
Di rumah, Evans pun tidak sabar memikirkan dirinya akan menikah dengan Desi. Dalam benaknya telah tergambar kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama Desi dan anak-anaknya kelak.
Semua persiapan nikah sudah disiapkan termasuk pakaian nikah. Tidak susah-susah mempersiapkan jas nikah. Karena Evans mempunyai banyak jas aneka warna, karna dulunya Evan berprofesi sebagai direktur utama. Setiap hari nya Evans selalu memakai jas ke kantor.
Evans bermaksud tidur lebih awal, agar besok tidak telat bangun. Berusaha untuk memejamkan matanya tetapi tidak bisa. Sebentar membalikkan badannya ke kiri dan ke kanan ternyata matanya pun susah sekali untuk terpejam.
"Bagaimana kalau aku telepon Desi saja, mungkin saja Desi merasakan hal yang sama seperti aku. Susah sekali untuk terpejam", pikir Evans dalam hati.
Evans pun mencoba menghubungi Desi.
Lama sekali Evans menunggu agar handphonenya berdering tetapi tetap tidak tersambung.
"Telepon yang anda hubungi sedang di luar jangkauan, coba periksa no tujuan anda", ucap operator.
Evans merasa penasaran "Mengapa no handphone Desi tidak aktif ya", gumam Evans dalam hati.
"Ahhh sudahlah mungkin Desi memang sedang tidak ingin di ganggu. Mungkin saja Desi sudah terlelap tidur karena kelelahan seharian mengurusi resepsi pernikahan nya", gumam Evans dalam hati dengan lugu, sedikitpun tidak menaruh curiga terhadap Desi.
Evans pun memaksakan diri untuk memejamkan matanya. Dan akhirnya terlelap.
****
Kring.... suara alarm berbunyi.
Dengan sedikit tidak bersemangat Evans beranjak dari tempat tidur nya, karena rasanya Evans baru terlelap tidur kira-kira 3 jam saja. Evans memaksakan diri untuk bangun, mengingat sekarang adalah momen pernikahan nya.
Jam delapan tepat, Evans sudah selesai berbenah dan bermaksud untuk segera berangkat ke gedung Benteng Agung Jl. Delima, dengan menggunakan kendaraan roda empat yang dipesan nya melalui aplikasi online. Dengan semangat Evans pun berangkat menggunakan sisa uang yang masih ada padanya.
"Gedung Benteng Agung yang di Jalan Delima, pak", pesan Evans kepada sang sopir.
"Baik pak", balas sang sopir dan langsung melajukan kendaraannya.
Hanya memakan waktu 15 menit dalam perjalanan, akhirnya Evans tiba di Depan Gedung Benteng Agung.
Evans pun masuk, Semua sudah beres, pikirnya itu adalah resepsi untuk pernikahan nya. Tetapi Nama pengantin di depan gedung tertera atas nama Hendrik dan Salsha.
__ADS_1
Masih sepi pengunjung pada saat itu. Tetapi ada beberapa orang berpakaian kebaya seragam. Mengatur dekorasi tatanan meja tamu dan makanan untuk hidangan.
Evans bingung, "Mengapa nama pengantin di depan gedung atas nama Hendrik dan Salsha", gumamnya dalam hati.
Lantas Evans menanyakan kepada salah satu pihak pengunjung, perihal nama pengantin yang tertera di depan gedung.
"Pak ini benar pernikahan atas nama Hendrik dan Salsha?", tanya Evans penasaran.
"Iya benar, Memang atas nama Hendrik dan Salsha!. Hendrik itu atas nama anak saya, dan Salsha adalah menantu kami", salah satu pihak keluarga memberitahu.
"Ada apa ya?, Bapak tamu undangan?, seperti nya tidak. Bapak seperti pengantin prianya", ucapnya menambahi penuh kebingungan.
"Harusnya saya juga menikah digedung ini jam 10 pagi. Calon istri saya yang telah mengurus semua segala urusan akad dan resepsi. Makanya saya bingung mengapa bukan nama saya dan calon istri saya yang tertera di depan gedung ini", Evans memberitahu.
"Oh kalau begitu. Silahkan tanya kepada petugas gedung kalau bapak merasa ragu", Tunjuknya ke arah gedung yang merupakan gedung pemasaran. Artinya untuk segala pemesanan dan komplein datang ke gedung pemasaran tersebut.
"Baiklah pak, saya permisi dulu. Saya akan bertanya kepada salah satu petugas disana", Evans meninggalkan gedung tersebut.
"Selamat pagi pak!, Mau numpang tanya. Apakah benar Pernikahan yang berlangsung di gedung Benteng Agung adalah atas pengantin yang bernama Hendrik dan Salsha?. Karna menurut informasi dari calon istri saya pernikahan kami akan dilaksanakan di gedung ini pada jam 10 pagi juga", ucap Evans setelah sampai di gedung pemasaran.
"Sebentar saya cek dulu ya pak", ucap petugas.
"Mengapa jadi seperti ini, apa Desi salah memberitahu harinya, atau aku yang salah dengar", Evans merasa bingung.
"Baiklah kutanya saja, petugas untuk memastikan. Mungkin saja aku yang salah dengar", gumam Evans dalam hati.
"Pak, saya ingin tahu apakah ada pernikahan di lain hari?", Evans ingin memastikan.
"Selalu ada pernikahan disini setiap hari pak", ucap petugas bingung dengan pertanyaan Evans.
"Maksud saya pak, adakah digedung ini pernikahan atas nama pengantin yang bernama Evans dan Desi?", tanya Evans memastikan.
"Baiklah sebentar saya periksa. Menurut catatan di komputer kami tidak ada nama pengantin atas nama Evans dan Desi pak", jawab petugas dengan tegas.
Evans sangat terkejut dengan pernyataan dari para petugas, padahal menurut nya Desi mengucapkan pernikahannya diselenggarakan di gedung Benteng Agung Jl Delima yang dekat rumahnya.
__ADS_1
Evans pun mencoba memastikan lagi kepada petugas, "Mungkin saja petugas salah, gumamnya mulai resah.
"Pak, tolong bapak periksa lagi. Apakah bapak tidak salah?, karena pacar saya telah mengatakan pernikahan kami akan diselenggarakan di gedung ini pada pukul 10 pagi", tanya Evans balik.
"Benar pak, tidak ada pernikahan atas nama Evans dan Desi", petugas menyakinkan Evans.
"Pak, sudah sering kejadian seperti itu disini. 3 bulan yang lalu juga ada kejadian yang sama seperti yang bapak alami. Korbannya pengantin laki-laki juga, seluruh akad nikah dan resepsi ditangani oleh pengantin wanita.
Seperti nya pihak laki-laki telah ditipu oleh pihak perempuan. Pihak perempuan mengatakan akan pengurus semuanya baik acara akad dan acara resepsi.
Kenyataannya pihak pengantin perempuan tidak ada mendaftarkan pernikahan nya. Lain katanya, pengantin perempuan telah menipu dan memoroti pengantin laki-laki. Setelah hartanya habis, pengantin perempuan meninggalkan pengantin laki-laki.
Apakah bapak mengalami hal yang sama seperti yang saya ceritakan tadi?", petugas merasa penasaran. Evans pun menundukkan kepalanya. Dengan lemas Evans meninggalkan gedung pemasaran tersebut. Tidak menyangka dirinya telah ditipu oleh Desi.
Evans pun langsung buru-buru mengambil handphone nya untuk menghubungi Desi ingin menanyakan kebenarannya.
Sama seperti semalam,
handphone Desi tetap tidak bisa dihubungi.
"Kemana Desi, apakah Desi benar telah menipuku?", gumamnya sedih.
"Ya Tuhan tega sekali kamu Des, padahal aku sudah memberikan banyak untuk mu, bahkan sisa tabungan dan mobil. Sekarang aku tidak mempunyai apa-apa lagi.
"Benarkah kamu sudah dari awal ingin memoritiku?", Evans tidak habis pikir.
"Coba aku ke rumah Desi sekarang, Akan aku minta ia mengembalikan semua apa yang telah kuberikan kepada nya", gumam Evans dalam hatinya dan langsung tancap gas menuju rumah Desi menggunakan angkutan umum.
Evans pernah mengantar Desi ke kontrakan nya, hanya sampai depan rumah ketika pulang pada malam hari. Jadi Evans masih ingat arah rumah Desi.
Betapa terkejutnya Evans kalau rumah kontrakan itu sudah tergembok dari luar.
Evans bertanya kepada warga yang kebetulan lewat. "Pak, orang yang tinggal disini kemana perginya?".
"Kurang tahu pak, sedari kemarin, seperti nya rumah ini sudah tergembok dari luar. Kebetulan saya memang selalu lewat rumah ini", ucapnya.
__ADS_1
"Oh iya Terimakasih banyak ya pak", Evans merasa lemas dan tidak berdaya. Seluruh uang tabungan telah diambil Desi. Evans tidak punya apa-apa lagi.
"Kurang ajar kamu Des, kamu telah menipuku. Padahal aku sudah memberikan segalanya untuk mu. Ya Tuhan, bagiamana ini, dimana aku akan tinggal. Ini adalah karma dari perbuatan ku. Jahat kepada Aditya dan ayahnya. Bahkan kepada ibuku sendiri", Evans terus menangis.