
Rianti mendengarkan percakapan stella, Aditya dan mbok Lasmi di meja makan, Rianti berpura-pura lewat dan sedang mencuci gelas di wastafel. Jarak wastafel ke meja makan jaraknya lumayan dekat.
"Bagus kalau Aditya akan keluar kota, Mudah-mudahan Aditya selamanya atau lama urusannya di luar kota. Agar aku bisa mengerjai Stella", pikir Rianti merencanakan sesuatu.
"Aku harus terlihat ramah dan perhatian kepada Stella, agar Aditya tidak curiga terhadap aku", Rianti menambahi siasatnya.
Keesokan harinya ketika sarapan pagi bersama H-1 sebelum Aditya berangkat ke luar kota.
"Di tambah sarapan nya Stella, kamu harus makan yang banyak, mana bisa cepat hamil kalau kamu kurus begitu", Rianti berpura-pura perhatian kepada Stella.
Stella dan Aditya cukup terkejut, baru kali ini Rianti menyapa nya dengan ramah, biasanya juga terlihat sinis.
"Iya benar itu, kapan ayah akan mendapatkan cucu kalau kamu kurus begitu", Juan membenarkan perkataan Rianti.
"Iya ayah, Stella tidak lagi diet kok", jawab Stella sambil tersenyum.
"Oh iya ayah, Aditya akan ke luar kota besok. Mungkin mungkin kira-kira bisa memakaan waktu 1-2 hari bila urusan bisnis Adit lancar, mungkin bisa saja agak lebih lama kalau masih ada urusan yang harus diselesaikan.
Mudah-mudahan urusannya cepat selesai yah, agar Aditya tidak usah meninggalkan istri Adit kesepian berlama-lama. Titip Stella ya ayah", aditya memberitahu.
"Memangnya tidak bisa ditunda dit, baru menikah istri kamu kok sudah main tinggal aja", ucap Juan.
"Tidak bisa ayah, perusahaan yang baru di rilis 2 bulan yang lalu ada masalah. Jadi Aditya harus cepat-cepat menyelesaikan nya", ucap Aditya.
"Oh, baiklah kalau begitu. Semoga bisnis kamu lancar dan cepat selesai ya. Iya Stella pasti aman di rumah ini", Juan menyakinkan Aditya.
"Iya kamu tidak usah khawatir dit, ibu pasti akan menjaga Stella dengan baik", Rianti menyakinkan Aditya.
"Kamu harus fokus menyelesaikan bisnis kamu dit, mengenai aku kamu tidak usah khawatir. Aku selalu mendukung pekerjaan kamu kok", Stella juga menyakinkan Aditya agar tidak terlalu mengkhawatirkan Stella.
__ADS_1
"Dengar tuh kata istri kamu, kamu tidak usah mengkhawatirkan nya, fokus ke bisnis dan usaha kamu disana. Niscaya doa-doa istri kamu di rumah akan menambah kelancaran atas apa yang kamu kerjakan", Juan memberi nasihat.
"Baiklah kalau begitu, semua telah mendukung Adit. Terimakasih untuk semua support nya. Sekarang Aditya perginya tidak mendua hati dan bisa lebih fokus dalam melakukan pekerjaan", Aditya menambahi.
****
Ternyata dua hari kepergian Aditya ke luar kota. Urusan pekerjaan nya belum selesai. Aditya memberitahu Stella lewat telepon.
"Sayang, bagaimana kabar kamu disana, apakah baik-baik saja?", tanya Aditya ingin tahu.
"Aku baik-baik saja sayang", Stella menyakinkan Aditya.
"Sayang.. Maaf ya, aku belum bisa pulang, aku juga belum tahu kapan bisa pulang. Aku harus bertemu beberapa klien disini, tetapi ada klien juga yang sedang keluar kota. Aku harus menunggu nya pulang. Kamu yang sabar ya", Aditya bersedih dan terlihat cemas karena telah meninggalkan Stella berhari-hari dan tidak tahu kapan bisa kembali ke rumah.
Stella tidak mau pikiran Aditya cemas memikirkan dirinya. Stella harus bisa menyakinkan Aditya agar bisa lebih fokus menyelesaikan pekerjaan nya di luar kota.
"Sayang.. Kamu tidak usah mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja kok disini. Banyak orang yang perhatian sama Stella disini", Stella menyakinkan Aditya.
***
2 hari aditya belum pulang dari luar kota dan Juan pun sedang keluar kota dengan waktu yang cukup lama.
Rianti merasa kalau inilah kesempatan baginya untuk menyingkirkan Stella.
"Aku harus buru-buru melancarkan strategi ku untuk segera mengusir Stella dari rumah ini, kalau tidak sekarang kapan lagi. Aku juga tidak tahu Aditya kapan lagi keluar kota.
Sebelum Stella keburu hamil. Nanti adanya seluruh harta kekayaan Juan malah jatuh ke tangan cucunya, anak dari Aditya", gumam Rianti merasa khawatir dan harus cepat menjalankan niat jahatnya.
Begitu Stella bangun tidur Rianti berteriak kencang kepadanya, sebelumnya semua pegawai di rumah itu telah dikumpulkan berkumpul di ruang dapur.
__ADS_1
"Stella mulai hari ini kamu semua yang mengerjakan rumah, Pegawai yang lain tidak boleh membantu. Siapa pun tidak boleh membantah. Siapa yang ketahuan membantu Stella maka akan saya pecat", Rianti dengan tegas memerintah.
"Bu, saya istri Aditya pemilik rumah ini, kan ada pegawai yang seharusnya mengerjakan pekerjaan rumah. Nanti saya beritahu Aditya lho", Stella mengancam.
"Juan sedang tidak ada di rumah, jadi saya berhak memerintah di rumah ini. Siapa yang membantah silahkan keluar dari rumah ini. Oh iya sini hp kamu. Agar Aditya tidak boleh menghubungi mu", Rianti kasar merampas hp Stella kebetulan Stella meletakkan di atas meja makan.
"Bu, apa-apaan ini. Mengapa ibu tiba-tiba kasar sama saya. Sebelumnya ibu terlihat ramah dan perhatian", Stella ingin tahu.
"Selama ini niat saya menikahi Juan adalah untuk merampas semua harta kekayaan nya. Karena Juan mengatakan kalau harta akan diserahkan kepada cucunya. Saya tidak terima. Jadi sekarang waktunya saya akan menyingkirkan kamu terlebih dahulu", Rianti memberitahu kebusukan nya.
"Ibu jangan lakukan itu. Kita bisa bicara baik-baik. Saya dan Aditya tidak bermaksud untuk mengambil dan menguasai harta milik ayah. Ibu kan tahu kalau Aditya selalu mandiri dan merilis sendiri bisnisnya tanpa bergantung kepada ayah.
Jadi apa yang diperoleh Adit selama ini adalah karna kerja kerasnya. Kami pun tidak bermaksud untuk tinggal di rumah ini", ucap Stella memberitahu, agar Rianti mengurung kan niat jahatnya.
"Juan terlalu pelit untuk menyerahkan harta kekayaan nya kepada ku dan anakku Evans. Kami hanya diberi rumah dan beberapa uang cash saja. Dan kami tidak terima itu, kami harus mendapatkan lebih", Rianti terlihat Serakah.
"Sudahlah tidak usah membujuk ku. Lagian kamu sudah mengetahui rencana busukku. Dan aku tidak mau gagal. Cepat kamu kerjakan semua ini, kalau tidak kamu akan saya siksa", Rianti mengancam Stella.
Mau tidak mau Stella pun harus menuruti apa yang diperintahkan Rianti.
Seharian Stella mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci harus dengan tangan tidak boleh memakai mesin cuci, memasak, menyapu, sebelumnya terlebih dahulu belanja ke pasar.
Semua orang-orang entah kemana di kumpulkan Rianti, tidak ada satupun yang terlihat batang hidungnya.
Stella tidak diperbolehkan sarapan atau istirahat sebelum semua pekerjaan selesai dilakukan. Stella menangis tidak menyangka ibu tirinya sekejam itu.
Sehari berlalu bahkan sudah satu Minggu. Stella disuruh terus yang bekerja sendiri di rumah itu. Tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Mau lari pergi meninggalkan rumah pintu depan dan pintu gerbang di kunci.
Sudah seminggu Aditya dan Juan juga tidak kunjung datang dari luar kota Stella hampir putus asa.
__ADS_1
Hingga akhirnya Stella diusir dari rumah, tas stella dilemparkan ke luar. Dompet, handphone dan perhiasan Stella semua dirampas oleh Rianti. Stella tidak membawa barang berharga yang jadi modalnya untuk bertahan hidup di luar rumah setelah di usir.