
Ketika di meja makan, benar saja Aditya langsung melahap habis nila goreng dan tumis kangkung yang disajikan bersama cumi-cumi. Makanan itu, memang membuat Aditya ingin terus tambah. Aditya begitu nikmat dan lahap memakan semua makanan yang tersaji di meja makan.
Anggi pun merasa sangat lega, karena makanan kesukaan Aditya kebetulan sekali benar. Memang stok ikan yang tersedia di lemari es hanya tersedia hanya beberapa ikan nila saja, makanya Anggi ceplos mengatakan makanan kesukaan Aditya adalah nila goreng dan tumis kangkung bersama cumi-cumi.
Semakin yakin Aditya kalau Anggi adalah istrinya, karena Anggi tahu makanan kesukaannya.
"Bagaimana perasaan kamu saat ini sayang, sudah baikankah. Kalau sudah baikan, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke mall. Atau bagaimana kalau ke pantai.
Nanti kamu bisa melempar batu ke laut, dan berteriak dengan kencang. Dengan begitu perasaan kamu bisa sedikit lega dan bebanmu akan terasa ringan", Anggi ingin bisa menenangkan Aditya. Karena saat ini Aditya pasti masih merasa asing. Karena tidakp ada siapapun yang ada dalam ingatan nya.
Mendengar usul Anggi yang sepertinya bagus menurut nya. Aditya pun senang dan mau diajak Anggi pergi ke pantai.
Anggi pun segera beranjak meninggalkan meja makan untuk segera berbenah untuk mengganti pakaiannya.
"Baik sayang, aku siapan dulu ya. Nanti kamu menyusul ke kamar untuk mengganti pakaian kamu", Anggi meninggalkan Aditya.
Beberapa menit kemudian Aditya mengikuti Anggi ke kamar. Aditya mengetuk dan masuk ke kamar, melihat Anggi masih mengenakan handuk. Aditya langsung membalikkan tubuhnya.
"Tidak apa-apa sayang, kamu kan suami aku", ucap Anggi pelan. Tetapi Aditya merasa tidak berselera untuk menatap tubuh Anggi.
"Cepat lah berpakaian aku menunggu diluar saja. Aku tidak jadi mengganti pakaian ku", Aditya langsung buru-buru meninggalkan Anggi di dalam kamar. Anggi pun merasa kesal, karena Aditya menolaknya. Padahal Anggi ingin menggoda Aditya, dan ingin Aditya tertarik kepadanya.
Takut keinginan Aditya hilang untuk ke pantai Anggi pun segera keluar dari kamarnya.
"Yuk sayang kita berangkat sekarang", Anggi mengajak Aditya lansung masuk ke dalam mobilnya.
"Berangkat sekarang pak Tony", perintah Anggi kepada supirnya. Lantas mobil pun langsung melaju menuju pantai.
Sepanjang jalan Aditya hanya diam saja, pemandangan terasa asing, dan tidak satupun moment di jalan atau tempat yang dilalui nya ada di ingatannya.
Setelah hampir satu jam, mereka pun sampai di pantai. Aditya pelan-pelan berjalan kearah laut. Membiarkan saja ombak menyapu kakinya. Aditya berteriak kencang.
__ADS_1
"Stella..... Stella..... Stella", tiba-tiba Aditya berteriak menyebut nama Stella.
Sontak Anggi terkejut dan berpura-pura tidak mendengar Aditya menyebut nama Stella.
Aditya bingung mengapa tiba-tiba menyebut nama Stella. Aditya langsung bertanya kepada Anggi.
"Sayang, mengapa aku tiba-tiba menyebut nama Stella?. Siapa Stella itu?", Aditya merasa penasaran dan ingin tahu.
"Apa?. Aku tidak mendengar kamu menyebut Stella. Lagian Aku tidak tahu siapa Stella. Apa mungkin Stella itu adalah nama ibu kamu?. Ibu kamu kan sudah meninggal sejak kamu berusia 13 tahun.
Aku kurang mengenal ibumu. Aku tahu ibumu sudah meninggal karena kamu pernah bercerita kepadaku. Kamu adalah teman semasa SMA dulu. Kita mulai berpacaran sejak SMA", Anggi berbohong mengenai Stella.
Aditya hanya diam saja mendengar penjelasan Anggi.
"Siapakah Stella", pikirnya dalam hati.
"Apa mungkin Stella adalah orang spesial yang ada dalam hidupku?, mengapa saat ini aku merasa hatiku terasa kosong dan hampa. Seperti nya aku merasakan semua hal yang terindah dalam hidupku telah hilang. Tetapi aku tidak tahu itu apa, sulit sekali mengungkapkan nya", gumam Aditya dalam hati seperti ingin menangis saja.
"Tidak mungkin Stella adalah orang yang spesial, secara aku sudah mempunyai Anggi, istriku", Aditya mencoba menepis pikirannya mengenai sosok Stella.
Lantas Aditya langsung melempar batu kearah laut, sejauh-jauhnya melempar dan sekencang-kencangnya berteriak "aaaaa...aaaaa".
"Tidak apa-apa sayang, berteriak lah sekencang-kencangnya mungkin dengan begitu, beban kamu akan terasa ringan. Dan kamu pasti akan merasa lebih santai dan rilex", Anggi memeluk Aditya dari belakang, sambil menyandarkan kepalanya di pundak Aditya.
Aditya tampak menghindari pelukan Anggi tetapi tenaga Anggi terlalu kuat tetap berusaha tidak mau beranjak dan terus memeluknya.
"Mengapa kamu selalu menghindari ku?, padahal kamu adalah suami ku. Aku sangat sedih bila kamu terus menghindar dari aku. Apa salah ku?, apa aku salah mendekati dan ingin mesra dengan suami ku sendiri?", Anggi berpura-pura sedih dan menangis.
Aditya pun merasa bersalah karena terus menghindari Anggi.
"Maaf kan aku, tetapi aku merasa asing dengan kamu. Kuharap kamu bisa memaklumi kondisi ku. Tetapi aku akan mencoba membuka diriku untuk mu", Aditya merasa bersalah dan tetap berdiri kokoh, membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh Anggi.
__ADS_1
Anggi pun tersenyum "Bagus Aditya, ternyata tidak susah untuk menaklukkan mu. Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku selamanya. Bila perlu aku akan membawa kamu ke luar negeri. Agar selama nya tidak akan bertemu dengan Stella dan keluarga mu", gumam Anggi merencanakan sesuatu pada Aditya.
Melihat Anggi sedih karena terus dicuekin Aditya. Aditya pun terpaksa bertahan dan tidak mau lagi melepaskan pelukan Anggi.
"Sayang sudahan iya, ini sudah kesorean. Kita pulang saja, Pasang dan ombak juga hampir meninggi. Aku sangat kelelahan", Aditya mencari alasan untuk menghindari pelukan Anggi.
Melihat ombak dan pasang memang sudah meninggi, Anggi pun terpaksa menuruti kemauan Aditya untuk segera balik ke rumah.
*****
Stella di rumah terus merasa gusar atas firasatnya yang tidak enak. Sebenarnya Stella dari tadi sudah berusaha menghubungi handphone Aditya, tetapi handphone Aditya tidak aktif.
Aditya juga tidak pulang kerumah untuk makan siang, biasanya Aditya selalu pulang untuk makan siang. Atau setidaknya bila Aditya tidak sempat untuk pulang karena ada meeting atau sedang bersama klien. Aditya pun berusaha memberitahu dengan menelepon Stella kalau tidak bisa datang ke rumah untuk makan siang.
"Aditya, apa yang terjadi kepada mu, seandainya telah terjadi sesuatu kepadamu. misalnya kecelakaan, mungkin pihak rumah sakit atau polisi pasti akan menghubungi ku untuk memberi tahu atas kondisi mu saat ini.
Kenyataannya tidak ada pihak rumah sakit atau polisi atau bahkan teman kerjamu yang menghubungi ku. Dimana kah kamu sayang, apa sebenarnya yang terjadi kepada mu?", Stella terus berbicara sendiri dengan penuh kebingungan.
"Oh iya, aku akan menghubungi Rico teman kerja, sekaligus teman kompak Aditya", pikir Stella tiba-tiba mendapatkan ide.
Stella menghubungi Rico lewat telepon.
Tut...Tut...Tut...
"Halo Stella, ada apa?. Tumben banget kamu menghubungi ku", tanya Rico membalas panggilan masuk dari Stella.
"Iya Rico. Aku ingin tanya mengenai aditya. Mengapa handphone nya tidak bisa dihubungi. Apakah Aditya ada bersama dengan kamu saat ini?", Stella bertanya tanpa basa-basi.
"Aditya!, Bukankah Aditya bersamamu saat ini?. Karna Aditya tidak masuk kantor hari ini!", ucap Rico tegas.
"Apa!, Aditya tidak masuk kantor?. Tetapi tadi pagi Aditya berangkat dari rumah ingin ke kantor", Stella terkejut mendengar pernyataan Rico.
__ADS_1
"Benar Stella. Aditya tidak masuk kantor hari ini. Aditya memang tidak ada mengubungi kalau tidak bisa masuk kantor hari ini", Rico menyakinkan Stella kalau Aditya memang tidak masuk kantor.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi pada Aditya. Dimana kah dia berada, mengapa tidak menghubungi", Stella sedih dan menangis, badannya terasa lemas tidak bertenaga. Tidak tahu apa yang harus diperbuat nya saat ini.