya tidak terima Stella menjadi egois.


"Sayang, sepertinya kamu sudah cinta sekarang kepada Anggi ya, tidak bisa diragukan lagi. Karena kamu sudah hidup berbulan-bulan lamanya, sangat tidak mungkin memang kalau kamu tidak jatuh cinta kepadanya. Atau mungkin lekukan tubuhnya yang dalam posisi hamil tua.


Membuat kamu menjadi sangat bergairah?", emosi stella begitu marah kepada Aditya, Aditya begitu membela Anggi. Sampai tidak memikirkan perasaan Stella sangat sakit, bila suaminya bersama perempuan lain.


"Hati perempuannya mana yang tidak sakit, bila di duakan seperti itu", gumam Stella dalam hati.


"Sudahlah Stella, kita akhiri pertengkaran ini. Aku malas berdebat dengan kamu, padahal kamu seorang ibu. Masak tidak bisa menyamakan perasaan mu dengan perasaan Anggi", Aditya kembali sangat menyudutkan Stella. Stella merasa sakit seperti nya Stella yang paling bersalah disini.


"Sudah Adit, sudah. Seperti nya kamu lebih membela Anggi. Sekarang juga kamu pergi bersama Anggi, pergi sana ke rumah Anggi.


Kamu fokus saja merawat Anggi di rumah nya sampai kelahiran anaknya. Aku sakit hati, kamu datang kesini tetapi kamu bolak-balik ditelpon Anggi dan kamu juga tidak pernah bisa menginap bersama aku.


Kamu memaksa menginap di rumah bersama aku, nanti malah Anggi terbeban dan mempengaruhi kesehatannya dan kesehatan janinnya.


Sudah tidak apa-apa kamu fokus saja merawat Anggi sampai kelahiran anaknya. Tidak usah lagi kamu memikirkan untuk kebutuhan ku atas hubungan suami-istri kita pergi dan tidak usah datang ke rumah ini", Stella memberitahu kepada Aditya. Stella sebenarnya tidak ihklas tetapi sepertinya memang Anggi tidak memperbolehkan Aditya tinggal bersamanya.

__ADS_1


Stella begitu marah, dan segera meninggalkan Aditya di ruang tamu. Stella langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu lalu menangis sejadi-jadinya.


Aditya langsung pergi meninggalkan Stella, malah tidak berusaha membujuk Stella agar tidak salah paham.


Stella menangis merasa kalau kehidupan rumah tangga akan segera berakhir. Karena Anggi sepertinya berusaha dengan gigih melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Stella bersujud dan berdoa.


"Ya Tuhan, tunjukkan kemurahan Mu kepada ku.


Begitu jahat kah aku seperti yang dituduhkan oleh suami ku.


Aku hanya bermaksud bertukar pikiran bukan maksud nya menjelek-jelekkan Anggi.


Ampunilah aku Tuhan, kalau aku sudah jahat menuduh Anggi yang tidak-tidak.


Tolong bukakan jalanMu bagi kelangsungan rumah tangga kami ini.


Apakah akan berakhir disini?.


Agar kami pun bisa lebih introspeksi diri.


Amin.


Stella mencurahkan seluruh isi hatinya dalam sujud dan doanya. Berharap kehidupan rumah tangga nya baik-baik saja.


****


Percakapan antara Anggi dan Aditya.


"Sayang, kita kan belum menikah secara sah. Bagaimana kalau kita menikah secara sah. Agar anak ini nantinya mempunyai akte kelahiran yang sah.


Aku takut anakku nanti malah terlahir sebagai anak haram. Karena hubungan kedua orangtuanya tidak berdasar atas pernikahan yang sah", Anggi memohon-mohon dan membujuk Aditya dengan manja.


Sebenarnya Aditya merasa berat menyetujui permintaan Anggi, tetapi lagi-lagi untuk memikirkan kesehatan Anggi dan janinnya. Aditya dengan terpaksa menuruti permintaan Anggi. Tanpa minta persetujuan Stella.

__ADS_1


"Baiklah Anggi, aku setuju", Aditya menyanggupi, Anggi pun sangat senang luar biasa.


"Besok kita akan menikah ya, aku ada teman yang akan menjadi penghulu untuk kita", Anggi memberitahu.


"Iya, tetapi tidak usah resepsi yang mewah, tidak usah mengundang banyak tamu. cukuplah hanya beberapa saksi. Yang penting pernikahan kita sah", ucap Aditya sedikit kecewa, karena sudah melangkah terlalu jauh.


Hatinya pun bimbang, sepertinya Anggi sudah terlalu banyak menuntut. "Bagaimana kalau perkataan Stella itu benar", pikir Aditya dalam hati.


Tetapi apa daya, tidak mungkin menolak lagi keinginan Anggi.


***


Hari ini adalah pernikahan Aditya dan Anggi. Tidak ada stella dalam resepsi pernikahan ini, karena memang Aditya tidak mengundang Stella. Karena bila Stella tahu pernikahan ini, pasti stella akan marah besar.


Aditya dan Anggi sah menjadi suami istri. Tamu undangan sudah pulang.


Begitu malam Aditya pun langsung rebahan dan mencoba untuk memejamkan matanya.


Tiba-tiba Anggi datang dari atas tanpa busana, bermaksud untuk menggoda Aditya.


"Anggi, apa-apaan ini. Jangan konyol kamu, lagian kamu sedang hamil tua. Sepertinya tindakan kamu sudah kelewat batas", Aditya sedikit marah.


"Sayang kita kan sudah sah jadi suami istri, ini malam pertama kita melakukan hubungan suami-istri atas dasar suka sama suka", Anggi berbicara dengan manja.


"Jangan melampaui batas kamu Nggi, aku dan kamu, posisinya karena kamu telah menjebak aku sehingga kamu mengandung anak aku. Dan karena penyakit mu, aku merasa kasihan dan bertanggungjawab, hanya sebatas itu", Aditya memberitahu.


"Sayang, aku tahu. Tetapi umurku juga tidak akan lama, masak iya kamu tidak mau berhubungan suami-istri dengan ku. Padahal kita sudah sah menjadi suami istri. Apa itu salah?.


Ayolah, sayang ...", Anggi terus menggoda Aditya, mengelus tubuh Aditya, hingga ke area sensitif nya. Keinginan dan hasrat birahi Aditya menjadi sangat ingin karena selama ini juga sangat tertahan kala ia ingin melampiaskannya kepada Stella tetapi terhalang dengan berbagai alasan dari dari Anggi agar Aditya tidak bersama Stella.


Bersama Anggi juga, Aditya selalu menepis pikirannya, walaupun Anggi selalu mencoba menggodanya dengan pakaian seksi dan transparan dari Anggi. Aditya selalu menahan hasratnya.


Sekarang hasrat itu seperti tidak bisa dibendung lagi. Karena Anggi begitu agresif, pintar dan liar, menyentuh ke area yang membuat Aditya sangat bernafsu. Mereka pun merasa puas dengan sisa nafas yang masih ngos-ngosan.


Aditya rebah di samping Anggi, dengan sedikit merasa bersalah terhadap Stella. Tetapi Aditya berkilah, tidak bisa membendung lagi keinginan hasratnya karena bujuk dan rayuan dari Anggi.

__ADS_1


__ADS_2