
Stella pulang dengan raut wajah yang sedih.
"Kak Stella, bagaimana kak. Apakah kakak sudah pulang dari rumah Aditya?. Informasi apa yang kakak dapatkan?", jennny penasaran ingin tahu informasi mengenai aditya. Karena Stella pagi tadi sudah berangkat ke rumah Aditya.
"Aditya sakit jiwa Jenn", Stella menunjukkan wajah tampak sedih.
"Apa kak, Aditya sakit jiwa. Mengapa itu bisa terjadi?", Jenni terkejut dan tidak percaya atas apa yang dikatakan Stella.
"Tadinya kakak juga tidak percaya atas apa yang dikatakan satpam komplek. Mereka memastikan memang benar Aditya kakak ipar kamu yang anaknya Juan Handoyo.
Aditya sakit jiwa karena Rianti telah mengatakan bahwa kakak telah pergi meninggalkan rumah dengan seorang laki-laki dan lebih memilih hidup bersama laki-laki itu.
Aditya merasa frustasi dan jadi sering mengurung diri", Stella memberikan penjelasan mengenai kondisi Aditya.
"Terus sekarang Aditya dimana kak?", tanya jenny ingin tahu.
"Aditya sedang dirawat di rumah sakit jiwa Jen", ucap stella datar.
"Apakah kakak sudah menjenguk nya?", Jenni ingin tahu.
"Kakak sudah ke rumah sakit jiwa, dan sudah bertemu dengan Aditya. Tetapi Aditya tidak mengenal kakak. Aditya sering menyendiri, dan sering merasa ketakutan. Melihat kakak tadi, Aditya jadi sembunyi di pojokan tempat tidur", Stella menceritakan kondisi Aditya.
"Apa selanjutnya rencana kakak?, apakah kakak akan sering menjenguknya?, atau kakak akan menceraikan Aditya?", tanya Jenni ingin tahu.
"Untuk sementara ini, kakak akan sering mengunjungi Aditya, kakak berharap dengan mengunjungi Aditya. Aditya bisa mengingat kakak, dan berharap Aditya bisa pulih kembali normal seperti biasanya", Stella memberitahu rencananya.
"Menurut kakak, apakah Aditya bisa pulih normal seperti biasanya?", Jenni merasa tidak yakin.
"Kakak tidak tahu Jenni, kakak berharap Aditya bisa pulih kembali. Walaupun tidak berharap Aditya akan kembali hidup bahagia bersama kakak.
Karena bisa saja Aditya lebih memilih hidup dengan wanita yang lebih layak daripada dengan kakak, yang berprofesi sebagai mantan wanita kupu-kupu malam. Kakak hanya bisa berdoa mudah-mudahan Aditya bisa pulih dan sehat", Stella berharap.
"Semoga saja ya kak, Aditya bisa pulih normal seperti biasanya", Jenni ikut berharap.
****
Keesokan harinya Stella datang mengunjungi Aditya di rumah sakit jiwa pada pagi hari.
__ADS_1
Stella berdiri di depan pintu kamar Aditya, kebetulan Aditya sedang berdiri didepan pintu kamarnya. Pintu itu berupa pintu besi. Pasien leluasa melihat keluar dan pengunjung pun bisa bertatap muka dengan pasien.
"Pagi Adit", sapa Stella dengan ramah.
Adit hanya diam seperti tidak mengenali Stella.
"Adit, ini aku Stella istri kamu", Stella memperkenalkan diri kepada Aditya.
Adit mencoba memperhatikan lebih dekat lagi wajah Stella lalu berteriak "Pergi...kamu. kamu.. jahat...kamu telah meninggalkan aku", Aditya berteriak dengan kencang sambil memukul-mukul pintu besi kamarnya, menutup kupingnya terus berteriak dan kembali ke pojokan tempat tidur untuk bersembunyi .
Stella menangis dan ketakutan, sedih Aditya tidak mengenalnya. Malah mengingat kalau Stella jahat telah meninggalkan dirinya.
Perawat pun menghampiri Stella setelah mendengar teriakan Aditya.
"Bu maaf, tidak usah memaksa agar pasien mengingat ibu. Ibu datang saja setiap hari. Nanti saya akan mencoba memperkenalkan ibu secara pelan-pelan kepada Aditya. Mudah-mudahan Aditya nanti sudah lebih tenang dan mau menerima ibu.
Setelah lebih tenang dan Aditya mau menjalin komunikasi dengan ibu, niscaya akan mengembalikan ingatan Aditya", perawat memberitahu Stella. "Amin", Stella berdoa dalam hati,
"Baiklah sus, besok saya akan kembali lagi", ucap Stella datar.
"Tentu saja, kami memberikan obat secara rutin. Dokter yang memberikan resepnya. Dan kami para perawat hanya bertugas mengingatkan dan menyuruh pasien untuk minum obatnya setiap hari", ucap perawat memberitahu jadwal pemberian obat bagi Aditya.
"Oh, syukurlah. Mudah-mudahan Aditya bisa pulih kembali ya sus", ucap Stella.
"Amin Bu, kita hanya bisa berharap dan berdoa", balas suster.
***
Sebulan berlalu Stella rutin setiap hari mengunjungi Aditya. Stella bingung tidak ada perubahan secara signifikan terhadap Aditya. Malah Aditya semakin parah keliatannya. Makin emosional, tidak terkendali, lebih sering melamun dan mengurung diri. Bahkan Aditya tidak mau makan, makan selalu di paksa, Aditya juga tidak mau mandi dan bergaul atau keluar kamar, selalu mengurung diri.
Tidak memperhatikan penampilan, tidak mau di pangkas rambutnya. Stella sangat sedih melihat penampilan Aditya seperti tidak terurus, semakin kurus dan dekil.
Bagaimana tidak terurus karena para perawat takut untuk mendekati Aditya. Karena apabila Aditya disapa atau ditegur, Aditya langsung marah, berontak dan berteriak untuk menjauhinya.
"Sus, mengapa Aditya tidak ada perubahan. Malah keliatan seperti semakin parah saja. Emosinya tidak terkendali. Bukannya setelah mendapatkan pengobatan pasien akan lebih tenang dan bisa terkontrol. Mengapa ini malah sebaliknya", Stella bingung mengapa pengobatan Aditya seperti tidak ada gunanya.
"Saya juga tidak mengerti Bu, padahal saya selalu rutin memberikan obat yang diresepkan dokter", suster tidak mau disalahkan.
__ADS_1
Stella pun sesaat terdiam tidak berkata apa-apa.
"Suster, apakah keluarga pasien pernah datang mengunjungi pasien?", suster bingung ucapan Stella, padahal Stella mengaku istri pasien.
"Maksud saya, keluarga pasien selain saya suster. Apakah ayah pasien, ibu pasien, teman atau siapa saja selain saya", Stella penasaran.
"Oh, setahu saya tidak pernah ada keluarga pasien yang datang Bu", suster mengingat-ingat. Stella sedih, Juan tidak perhatian lagi kepada Aditya, padahal Aditya adalah anak semata wayangnya.
"Kalau untuk biaya pengobatan, apakah selalu dibayar secara rutin suster?", Stella ingin tahu.
"Mungkin rutin Bu, karena kalau tidak rutin mungkin pasien akan dikembalikan kepada pihak keluarga", suster memberi tahu.
"Oh begitu ya sus", Stella hanya manggut-manggut.
Stella terdiam tidak berkata-kata, sejenak berpikir dalam benaknya.
"Apa yang harus kulakukan?, Aku merasa kasihan dengan Aditya, apakah akan seumur hidupnya akan menjadi sakit jiwa?, Aku merasa tidak tega membiarkan Aditya seperti ini", Stella terus berpikir mencoba mencari ide.
Stella pun akhirnya pulang ke rumah dengan tidak bersemangat. "Tunggulah, mungkin Jenni dan Joy, bisa memberikan sedikit ide", gumamnnya dalam hati.
***
Sesampainya Stella di rumah.
"Hai kak, sudah sebulan ini kakak rutin mengunjungi Aditya. Bagaimana keadaan Aditya apakah ada perubahan ke arah yang lebih baik tentunya", jenny penasaran dan ingin tahu.
"Tidak ada perubahan Jen, masih yang begitu-begitu saja. Malah kakak melihatnya semakin parah saja. Aditya semakin sering mengurung diri, malah takut untuk ketemu kakak dan ketemu orang lain, sering marah-marah dan selalu ketakutan", Stella memberitahu kondisi Aditya yang semakin parah.
"Kasihan sekali Aditya, Apa kakak tidak ada rencana untuk merawatnya sendiri dan mengeluarkan nya dari rumah sakit. Karena tidak mungkin pasien semakin parah kalau tidak karena disengaja", Jenni memberi tanggapan.
"Maksud kamu apa Jen, kakak tidak mengerti", Stella bingung.
"Maksud Jenni, bukan tidak mungkin kalau ini adalah perbuatan jahat Rianti. Bukan kah kakak bilang kalau Rianti yang mengusir kakak?. Dan berharap
Aditya menjadi gila agar seluruh harta kekayaan Juan Handoyo jatuh ketangan Rianti dan Evans. Mungkin saja dokter yang di rumah sakit adalah dokter bayaran Rianti untuk memberikan obat agar Aditya semakin parah", jenny berprasangka buruk kepada Rianti.
"Bisa saja kamu benar, tetapi kita tidak ada bukti", Stella membenarkan ucapan Jenni.
__ADS_1